Senin, 19 Desember 2011

Gadis Kecil Dalam Pelukan Ayah

0



” Non Susi, makanannya mau disiapkan sekarang?” tanya mbok Karni. Dia berdiri dipintu sedang memandangku. Aku mengalihkan pandanganku kearahnya. Aku mendengar suaranya tapi terlupa dengan kata-katanya tadi.

” Ada apa, mbok?” tanyaku sambil menyipitkan mataku yang pedih karena sejak tadi memandangi komputer.

” Itu, non. Makan siangnya saya siapkan sekarang?” aku tersadar. Ternyata sudah siang. Tapi kegiatanku ini tanggung untuk aku tinggalkan. Aku baru saja menemukan foto-foto dalam komputer ayah. Sejak tiga tahun yang lalu, ayah memutuskan pindah rumah. Perabotan dalam rumah tetap seperti semula tidak ada yang ikut pindah bersama kami, termasuk komputer ayah. Kami percaya dengan mbok Karni. Selama tiga tahun, mbok Karni dan suaminya tinggal di rumah ini. Menjaga dan merawat rumah kami.

” Tolong bawa makanannya keruangan ini, mbok” pintaku. Mbok Karni kemudian pamit lalu bergerak pergi. Pandanganku kembali aku arahkan ke layar komputer. Dikomputer ayah, banyak sekali foto-foto. Foto lama yang aku sendiri belum pernah melihatnya. Bahkan saat kami tinggal di rumah ini. Aku sendiri merasa heran mengapa selama tinggal dirumah ini, aku tidak pernah membuka komputer ayah? Apa karena aku juga punya laptop, jadi komputer ayah tidak pernah aku sentuh sama sekali?

Aku tersenyum memandangi foto ayah yang tengah memeluk seorang anak perempuan. Wajah anak itu menggemaskan. Sangat cantik. Dengan pipi yang montok dia terlihat sangat lucu. Siapa anak perempuan ini? Seingatku wajahku waktu masih kecil tidak seperti ini. Aku juga punya koleksi lengkap foto-foto sejak masih kecil. Tapi gadis kecil yang bersama ayah, sama sekali bukan aku. Dibawah foto ada keterangan, putriku Nasya Alya Putri. Putriku? Itu artinya gadis kecil ini adalah putri ayah! Tapi yang aku tahu, hanya aku satu-satunya putri ayah, tidak ada saudara perempuan lain. Adikku satu-satunya adalah laki-laki. Lalu siapa gadis kecil ini?

Perasaanku yang semula gembira karena menemukan foto-foto ini berubah jadi resah. Aku penasaran dengan nama Nasya Alya Putri. Setahuku ayah hanya menikah dengan ibu. Ibu adalah pacar pertamanya dan mereka kemudian menikah. Mencurigai ayah punya simpanan lain? Sulit bagiku untuk percaya. Ayah sangat mencintai ibu, mustahil ayah tega menduakan ibu dengan wanita lain. Lalu siapa dia? Perasaanku makin tidak tenang. Apakah lebih baik aku menelpon ayah sekarang, lalu menanyakan tentang foto itu? Ide yang bagus. Daripada bingung dengan perasaan sendiri, sibuk menerka-nerka. Kenapa tidak menanyakan langsung ke orangnya. Ayah tentu akan memberikan penjelasan yang lengkap.

” Makanannya mbok taruh disini, ya non” suara mbok Karni mengagetkanku. Aku tengah memandang foto di komputer, kesadaranku akan sekeliling sedang lemah. Hingga suara mbok Karni membuat jantungku nyaris copot karena kaget. Mbok Karni mengatur makanan diatas meja kecil, persis disampingku.

” Non Susi, itu Non Nasya, ya?” tanya mbok Karni. Mbok Karni kembali mengagetkanku. Tapi kali ini bukan dengan suaranya melainkan dengan pertanyaannya. Kupandangi mbok Karni yang tengah memelototi layar komputer.

” Benar, non. Ini foto non Nasya. Lucu sekali. Sayang umurnya tidak panjang” suara mbok Karni terdengar sedih. Aku lihat mbok Karni mengusap matanya. Mungkin ada embun yang hadir, hingga beliau menghapusnya dengan kain panjang yang dikenakan. Untuk kesekian kalinya aku dibuat kaget oleh mbok Karni. Kenapa setiap kata yang mbok Karrni ucapkan makin membuatku penasaran?

” Mbok Karni kenal dengan Nasya?” tanyaku setelah mbok Karni menjauhkan wajahnya dari layar komputer. Kutatap wajah mbok Karni. Memang benar matanya berkaca-kaca.

