Fera termenung sambil memandangi buku itu. Tapi kemudian tangannya bergerak membuka lembar demi lembar. Fera berjanji tidak akan membaca buku harian Lula andai tidak ada namanya tercantum. Dia penasaran ingin tahu penilaian Lula terhadapnya. Fera merasa itu tindakan yang bisa dia lakukan sekarang karena dia juga tidak bisa meredam rasa ingin tahu dalam benaknya.
Fera terus membaca. Begitu banyak yang terlewati karena Fera memang tidak ingin tahu semuanya. Hingga ke tanggal kelahirannya. Di situ tertulis :
Kamis, 8 agustus 1991.
Hari ini kami sekeluarga bahagia sekali, akhirnya ada lagi adik kecil hadir dirumah kami. Perempuan. Adik yang sekian lama aku nanti-nantikan..
Itu aku. Pikir Fera sambil tersenyum. Dia lalu duduk di lantai bersandar di tempat tidur.
Jumat, 9 agustus 1991.
Semuanya sibuk. Aku bawa Andre dan Hendra melihat adik kecil kami di rumah sakit. Adik perempuan kami sangat cantik. Mulutnya mungil. Aku suka semua adikku, tapi ini perempuan. Kata mama, aku sudah dapat teman. Mama bahagia sekali…
Fera tersenyum.
Senin, 12 agustus 1991.
Diary, aku bingung. Pulang sekolah tadi, aku langsung liat ade kecilku. Namanya Fera. Tapi aku dengar mama bicara dengan papa kalau adik kecilku itu bukan yang dilahirkan mama. Mama minta papa rahasiakan ini dari semua orang. Begitu aku masuk, mama dan papa tidak bicara lagi….
Fera mulai merasa tidak tenang. Dibukanya lagi lembar diary itu.
Diary, aku tanya mama. Apa adik mungilku itu yang selama ini ada dalam perut mamaku. Mama kaget, tapi langsung tertawa. Kata mama, tentu saja.Terus aku tanya lagi, kenapa mama bicara dengan papa kalau adik Fera bukan yang ada dalam perut mama. Kata mama, aku salah dengar. Aku bingung diary, aku suka adik kecil ini, aku sayang sama dia, dilahirkan mama atau bukan, dia tetap adik kecil yang manis…
Fera mulai merasa tulang-tulang ditubuhnya terasa dingin. Tangannya juga mulai gemetar. Tapi tidak ada tulisan lagi. Lembar demi lembar yang ada hanya berisi kebahagiaan Lula dapat adik baru. Berganti hari, bulan dan tahun. Lula menulis hanya bagian-bagian penting dalam hidupnya. Maka wajar saja jika tulisannya berpindah waktu dengan cepat.
Fera berhenti lagi. Kali ini sudah tahun 2003. Fera ingat umurnya 12 tahun waktu itu. Dia sudah duduk di sekolah menengah pertama.
Jumat, 8 agustus 2003.
Hari ini de Fera ulang tahun yang ke 12. Tapi mama dan papa maunya ulang tahun Fera dirayakan di restoran saja bukan di rumah seperti biasanya. Diary, kami kerestoran sekeluarga. Makan rame-reme.Oh, ya lupa ulang tahun Fera ini juga bareng ultahnya Sefi. Soalnya Sefi 3 agustus. Papa maunya penghematan hi..hi..
Fera tertawa kecil. Dia ingat waktu itu Sefi ngambek karena tiap ulang tahun selalu bareng dengan ulang tahun Fera Padahal maksud papa dan mamanya untuk menekan biaya. Contohnya Andre dan Hendra, setiap ulang tahun selalu dirayakan berdua. Hanya Lula yang merayakan sendiri ulang tahunnya.
Sabtu, 9 agustus 2003.
Diary, Fera kecelakaan. Kemarin sepulang dari restoran dia nyebrang duluan tidak lihat kalau ada mobil. Fera luka parah. Mama dan papa nangis-nangis. Aku juga sedih. Apalagi waktu papa bilang, Fera butuh donor darah karena kehabisan darah.
Fera ingat. Waktu itu dia pernah kecelakaan. Tapi dia tidak sadar selama seminggu. Jadi dia tidak tahu apa yang terjadi selama dia koma.
Kamis, 14 agustus 2003.
Diary, aku baru tahu kalau Fera itu bukan adik kandungku. Papa dan mama yang memberitahu. Karena aku heran diary de Fera butuh darah, kenapa papa atau mama atau salah satu dari kami tidak bisa jadi donor?. Papa dan mama cerita kalau adikku yang sebenarnya meninggal waktu dilahirkan. Sementara disamping mama ada wanita lain yang tidak sanggup membiayai perawatan rumah sakit. Suami wanita itu sudah meninggal. Dan mama baru ingat kalau suami wanita itu yang mendorong mama waktu ada mobil yang hampir menabrak mama. Akhirnya malah suami wanita itu yang meninggal. Mama jadi merasa bersalah. Tapi wanita itu hanya minta mama merawat bayinya dengan baik. Dia merasa tidak sanggup merawat bayinya. Dia percaya mama akan merawat bayinya dengan penuh kasih sayang. Kasihan de Fera untung dia menemukan mama, menemukan kami. Kalau tidak pasti hidupnya menderita….
