Sore di sebuah halte. Eric berdiri. Sambil mengisap rokoknya dia merapatkan jaket yang lumayan tebal. Hujan yang turun sore ini membuat cuaca terasa dingin. Entah sudah seberapa sering dia menegok ke arah kanan seperti menanti kedatangan bis. Tapi setiap kali sebuah bis berhenti di depannya, kakinya tidak juga melangkah memasuki bis tersebut. Dia hanya memandangi satu persatu penumpang yang ada dalam bis. Sambil menanti dengan harap setiap ada penumpang yang turun.
Hujan makin deras. Sebatang rokok yang dihisapnya makin mengecil. Sejak tadi tak terasa sudah sebungkus rokok yang dia hisap. Tapi seseorang yang ditunggunya belum juga tiba. Hatinya mulai gelisah. Dirogohnya kantong jaketnya. Sebuah handphone tergenggam di tangannya. Matanya melihat lagi kearah kanan. Masih mencemaskan sesuatu yang dinantinya.
Akhirnya tangan-tangannya memencet tombol-tombol handphone. Tapi handphone yang dituju tidak aktif. Eric makin gelisah. Malam sudah hampir turun. Haruskah dia menunggu hingga larut ditempat ini? Tanyanya bimbang. Seharusnya dia sudah datang sejak tadi, batinnya sambil duduk di halte.
Eric mencoba menghubungi kembali nomor handphone yang tadi. Tersambung. Terdengar suara seorang wanita.
“ Hallo..” suara wanita di seberang terdengar datar.
“ Marisa. Ini aku. Kitakan sudah janji ketemu di halte?” tanyanya dengan wajah gelisah.
“ Pergilah, mas. Aku tidak bisa ikut denganmu” jawab wanita itu dingin. Eric terperanjat.
“ Tapi kamu kan sudah janji? Bagaimana bisa kamu mengingkari janjimu sendiri?” suaranya terdengar putus asa.
“ Maaf, pergilah dari kehidupanku, mas. Jangan mencoba menghubungi aku lagi”
“ Tapi kenapa? Kenapa kamu jadi berubah?”
Telpon di tutup.
Eric menatap handphonenya seolah tak percaya. Dia mencoba menghubungi nomor itu kembali. Tidak diangkat. Dia mengulangi lagi. Kali ini nomor itu tidak aktif. Tubuhnya serasa lemas. Dia terduduk di tembok panjang yang ada di halte. Malam benar-benar telah menghiasi bumi. Hujan yang turun sejak tadi makin menambah kepedihan di hati Eric. Tak percaya dengan suara wanita yang baru saja didengarnya. Benarkah Marisa yang tadi menerima telponnya? Mengapa suaranya terdengar datar dan dingin? Mengapa secepat itu dia berubah? Padahal baru dua hari yang lalu, dengan suaranya yang riang dia menjawab akan mengikuti Eric kemana saja. Kenapa sekarang jadi berubah? Apakah telah terjadi sesuatu? Padahal uang yang mereka butuhkan untuk membina kehidupan baru sudah dia dapatkan. Mereka bisa memulai hidup dengan uang dari hasil penjualan rumahnya.Tak perlu takut akan menderita. Uang itu lebih dari cukup.
Sebelumnya dia ragu dengan rencana Marisa untuk melarikan diri. Ragu karena dia tidak punya penghasilan yang bisa dia andalkan untuk membiayai kehidupan mereka. Sejak enam bulan yang lalu perusahaannya bangkrut. Tak ada pekerjaan lagi setelah itu. Dia melamar kerja ditempat lain, tapi hasilnya nihil. Mencari kerja di waktu sekarang harus bersaing dengan jutaan orang. Semua lamaran yang dia kirimkan tidak ada hasil. Akhirnya satu-satunya harapannya adalah menjual rumah yang merupakan peninggalan orang tuanya. Rumah itu terletak di dalam gang. Walau tergolong sederhana dan luas tanahnya juga tidak seberapa, ternyata masih ada juga orang yang berminat. Tidak tanggung-tanggung tawarannya membuat Eric tidak bisa tidur selama tiga hari. Dia benar-benar tidak percaya ada orang yang langsung menawarkan sejumlah uang padanya. Padahal kalau melihat model rumah, luas tanah dan lokasi, harganya tidak akan setinggi itu. Tapi itulah yang terjadi. Tangan Eric gemetar saat menandatangani sejumlah dokumen. Apalagi saat dia menerima cek dan melihat angka yang tertera di cek tersebut. Matanya serasa berkunang-kunang. Beberapa kali dia menghitung angka nol yang tertera di kertas cek tersebut. Dia ingin memastikan kalau matanya tidak salah lihat. Tapi berulang-ulang menghitung, jumlahnya memang benar.
Fantastis. Erik berjingkrak-jingkrak kegirangan begitu tiba dirumahnya. Sambil bernyanyi tangannya mengayunkan kertas cek itu. Dia menari dengan riang. Hatinya benar-benar gembira. Dalam pelupuk matanya, senyum manis Marisa terus terbayang.Tenanglah Marisa, tak ada lagi halangan untuk kita membina cinta kita, batinnya. Dengan semangat dia merapikan seluruh pakaiannya. Seluruh perabotan yang ada dalam rumah, sebelumnya telah dia berikan ke tetangga. Mereka adalah tetangga yang sejak kecil telah dikenalnya. Memberikan kenang-kenangan untuk mereka akan sangat membahagiakan. Apalagi tetangganya tergolong orang yang sederhana bahkan sangat sederhana.