” Jelas saja, non. Itukan foto kakak non, non Nasya”

” Kakak?” Mbok Karni mengangguk.

” Lho, non Susi nggak tahu punya kakak perempuan? Mbok kira, sejak lama non sudah tahu. Makanya mbok nggak mau nyebut-nyebut nama non Nasya atau memberitahu non. Mbok takut nanti non jadi sedih. Non Nasya kan meninggal waktu umurnya tiga tahun” Aku makin tertarik mendengar cerita dari mbok Karni. Kutarik kursi di dekat meja agar mbok Karni bisa ikut duduk di sebelahku.

” Tapi kenapa ayah dan ibu tidak pernah cerita? Kenapa mereka selalu menyebut aku anak sulung mereka, mbok?”

” Mungkin tuan terlalu sedih untuk mengingat putrinya.Apalagi non Nasya meninggal karena kecelakaan.”

” Kecelakaan?”

” Iya, non. Non Nasya sedang bermain di halaman rumah. Tiba-tiba non Nasya berlari keluar, ke jalan. Dia mengejar bolanya yang meluncur ke jalan. Non Nasya tertabrak, non” Mbok Karni menangis. Mataku juga sejak tadi sudah berair.

” Tuan sangat terpukul karena tuan lupa menutup pintu pagar. Seharusnya itu tugas Aryo. Tapi Aryo sedang ada diloteng merapikan barang-barang dari kantor. Barang-barang itu sengaja dititipkan dirumah,karena kantor sedang diperbaiki. Mbok nggak tahu apa namanya. Hanya waktu itu tuan sibuk keluar masuk mengangkat barang dibantu suami mbok.”

Kuseka airmata dipipiku. Tanpa sadar kami berdua menangis.

” Tuan sangat menyesal. Apalagi nyawa non Nasya tidak bisa diselamatkan. Makin hancur hati tuan dan nyonya.”

” Apa saat itu aku sudah lahir, mbok?” mbok Karni menggeleng.

” Dua tahun kemudian baru nyonya hamil. Nyonya sangat tertekan hingga lama baru bisa hamil. Itu juga setelah pindah rumah.Tuan sangat gembira begitu non lahir. Tuan dan nyonya sangat berhati-hati. Apalagi saat non sudah bisa berjalan, semua harus memperhatikan non. Penjaga non saja ada dua orang, khusus menjaga non.”

Aku tersentuh mendengar cerita mbok Karni. Itukah sebabnya ayah dan ibu begitu protektif menjagaku? Mereka takut kehilangan putrinya untuk kedua kali. Aku bahkan tidak boleh belajar naik motor, menyetir mobil sendiri. Semua harus dengan sopir. Aku menyesal sudah berkata-kata kasar pada ayah dan ibu.

Sebelum kabur kerumah ini, aku sempat marah besar dan ribut dengan ayah. Aku tidak senang dengan sikap mereka memperlakukan aku. Aku merasa sesak nafas. Kemana-mana selalu ditemani seperti anak kecil saja padahal aku sudah besar. Sekarang setelah tahu cerita yang sebenarnya, aku jadi sedih. Bagaimana keadaan ayah dan ibu sekarang? Mereka tentu panik mencariku. Apalagi sejak semalam handphone aku matikan. Aku tiba-tiba merasa bersalah.  Aku mengambil handphone di atas meja lalu menekan tombol on. Mbok Karni masih duduk disebelahku. Menatapku dengan heran.

Setelah handphone aktif, aku langsung menekan nomor ayah.

” Ayah” panggilku sedih. Aku merasa menjadi anak yang sangat berdosa karena sudah berkata-kata kasar pada ayah dan ibu. Mereka begitu menyayangiku tapi malah kubalas dengan teriakan penuh amarah. Hal yang sebenarnya tidak pantas aku lakukan.

” Sayang, kamu baik-baik saja disana? Ayah percaya, mbok Karni bisa menjagamu..”

Aku tidak mendengar lanjutan kata-kata ayah. Kupandangi mbok Karni. Posisi handphone masih ditelingaku tapi aku tidak konsentrasi lagi mendengarkan suara ayah. Ayah ternyata sudah tahu aku berada disini. Itu sebabnya ayah dan ibu merasa tenang. Mbok Karni tersenyum memandangku. Langsung aku peluk mbok Karni sambil menangis. Teringat kakak perempuanku. Kakak yang selamanya tak akan pernah aku temui. Dalam hati aku berjanji tidak akan membuat ayah dan ibu khawatir lagi***


0 komentar:

Posting Komentar