Buku itu terjatuh dari tangan Fera. Lama dia menatapnya hingga airmatanya menetes. Fera seperti batu yang duduk bersandar di tempat tidur. Diam tidak bergerak. Tatapan matanya juga jadi kosong.
” Jadi selama ini benar yang aku rasakan..” gumam Fera sambil menangis.
Dia memeluk lututnya. Tiba-tiba Fera merasa kedinginan. Dia beranjak naik ke tempat tidur Lula. Menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya meski begitu dia masih merasa kedinginan. Fera tiba-tiba merasa linglung. Fera tidak siap dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui. Air matanya terus saja membasahi bantal. Sebenarnya kalau hanya masalah dia anak angkat Fera mungkin masih bisa bertahan. Tapi yang dia sesali sejak dulu dia adalah biang kerok di rumah. Biang masalah yang selalu membuat mama, papa dan saudara-saudaranya yang lain repot. Fera merasa sebagai anak yang tidak tahu diri, tidak tahu berterima kasih. Apalagi sekarang mamanya sedang terbaring koma di rumah sakit karena memarahi Fera waktu itu. Fera makin tidak bisa memaafkan dirinya. Harusnya Fera merasa malu sudah membuat keluarga yang begitu baik padanya malah jadi kacau karena mama mereka tidak sadarkan diri.
Fera menangis sejadi-jadinya. Semua perasaan menjadi satu. Rasa bersalah, kecewa, malu bercampur aduk menjadi bagian yang tidak bisa Fera kendalikan. Bahkan ketika handphonenya berbunyi langsung dimatikan, padahal Fera belum melihat di layar handphone siapa yang menelponnya. Fera bingung bagaimana bersikap sekarang ini. Begitu juga ketika terdengar suara Sefi memanggil-manggil namanya. Lalu ada suara mbak Hanum juga. Fera makin menarik selimut dan menutupi wajahnya. Fera malu untuk bertemu mereka. Apakah mbak Hanum dan Sefi tahu kalau dia hanya anak angkat? Pikir Fera.
Beberapa waktu kemudian suara mbak Hanum dan Sefi tidak terdengar lagi. Airmata Fera masih mengalir, bahkan sekarang matanya sudah bengkak karena terlalu lama menangis. Fera mengusap airmatanya kemudian bangun dari pembaringan dan mengambil buku harian Lula kembali. Dia menatap buku itu cukup lama seolah menatap masa lalunya yang baru saja dia ketahui. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Pikir Fera. Bertanya langsung ke Lula mungkin bukan cara yang baik karena dengan begitu Lula jadi tahu kalau Fera sudah membaca buku hariannya. Apakah itu justru membuat Lula jadi marah? Fera makin bingung. Kalau harus bertanya ke papanya. Fera jelas tidak berani. Pasti Lula yang jadi sasaran emosi papanya. Jadi Fera harus bagaimana?
Sampai disini kondisi Fera makin kacau. Apa dia harus bersikap biasa saja seolah tidak tahu apa-apa? pikir Fera lagi. Fera memeluk lututnya. Dia makin bingung. Dia tidak bisa membayangkan kalau ternyata semua orang di rumah ini mengetahui keadaannya tapi pura-pura tidak tahu masalah. Dan yang membuat Fera lebih kesal dengan dirinya adalah setelah mengingat kembali sikapnya yang dia rasa sangat keterlaluan. Bagaimana orang-orang di rumah ini bisa demikian sabar dan mentolerir semua sikapnya padahal dia hanya anak angkat?
Fera melihat jam dinding di kamar Lula. Ternyata sudah jam tujuh malam. Fera tidak menyadari jika dia begitu lama berada di kamar Lula. Tapi Fera tidak berani untuk keluar kamar. Dia takut Sefi atau mbak Hanum melihat kondisinya. Pasti mereka akan heran luar biasa campur curiga telah terjadi sesuatu dengan Fera. Daripada menjawab semua pertanyaan mereka lebih baik Fera bersembunyi. Tapi sampai kapan? Dia tidak mungkin bersembunyi terus di kamar Lula.
Akhirnya Fera keluar dari kamar Lula dengan mengendap-endap. Dia berjalan perlahan-lahan sambil melihat sekeliling karena khawatir Sefi atau mbak Hanum tiba-tiba muncul. Tangan Fera baru menyentuh gerendel pintu kamarnya ketika sebuah suara mengagetkannya.
” Kak Fera? Kak Fera dari mana? Sefi cari kemana-mana.” Suara Sefi seperti petir yang menyambar telinga Fera. Fera tersentak tapi dia tidak berbalik. Dia malah membuka pintu dan langsung masuk ke dalam kamar. Sefi rupanya penasaran. Dia menyusul tapi Fera buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan cepat.
