Selesai makan malam Inka sengaja menemani bi Pati di dapur. Bi Pati lagi membereskan peralatan makan sehabis makan malam.
“ Nggak ngantuk non?” tanya bi Pati begitu dilihatnya Inka hanya duduk diam di depan meja dapur. Inka menggeleng.
“ Saya ngantuk bi, tapi nggak pengen tidur.”
“ Lho,memang ada apa toh? kog ya nggak pengen tidur?” Inka beringsut mendekati bi pati yang lagi mengeringkan piring-piring.
“ Bi, ada yang ingin saya tanyakan ke bibi.” Inka mengecilkan suaranya. Bi Pati terlihat ketakutan entah apa yang dia pikirkan. Mungkin dia sudah merasakan kalau Inka akan menanyakan hal yang mengerikan.
“ Bi pati kog ketakutan sih? kan saya belum nanya..”
“ Mo tanya apa sih,non? kog keliatannya serem banget..” Inka menarik napas pelan.
“ Bi, apa sebelum saya datang ke rumah ini, paman dan Fian pernah makan bersama atau sarapan bersama?” bi Pati memandang Inka dengan tatapan heran.
“ Lho,kog nanya yang begituan non? bibi kira pertanyaan apa..iya lah..sebelum non datang mereka memang tidak pernah makan bareng. Kan ada non Inka, jadi tidak enak kalo non makan sendiri. Nanti Tuan sama den Fian dianggap tidak menghargai tamu..”
“ Tapi kenapa sebelum saya datang mereka tidak pernah makan bareng? Mereka kan ayah dan anak?”
“ Setahu bibi,ya non. Mereka itu sama-sama sibuk, karena menghargai non aja mereka menyempatkan waktu. Kadang malah mereka tidak pernah ketemu. Tuan datang, den Fian pergi. Den Fian datang malah Tuan yang pergi, pokoknya sibuk non..” bi Pati menjelaskan dengan penuh semangat.
“ Maksud saya bi, mereka itu ayah dan anak. Kog hubungan mereka seperti bukan ayah dan anak?” bi Pati langsung menutup mulut Inka dengan tangannya.
“ Ada apa sih bi? memang yang saya ucapkan salah?” bi Pati menggeleng cepat. Jari telunjuknya diletakkan di depan mulutnya.
“ Maaf ya non,bukan maksud bibi menjelek-jelekkan paman dan sepupu non. Cuma sejak kerja di sini dua tahun yang lalu, mereka memang sudah seperti itu. Bibi merasa mereka seperti berada di dunia yang berbeda. Kalau Tuan ada di teras,den Fian nggak mau ke teras. Begitu juga sebaliknya. Makanya den Fian lebih banyak diam dikamarnya. Sepertinya menghindari pertemuan dengan Tuan. Bibi juga tidak tahu apakah tuan pernah masuk ke kamar den Fian.”
“ Jadi mereka kalau ada keperluan bagaimana ngomongnya?”
“ Itu non, bibi pernah liat kalau Tuan perlu maka langsung bicara saja kalau ketemu, begitu juga den Fian, tapi cuma seperti itu tidak ada pembicaraan lagi. Mereka bicara hanya seperlunya saja.”
“ Bibi nggak pernah menanyakan ke Fian?” bi Pati mengangkat bahu.
“ Bibi ndak berani non,ntar den Fian marah bagaimana?”
“ Apa bibi tidak punya informasi yang lain lagi? soalnya saya penasaran dengan kondisi rumah ini. Kog ya, seperti bukan kehidupan sebuah rumah yang didalamnya ada ayah dan anak? tidak seperti saya dengan ayah. Rumah kami adalah istana bukan penjara atau neraka. Pokoknya rumah adalah tempat yang menyenangkan. Tapi kenapa di sini berbeda?”
“ Lebih baik non pergi tidur saja, nanti lain kali kalau bibi ada informasi, bibi akan kasi tahu ke non.” Inka mengangguk kemudian berdiri.
