Ruri menaruh tas di atas meja kerjanya lalu buru-buru menyalakan komputer. Dia kemudian sibuk mencari berkas-berkas dalam lemari kerjanya. Karena belum juga menemukan, dia kemudian jongkok di depan lemari. Berpindah dari posisi duduk di kursi kerjanya yang empuk. Badannya menyorong masuk ke dalam lemari.
“ Di mana berkas itu? Kemarin aku menaruhnya disini.” keluhnya sambil membuka susunan berkas-berkas dalam lemari. Susunan yang semula rapi kini berubah menjadi berantakan. Dia tidak bisa lagi tenang. Laporan itu harus selesai hari ini. Karena jam sembilan pagi, bosnya akan kembali dari luar kota. Dalam hati Ruri menyesalkan keputusan bosnya yang memberinya tugas mendadak. Bukan,bukan bosnya yang harus dia sesali. Tapi kliennya yang tiba-tiba mengubah jadwal pertemuan. Pertemuan di percepat dua hari dari jadwal yang semula ditentukan. Dan bosnya sebagai orang yang tidak ingin kehilangan rekanan dan jalinan kerja sama tetap terjalin dengan baik, akhirnya menyetujui perubahan itu. Walau harus meninggalkan acara yang ada di luar kota.
“ Ingat ya, Ruri. Abaikan yang lain. Selesaikan itu dulu. Saya tahu, tugasmu banyak. Tapi perusahaan akan kehilangan pelanggan terbesar kalau kita tidak memberikan pelayanan terbaik.”
Masih terngiang kata-kata bosnya tadi pagi. Masih dalam rasa kantuk, Ruri bangun di pagi buta. Dengan sempoyongan dia menuju kamar mandi. Merasakan dinginnya air. Dia berusaha bertahan.Tapi tak sampai sepuluh gayung dia keluar dari kamar mandi. Dia menggigil. Andai dikamar mandi ada pemanas air, pasti dia tidak kedinginan seperti merasakan mandi air es, pikir Ruri. Impian yang sudah ada sejak dia mulai bekerja. Tapi impian itu selalu berhadapan dengan keinginan lain. Dan keinginan lain itulah yang jadi pemenang. Masih gemetaran karena dingin, Ruri memakai pakaian kantornya. Diliriknya jam dinding. Masih jam lima subuh. Andai berkas itu tidak dia tinggalkan di kantor, dia bisa mengetik di laptopnya. Tak perlu buru-buru berangkat ke kantor.
Saat orang lain masih terlelap di balik selimut, Ruri harus keluar rumah sambil menenteng tasnya. Sweater pinknya membungkus tubuhnya yang langsing. Lampu-lampu tetangga masih menyala menerangi jalan. Dia terus berjalan menuju jalan utama. Semoga ada taksi yang lewat, harapnya. Kalaupun ada angkot, pasti muatannya adalah orang-orang yang baru pulang dari pasar. Ruri trauma dengan angkot yang penuh dengan barang-barang kebutuhan pokok. Sopir akan sibuk mengantar penumpang kesana kemari. Akhirnya dialah yang selalu jadi juara bertahan. Tahan paling lama dalam angkot. Menjadi orang terakhir yang turun, tapi saat itu matahari sudah terasa panas dikulit. Ruri tidak mau mengulangi kejadian serupa. Sudah cukup pengalamannya berulang kali terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan dirinya.
Ruri menyandarkan tubuhnya di pintu lemari. Berkas itu belum dia temukan. Kemana berkas itu? Seingatnya kemarin dia menaruhnya di lemari, lalu menguncinya. Jadi tidak mungkin ada yang mengambil karena lemari itu terkunci. Wajah Ruri sudah kusut. Dia datang pagi buta kekantor, saat tak ada orang. Kepada siapa dia harus bertanya? Jam dinding baru menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit. Sementara kantor baru akan ramai jam tujuh tiba puluh. Berarti sejam lagi dia harus menunggu. Tapi selama itu apa yang harus dia lakukan? Bagaimana kalau teman-temannya tak ada yang melihat berkas itu? Bukankah dia telah membuang waktu sia-sia. Satu jam!. Dia bisa mengetik dan membuat laporan hanya dalam tempo satu jam. Tapi tak ada dasar buat dia mengetik. Berkas dari lapangan belum dia temukan. Apa yang harus dia ketik?
Ruri lelah tapi juga panik. Presentasi dari bosnya terancam gagal kalau berkas itu tidak ada. Kejadian terburuk pasti menimpanya. Dia dipecat! Tentu tidak ada ampun buatnya. Bosnya saja rela meninggalkan kegiatan penting di luar kota demi memanjakan klien yang selalu disebutnya terbesar itu. Bagaimana bisa dia menghancurkan hubungan baik perusahaannya dengan klien terbesar mereka. Walau terkenal dengan senyumannya, pasti senyum itu akan hilang begitu bosnya tahu laporannya belum selesai.
Jam kantor berdentang tujuh kali. Ruri segera bangkit. Jam begini pak Asdin biasanya sudah datang. Dia ingin menenangkan diri dengan minum teh hangat. Segera kakinya melangkah menuju kantin kantor. Benar saja. Pak Asdin, pemilik kantin tengah mengatur kursi-kursi.
“ Pagi Pak Asdin” sapa Ruri sambil terduduk lemah dikursi. Kantuk, lelah, resah bercampur aduk dalam kepalanya. Pak Asdin mendekatinya.
“ Mbak Ruri kok ada disini?” tanyanya dengan wajah heran.
“ Maksud Pak Asdin, saya terlalu cepat datang ke kantor?” Ruri balik bertanya.
“ Bukan mbak. Sekarang hari libur. Hari ini tanggal merah. Kenapa pagi-pagi mbak sudah datang? Apa ada tugas tambahan?”
Ruri terlonjak kaget. Seolah baru sadar dari tidur panjang. Dia menenangkan diri sejenak. Benarkah? Lalu telpon dari bos? Bukankah tadi pagi? Ruri berubah ragu. Benarkah tadi pagi ada telpon dari bosnya?
Dengan cepat dia membuka panggilan yang masuk di handphonenya. Tak ada. Panggilan dari bosnya tak ada yang masuk hari ini. Apakah tadi pagi dia bermimpi? Ruri tak jadi memesan teh hangat. Dia segera berlari ke ruangannya. Dengan semangat dia mengeluarkan semua berkas dari beberapa lemari. Diperiksanya satu persatu. Dia tidak peduli lagi dengan penampilannya yang berantakan. Toh hari ini hari libur. Tidak ada yang akan melihat dirinya yang sedang kacau seperti ini.
Semua sudah dia periksa tapi tetap tak menemukan berkas itu. Ruri tiba-tiba ingat dengan map yang tadi dia bawa dari rumah. Dengan cepat dia mengambil map yang berada dekat komputernya. Wajahnya berubah-ubah antara senang, sedih dan putus asa. Ternyata berkas itu ada di dalam map!. Ruri terduduk dilantai. Lemah jiwa dan raga. Mengapa hari ini nasibnya begitu apes. Hari yang benar-benar kacau.***
0 komentar:
Posting Komentar