” Kak Fera kenapa sih? Kak Fera dari mana? Kog mencurigakan banget?” teriak Sefi dari luar. Sementara di dalam Fera hanya bengong memandang dirinya di depan cermin. Fera menyentuh matanya. Matanya sembab. Tidak bisa disembunyikan. Apa nanti mbak Hanum, Sefi atau papa tidak curiga? Pikir Fera dengan perasaan bingung.
” Kak Fera!!!!!!!” teriak Sefi tanpa lelah sambil mengetuk pintu kamar mandi.
” Kakak mau mandi dulu, Fi. Kamu sana gih, ntar balik lagi.” jawab Fera dengan berteriak juga.
Fera melepas pakaiannya. Kemudian mengguyur kepalanya menggunakan shower. Rasanya segar sekali. Tapi itu tidak bisa menghilangkan rasa gundah di hati Fera. Sambil mandi Fera terus berpikir. Apa yang harus dia lakukan? Rasanya menjalani hidup ini tidak lagi nyaman seperti dulu karena sekarang Fera sudah tahu asal usulnya. Andai dia bisa bersikap biasa, dia tidak bisa membohongi perasaannya kalau semuanya kini berbeda. Fera juga menyesal telah membaca buku harian Lula. Sekarang dia harus hidup dengan kenyataan yang baru dia ketahui. Dan rasanya semakin Fera mencoba bersikap biasa, perasaan tidak nyaman itu makin terasa menganggu.
Fera keluar dari kamar mandi dan mendapati Sefi yang memandangnya dengan tajam. Tapi Fera acuh saja. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
” Kak Fera berantem ya dengan kak Jody?” tanya Sefi kemudian. Fera hanya mengeluh pelan.
” Orang pacaran berantem, itukan wajar kak, apalagi kak Jody orangnya juga baik. Pasti nggak lama dia bakalan cari kakak untuk minta maaf.” Lanjut Sefi.
” Siapa bilang kakak berantem dengan Jody. Kakak cuma sedih dengan keadaan mama.”
Jawab Fera berbohong. Fera tahu dia tidak punya cara lain untuk menyembunyikan masalahnya. Apapun jawaban yang dia berikan intinya adalah dia tidak bisa berterus terang.
” Tapi kenapa mata kak Fera sembab? Sefi juga sedih dengan kondisi mama, tapi nggak nangis sampai mata sembab.” Sefi berdiri dan melihat mata Fera.
” Kakak kan lain, Fi. Sudah deh, nggak usah bahas yang itu itu saja. Oh,ya keadaan sekolah bagaimana? Sudah ada info kapan pengumuman kelulusan?”
Fera mengalihkan pembicaraan. Dia sebenarnya bingung harus menjawab apa karena Sefi terus bertanya tentang kondisinya.
” Sudah. Dua hari lagi. Tapi pengumumannya lewat internet. Jadi ya.. kak Fera bisa selamat dari coret-coretan…hi..hi.” Sefi cekikikan. Dia tahu Fera paling takut datang ke sekolah saat pengumuman karena menghindari coret-coretan baju dengan teman-temannya. Waktu tamat Sekolah Menengah Pertama, Fera tidak datang. Dia menyuruh Sefi untuk melihat hasilnya. Dan seperti biasa, Sefi juga tahu kalau Fera pasti tidak akan datang ke sekolah seandainya pengumuman kelulusan itu di adakan di sekolah.
” Syukurlah. Kakak lagi malas ke sekolah.” ucap Fera sambil mengenakan pakaiannnya.
” Kak Fera mau keluar, ya? Malam-malam begini? Memangnya kak Fera mau kemana sih?” tanya Sefi heran karena melihat Fera memakai jaket. Fera belum menjawab karena handphone Sefi tiba-tiba berbunyi. Sefi melihat layarnya. Alisnya berkerut.
” Kak Jody..” ucapnya sambil memandang Fera.
” Hallo, kak Jody? Ada apa? “ Tanya Sefi.
“ Oh, ya. HP kak Fera nggak aktif ya? Ntar aku liat dulu. Tutup dulu, ya kak.”
Fera hanya memperhatikan Sefi yang mengambil Handphonenya yang ada di atas tempat tidur.
” Tuh, kan kak Fera. HP kakak nggak aktif lagi. Kak Fera suka gitu deh. Kasihan kak Jody tuh, mau nelpon tapi HP kakak nggak aktif.” Sefi menekan tombol aktif di Handphone Fera lalu menyerahkan Handphone itu ke Fera.
” Nih,tunggu kak Jody mau nelpon. Sefi ke kamar dulu ya kak. Oh, ya berantemnya jangan lama-lama. Kasihan kak Jody, jarang-jarang loh kak dapat mahkluk cakep begitu, kalau nggak dirawat baik-baik, bisa-bisa dia terbang deh.” Sefi tertawa kecil kemudian bergegas lari ke luar kamar. Tapi Fera malah cemberut melihatnya.
” Anak kecil sok tahu.” ucap Fera sambil menutup pintu .
Setelah Sefi pergi, Fera merasa sedih lagi. Apalagi ketika Handphonenya berbunyi dan melihat nama Jody di layar Handphonenya. Fera tidak bisa lagi menahan air matanya.
