Astrid tiba diruangan kantornya. Diletakkannya tas di atas meja lalu melihat sekeliling ruangan. Dia tersenyum puas. Cleaning service yang belum seminggu bekerja di kantor telah membuktikan hasil kerja yang sangat memuaskan. Ruangannya terasa sangat nyaman.
” Selamat pagi, bu. Maaf mengganggu.” Suara seseorang membuat Astrid berbalik dan senyum tersungging dibibirnya saat melihat seseorang yang baru saja menegurnya.
” Ada apa, Pak Tomo?” tanyanya ramah sambil mendekati Pak Tomo yang masih berdiri dengan ragu di depan pintu.
” Ini, bu. Ada seseorang menitipkan ini untuk ibu.” Pak Tomo menyerahkan sebuah amplop. Astrid menerimanya. Pak Tomo kemudian mohon pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara Astrid melangkah menuju kursi kerjanya sambil terus menggengam amplop itu. Setelah duduk dan merasa nyaman, Astrid kemudian membuka amplop itu.
Astrid yang terhormat,
Jangan jadi orang munafik deh. Kamu kelihatan sangat kalem dan keibuan. Apakah suamimu tahu kalau masa lalumu sangat kelam? Apakah orang kantor tahu bagaimana kehidupanmu sebelum ini? Apakah keluarga suamimu tahu kalau menantu yang mereka banggakan adalah perempuan hina yang telah memiliki seorang anak tanpa menikah? Kamu tentu tidak ingin mereka tahu bukan? Kalau kamu tidak ingin rahasia masa lalu mu terkuak diantara mereka, sekarang juga aku tunggu kamu di pelataran parkir.
Bibir Astrid bergetar. Tangannya gemetar saat membaca tiap kalimat dalam surat itu. Matanya berkaca-kaca. Dia hampir saja terjatuh saat hendak berdiri mengambil segelas air. Dia ingin meminum air untuk menenangkan hatinya. Astrid kaget dan shock saat membaca surat itu. Dia merasa di paksa melihat kembali kenangan pahit masa lalunya. Kenangan saat dia dipaksa menerima perlakuan tak senonoh dari ayah tirinya hingga dia hamil. Waktu itu Astrid masih smp. Ibunya kemudian mengirim dia untuk tinggal dengan neneknya. Rumah neneknya sangat terpencil dan jauh dari lingkungan warga. Sebuah tempat yang aman untuk mengungsi dan menghindar dari gunjingan orang-orang. Astrid menetap dirumah neneknya hingga dia melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi yang kemudian diangkat anak oleh neneknya.
Airmata Astrid mengalir. Mengenang masa lalunya membuatnya sedih. Ada kebimbangan dalam hatinya, apakah ingin memberitahukan rahasia ini kepada suaminya. Firman hanya tahu kalau Astrid pernah di paksa berhubungan yang intim dengan seseorang di masa lalu. Tapi Astrid tidak pernah menceritakan kalau dari hubungan itu dia telah memiliki seorang anak laki-laki yang kini usianya tiga belas tahun. Anak yang siap beranjak remaja. Anak yang dia dan Firman idamkan hadir dalam keluarga mereka namun tak jua kunjung tiba.
Tapi siapa orangnya yang tega mengirimkan surat seperti ini? Benarkah rahasia itu bukan hanya milik dia, ibunya dan neneknya? Bahkan ayah tirinya pun tak tahu kalau dia telah melahirkan seorang anak. Ibunya tak ingin ayah tirinya tahu. Alasan ibunya membawa dia kerumah nenek waktu itu adalah untuk menemani sang nenek yang hidup sendiri. Ayah tirinya mengira, ibunya tidak tahu peristiwa sedih yang dialami Astrid. Padahal saat mengantar Astrid, hati ibunya hancur berkeping-keping. Tapi ibunya tak kuasa untuk berpisah dari ayah tirinya. Satu-satunya jalan menyelesaikan masalahnya adalah dengan pindah dan menetap dirumah neneknya.