Saat akan berangkat, Eric menatap lagi rumahnya untuk yang terakhir kali. Ada rasa sedih yang hinggap dihatinya. Teringat kedua orang tuanya yang telah wafat. Teringat pesan bapaknya agar tidak menjual rumah ini. Tapi sekarang rumah itu sudah berpindah pemilik. Walau sedih Eric harus merelakan. Dia terpaksa tidak menuruti pesan bapaknya. Andai tidak terdesak Erik tidak akan menjual rumah ini.
Dengan langkah sedih, Eric melangkah sambil menenteng tasnya. Dia tak ingin berbalik. Bagaimanapun rumah itu hanya jadi kenangan untuknya. Masa depannya sudah menanti. Masa depan bersama Marisa. Gadis yang sangat dia cintai. Gadis yang selama lima tahun menjadi kekasihnya. Marisa begitu baik. Dia mau menjadi kekasih Eric padahal Eric dan dia tidak sebanding. Eric adalah buruh pabrik yang penghasilannya tidak seberapa. Sedangkan Marisa dari keluarga berada. Orang tua Marisa terkenal sebagai pengusaha sukses. Marisa bahkan pernah mengusulkan akan meminta orang tuanya memperkerjakan Eric di perusahaan papanya. Tapi itu sebelum hubungan mereka diketahui orang tua Marisa. Setelah ketahuan justru kesulitan-kesulitan yang terus menimpa mereka. Tak ada pekerjaan apalagi restu. Hubungan mereka ditentang. Eric dan Marisa akhirnya menjalani kehidupan dengan sembunyi-sembunyi.
Keputusan akhirnya mereka ambil setelah beberapa kali Marisa dengan isaknya membujuk Eric untuk lari bersama. Tapi saat itu Eric tak berdaya. Kalaupun lari tapi tetap tinggal satu kota dengan orang tua Marisa tetap akan menimbulkan masalah. Eric berencana membawa Marisa keluar propinsi. Dengan berbeda propinsi, kemungkinan orang tua Marisa akan sulit menemukan mereka. Rencana itu kian mantap saat ada seseorang yang berminat membeli rumahnya. Dia memang memasang iklan di surat kabar. Tak disangka, baru sehari iklan itu terpasang sudah ada yang berminat dan langsung memberikan harga yang tinggi.
Ketika menghubungi Marisa dan memberitahu rencananya, Marisa begitu gembira. Dia bahkan menunjukkan tempat pertemuan mereka di sebuah halte bis. Mereka janjian ketemu sore tadi. Tapi sampai malam tiba, sosok Marisa tidak juga muncul. Eric kembali berdiri. Matanya tetap tertuju kearah kanan. Rasa putus asa kian tampak di mata dan wajahnya. Dilihatnya jam yang melingkar ditangannya. Sudah jam sembilan. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Benarkah Marisa tidak ingin ikut dengannya? Lalu hendak kemana dia tanpa Marisa? Apa gunanya uang ini kalau mereka tidak bisa pergi bersama. Dia sudah mempertaruhkan seluruh kenangan yang ada dalam rumahnya demi keinginan lari bersama Marisa. Kenangan yang tidak bisa tergantikan. Tapi karena kekuatan cinta, semua itu dia tepiskan. Lalu dimana Marisa? Mengapa dia tega membiarkan aku menanti disini? bisik hati Eric dengan sedih. Eric duduk kembali di tembok halte. Apakah harapannya telah musnah? Dia tidak mungkin mendatangi rumah Marisa. Justru itu akan membongkar rencana mereka untuk melarikan diri. Orang tua Marisa pasti tidak akan membiarkan putrinya pergi begitu saja. Lalu apa yang harus dia lakukan? Pertanyaan ini terus mengalun di pikiran Eric. Dia tidak mungkin terus diam menanti. Bukankah jawaban dari Marisa sudah cukup jelas, agar dia tidak usah menghubunginya lagi? Tapi benarkah itu Marisa? Jangan-jangan itu suara orang lain yang mirip, Eric terus menduga-duga.
Eric tidak tahu. Marisa sedang menangis di kamarnya. Dia baru tahu kalau orang tuanya yang telah membeli rumah Eric. Orang tuanya mengancam. Kalau Marisa melarikan diri dengan Eric, maka orang tuanya akan melaporkan Eric dengan tuduhan berlapis. Orang tuanya sudah siap dengan rekayasa itu. Karena terlalu gembira Eric tidak sempat lagi membaca setiap kertas yang dia tanda tangani. Di dalam kertas itu ada perjanjian kalau Eric bersedia melepas Marisa dengan imbalan sejumlah uang. Kalau dia mangkir dari perjanjian itu, dia akan berhadapan dengan hukum. Marisa tidak berdaya. Dia tidak ingin mencelakakan Eric. Sambil mengusap airmatanya, ditatapnya selembar foto Eric yang masih sempat dia sembunyikan. Mamanya telah memeriksa seluruh isi kamar. Mamanya tidak ingin ada kenangan Eric yang tertinggal dalam kamar Marisa.
Marisa tidak tahu, Eric masih menunggunya di halte. Eric menunggu dalam rasa dingin karena hujan yang tidak juga reda. Akhirnya Eric berdiri. Dia berjalan meninggalkan halte. Dibawah guyuran hujan dia terus melangkah. Membawa kepedihan hatinya. Tak ada Marisa yang ikut bersamanya. Hanya dia sendiri menyusuri malam dengan rinai hujan.***
0 komentar:
Posting Komentar