” Halo.. Jo.” Fera menangis.
” Kamu kenapa, Fer? Tadi siang nggak apa-apa, kog sekarang nangis?” suara Jody begitu lembut di telinga Fera membuat airmatanya bertambah deras. Fera menghapus air matanya dengan handuk. Dia tidak berbicara hanya suara isaknya yang di dengar Jody.
” Ada masalah apa, sih? Ngomong dong. Atau kamu pengen aku kesitu ya?”
Fera menggeleng tapi kemudian dia sadar Jody tidak melihatnya.
” Nggak usah. Aku nggak apa-apa kog, ntar juga baik sendiri. Aku Cuma kangen dengan mama.” Jawab Fera. Dia belum siap memberitahu Jody mengenai masalah yang baru saja dia ketahui. Fera tidak sanggup membayangkan reaksi Jody seandainya dia tahu kalau Fera hanya anak angkat di rumah ini. Mungkin nanti Fera akan berterus terang tapi yang pasti bukan sekarang.
*
Ketika tiba di rumah sakit keesokan paginya, Fera berusaha menyembunyikan matanya yang sembab. Tapi papanya justru makin curiga dan memegang wajah Fera untuk melihatnya.
” Kenapa akhir-akhir ini kamu sering menangis, sayang? Ada apa? apa papa boleh tahu?” Fera tertunduk. Kemudian dia mengangkat kepalanya sambil tersenyum.
“ Nggak apa-apa kog, pa? hanya masalah kecil.” Jawab Fera tanpa berani memandang papanya. Fera teringat kalau dia hanya anak angkat, tiba-tiba dia merasa tidak punya hak untuk mengadukan masalahnya.
Papanya tersenyum.
”Ya, sudah. Kalo begitu papa ke kantor dulu ya, baik-baik jagaian mama.” Fera mengangguk. Papanya kemudian keluar setelah sebelumnya mencium kening istrinya. Sekarang tinggal Fera dalam ruangan bersama dengan mamanya. Fera memegang jemari mamanya. Dia berusaha untuk tidak menangis walau akhirnya embun itu tetap juga hadir menghiasi kedua matanya. Fera mengusap matanya dengan jemarinya.
” Ma, Fera harus bagaimana sekarang? Fera nggak tahu mau bersikap bagaimana. Sekarang Fera bingung, ma.” Fera menangis.
” Mama begitu baik sama Fera. Feranya saja yang nggak tau diri, suka bikin masalah. Mama sangat menyayangi dengan Fera, tapi Fera malah selalu bikin mama pusing. Maafkan Fera ya, ma.”
Fera tidak tahu kalau sepasang mata tengah menatapnya. Pemilik mata itu tengah berdiri bersandar di pintu. Fera terus berbicara tanpa menyadari kehadiran orang itu.
“ Kenapa mama nggak bilang kalau Fera hanya anak angkat, ma? Kenapa? Harusnya mama bilang, supaya Fera nggak bikin masalah, nggak bikin mama pusing.” sepasang mata itu kini membulat. Fera terus berbicara.
” Kak Fera!” ternyata pemilik sepasang mata itu adalah Sefi. Fera berbalik dan jantungnya serasa mau copot begitu melihat Sefi tengah memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
” Kak Fera sudah tahu?” tanya Sefi kali ini dengan linangan air mata. Fera kaget sekaligus bingung. Tapi dia juga jadi ikut menangis. Sefi maju dan memeluk Fera.
” Kak Fera sudah tahu kalo kakak anak angkat mama dan papa?” tanya Sefi. Fera melepaskan pelukan Sefi lalu menatap Sefi dengan tajam.
” Kamu juga sudah tahu? Sejak kapan? Kenapa nggak beritahu kakak? Apa semua orang di rumah sudah tahu kecuali kakak?” pertanyaan Fera begitu beruntun. Sefi hanya menangis. Bibirnya gemetaran tanpa mampu menjawab.
” Jawab Sefi! Kenapa hanya kakak yang tidak tahu?” Fera terduduk di lantai. Airmatanya mengalir deras. Sefi juga ikut duduk di lantai berhadapan dengan Fera.
” Sefi tau setahun yang lalu. Kebetulan Sefi baca buku harian kak Lula. Kemarin, waktu liat kak Fera keluar dari kamar kak Lula dengan awut-awutan, Sefi curiga kalo kak Fera sudah membaca buku itu, jadi semalam dari kamar kak Fera, Sefi kekamar kak Lula. Buku harian kak Lula itu tergeletak di lantai itu artinya kak Fera benar-benar sudah membacanya.” Jawab Sefi dengan terisak-isak. Fera mengusap air matanya.
” Tapi kenapa kamu nggak cerita ke kakak soal anak angkat itu?” Airmata Sefi mengalir lagi.
” Karena..karena Sefi takut kak Fera sedih…. Sefi takut kak Fera pergi meninggalkan kami.” Fera langsung memeluk Sefi. Berdua mereka hanyut dalam kesedihan yang mendalam. Beberapa saat kemudian Fera melepaskan pelukannya. Dia kemudian duduk di sofa. Sefi beranjak duduk disampingnya.