“ Oke bi,saya kekamar dulu ya..” ucap Inka kemudian melangkah menuju kamarnya. Melewati beberapa ruangan sebelum sampai kekamarnya Inka merasakan hawa kesunyian yang teramat sangat. Kalau memang cerita yang disampaikan wanita yang mengaku ibu Fian itu betul, maka jelas saja rumah ini dan perabotan yang ada didalamnya bukan paman yang menyediakan dan mengaturnya. Semuanya sudah ada. Pantas saja tidak ada sama sekali kehidupan penuh kasih sayang karena memang tidak pernah ada kasih sayang di antara paman dan Fian selain mengetahui bahwa mereka adalah ayah dan anak. Apa tidak sebaiknya dia menanyakan langsung ke Fian? pikir Inka. Kalaupun Fian nantinya marah tapi lebih baik dia tahu kalau Inka berniat membantunya menyelesaikan masalah yang kalau tidak hati-hati akan meledak menjadi masalah kriminal. Mengingat itu Inka makin bertekad untuk tahu lebih banyak lagi.
Akhirnya inka memberanikan diri. Dia mengetuk pintu kamar Fian karena sejak habis sarapan dia masuk kekamarnya dan tidak keluar lagi sampai sekarang. Padahal Inka ingin membicarakan hal penting dengannya. Inka sudah nekad. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ini pertama kalinya dia akan berbicara dengan Fian dikamarnya. Karena sikap Fian yang dingin itu, Inka jadi tidak tahu mau memulai pembicaraan dari mana tiap kali mereka ketemu di meja makan. Makanya sekarang ini terasa aneh sekali bagi Inka untuk berbicara dengan Fian.
“ Inka? ada apa? kenapa kamu bisa ada disini?” tanya Fian dengan mimik kaget sekaligus heran. Inka tersentak. Sejak tadi dia melamun dan tiba-tiba Fian membuka pintu.
“ Ng..anu..itu..bi..bisa kita bicara sebentar? ada hal penting yang mau saya sampaikan. Bolehkan?” Inka tidak menunggu jawaban Fian. Dia langsung masuk. Fian mau protes tapi dia hanya terpaku memandang Inka yang melenggang masuk kedalam kamarnya tanpa bisa dicegah. Fian kemudian menutup pintu. Dia lalu duduk ditempat tidur sedangkan Inka sudah duduk dengan manis di kursi depan meja belajr Fian.
“ Ada apa? katamu cuma sebentar. Jadi langsung saja ngomong..” Fian membuka pembicaraan. Sikapnya dingin. Inka mengatur nafas beberapa kali sebelum bicara.
“ Maaf sebelumnya, tapi saya tahu sesuatu yang kamu sembunyikan di balik lemari itu.” Ucap Inka sambil menunjuk lemari yang pernah dia dorong dan ada di pintu dibelakangnya. Diluar dugaan Inka, sikap Fian biasa-biasa saja.
“ Ada apa di belakang lemari? memang aku sembunyikan apa?” tanya Fian dengan heran. Inka jadi kikuk sendiri. Padahal dalam pikirannya mungkin Fian akan marah karena rahasianya ketahuan. Inka langsung berdiri. Dia menuju lemari dan siap-siap mendorongnya. Fian yang melihatnya terheran-heran.
“ Hei! ada apa sebenarnya? memang apa yang kamu temukan dibelakang lemari?” Inka tidak menjawab. Dia mendorong lemari itu. Aneh kenapa terasa berat sekali? padahal beberapa hari yang lalu Inka bisa mendorongnya. Apa Fian sudah mengganti lemarinya dengan yang lebih berat lagi? pikir Inka.
“ Bantu saya dorong lemari ini dulu. Jangan tanya macam-macam..” Fian menurut. Dia ikut mendorong lemari itu. Inka langsung terlonjak kaget begitu lemari bergeser. Pintu yang ada di belakang lemari itu tidak ada. Yang ada hanya tembok. Inka memukulnya tidak percaya. Kenapa jadi tembok? mana pintunya? pertanyaan itu bergantian hadir dibenaknya. Fian yang berdiri disampingnya ikut bingung. Dia mencari-cari sesuatu juga.