Astrid meraih tissu diatas meja. Dia mengusap airmatanya. Surat itu kemudian dilipat lalu dimasukkan kedalam tasnya. Masih dengan rasa penasaran akan pengirim surat itu, Astrid berdiri dan melangkah keluar ruangan. Saat berjalan dan bertemu dengan teman-teman sekantor, Astrid seolah sedang berada di negeri asing. Dia melihat teman-temannya tersenyum padanya seolah sedang menghinanya.Pikiran-pikiran negatif hadir seperti bayangan kabut yang menutupi pandangannya.
” Astrid!” seseorang memegang lengannya, menahan langkahnya. Astrid melihat suaminya, Firman tengah menatapnya dengan heran.
” Kamu kenapa, sayang? Kamu sakit ya?” Asrid tertegun menatap Firman. Dia tak kuasa untuk berkata-kata. Dengan halus dilepaskannya pegangan tangan suaminya itu. Dia kemudian melangkah meninggalkan Firman yang masih menatap dirinya hingga menghilang di balik tembok. Astrid menuruni anak tangga satu persatu. Tangannya gemetaran saat melangkah. Pandangan Astrid terlihat kosong. Dalam matanya hanya ada bayangan ketakutan. Bagaimana kalau rahasia dirinya di masa lalu diketahui keluarga suaminya? Ini akan jadi musibah terberat dan mungkin saja dia tidak sanggup bertahan. Dia sudah menjalani kehidupan yang bahagia. Akankah dia kehilangan semua itu?
Kaki Astrid menjejak lantai dasar. Lantai parkiran kendaraan memang terletak lebih rendah dari teras depan kantor. Sengaja dibuat oleh pengembangnya untuk menyiasati lokasi yang sempit. Mata Astrid mengitari mobil-mobil yang berderet rapi. Sepi tak ada suara. Tapi Astrid tetap berdiri. Dia tetap bertahan padahal sepuluh menit telah berlalu dari saat dia berada ditempat itu. Dia bertahan sepuluh menit lagi. Tak ada siapa-siapa. Tak ada seseorang yang muncul. Walau masih penasaran, Astrid tetap merasa lega. Dia tidak siap jika harus bertemu dengan pengirim surat misterius itu.
Astrid kemudian berbalik dan hendak melangkah meninggalkan pelataran parkir ketika ada suara wanita yang menegurnya. Astrid berbalik cepat. Matanya membelalak kaget saat melihat wanita itu.
” Heni?” suara Astrid terasa tertahan di kerongkongan saat melihat wanita itu. Wanita yang bernama Heni itu melangkah perlahan mendekati Astrid. Ditangan Heni terselip sebatang rokok yang masih mengeluarkan asap. Dia mengisapnya sesekali lalu menghembuskan asapnya ke udara. Heni tersenyum sinis saat menatap Astrid.
” Heni? Apakah kamu orang yang mengirim surat itu?” tanya Astrid ragu. Heni mengangguk sambil tersenyum.
” Benar mbak, aku yang sudah mengirimnya untuk mbak.”
” Tapi maksudmu apa? Aku nggak ngerti? Aku tidak pernah membuat masalah denganmu. Kenapa tiba-tiba kamu berbuat seperti ini?” Heni tertawa. Tawa yang terdengar menakutkan. Astrid bergidik saat mendengar tawanya.
Astrid menyandarkan tubuhnya di mobil. Sebelah kakinya ditekuk, menyandar di mobil. Tapi kemudian dia menurunkan kakinya lagi.
” Kita memang tidak punya masalah, mbak. Aku juga tidak ingin mempunyai masalah dengan mbak. Tapi keadaan yang memaksaku untuk bertindak sejauh ini.” Mata Astrid berkaca-kaca. Bibirnya gemetar.
” Kenapa kamu tega ingin menghancurkan hidupku, Hen?” tanya Astrid dengan terbata. Heni tersenyum sinis.
” Karena aku sudah bercerai dengan mas Surya.”
” Tapi aku tidak ada hubungannya dengan perceraianmu!”