” Apa semua orang di rumah sudah tahu kalo kakak anak angkat mama dan papa?” tanya Fera kemudian. Tangisnya perlahan mulai reda.
” Semuanya sudah tahu kak, bahkan mbak Hanum dengan Pak Yapto juga sudah tahu.”
” Hah?! Mereka sudah tahu sementara kakak sama sekali nggak tahu apa-apa? kenapa kalian begitu tega sama kakak?” Fera menutup matanya. Perasaannya kacau balau. Antara sedih, marah, kecewa dan sakit hati. Dia merasa selama ini betul-betul seperti memainkan drama satu babak di mana orang-orang disekitarnya yang menontonnya sementara dia sendiri tidak menyadari kondisinya.
” Maafkan Sefi, kak. Bukan maksud kami menutupinya dari Kak Fera. Sebenarnya menurut papa hanya kak Lula dengan mama yang tahu kondisi kak Fera. Padahal sebenarnya kak Andre dan Kak Hendra juga sudah tahu. Kalau mbak Hanum dengan Pak Yapto, mereka tahu waktu dua orang tetangga yang baru tinggal di sebelah rumah kita, datang ke rumah mencari kakak?” Alis Fera terangkat.
” Tetangga sebelah? Suami istri itu? Apa yang mereka sampaikan ke mbak Hanum? Kenapa mbak Hanum tidak cerita ke kakak?” tanya Fera dengan perasaan bingung.
” Mbak Hanum nggak berani cerita. Dia hanya cerita ke Sefi. Ibu Ratna, tetangga kita itu cerita kalo kak Fera anak angkat. Mulanya mbak Hanum nggak percaya, tapi waktu ibu Ratna cerita tentang rumah sakit tempat kak Fera di lahirkan mbak Hanum jadi ragu. Trus mbak Hanum tanyakan ke Sefi, Sefi jawab saja kalo semua yang ibu Ratna cerita itu benar.”
” Kenapa mbak Hanum nggak ceritakan semuanya ke kakak? Pantas kemarin mbak Hanum kelihatan gelisah sekali, tapi kenapa mbak Hanum nggak terus terang saja?”
” Mbak Hanum masih bingung kak, waktu kakak menghilang itu, Sefi ngobrol-ngobrol di dapur dengan mbak Hanum. Mungkin karena nggak tahan lagi, mbak Hanum langsung cerita tentang ibu Ratna.” Fera terdiam beberapa saat. Kemudian dia berdiri.
” Kamu di sini jagain mama, kakak mau ke rumah ibu Ratna. Wanita itu harus menjelaskan semuanya, seandainya dia memang tahu banyak hal.” Sefi memegang tangan Fera.
” Kak Fera, apapun yang nanti kakak dengar, kak Fera harus percaya kalau kami semua menyayangi kakak. Anak angkat atau anak kandung, kak Fera tetap anak mama dan papa.” ucap Sefi lirih. Fera mengangguk. Dia kemudian keluar.
*
Diperjalanan Fera merasakan taksi yang ditumpanginya begitu lambat melaju. Padahal mungkin itu hanya perasaan Fera saja. Fera tidak sabar untuk sampai di rumah tetangganya. Walau kesannya Fera seperti pulang ke rumah karena rumahnya dengan rumah ibu Ratna berdampingan, tapi Fera sama sekali tidak memikirkan rumahnya sekarang ini. Dia hanya memikirkan ibu Ratna. Siapa wanita ini? Pikir Fera. Wanita yang menurutnya hanya orang biasa yang dikenalnya sambil lalu, ternyata menyimpan rahasia yang sanggup memporak-porandakan perasaan Fera.
Pasangan yang mengundang perhatian Fera dan menarik Fera untuk selalu mengintip mereka lewat jendela kamarnya, ternyata bukan sekedar pasangan biasa. Mereka bisa menjadi kunci masa lalu Fera sekiranya ibu Ratna benar-benar tahu tentang masa lalu Fera. Fera sebenarnya bingung dengan perasaannya. Di lain sisi ada perasaan yang menginginkan semua ini hanya cerita bohong yang disampaikan wanita itu, tapi disisi lain Fera jadi penasaran. Dia harus tahu lebih detil lagi karena yang di tulis Lula dalam buku hariannya hanya menandakan dia anak angkat tapi sama sekali tidak menjelaskan banyak hal. Tentang siapa nama orang tuanya atau alamat mereka di mana dan itu yang membuat Fera harus menemui ibu Ratna. Untuk tahu semuanya atau setidaknya mendapat info tambahan untuk mengenal orang tua kandungnya.
Fera tiba di depan rumah ibu Ratna. Dia jadi ingat kejadian beberapa bulan lalu. Waktu itu dia baru pulang dari sekolah. Ibu Ratna, yang waktu itu belum dia tahu namanya, langsung menyapanya dengan ramah. Fera ingat waktu dia menyebutkan namanya, ibu Ratna kelihatan kaget sekali dan seperti tidak bisa menahan perasaannya. Waktu itu Fera tidak memperhatikan sikap ibu Ratna. Tapi sepertinya apa yang terjadi sekarang bisa menjelaskan sikap aneh ibu Ratna waktu itu.