“ Apa yang kamu temukan di belakang lemari? apa kamu menemukan tikus?” Fian mencoba bercanda karena sikap Inka tampak aneh.
“Kenapa bisa begini? beberapa hari yang lalu saya masuk kekamarmu. Karena ada teriakan minta tolong dari belakang lemari, trus lemarinya saya dorong dan ada pintu ke ruangan bawah. Tapi kenapa sekarang pintunya tidak ada?”
“ Eh, non sejak aku tinggal di rumah ini dan sejak kamar ini aku tempati tidak ada pintu di belakang lemari. Eit, kenapa kamu berani masuk ke dalam kamarku?” tanya Fian seakan baru sadar kalau Inka pernah masuk ke dalam kamarnya. Inka masih berdiri memandangi tembok di belakang lemari. Dia tidak mempedulikan pertanyaan Fian.
“ Kenapa bisa begini? ada pintu di sini dan saya ke ruangan bawah. Di sana ada wanita yang sedang sakit. Dia hanya berbaring tidak bisa bangun untuk berjalan. Kamu harus menolongnya Fian, wanita itu sedang sakit…” Inka memandang Fian dengan memelas.
“ Inka, dengar! tidak ada pintu di belakang lemari ini dan tidak ada ruangan bawah dikamarku, apalagi seorang wanita yang sedang sakit. Kamu aneh. Apa kamu habis tidur dan bermimpi ketemu seseorang dikamarku?” Inka tidak menjawab. Dia memilih duduk di kursi kemudian diam sambil memandangi tembok yang dikiranya pintu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Apakah kemarin itu dia bertemu dengan hantu wanita? tapi kenapa begitu nyata?
“ Inka,kamu ini kenapa? aku jadi tidak mengerti. Ada pintu di belakang lemari, ada ruangan bawah, ada wanita yang sedang sakit. Sebenarnya apa yang terjadi sih? kamu kog jadi aneh begitu? atau jangan-jangan kamu sudah bosan ya dirumahku dan pengen pulang kerumahmu atau kamu mau jalan-jalan trus minta aku anterin, begitu ya?” Fian mencoba bercanda. Tapi Inka malah memandangnya.
“ Fian,apa kamarmu ini ada hantunya? Kemarin itu saya benar-benar melihat pintu dan melewatinya keruangan bawah. Saya juga bertemu wanita itu, dia mengaku sebagai ibu kandungmu. Saya tidak main-main Fian. Saya betul-betul mengalaminya..” Fian menatap Inka heran.
“ Ibu kandungku? aneh. Kamukan tahu ibuku sudah meninggal dua tahun yang lalu dan fotonya ada di teras belakang. Kamu sudah melihatnyakan? apa kamu tidak bisa mengenali siapa wanita itu kalau memang dia ibu kandungku..”
“ Tapi dia mengaku begitu…”
“ Ok. Begini saja. Kalau kamu memang mengalami hari yang membingungkan anggap itu hari naasmu. Tapi yang jelas tidak ada apa-apa didalam kamarku.Titik!. Pengalaman apapun yang kamu alami kemarin, sama sekali tidak ada buktinya dikamarku sekarang ini. Jadi tolong kembali kedunia nyata, dunia kita. Tidak ada pintu ajaib, tidak ada ruangan bawah dan tidak ada wanita yang mengaku sebagai ibuku. Ok.?” Fian memegang pundak Inka.
“ Tapi yang wanita itu ceritakan sangat tepat. Cocok dengan kondisi rumah ini.” Inka masih mencoba bertahan dengan pikirannya.
“ Memangnya apa yang dia ceritakan?”
“ Dia bilang rumah ini punya banyak masalah, rumah ini bukan milik paman tapi milik seorang nyonya yang sangat kaya. Dia juga bilang paman mau membunuhnya jadi kamu sembunyikan dia dibawah. Dia bilang hubunganmu dengan paman tidak baik jadi kalian tidak akrab karena paman mencurigai kamu menyimpan dokumen-dokumen kekayaan nyonya itu.” Fian tersenyum memandang Inka.