” Memang tidak ada. Mbak terlalu baik untuk menjadi penyebab hancurnya sebuah rumah tangga. Tapi apa mbak tahu selama menjadi istri mas Surya batinku tersiksa. Tersiksa karena mbak hadir diantara kami.” Astrid makin tidak mengerti.
” Setiap waktu mas Surya selalu membandingkan aku dengan mbak. Membandingkan semuanya. Tingkah laku, cara berpakaian, berbicara. Semuanya. Tiap kali ada yang tidak sesuai dengan keinginan mas Surya, pasti nama mbak yang akan dia sebut. Mbak seperti impian untuk mas Surya. Mas Surya mendambakan istri seperti mbak. Mbak tahu bagaimana rasanya cemburu. Cemburu pada seseorang yang tidak tahu kalau dirinya sedang diperhatikan seseorang dengan pandangan kagum? Hatiku hancur mbak. Aku ingin menjadi diriku. Aku tidak ingin di banding-bandingkan dengan siapapun, apalagi dengan mbak. Karena itu aku memberontak. Aku tidak bisa berada dalam keluarga besar mas Surya. Bagi mereka, mbak adalah menantu teladan. Semua yang mempunyai status sebagai istri, selalu diarahkan untuk mencontoh kepribadian mbak. Seolah-seolah mbak manusia sempurna tanpa cela. Aku? Aku dapat predikat sebagai menantu terburuk. Karena predikat itulah, mas Surya begitu tega menceraikan aku.”
Astrid terpana. Tak menyangka kalau selama ini Heni memendam kebencian padanya.
” Sewaktu mas Surya menceraikan aku, saat itulah aku berjanji. Aku akan tunjukkan pada mereka, siapa sebenarnya yang lebih baik. Aku memang bukan menantu yang baik, tapi setidaknya aku tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain selain dengan suamiku. Bahkan sampai mempunyai anak.”
Astrid merasa tubuhnya kian lemah. Kakinya terasa tak menjejak lantai parkiran. Dia menyandarkan tubuhnya di sebuah mobil.
” Jadi apa maumu sekarang? Untuk apa kamu mengirimkan surat itu? Apa kamu berpikir mas Surya akan menerimamu kembali kalau kamu menceritakan tentang masa laluku?”
Heni menggeleng dengan senyum tipis dibibirnya.
” Tidak. Aku tidak ingin kembali ke pelukan mas Surya. Mbak tahu apa yang aku inginkan? Aku ingin kita jatuh kedalam lubang yang sama. Aku tidak ingin jatuh sendirian. Aku juga ingin mbak merasakan apa yang aku rasakan. Betapa sakitnya dicampakkan oleh orang yang kita cintai.”
” Tapi dalam suratmu, kamu mengancam kalau aku tidak menemuimu, maka kamu akan memberitahu mereka tentang masa laluku. Sekarang aku sudah menemuimu, kenapa kamu masih ingin memberitahu mereka?”
” Tadinya memang seperi itu tapi saat melihat mbak, aku jadi berubah pikiran. Mungkin lebih baik kalau aku memberitahu mereka.”
” Kamu..kamu .kamu jahat! Kenapa kamu ingin menghancurkan perkawinanku dengan mas Firman? Aku tidak bersalah padamu. Aku tidak pernah meminta mereka untuk menyanjungku. Aku tidak pernah meminta mereka untuk menjadikan aku menantu teladan. Tapi itu keinginan mereka sendiri.”
” Oh, ya? Kalau begitu kenapa mbak harus bersusah payah terlihat baik? Selalu ingin tampak sempurna? Jangan munafik. Pasti dibalik hati mbak ada keinginan untuk mendapatkan pujian. Mengaku saja. Aku bisa melihat semua itu.”
Astrid benar-benar sudah hilang kesabaran. Dia tidak tahu mau berkata apa lagi. Airmatanya mulai mengair dipipinya yang halus. Tapi Heni malah semakin tertawa melihat hal itu.
” Kalau mbak baik, kenapa harus takut. Yakinkan diri kalau mereka akan tetap menganggap mbak baik sekalipun masa lalu sangat kelam. Tapi berdasarkan yang aku lihat dalam kehidupan, sepertinya mereka akan berubah pandangan tentang mbak, kalau mereka tahu tentang masa lalu mbak. Mbak tidak akan bisa lagi menasehati yang lain karena mereka sudah tahu siapa mbak sebenarnya.Lalu perlahan-lahan mbak akan dikucilkan, kemudian karena tidak tahan mas Firman akan menceraikan mbak. Begitulah yang terjadi padaku. Kemungkinan besar mbak juga akan mengalaminya.”
Astrid terduduk di lantai parkiran. Mentalnya jatuh. Apa yang dikatakan Heni benar. Inilah yang selama ini dia takutkan. Dia tidak ingin dikucilkan dan tidak dianggap oleh kelurga mas Firman. Karena itu ancaman Heni membuatnya shock. Dia merasa bumi tengah menghimpitnya.
Tiba-tiba seseorang merengkuh bahu Astrid. Astrid mendongak kaget. Heni juga yang semula tersenyum tiba-tiba mengatupkan bibirnya.
” Mas Surya?” ucap mereka berbarengan. Surya menarik Astrid untuk berdiri. Dia merangkul Astrid yang sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri.
” Maafkan aku mbak Astrid. Karena aku mbak harus mengalami hal seperti ini. Jangan dengarkan ocehan perempuan ini. Dia sudah tidak waras.”
” Mas Surya!” teriak Heni. Dari wajahnya terlihat kebencian yang teramat sangat saat melihat Surya merangkul Astrid.
” Jangan panggil aku mas! Aku bukan mas mu lagi! Kamu benar-benar perempuan yang tidak tahu diri. Untuk apa kamu mengganggu mbak Astrid. Masalah kita sama sekali nggak ada hubungannya dengan mbak Astrid. Kenapa harus menyalahkan dia atas perceraian kita?”
” Karena mas selalu membandingkan aku dengan mbak Astrid. Mbak Astrid selalu yang terbaik sedangkan aku? Aku selalu jadi menantu yang tidak dianggap. Padahal mbak Astrid juga tidak lebih baik dari aku. Dia bahkan jauh lebih buruk!”
” Tutup mulut kamu! Kamu tahu apa bedanya kamu dengan mbak Astrid? Mbak Astrid tidak pernah mencampuri urusan orang. Sedangkan kamu, bukannya memperbaiki diri malah sibuk mencari-cari kekurangan orang. Kamu pikir keluargaku tidak mengetahui masa lalu mbak Astrid? Kamu pikir setiap perempuan yang jadi menantu dalam keluarga kami, tidak kami cek dulu latar belakang keluarganya? Kami bukan mencari wanita yang sempurna. Kalau seperti itu aku juga tidak akan menjadikanmu istri. Orang yang baik adalah orang yang mengetahui kesalahannya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Apa salahnya dengan masa lalu, semua orang punya masa lalu. Baik atau buruk tergantung dari kita untuk menerimanya. Yang penting orang itu mau berubah. Tapi kamu berbeda, sejak menjadi istriku sikapmu tidak juga menjadi baik. Jangan salahkan mbak Astrid kalau kemudian aku menceraikan kamu.”
Mata Heni berkaca-kaca mendengar penuturan mantan suaminya. Bibirnya gemetar seolah meredam amarah yang teramat sangat. Sementara Surya makin mempererat rangkulannya di bahu Astrid. Mungkin dia merasakan tubuh yang tengah didekapnya sudah tak berdaya.