Fera membuka pintu pagar rumah ibu Ratna. Dari luar suasana kelihatan lengang. Untuk pertama kalinya Fera masuk ke halaman tetangganya ini. Dia melewati jalan kecil berkerikil menuju teras. Sampai di teras Fera memencet bel. Fera menunggu dengan perasaan tidak karuan. Jantungnya berpacu sangat cepat. Tangannya juga dingin. Walau berusaha menenangkan dirinya, tetap saja Fera tidak bisa tenang. Menunggu beberapa saat dirasakan Fera seperti berjam-jam padahal dia baru saja berdiri di depan pintu.
Pintu terbuka, nampak seorang wanita memandang Fera dengan tersenyum.
” Oh, De Fera.” sambutnya ramah. Fera tersenyum.
” Maaf, mbak. Bisa aku masuk, ada yang mau aku bicarakan.” ucap Fera gugup.
” Oh, silahkan.Silahkan. Nggak apa-apa kog. Silahkan duduk. Oh, ya mau minum apa? dingin atau panas?” wanita itu menawarkan dengan sikap yang tetap ramah. Fera menggeleng pelan.
” Nggak usah, mbak. Nggak usah repot-repot. Biar begini saja.”
” Nggak apa-apa. Tunggu ya, mbak kedalam dulu.” Wanita itu kemudian ke ruang dalam. Fera sebenarnya tidak menginginkan minum saat ini. Sepertinya apapun yang melewati lehernya tidak memberikan pengaruh yang bisa menenangkan perasaan Fera. Tapi ibu Ratna terlanjur melangkah dan tidak lama kemudian dia keluar membawa dua botol minuman dingin. Dia meletakkan minuman itu di meja lalu duduk agak jauh di samping Fera.
” Silahkan. Oh,ya sebelum kamu cerita, sebenarnya kemarin itu mbak ke rumah kamu, loh. Kebetulan mbak juga ada perlu. Syukurlah sekarang kamu datang, jadi mbak bisa cerita-cerita juga sama kamu.” Fera bingung sesaat, dia tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan. Fera menenangkan perasaannya sebelum bicara.
” Mmh..begini mbak. Kemarin kan mbak kerumahku, ada hal yang mbak sampaikan ke pembantuku yang bikin aku penasaran. Waktu itu mbak cerita kalo aku hanya anak angkat di keluarga kami” Fera berhenti sejenak. Ibu Ratna menunggunya melanjutkan kata-katanya. Dia sama sekali tidak menyela perkataan Fera.
” Walau kaget tapi sebenarnya itu bukan berita baru lagi, aku kemari untuk tahu sesuatu yang belum aku ketahui. Kalo mbak bisa cerita tentang statusku itu artinya mbak tahu lebih banyak lagi tentang aku atau bahkan masa laluku. Aku tidak keberatan untuk mendengarkan.”
Fera merasa kerongkongannya tercekat. Seumur hidup baru kali ini dia berbicara dengan kata-kata begitu teratur padahal saat ini dia sedang gundah menunggu wanita itu menceritakan sesuatu yang sangat penting baginya.
Tapi wanita itu kelihatan tenang. Dia tersenyum tipis sebelum bicara.
“ Mbak tidak mau membuat de Fera bingung, tapi ada sesuatu yang harus de Fera tahu, mbak bukan menakut-nakuti tapi dalam hidup kadang kita harus menentukan sikap atau kita akan menyesal karena tidak membuat keputusan yang seharusnya kita buat.” Fera berusaha mencerna kata-kata wanita ini tapi dia tetap tidak mengerti.
” Maksud mbak, aku nggak ngerti.” wanita itu tersenyum lagi.
” De Fera, dulu ada wanita yang karena kesadarannya menyerahkan anak yang baru dia lahirkan untuk di rawat orang lain. Wanita itu punya alasan dan waktu itu merasa yakin kalau keputusan yang diambilnya betul. Tapi sekarang karena sesuatu alasan pula, wanita itu ingin mengambil anaknya kembali.” alis Fera terangkat.
” Maksud mbak, anak yang diserahkan itu aku? trus sekarang wanita itu atau dengan kata lain ibu kandungku ingin mengambil aku kembali. Begitukan?” wanita itu mengangguk. Fera melanjutkan kata-katanya.
” Tapi wanita yang mengaku ibu kandungku itu kenapa belum datang kalau memang dia ingin bertemu denganku atau mengambil aku kembali?” tanya Fera tidak mengerti. Di luar dugaan Fera, wanita itu menangis.
” Dia sudah datang, Fera. Dia sudah melihat kamu.. wanita itu adalah…adalah mbak sendiri.” Fera terdiam. Dia masih belum mengerti.
“ Mbak ini ibu kandung kamu, Fera. Ini ibu, nak. Ibu yang sudah melahirkan kamu.” Wanita itu menangis. Dia mendekati Fera dan memegang tangan Fera. Sementara Fera hanya menatapnya tanpa berkedip seperti patung yang duduk di sofa.