“ Inka, Inka. Tidak ada masalah dirumahku ini. Satu-satunya masalah kami adalah karena kami kehilangan wanita yang sama-sama kami cintai yaitu ibuku. Ayahku berusaha melupakan ibu, aku juga. Kami harus terbiasa tanpa kehadiran ibu di antara kami. Tapi itu bukan berarti kami bermasalah. Ayahkan sibuk, aku juga dengan tugas-tugas kuliahku, tapi bukan berarti kami tidak akrab. Aku sering bicara dengan ayahku via handphone. Jadi semua hal bisa kami bicarakan tanpa harus selalu ketemu karena jadwal ayah yang terlampau padat.”
“ Lalu rumah ini, katanya bukan milik paman.”
“ Siapa bilang? ayah membelinya dari kliennya. Kliennya itu menjualnya ke ayah karena percaya bahwa ayah bisa menjaga rumah ini karena ayah termasuk kolektor benda-benda seni juga. Apalagi yang ingin kamu tanyakan? tanyakan saja” Ucap Fian dengan pandangan lugu.
“ Lalu wanita yang jadi pembantumu itu yang katanya ibu kandungmu bagaimana?”
“ Dulu, sebelum bi Pati, kami memang ada pembantu. Tapi dia sudah tua sekali. Makanya ibu kasihan dan menyuruhnya pulang kampung saja. Cuma itu.”
“ Lalu kulkas itu? dan dapur itu juga? kenapa kamu sediakan dalam kamarmu kalau bukan untuk memasakkan wanita itu..?” Fian tertawa ngakak. Lama sekali. Inka jadi terpana. Baru kali ini dia melihat Fian tertawa seperti itu dan sangat tampan.
“ Aku hobby memasak Inka. Juga hobby makan. Cuma kadang aku malas ke dapur, karena kamu tahu sendirikan? jarak dari kamarku ke dapur jauh. Aku bisa lapar lagi pas sampe di kamar. Kadang-kadang kalau bete aku masak makanan kesukaanku. Itu saja.”
“ Jadi wanita itu siapa?” Inka bingung sendiri.
“ Entahlah mungkin dia penunggu kamarku ini.” Ucap Fian. Dia terus menggoda Inka.
“ Jadi kamu ingin bilang kalau wanita itu hantu?” Inka mencoba menekan kata-katanya karena dia sendiri takut mendengar ucapannya. Fian mengangguk
“ Kamu terlalu banyak berkhayal ya? begini saja. Karena ujianku sudah selesai, bagaimana kalau ntar malam aku ajak kamu jalan-jalan? bagaimana? rasanya suntuk juga habis ujian, pengen refresing.” Ucap Fian mencoba membujuk Inka. Inka tersenyum kecut karena masih bingung dengan kejadian yang dialaminya.
Akhirnya Inka kembali kekamarnya dengan luar biasa bingung. Apa yang terjadi dengannya? apakah dia sudah stres karena sekian lama hanya berdiam didalam rumah. Tapi kejadian itu benar-benar nyata. Tapi apa yang diceritakan wanita itu sama sekali tidak cocok walaupun secara kasat mata kelihatan sesuai dengan kondisi rumah ini. Tapi semuanya tidak diakui Fian. Apa wanita itu memang sengaja membuatnya bingung. Kalau wanita itu hantu, Inka jadi merinding sendiri. Sebenarnya dia hantu siapa? Inka langsung keluar kamar. Dia ingin menemui bi pati dapur. Tapi di sana dia tidak menemukan bi Pati. Kemana lagi wanita itu? pikir Inka kesal. Otaknya berpikir keras kira-kira bi Pati lagi berada di mana? setelah lama mencari ke seluruh ruangan akhirnya Inka menemukan bi Pati sedang membersihkan karpet-karpet di halaman samping.
