Senin, 19 Desember 2011

Keong Laut Dan Sahabatku

0



Setiap sore air laut akan surut. Saat itulah diantara waktu yang tersisa, kamu menemaniku berjalan-jalan di atas pasir-pasir laut. Yang kala pagi datang akan penuh dengan air laut hingga mencapai tembok pelabuhan. Jika sore seperti ini, kita akan menghabiskan waktu bersama. Mencari keong-keong cantik untuk kita jadikan teman bola bekel, permainan yang biasa kita sebut dengan beklan. Kadang diantara langkahku aku harus melompat ngeri karena ada bintang laut. Menurutmu bintang laut bisa membuat kaki terluka.

Aku terus berjalan dengan kantong plastik ditangan. Kamu menjejari langkahku, menegurku kalau ada bintang laut yang tak terlihat oleh mataku. Kamu begitu baik. Tak pernah mengeluh. Padahal aku tahu, selepas dari pantai ini, kamu akan langsung ke toko untuk membantu pamanmu berdagang. Diantara lelahmu, kamu masih menyediakan waktu untuk sahabatmu ini.

” Kurang berapa lagi, Din?” tanyamu seraya menunduk mengambil keong laut. Aku membuka kantong plastik. Menaburkan isinya diatas pasir laut, lalu menghitung satu persatu.

” Kurang sepuluh, dirumah sudah ada enam puluh, sekarang sudah lima belas. Kurang sepuluh lagi” Jawabku sambil memasukkan lagi keong itu satu persatu ke dalam kantong plastik. Aku lihat kamu menatap siluet yang mulai muncul.

” Sebentar lagi,magrib Din. Kita lanjutkan saja besok. Aku takut kemalaman sampai di toko omku”

katamu sembari mendekatiku. Aku mengangguk setuju. Masih ada esok. Toh aku tinggal mencari sepuluh. Semua keong laut ini adalah pesanan dari teman-temanku. Mereka menitip pesan yang sama. Mereka tahu, setiap kali aku ke daerah ini, tempat favoritku adalah pantai dekat pelabuhan ini. Karena saat sore air laut ini akan menyusut lalu berubah menjadi pantai.

Kita berjalan pulang dengan gembira. Kamu bersenandung riang. Dalam tawaku yang ikut berderai mengiringi nyanyianmu, terbersit rasa kagum padamu. Diantara kehidupanmu yang susah,kamu masih bisa terlihat riang. Melihatmu membuatku melupakan kesedihan setelah ditinggal mama. Kamu menyadarkan aku untuk bersyukur. Setidaknya aku masih punya bapak, tidak seperti kamu. Kedua orang tuamu telah meninggal sejak lama. Mereka tenggelam ditelan laut yang ganas waktu itu.

Kita berpisah di pertigaan jalan. Aku terus ke rumah tanteku, sedangkan kamu berbelok menuju toko pamanmu. Saat berpisah, kita saling melambaikan tangan. Sendal yang tadi kamu jinjing, sekarang kamu pakai. Aku berbalik lagi melihatmu setelah melangkah. Kulihat sosokmu yang makin jauh berjalan. Kamu kemudian menghilang di balik ruko-ruko yang ada dekat pelabuhan. Entah mengapa perasaanku tidak enak saat melihatmu melambaikan tangan. Mengapa terasa seperti lambaian perpisahan? Bukankah kita akan bertemu esok sore, ditempat yang sama?

Lama aku terdiam. Kemudian aku melangkah. Dari jauh kulihat tanteku tengah duduk-duduk di depan ruko bersama anaknya. Tante terlihat asyik berbincang. Mereka tertawa hingga punggung bergerak-gerak. Aku teringat mama. Tante mirip sekali dengan mama. Andai mama masih ada, tentu saat ini mama yang akan berbincang dengan tante tiap kali kami datang berkunjung. Kuhapus embun yang memenuhi mataku. Aku tidak boleh bersedih. Sudah cukup seminggu disini. Aku akan meninggalkan kesedihan itu disini, ditempat ini. Pulang kerumah aku tidak boleh larut dalam kesedihan. Masih ada bapak yang bisa aku peluk.Masih ada bapak yang menyayangiku. Masih ada teman-temanku. Dan masih ada kamu Rani, sahabatku yang menjadi inspirasi buatku.

***

” Dinda!!!!!” teriakan yang memanggil namaku membuatku berdiri setelah tadi jongkok untuk mengambil keong laut. Aku lihat dari kejauhan, sepupuku, Naima sedang berlari mendekatiku. Aku heran melihatnya. Tidak biasanya dia datang ke tempat ini. Nafasnya terengah-engah waktu dia sampai. Lama dia mengatur nafas sebelum akhirnya berbicara.