” Tidak mungkin! Bagaimana aku bisa percaya.. sekian lama mbak di sini sama sekali tidak berusaha untuk mendekatiku, kenapa sekarang tiba-tiba mbak mengakui kalo aku anak kandung mbak?” Fera masih tidak bisa mempercayai ucapan wanita yang mengaku sebagai ibunya. Wanita itu masih menangis.
” Karena ibu memang tidak berniat untuk menarikmu keluar dari keluarga yang sudah bersama kamu selama ini. Ibu datang hanya untuk melihat keadaanmu, dan ibu bahagia karena ternyata mereka sangat menyayangi kamu… tapi dua minggu lalu dokter memberitahu ibu kalau ibu terkena kanker.”
Airmata wanita itu kian deras. Dia bahkan sudah tidak sanggup lagi berbicara. Hanya suara tangisnya yang pilu terdengar di telinga Fera dan membuat Fera tambah bingung. Fera masih tidak bisa menerima kenyataan. Semua informasi dia ketahui dalam waktu singkat. Kemarin dia baru tahu kalau dia hanya anak angkat dan sekarang dia tahu kalau wanita yang mengaku ibunya datang untuk mencarinya karena terkena penyakit parah.
” Mbak bohong! Mbak hanya ingin membuat aku tambah bingung, apa buktinya kalo mbak adalah ibuku? Bisa saja kan mbak hanya mengaku-ngaku atau mungkin mbak ingin memeras papa dan mama.” Wanita itu menggeleng pelan.
” Ibu nggak pernah berniat jahat sama kamu, nak. Sekarang ini ibu merasa umur ibu tidak lama lagi, ibu ingin disisa umur ibu, ibu bisa bersama dengan anak ibu. Ibu tidak rela untuk mati sementara ibu tahu, anak ibu sama sekali tidak mengenal ibu sebagai ibu kandungnya.” Fera tercenung mendengar kata-kata wanita itu.
” Ibu tahu, ini egois. Tapi semuanya ibu lakukan karena ibu tidak punya pilihan lain. Ibu panik. Waktu dokter mendiagnosa ibu terkena kancer, ibu tidak bisa menahan diri lagi. Ibu harus bertemu kamu dan cerita yang sebenarnya atau ibu akan menyesal sampai mati..karena.karena bahkan kuburan ibupun tidak kamu kunjungi karena kamu tidak tahu.”
Fera tertunduk lemas. Dia bimbang. Dia harus bertanya kemana lagi untuk memastikan kalau wanita yang ada dihadapannya sekarang ini benar-benar ibu kandungnya. Dia harus bertanya ke orang tuanya atau orang lain yang tahu dengan pasti kondisi saat itu.
Fera menatap wanita itu. Sebenarnya kalau diperhatikan dengan lebih seksama Fera merasa kasihan juga. Wanita ini meskipun cantik dan terkesan muda tapi tetap kalau diperhatikan akan kelihatan gurat-gurat kesedihan dari wajahnya. Mungkin karena rajin merawat diri dia terlihat bukan wanita yang sudah berumur.
” Umur ibu enam belas tahun waktu melahirkan kamu. Ibu masih muda dan kebingungan karena ayahmu sudah meninggal karena kecelakaan. Bagaimana ibu bisa berpikir mengurus kamu, memastikan nasib ibu saja ibu tidak yakin. Ibu hanya berpikir bagaimana kamu bisa terus hidup dan dalam keluarga yang lengkap, ada ayah dan ibu. Beberapa waktu kemudian ibu kerja jadi buruh pabrik. Waktu ada pembangunan proyek dekat pabrik tempat ibu kerja, ibu ketemu dengan mas Uki. Dialah yang sekarang menjadi suami ibu. Sebenarnya waktu menikah dengan mas Uki, ibu sama sekali sudah mengikhlaskan kamu jadi milik orang lain.
Ibu berharap segera punya anak yang bisa menghilangkan perasaan sedih ibu karena kehilangan kamu. Tapi selama tujuh tahun kami menikah, ibu tidak hamil-hamil juga. Kami berencana mengadopsi anak. Tapi sebelumnya ibu ingin melihat kamu. Biar ibu merasa lega dan tidak ada penyesalan karena mengadopsi anak orang lain. Cerita selanjutnya kamu sudah tahu. Ibu dan mas Uki tinggal di sini, di sebelah rumahmu. Kamu tidak tahu, setiap saat ibu melihat kamu. Pergi sekolah, pulang sekolah. Ibu melihat kebahagiaan kamu. Melihat bagaimana mereka begitu baik dan memperlakukan kamu seperti anak mereka sendiri.Ibu jadi tenang. Sampai dua minggu lalu.”
Wanita itu menghentikan ceritanya. Dia menangis lagi. Fera mengeluh pelan. Mendengar wanita itu menceritakan kisahnya membuat Fera tersentuh. Tapi siapa yang harus dia percayai?
