Susan melihat kembali dirinya di dalam cermin. Sempurna. Dia terlihat cantik dengan gaun ini. Gaun sederhana yang kebetulan dibelinya saat jalan-jalan ke mall dua minggu yang lalu. Saat itu tak ada niat untuk membeli. Dia hanya melihat-lihat karena tertarik dengan warna dan modelnya. Tapi kemudian terlintas dalam pikirannya. Dua minggu lagi dia akan berulang tahun. Gaun apa yang nanti dia pakai? Semua gaunnya sudah lewat satu tahun. Dia memang jarang membeli gaun. Pertimbangan ekonomis. Masih banyak keperluan mendesak yang harus diutamakan. Akhirnya dia membeli gaun itu. Tidak masalah. Harganya juga tidak terlalu mahal. Susan hanya harus menghemat pengeluaran pulsanya selama sebulan.
Handphonenya berbunyi. Susan segera keluar dari kamar. Mengunci kamar lalu mengangkat telpon.
” Hallo..ya..aku segera kesana.”
Bergegas Susan keluar dari kamar. Jam empat sore. Dia janji kencan dengan suaminya. Tadi suaminya menelpon memberitahu kalau dia sedang dalam perjalanan. Susan menjalankan mobilnya dengan hati riang. Hari ini dia ingin membuktikan sesuatu.
Susan masuk ke sebuah cafe. Dia memilih duduk di sudut. Biar bisa mojok berdua dengan suaminya. Dia memeriksa kembali riasan wajahnya melalui cermin kecil yang selalu dibawanya. Tidak ada masalah. Sekarang tinggal menunggu mas Irsyad. Ehm..itu nama suaminya.
Handphone Susan berbunyi nada pesan. Dia segera membaca pesan dari Irsyad.
Maaf, Susan. Aku nggak bisa ketemu kamu sekarang. Ada masalah penting!
Susan terdiam membaca pesan dari Irsyad. Ada rasa cemas yang hadir dihatinya. Masalah penting apa gerangan yang membuat Irsyad membatalkan kencan mereka. Ini bukan kencan sembarangan. Ini adalah peringatan ulang tahun pernikahan mereka yang ke empat. Ide ini Susan dapatkan setelah dia berkunjung kerumah mertuanya minggu lalu.
Setiap bulan ada acara kumpul-kumpul di rumah mertuanya. Semua anak dan menantu kumpul untuk mengikuti acara arisan keluarga. Hari itu kebetulan Irsyad tidak bisa hadir karena sedang ada diluar kota.
Acara belum berlangsung ketika tanpa sengaja Susan melintas di kamar adik iparnya yang belum menikah, Leni.Didalam kamar Leni terdengar suara-suara yang sedang berbincang. Susan mengenalnya itu adalah suara Firda dan Yani. Mereka adalah istri dari Kisman dan Fahri, kakak dari Irsyad. Susan bermaksud bergabung dengan mereka ketika telinganya mendengar pembicaraan yang tidak biasa..
” Lho..foto siapa tuh, Len? Cantik banget.”
” Oh, itu foto pacar pertamanya mas Irsyad.”
” Hah? Cantik banget.Kok mereka bisa putus?”
” Dia dijodohkan dengan orang lain. Mama juga nggak setuju.”
” Mama nggak setuju? Kenapa?”
” Karena orang tua mbak Nirma terlalu sombong. Mama nggak mau punya besan yang sombong.”
Susan serius mendengarkan dari balik pintu. Dia penasaran dengan pembicaraan mereka.
” Trus gimana dengan mas Irsyad?”
” Ini rahasia ya mbak, jangan ketahuan mbak Susan. Mas Irsyad itu masih suka ingat dengan mantan pacarnya itu. Nih, dia masih nyimpan baju yang dulu dia pake waktu mereka mereka kencan pertama kali.”
” Baju ungu? Mas Irsyad kan tidak suka pake baju ungu?”
” Bukan nggak suka. Tapi selalu ingat mantan pacarnya kalau liat warna ungu.”
Perlahan Susan melangkah menjauh meninggalkan kamar Lina. Dia menyepi di kamar mandi. Hatinya sedih. Dia sekarang jadi tahu alasan mengapa suaminya tidak suka memakai baju ungu. Karena itu untuk membuktikan apakah suaminya masih mengingat mantan kekasihnya, Susan membuat kencan ini. Dia ingin tahu apakah suaminya benar-benar telah melupakan mantan kekasihnya itu.