” Kalau kau ingin memberitahukan tentang mbak Astrid ke keluargaku. Silahkan saja. Tapi aku ingatkan, itu bukan menambah plus dirimu. Bahkan akan semakin menegaskan kepada mereka mengapa aku memilih untuk menceraikanmu. Pergilah sekarang! Jangan coba-coba lagi untuk mengganggu mbak Astrid. Kalau kamu berani melakukan itu, maka aku tidak segan-segan untuk bertindak kasar.” Suara Surya yang tegas membuat Heni terdiam. Dengan airmata bercucuran dia meninggalkan mereka berdua. Surya dan Astrid memandangi Heni yang berlari masuk ke dalam mobilnya. Heni menjalankan mobilnya dengan kencang. Rasa kecewa, sakit hati dan frustasi membuatnya menjalankan kendaraan dengan tidak terarah. Beberapa kali dia mengerem mendadak sebelum akhirnya keluar dari pelataran parkir.
Tinggallah Surya dengan Astrid. Astrid yang sejak tadi hanya menangis makin tak kuasa menahan tangisnya. Wajah Surya terlihat sedih. Dia memegang kedua bahu Astrid, mengarahkan bahu Astrid menghadapnya.
” Mbak Astrid tenang saja. Jangan masukkan dihati. Heni memang sudah parah dari awal. Maafkan aku, karena dia mbak jadi sedih.”
” Jadi keluargamu tahu tentang masa laluku?” tanya Astrid dengan terisak. Surya mengangguk.
” Tapi bagi kami mbak Astrid tetaplah wanita yang baik. Kami tahu itu bukan keinginan mbak. Mbak adalah korban. Jadi mulai sekarang jangan pedulikan lagi ocehan Heni. Dia juga pasti tidak akan berani lagi mendatangi mbak.”
Mereka berdua kemudian melangkah menuju tangga. Astrid melangkah pelan menaiki anak tangga satu persatu. Dia mengusap air matanya dengan tissu. Teman-teman kerjanya menatap heran saat Astrid muncul dengan dipapah Surya. Surya hanya tersenyum dan memohon pengertian dengan isyarat wajahnya.
Saat pintu ruangan kerjanya terbuka nampak Firman tengah duduk di kursi Astrid. Dia bergegas maju menjemput istrinya yang terlihat lemah. Dengan lembut dia memapah istrinya dan membantu istrinya duduk di kursi.
” Terima kasih, Sur. Kamu sudah bersedia datang dan membantu mbakmu.” ucap Firman sambil merangkul istrinya yang sedang duduk. Sementara Surya masih berdiri menatap kakak dan iparnya.
” Sayang, aku yang menelpon Surya untuk mendatangi kalian. Aku tahu ini pasti ulah Heni saat aku membaca isi surat yang ada didalam tasmu. Maaf, aku sudah lancang memeriksa isi tasmu. Aku khawatir, makanya aku masuk keruanganmu dan mencari-cari sesuatu. Karena aku cemas, mengapa kamu terlihat seperti orang yang tengah dihipnotis. Aku tidak datang kesana karena aku takut tidak bisa menahan emosi saat melihat Heni.”
Astrid menatap suaminya. Airmatanya mengalir dipipinya yang lembut.
” Mas maafkan aku karena tidak berterus terang padamu, aku seharusnya menjelaskan semuanya dari awal perkawinan kita.”
” Tidak apa-apa sayang. Yang penting sekarang kehidupan yang kita jalani, masa lalu tiap orang berbeda-beda. Tapi biarlah itu menjadi masa lalu. Kita sudah menikah dan hidup bahagia. Berdoa saja semoga selamanya seperti ini.” Ucap Firman, mencoba menenangkan istrinya yang masih shock.Tangan Firman menggenggam dengan erat jemari istrinya. Dia mencoba memberi kekuatan agar istrinya segera pulih dari rasa shock setelah pembicaraannya dengan Heni.
Setelah Astrid terlihat tenang, Surya kemudian pamit untuk kembali bekerja. Kantor Surya dan Firman memang berada di gedung dan lantai yang sama. Jadi Surya bisa segera mengejar Astrid ke lantai bawah begitu Firman menelponnya. Sambil berjalan Surya terus memikirkan mantan istrinya Heni. Dia tidak pernah menyangka mantan istrinya itu tega memanfaatkan masa lalu Astrid untuk membalas dendam.***
0 komentar:
Posting Komentar