” Ada yang cari kamu dirumah, bapak-bapak”

” Siapa?”

” Tidak tahu, saya belum pernah liat. Ayo, kamu pulang dulu” Aku memungut keong terakhir lalu memasukkannya kedalam plastik. Kami kemudian berlari diatas pasir laut. Terus berlari hingga sampai di ruko tante.

Kami sengaja lewat pintu belakang untuk mencuci kaki terlebih dahulu. Setelah itu aku keruang depan. Tampak seorang bapak tengah duduk di kursi didepan tante. Dia langsung berdiri begitu melihatku. Tante menyentuh bahuku lalu membimbingku duduk di sebelahnya. Kupandangi bapak itu dengan rasa heran. Aku tidak mengenalnya. Siapa dia ? Tanyaku dalam hati.

” Nak Dinda, ya?” tanya bapak itu dengan raut wajah sedih. Aku mengangguk.

” Ini ada surat dari Rani.” ucapnya sambil memberikan sebuah amplop lusuh berwarna putih.

” Bapak menemukan ini dalam lemari Rani”

” Raninya mana, om? Kami sudah janjian ketemu sore ini di pelabuhan” tanyaku penasaran. Kenapa bukan Rani yang mengantarkan suratnya? Kenapa harus pamannya?

” Rani kemarin sore kecelakaan, dia tertabrak truk pengangkut beras. Nyawanya tidak bisa diselamatkan. Siang tadi dia dimakamkan” jawab paman Rani. Matanya berkaca-kaca. Aku seperti mendengar guntur padahal tidak ada hujan yang turun. Tubuhku seketika lemas. Tante langsung memelukku. Didekapnya aku dengan erat sambil mengelus rambutku. Aku terdiam. Masih tak percaya dengan berita yang aku dengar. Kulepaskan dekapan tante.

” Om bercanda,kan? Kemarin sore Rani menemani Dinda di pelabuhan, tidak mungkin dia pergi secepat ini”kataku terbata-bata. Paman Rani hanya terisak. Lama-lama kurasakan mataku telah penuh dengan airmata. Sebentar lagi aku yakin akan mengalir di pipiku. Kulepaskan pegangan tante. Aku kemudian berlari keluar dari ruko. Aku berlari menuju pelabuhan. Kudengar suara Naima berteriak memanggilku. Aku tidak peduli. Aku terus berlari hingga ke pinggir tembok pembatas di pelabuhan. Kubuka amplop lusuh berwarna putih yang berisi surat dari Rani. Kubaca selembar kertas yang usang, tulisan tangan Rani  tertata rapi.

Dinda,  Aku selalu takut jika persahabatan kita putus. Aku tidak menyangka kamu mau berteman denganku. Aku yang biasa saja, berteman denganmu yang mempunyai segalanya. Kita bertemu di pantai karena keong laut. Terima kasih karena mau menjadi sahabatku. Jangan pernah meninggalkan aku ya. Tetaplah jadi sahabatku.

Airmata sudah memenuhi pipiku. Aku sadar kini perasaanku kemarin sebagai petunjuk. Rani tidak sekedar melambai, tapi itu adalah lambaian selamanya. Bukan aku yng meninggalkan dia, tapi dialah yang telah meninggalkan aku. Kami tidak akan pernah bertemu lagi. Kulipat kembali suratnya.  Surat ini akan jadi kenangan terakhir darimu Rani, batinku sedih. Aku berjalan menuju pantai. Kususuri pasir-pasir di pantai dengan kesedihan yang makin dalam karena teringat Rani.

Rani ini terakhir kalinya aku mencari keong laut disini, batinku. Masih kurang tiga lagi.Aku akan melengkapi hingga genap delapan puluh lima. Setelah ini, aku tidak akan mencari keong laut lagi. Aku mungkin hanya akan berdiri di pinggir tembok, mengenang saat-saat kebersamaan kita. Aku terus mencari hingga siluet menghilang. Naima terus mengikutiku. Aku pulang dengan langkah sedih. Beberapa kali kuusap air mata di pipiku.Tidak ada lagi keong laut, tidak ada lagi Rani. Aku berbalik melihat tempat dia berdiri kemarin. Seolah ada Rani berdiri di sana sambil melambaikan tangan. Tak sadar aku melambaikan tanganku. Selamat jalan sahabatku****


0 komentar:

Posting Komentar