Dia meminta suaminya, Irsyad memakai baju ungu. Semula Irsyad protes. Wajahnya terlihat tegang saat Susan memintanya memakai baju ungu dalam kencan mereka. Tapi karena Susan terus memohon, akhirnya Irsyad setuju. Susan ingin menghilangkan ingatan Nirma dalam fikiran suaminya. Dia tidak ingin wanita itu terus membayangi perkawinannya. Wanita itu adalah masa lalu yang harus ditinggalkan untuk masa lalu. Bukan menjadi bayangan yang terus mengikuti suaminya.
Tapi sekarang, saat dia sedang mempersiapkan batin untuk menghilangkan bayangan mantan kekasih suaminya. Justru Irsyad batal datang di kencan mereka. Dengan alasan yang tidak jelas. Irsyad hanya mengatakan masalah penting. Masalah penting apa? Batin Susan terus bertanya. Dia meninggalkan cafe dengan rasa gundah. Kencan batal. Padahal dia sudah menitipkan anak semata wayangnya kerumah orang tuanya. Semua demi kelancaran kencan mereka.
~
Jam sebelas malam. Irsyad belum juga kembali. Susan terbangun dari pembaringan. Dia merasa aneh. Tidak biasanya suaminya belum kembali selarut ini. Kalau ada urusan kerja, suaminya akan lembur sampai jam sembilan malam. Tidak pernah lebih dari itu.
Susan meraih handphonenya. Mencoba menghubungi suaminya. Tapi handphone suaminya tidak aktif. Susan makin gelisah. Dia keluar dari kamar terus menuju ruang tamu. Disingkapnya tirai jendela, mencoba melihat keluar. Jalanan sepi. Tak ada tanda-tanda kedatangan suaminya.
Karena rasa penasaran yang kian menguasai pikirannya. Susan mencoba menelpon ke kantor. Ada yang menerima..
” Halo…..” sapa Susan. Lama tidak ada suara.
” Halo..bisa bicara dengan mas Irsyad?”
” Halo..ini aku, San.” Susan tersentak kaget. Suaminya masih ada dikantor jam sebelas malam?
” Mas… ada apa? Mas lembur dikantor?” tidak ada suara. Hanya desah nafas yang terdengar berat.
” Mas? Ada masalah apa?” Susan terus mengejar dengan pertanyaan.
” Maaf, San. Aku ingin sendiri malam ini. Aku tidur dikantor dulu, ya.”
” Mas!!!
Telpon ditutup. Susan panik. Dia tidak tahu masalah apa yang tengah menimpa suaminya. Karena itu walau tengah malam, dia nekad datang ke kantor suaminya. Dia tidak tenang. Tidak bisa tidur membayangkan suaminya dengan beban masalah, sendirian berada dikantor. Susan ingin menemani suaminya. Dia khawatir terjadi sesuatu.
Tiba dikantor suaminya. Suasana sangat gelap. Susan terus menuju ruangan suaminya. Dari ujung lorong ruangan suaminya terlihat terang. Susan tergesa mendekati ruangan. Dia mengintip dari kaca jendela. Nampak suaminya tengah tertidur di kursi. Suaminya menaruh tangan di wajahnya seperti menghindari sinar lampu.
Susan bermaksud membuka pintu ketika terdengar suara tangis suaminya. Susan makin panik. Ada apa ini? Kenapa suaminya menangis?
” Nirma, kenapa kamu meninggal secepat itu? Kenapa kamu harus kecelakaan?”
Suara suaminya begitu menyayat. Nirma? Bukankah itu nama mantan kekasih suaminya? Susan membatin. Dia meyakinkan dirinya kalau dia tidak salah dengar. Tadi suaminya menyebut kalau Nirma kecelakaan dan meninggal. Detak jantung Susan makin kencang. Tubuhnya lemas. Dia terduduk di lantai didepan pintu. Tubuhnya bersandar dipintu. Suara tangis suaminya masih terdengar menyedihkan. Makin menambah rasa pedih dalam hati Susan. Dalam hati Susan berjanji, dia tidak akan memaksa suaminya melupakan kenangan Nirma. Biarlah waktu yang akan menghapus semuanya. Dia tidak ingin menambah duka dalam hati suaminya. Sudah cukup kesedihan yang dirasakan suaminya saat ini.***
Ceritanya bagus banget ..pas dihati..aku aja yg baca nya jd ikutan sedih...
BalasHapusmakasih Rhianty, salam kenal ya :)
Hapus