“ Maaf mbak, aku bingung sekarang ini. Kalau benar mbak adalah ibu kandungku, atas dasar apa aku harus percaya. Dan kalaupun mbak bukan ibu kandungku, aku juga tidak punya dasar untuk menjadi yakin. Sekarang ini aku benar-benar tidak tahu mau percaya sama siapapun selain keluargaku. Maaf, aku permisi dulu..”
Fera berdiri. Dia bahkan tidak menyentuh minuman botol yang disiapkan wanita itu. Wanita itu tidak bereaksi saat Fera beranjak berdiri. Tapi kemudian dia kelihatan gelisah dan sebelum Fera mencapai pintu wanita itu langsung berdiri.
“ Pertemukan ibu dengan papamu kalau kamu masih ragu. Ibu yakin papamu mengenal ibu. Tolong Fera, beri ibu kesempatan. Kalau papamu tidak mengenal ibu, maka ibu tidak akan memaksamu untuk percaya dengan ibu.” Fera berbalik menatap wanita itu. Beberapa saat dia terpaku ditempatnya.
“ Baik. Mbak tunggu saja informasinya. Aku permisi dulu.” ucap Fera kemudian keluar dari rumah itu. Fera merasakan lututnya gemetar waktu berjalan. Dia merasa tubuhnya kehabisan cairan. Fera terus berjalan menuju rumahnya. Sampai dirumahnya Fera duduk di sofa.
” Lho, non Fera kog ada disini? Kan tadi bilang mau ke rumah sakit?” tanya mbak Hanum yang tiba-tiba muncul dari dapur.
” Gantian dengan Sefi, mbak. Sefi yang jagain mama. Ada urusan sedikit.” Jawab Fera lalu berbaring di sofa. Mbak Hanum tidak bertanya lagi. Dia rupanya maklum kalau Fera tidak ingin di gangu saat ini. Sementara Fera walau matanya terpejam dia tetap memikirkan ibu Ratna. Wanita itu begitu yakin kalau Fera adalah anak kandungnya. Fera sebenarnya berusaha untuk mempercayai wanita itu tapi Fera masih bimbang. Apa aku harus menghubungi papa? Pikir Fera kemudian. Fera langsung bangun kemudian menghubungi papanya via Handphone.
“ Hallo, Pa. Papa lagi sibuk ya, sekarang?” tanya Fera begitu terdengar suara papanya.
” Iya, sayang. Kenapa Fe, ada masalah dengan mama?”
” Nggak. Cuma pengen ketemu aja. Soalnya ada yang Fera mau tanyain?”
“ Hari ini papa sibuk banget. Jam makan siang nanti papa ketemu klien. Bagaimana kalau ntar malam. Jam delapan ke atas Papa sudah ada dirumah.”
” Iya, pa. Biar ntar malam saja. Sudah dulu ya, pa. ”
Fera menutup teleponnya. Fera sebenarnya ragu apa papanya bisa bertemu dengan ibu Ratna. Seperti yang selalu terjadi setiap papanya pulang ke rumah, pasti ada saja tamu yang menunggunya. Papanya memang sangat sibuk, bahkan dirumahpun belum tentu tersedia waktu untuk keluarga karena banyak orang yang ingin bertemu dengannya. Fera sendiri sampai sekarang masih tidak mengerti dengan pekerjaan papanya. Yang dia ketahui hanyalah orang-orang datang mencari papanya karena mengurus perijinan. Entah ijin apa yang pasti Fera tidak terlalu memperdulikan. Dia hanya merasa papanya terlalu sibuk. Fera baru saja meletakkan handphonenya di atas meja dan bermaksud berbaring lagi di sofa ketika handphonenya berbunyi. Dia mengambil handphonenya dan melihat layarnya.
” Hallo, Jo. Ada apa?”
” Kog ada apa? gini Fe, teman-teman bikin acara ntar malam, kamu bisa datang nggak?”
” Dalam rangka apa sih bikin acara? pengumuman lulus kan baru besok?” tanya Fera lesu. Dia selalu tidak bersemangat jika ada acara diluar balap motor.
” Justru itu. Kalo acaranya diadain besok malam, ntar ada teman yang nggak lulus, pasti mereka ngak datang..ayo dong Fe, kamu bisa kan?”
” Acaranya jam berapa sih? Nggak terlalu malam kan?”
” Jam tujuh. Kelarnya mungkin jam sebelasan. Gimana? Kalo kamu nggak pergi, aku juga nggak jadi pergi”
” Gimana ya, Jo. Aku udah janjian dengan papa ntar malem. Soalnya ada masalah penting. Penting banget”
” Masalah apa, sih? Gini saja. Aku kerumahmu ntar malam. Mo jadi atau nggak, aku kerumahmu saja. Ok, sudah dulu ya, sampai ketemu ntar malam.” Jody menutup teleponnya. Dalam hati Fera bersyukur karena Jody selalu penuh toleransi. Cowok itu sama sekali tidak pernah memaksakan sesuatu ke Fera. Selalu sabar. Fera tersenyum, semakin lama dia semakin takut kehilangan perhatian Jody.
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar