Senin, 19 Desember 2011

Cinta Dalam Hati Yoan ( 1 )

0



” Sayang, mau kemana lagi?” tegur mamanya saat kaki Yoan hendak mencapai pintu pagar. Yoan tersadar. Ternyata dia belum pamit ke mamanya. Karena tergesa-gesa dia tidak melihat mamanya yang sedang melihat bunga-bunga di halaman.

Yoan segera mendekati mamanya.

” Yoan, pergi dulu ya, ma.” pamit Yoan lalu mencium tangan mamanya. Yoan segera berbalik.

” Yoan, tunggu dulu. Mama hampir lupa.” mamanya kemudian masuk ke dalam rumah. Yoan berjalan kembali menuju teras, menunggu mamanya keluar.

” Ini ada titipan buat tante Miska. Kamu sekalian singgah dirumahnya.” mamanya menyerahkan kotak yang telah terbungkus rapi.

” Apaan nih, ma?” tanya Yoan penasaran.

” Pesanan tante Miska.” jawab mamanya sambil berjalan ke arah tanaman hiasnya. Yoan masih berdiri, dia terlihat ragu.

” Tapi, ma. Yoan buru-buru. Yoan harus ada dikampus sekarang, teman-teman udah nunggu.”

” Kamu singgah aja sebentar. Mama kan nggak nyuruh kamu nginap di rumah tante Miska. Udah bawa aja. Kasihan tantemu, sejak kemarin dia nungguin.”

Yoan akhirnya melangkah dengan wajah cemberut. Dia menggantung dos itu di motornya, lalu membuka pintu pagar.

” Hati-hati di jalan.” teriak mamanya saat Yoan sudah menjalankan motornya. Yoan masih mengeluh dalam hati. Walau jalan kerumah tante Miska searah dengan kampusnya tapi tetap saja butuh waktu untuk singgah di rumah tantenya itu.

Yoan menjalankan motornya dengan cepat. Dia menyalip kendaraan lain yang jalannya sangat lambat. Itulah kelebihan punya motor, bisa merangsek maju disela-sela kendaraan lain. Sambil menjalankan motornya, Yoan melihat jam tangannya. Dia makin gelisah. Waktu terus bergerak maju. Sebentar lagi jam satu siang. Bagaimana kalau teman-temannya tidak menunggunya? Pikirnya cemas.

Yoan berbelok. Dia masuk ke perumahan yang lumayan elit. Matanya memperhatikan jalan didepannya. Yoan wajar ekstra melihat karena beberapa kali datang ke rumah tante Miska, dia selalu tersesat. Kalau sekarang dia tersesat lagi, maka itu sama saja dia membuang waktu. Waktu yang semakin sempit harus dia manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Yoan tersenyum. Rumah tante Miska terlihat. Dia segera mendekati rumah tante Miska, menghentikan motornya lalu memarkirnya di depan pintu pagar. Karena pintu pagar dalam posisi terbuka, Yoan langsung masuk tanpa permisi lebih dulu.

” Eh, siapa kamu? Masuk masuk rumah orang nggak pake permisi. Kamu maling, ya?” tegur seseorang dengan suara keras. Yoan mencari arah suara itu. Tadinya dia hendak masuk lewat pintu samping yang ada di garasi tapi karena suara itu, dia kemudian mengurunkan niatnya. Yoan berhenti dekat teras. Matanya menatap seseorang yang perlahan-lahan mendekatinya. Seorang pemuda yang sangat tampan. Kulitnya tidak terlalu putih, tapi wajahnya itu membuat Yoan terdiam.

” Kamu siapa? Kenapa masuk ke rumah orang nggak permisi?” pemuda itu masih bertanya.

Yoan takjub. Dia tak berkedip menatap pemuda di depannya. Pemuda itu mengibaskan tangan ke wajah Yoan.

” Hei! Aku tanya kamu! Siapa kamu? Berani-beraninya masuk kesini!” Yoan tergagap.

” Eng…anu..ini..ehm.. mau bawakan ini untuk tante Miska..” jawab Yoan dengan suara terbata.

Pemuda itu melihat dos yang ada dalam plastik yang tengah dipegang Yoan.

” Titipan? Siapa yang titip? Ini bukan bom kan?” tanyanya penuh selidik. Yoan tersenyum tapi buru-buru menghentikan senyumnya karena pemuda itu langsung menatapnya.

” Ya sudah, titipannya aku ambil. Tapi titipan ini dari siapa?”

” Dari mamaku.”

” Iya. Tapi nama mamamu siapa? Nama kamu saja aku nggak tahu, gimana sih?” sungut pemuda itu sambil terus memperhatikan Yoan.

” Bilang saja, dari mamanya Yoan.”

” Oh, nama kamu Yoooan?” Yoan mengangguk. Dia sangat suka saat pemuda itu menyebut namanya. Cara pemuda itu menyebut namanya sangat lucu. Dia menyebut Yoan dengan Yoooan. Sepertinya huruf O dalam namaYoan lebih dari satu. Padahal namanya tidak sepanjang itu.

Yoan kemudian pamit lalu keluar menuju motornya. Sekilas dia memandang pemuda itu. Dia masih berdiri di teras. Masih memandangi Yoan. Karena menyadari tengah diperhatikan, Yoan jadi gugup. Yoan tidak memperhatikan ban motornya yang kempes. Dia menghidupkan motornya.

” Motor kamu bannya kempes!” teriak pemuda itu. Yoan mematikan motornya karena pemuda itu berulang-ulang berteriak padanya.

” Ada apa?” Yoan balik bertanya dengan suara keras. Pemuda itu mendekatinya. Dia berdiri di pintu pagar.

” Ban motor kamu kempes. Kamu nggak liat? Aku aja dari dalam bisa liat.” ucap pemuda itu. Yoan turun dari motornya. Dia melihat ke dua ban motornya.

” Belakang tuh yang kempes.” Yoan akhirnya bisa melihat kalau ban belakang motornya telah mengempis. Dia mulai panik. Bagaimana ini? Dia bisa terlambat sampai ke kampus. Mana daerah sini tidak ada angkot, pikir Yoan cemas.

” Titip aja motor kamu disini. Kamu pulang saja naik taksi atau kamu cari tukang tambal ban. Disana ada tuh, jaraknya dua kiloan kali.”

“Hah? Apa tidak ada yang dekat? Aku buru-buru nih. Aku harus tiba di kampus. Kalau nggak aku bisa ditinggal teman-teman.” Ucap Yoan panik. Dia mulai putus asa.

” Nggak ada yang dekat. Adanya cuma itu. Ya sudah, kamu naik taksi saja.”

” Taksi?” tanya Yoan cemas. Ini masalah lagi buat dia.

” Iya. Habis bagaimana lagi? Disini tidak ada angkot, tambal ban jauh. Pilihan kamu hanya naik taksi.”

” Tapi aku nggak bawa uang!!!!” jerit Yoan tak sadar dengan siapa dia berbicara. Dia terlanjur panik. Pemuda itu menatapnya heran.

” Masak kamu nggak bawa uang?”

” Cuma sedikit. Tadi karena buru-buru aku lupa minta lagi sama mama.” jawabnya lesu. Pemuda itu berpikir sebentar.

” Ok, begini. Motor kamu titip disini. Aku antar kamu ke kampus.” ucap pemuda itu lalu membawa motor Yoan masuk ke garasi. Yoan masih berdiri di dekat pagar. Dia tak percaya pemuda itu akan mengantarnya ke kampus. Wah, ini keajaiban dunia ke sebelas, teriaknya dalam hati. Yoan membayangkan pandangan teman-temannya saat melihatnya nanti.Dia tersenyum-senyum sendiri hingga tak menyadari pemuda itu tengah menatapnya. Pemuda itu hanya menghela nafas. Dia heran melihat tingkah Yoan. ***

Bersambung…………………………

0 komentar:

Posting Komentar