“ Bi, di rumah ini apa pernah ada wanita yang mati penasaran?” tanya Inka tiba-tiba. Bi pati yang membelakanginya langsung terlonjak kaget.
“ Aduh, non. Hampir saja jantung bibi copot! ada apa sih? bikin kaget bibi saja..”
”Bi, jawab dong. Apa bibi pernah dengar informasi kalau di rumah ini pernah ada wanita yang mati penasaran atau meninggal tidak wajar?” bi Pati berpikir sebentar.
“ Ada, non. Tapi dulu, sudah lama. Mati di bunuh. Rumah ini kan berapa kali ganti pemilik. Pemilik yang kedua itu yang meninggal di bunuh sama pacar gelapnya. Itu kata orang non..”
“ Bibi tahu siapa nama wanita itu?” bi Pati menggeleng.
“ Ada apa toh non? memang non Inka pernah ketemu hantunya?” mata Inka langsung membulat. Dia kaget setengah mati atas pertanyaan bi Pati.
“ Memang kenapa bi kalo saya tanyakan hal seperti itu? apa kesannya saya pernah ketemu hantunya?” tanya Inka bodoh.
“ Memang non pernah ketemu hantunya?”bi Pati balik bertanya yang tidak kalah bodohnya. Inka bersungut kesal. Dia langsung meninggalkan bi Pati. Baru saja Inka bermaksud kembali kekamarnya, Fian sudah memanggilnya dari arah depan. Setengah berlari dia menghampiri Inka.
“ Aku sudah menghubungi ayahku. Dia tahu siapa wanita yang kamu maksud.” Ucapnya begitu berada di ekat inka.
“ Wanita yang mana?”
” Hantu wanita yang kamu temui dikamarku. Ternyata namanya Hana. Dia pemilik kedua rumah ini. Dia mati di bunuh kekasihnya sendiri. Di bunuh di ruangan bawah tanah. Cuma ruangan itu sejak pemilik yang ketiga sudah di tutup.” Jelas Fian.
“ Saya ingat, namanya memang Hana. Jadi saya benar-benar ketemu hantu? tidak!!! Ayah…!!! saya mau pulang saja….!” teriak Inka. Fian yang melihatnya langsung tertawa . Tinggal Inka yang memukulnya karena merasa di ledek. Inka tiba-tiba merasa ketakutan untuk tinggal lebih lama lagi. Walaupun Fian mencoba menghiburnya dengan mengajak jalan-jalan keliling kota, cuma rasa takut dan kaget itu lebih mengusai pikirannya. Inka merasa tidak tenang sebelum ketemu ayahnya.
Malamnya, saat makan malam. Pak sunandar memberitahu Inka cerita mengenai wanita yang menjadi pemilik kedua rumah ini.
“Tapi paman kenapa wanita itu menyebut nama Fian? saya sampai percaya karena semua yang dia ceritakan cocok dengan situasi rumah ini.” Ucap Inka setelah pamannya bercerita.
“Dia memang ada anak yang namanya Fian, tepatnya Sofyan. Sedangkan Fiankan nama lengkapnya Alfian. Mengenai cerita yang lain yang mirip dengan kehidupan kami, itu hanya kebetulan saja. Tantemu juga pernah bertemu hantu wanita ini. Tantemu bahkan sempat marah ke paman karena mengira paman menyembunyikan wanita lain dalam rumah.” Pak Sunandar tertunduk. Dia ingat almarhum istrinya. Matanya jadi berkaca-kaca.
*****
Beberapa hari kemudian Inka pulang kembali kerumahnya. Membayangkan dia ngobrol dengan hantu membuatnya tidak dapat tidur nyenyak di rumah Fian. Dua hari terakhir bi Pati yang menemaninya tidur. Liburan kali ini benar-benar menyeramkan bagi Inka tapi dia tetap bersyukur. Setidaknya ada bahan cerita yang nantinya akan dia ceritakan keteman-temannya. Cerita yang tentunya tidak kalah seru dengan kisah pendakian teman-temannya.
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar