Senin, 28 November 2011

Rumah Di Hati Fera ( Bagian 5 )

0



Pagi-pagi sekali saat cuaca masih gelap perawat membangunkan Fera dan Sefi yang lagi tidur.

” Pagi, maaf mbak, ada data yang mau diisi. Mbak di minta ke bagian administrasi..” Ucap perawat kemudian memeriksa mama mereka. Fera dan Sefi yang masih mengantuk hanya bengong memandang si perawat.

” Dokternya kapan datang, suz?” tanya Fera.

” Biasanya Dokter datang jam delapan tapi mungkin sebentar agak terlambat karena ada pemeriksaan di lantai lima..” Jawabnya. Setelah memeriksa mama mereka perawati itu kemudian keluar.

” Jangan lupa kebagian administrasi.” Pesannya sebelum keluar. Fera dan Sefi hanya mengangguk. Mereka kemudian bergantian masuk ke kamar mandi.

” Mbak Hanum belum datang Fi?” tanya Fera begitu keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Sefi sedang merapikan diri didepan cermin.

” Belum. Mungkin bentar lagi. Kak Fera, Sefi balik sekarang ya.. mau cepat-cepat ke sekolah. Ntar kalo mbak Hanum datang, biar dia aja yang jagain mama trus kak Fera ke ruang administrasi.” Fera mengangguk. Sefi bergegas keluar ruangan setelah sebelumnya mencium kening mamanya. Sejak ketiga saudara mereka kembali lagi ke kampus, mereka berdua memang selalu menginap bersama di rumah sakit untuk menjaga mama mereka.

Jam tujuh mbak Hanum datang. Dia membawa makanan dan pakaian ganti untuk Fera.

” Non, Non Sefi sudah pulang ya.?” tanya mbak Hanum sambil meletakkan makanan diatas meja. Kemudian dia merapikan barang-barang yang ada di atas lemari, membuka jendela dan merapikan kursi. Fera mengambil rantang berisi makanan, membukanya tapi kemudian ditutupnya lagi. Mbak Hanum yang melihatnya jadi heran.

” Nggak jadi makan ya, Non? Non Fera nggak suka dengan makanannya?” Fera menggeleng cepat.

” Nggak. Cuma makannya nanti saja. Aku mau ke ruang administrasi dulu. Tadi perawat bilang ada yang mau diselesaikan di sana. Nggak tahu urusan apa, habis perawatnya nggak bilang tadi”

Beberapa menit kemudian Fera beranjak berdiri.

” Mbak Hanum jagain mama dulu ya, lebih baik sekarang aku ke ruang administrasi.” Mbak Hanum menggangguk. Fera kemudian keluar menuju ruang administrasi. Dia sebenarnya bingung yang mana harus dia dahulukan. Menunggu dokter yang memeriksa mamanya atau langsung ke ruang administrasi. Tapi kemudian dia memutuskan untuk secepatnya ke ruang administrasi, dengan harapan urusan cepat beres dan dia bisa segera balik kekamar mamanya.

Tiba diruang administrasi Fera harus menunggu karena masih ada beberapa orang yang antri untuk di layani. Sekitar lima puluh menit kemudian tiba giliran Fera.

” Mbak apanya nyonya Handono?” tanya petugas itu.

” Aku anaknya. Ehm…. memang ada masalah apa bu, apa masih ada yang perlu kami lengkapi?”

” Iya. Tapi sebenarnya harus bapakmu yang kemari. Begini saja, nanti kamu sampaikan ke bapakmu kalo ada berkas yang perlu dilengkapi…” ucap petugas itu sambil tersenyum. Dalam pandangan Fera yang terlihat adalah senyum yang membuatnya jengah untuk melihatnya.

Fera pamit walau sebenarnya dia dongkol juga. Waktunya terbuang percuma. Bagaimana kalau dokter yang memeriksa mamanya sudah pergi. Fera berjalan dengan cepat dilorong rumah sakit. Dia kesal apalagi jarak ruang administrasi dengan ruangan mamanya lumayan jauh. Karena berjalan tergesa-gesa Fera tidak melihat petugas yang keluar dari ruangan dan sedang mendorong kereta berisi makanan yang akan dibagikan ke pasien. Fera tidak bisa menghindar, dia menabrak kereta dorong itu dan terpelanting k belakang. Petugas yang membawa kereta makanan itu juga terjatuh. Tapi dia bergegas bangun dan marah-marah.

” Mata kamu dimana sih? Nggak liat apa benda sebesar ini masih kamu tabrak?!!!! Teriak petugas itu dengan suara nyaring penuh emosi.

Fera meringis. Sambil menahan rasa sakit dia mencoba untuk berdiri. Dia baru sadar kalau kereta dorong itu berisi penuh makanan. Pantas saja Fera merasa seperti menabrak batu karena memang sangat berat. Untung saja makanan itu tidak tumpah.

” Maaf, Pak. Nggak sengaja..” ucap Fera sambil memegang tangannya yang terasa sakit. Petugas itu masih terlihat marah. Dia memeriksa rantang-rantang makanan yang ada di kereta tersebut.

“ Untung saja tidak ada yang tumpah, kalau tidak kamu harus ganti rugi! Jalan kog nggak pake rem!”Omel petugas itu.

” Maaf, Pak. Aku nggak punya rem. Aku kan bukan motor..” Jawab Fera masih dengan rasa bersalah. Tapi petugas itu malah memelototinya.

” Kamu ini dibilangin! Yang bilang kamu motor itu siapa? Kenapa matamu nggak taruh di depan supaya bisa liat benda apa yang ada didepanmu!”

Fera tertunduk. Petugas itu mendorong kereta makanan itu kembali. Fera memandangi petugas itu sampai hilang dibelokan lorong. Dalam hati Fera heran juga. Apa yang salah dengan matanya? Kenapa petugas itu mengatakan harus taruh matanya di depan padahal matanya kan sudah terletak dimukanya dengan rapi. Lama Fera bengong tapi kemudian dia ingat kalau harus cepat keruangan mamanya. Dia bergegas berjalan dengan cepat menaiki anak tangga. Dia sengaja tidak naik lift karena trauma dengan lift. Dia pernah tertahan di lift selama tiga jam. Malam lagi. Sejak itu Fera ketakutan untuk naik lift kecuali ada yang menemaninya tapi kalau sendiri lebih baik dia naik tangga. Lebih baik yang pasti-pasti saja. Fera tidak ingin mengalami kejadian itu lagi.

Tiba diruangan mamanya hanya mbak Hanum yang ada.

” Dokternya belum datang, mbak Hanum?” tanya Fera dengan nafas tidak beraturan.

” Dokternya sudah pergi, mbak. Mbak Fera mau ketemu dokternya?” tanya mbak Hanum heran. Dia memandangi Fera yang masih mengatur nafas.

” Non, Fera kenapa? Kog seperti habis ikut lomba lari?”

Fera hanya tersenyum tipis. Rasa capek dan kesal bercampur jadi satu. Dia juga menyesal memilih pergi ke ruang administrasi. Coba kalau tadi dia tidak pergi pasti dia masih bisa bertemu dengan dokter yang memeriksa mamanya.

Fera terduduk di sofa. Dia menjulurkan kakinya di atas meja. Rasanya lelah sekali. Lelah karena dia berburu dengan waktu tapi karena kejadian tabrakan dengan kereta makanan tadi dia tetap tidak bertemu dengan dokter yang memeriksa mamanya.

” Tadi aku menabrak kereta makanan, mbak. Badan rasanya sakit semua.”

” Lho kenapa bisa non? Yang sakit yang mana toh, ada yang luka?” Tanya mbak Hanum dengan nada khawatir. Fera mengangguk. Sambil menunjuk lengan, betis dan lututnya.

” Tapi nggak apa-apa kog. Biar saja. Nanti kalau capeknya sudah hilang, aku oleskan betadine.” Mbak Hanum masih memandang Fera dengan mimik khawatir.

” Bener, Non? Nggak perlu mbak oleskan betadine?” Fera menggeleng.

” Nggak usah. Lebih baik Mbak Hanum buatkan aku susu dengan roti lapis ceres.”

Mbak Hanum membuatkan susu coklat dan mengolesi roti lapis dengan butiran ceres. Dia kemudian menaruhnya di atas meja di depan Fera.

” Ini, Non. Mbak lupa kalau tiap pagi non sarapan susu dengan roti..”

” Makasih, mbak.” ucap Fera lalu bangun mengambil susu dan roti lapisnya.

” Ada lagi non yang bisa mbak bantu? Kalau tidak ada mbak mau pulang sekarang. Banyak pekerjaan non di rumah..” Ucap mbak Hanum sambil bersiap-siap hendak pulang. Fera mengangguk.

” Hati-hati di jalan ya mbak.” pesannya.

Mbak Hanum mengangguk kemudian keluar. Setelah mbak Hanum pergi Fera memejamkan matanya sesaat. Lelahnya belum hilang sama sekali. Beberapa menit kemudian Fera bangun dari sofa. Dia mencari betadine yang ada di lemari. Karena sibuk mencari betadine, Fera tidak melihat tangan mamanya bergerak. Mata mamanya juga terbuka perlahan.

” Betadinenya mana sih?” Fera berbicara sendiri. Karena tidak menemukan Betadine, Fera kemudian berdiri. Dia melihat sekeliling mencari sesuatu. Tiba-tiba Fera memandang wajah mamanya. Mata Fera membulat kaget. Wajahnya langsung pucat pasi. Jantung Fera juga serasa berhenti. Tenggorokan Fera serasa tercekat. Untuk sesaat Fera merasa badannya kaku. Dia tidak bisa menggerakkan kakinya.

” Mama.” panggilnya pelan dengan bibir gemetar. Mamanya melihatnya dengan pandangan sayu. Tangannya bergerak seolah memanggil Fera untuk mendekat. Perlahan Fera mendekati mamanya. Mata Fera sudah mulai berkaca-kaca.

” Mama..mama sudah bangun?” Fera bertanya sambil memegang tangan mamanya.

” Kamu kenapa sayang? Kenapa menangis? Anak mama kog sekarang jadi cengeng.” Fera tersenyum sambil menghapus airmatanya.

” Maafkan Fera ma, gara-gara Fera mama sakit kepala dan harus di rawat di rumah sakit.”

Ucap Fera sambil terisak-isak. Mamanya mengelus tangan Fera dengan lembut.

” Mama nggak marah kog sama kamu. Cuma kepala mama memang sakit. Tapi sekarang sudah nggak apa-apa. Kamu jangan sedih ya…mama pasti akan menjaga kamu dengan baik seperti pesan kedua orang tuamu.” Fera tertegun. Kata-kata mamanya seperti tidak wajar.

” Ma, mamakan orang tua Fera? Kog mama bilang pesan kedua orang tua Fera?” tanya Fera heran. Mamanya tersenyum.

” Sayang, kamu memang anak mama, tapi bukan anak kandung mama. Kamu kami adopsi waktu baru lahir. Kedua orang tuamu sudah meninggal. Mama habis ketemu mereka. Mereka menanyakan keadaanmu. Mereka berterima kasih dan bangga dengan kamu.”

Fera mundur beberapa langkah. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan mamanya.

” Kalau begitu, Fera bukan anak kandung papa dan mama? Kak Lula, mas andre dan Mas Hendra, Sefi, bukan saudara kandung Fera?”

” Itu bukan masalah sayang, kami menyayangi kamu dan menganggap kamu anak kami juga.” Fera tidak sanggup mendengar semuanya dari mulut mamanya. Dia langsung berlari keluar ruangan. Dia berlari sekencang-kencangnya sambil menangis.

”Mbak! Bangun Mbak!” Fera tersentak bangun. Dia sadar kalau baru saja tertidur di sofa. Beberapa saat Fera memulihkan kesadarannya dan melihat sekeliling. Mamanya masih koma dan belum sadar. Tampak perawat sedang berdiri memandang Fera.

” Mbak mimpi ya? Tidurnya tadi gelisah jadi saya bangunkan.” Fera terdiam. Dia menarik nafas beberapa kali. Ternyata cuma mimpi tapi kenapa begitu nyata? Tanya Fera dengan perasaan bingung terhadap dirinya sendiri. Setelah mengecek kondisi mamanya, perawat itu kemudian keluar dari ruangan setelah sebelumnya berpamitan pada Fera.

Setelah perawat itu keluar Fera tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelum dia tertidur dan bermimpi. Mimpi tentang sesuatu yang bahkan tidak ingin dia alami sekalipun dalam mimpi. Fera mendesah pelan. Dia baru ingat kalau tadi dia mengalami kecelakaan kecil di lorong rumah sakit dan bermaksud mengolesi luka-luka ditubuhnya dengan dengan betadine. Fera melihat kembali luka-luka lecet yang ada ditubuhnya. Dia harus segera memberikan obat. Fera kemudian berdiri lalu beranjak ke lemari kecil yang ada di dekat tempat tidur mamanya. Fera menemukan betadine itu kemudian kembali ke sofa lalu mengoleskan betadine itu secara perlahan pada luka-luka lecet yang ada ditubuhnya. Fera meringis untuk sesaat karena memang rasanya perih.

Kemudian Fera berdiri. Dia melangkah mendekati mamanya yang masih diam. Mata Fera sudah berkaca-kaca. Tangannya mengelus rambut mamanya dengan lembut.

” Ma, maafkan Fera kalau saya punya salah. Tapi tolong ma, jangan hukum Fera sampai kedalam mimpi. Kalau semua yang Fera mimpikan itu hanya bunga tidur, tolong hadir lagi dalam mimpi-mimpi Fera, ma. Sampaikan kalau apa yang Fera mimpikan itu tidak benar. Fera anak kandung mama, bukan anak angkat…”

Fera menangis. Dia telengkup disisi pembaringan. Dia tidak sanggup menerima kenyataan kalau dia hanya anak angkat walaupun itu hanya dalam mimpi. Dia pernah curiga kalau dia bukan anak kandung mama dan papanya, tapi itu lebih karena melihat perbedaan antara dia dengan saudara-saudaranya. Namun Fera tetap tidak ingin jika itu adalah kenyataan.

Fera terlalu sedih sampai tidak menyadari pintu kamar terbuka. Tampak papanya melangkah masuk sambil membawa bungkusan. Papanya tertegun melihat Fera menangis sesunggukan di sisi pembaringan.

” Sayang, kamu kenapa?” tanya papanya lembut sambil menyentuh pundak Fera. Fera mengangkat kepalanya dan buru-buru menghapus air matanya ketika melihat siapa yang menyentuhnya.

” papa..kapan papa datang?” tanya Fera sambil terisak.

” Baru saja. Kamu kenapa menangis?ehm, lebih baik kamu pulang dulu ke rumah. Biar papa yang jaga mama, kebetulan hari ini papa sudah minta cuti sehari..”

” Cuti? Cuti kog sehari pa?”

” Iya. Kan butuhnya hanya sehari. Tadi dokter yang memeriksa mama, menelpon papa.Ada hal yang mau beliau sampaikan. Tadi juga papa sudah singgah di bagian administrasi, katanya kamu sudah ke sana ya tadi?”

” Iya pa. Tapi mereka perlunya sama papa. Bukan sama Fera.”

Papa Fera mendekat ke pembaringan kemudian mencium kening istrinya. Fera tiba-tiba ingat dengan mimpinya tapi dia tidak berani untuk bertanya. Dia hanya memandang papanya.

” Pulanglah. Papa liat kamu sudah kelelahan. Biar besok pagi saja kamu kemari, papa nggak mau gara-gara menjaga mama, kamu juga jadi ikut sakit.”

” Tapi pa..”

” Pulanglah. Istrahat dulu.Besok pasti kamu lebih baik..” Ucap papanya sambil tersenyum

Fera menggangguk. Dia kemudian mengambil tasnya, membereskan barang-barangnya lalu memasukkan semuanya ke dalam tasnya.

” Papa benar mau jaga mama sendiri? yakin nggak mau Fera temani?” tanya Fera ragu. Papanya hanya tersenyum.

” Dulu sebelum kalian lahir semuanya, papa yang menjaga mama. Jadi nggak usah khawatir. Oh, ya sayang, papa hampir lupa. Ini” papanya mengambil map merah dari dalam tas dan menyerahkannya ke Fera. Agak bingung Fera menerimanya.

” Ini apa, pa?” tanyanya sambil membuka map itu.

” Formulir? Kamu nggak pengen kuliah seperti kakak-kakakmu?”

Fera memandang papanya dengan lesu. Sebenarnya Fera terharu dengan perhatian papanya dan dia juga ingin sekali kuliah. Tapi kondisi mamanya membuatnya tidak terlalu yakin untuk bisa kuliah.

” Bagaimana? Apa kamu nggak pengen seperti kakak-kakakmu yang lain?”
Fera memandang papanya.

” Bagaimana dengan mama, pa?” papanya kemudian duduk di samping Fera.

” Sayang, kamu nggak pengen kuliah? Kalau kamu memang benar-benar mau kuliah, daftar saja. Papa yakin mamamu andaikan sadar dia pasti setuju kalau kamu kuliah.”

Fera tertunduk. Papanya menyentuh pundaknya.

” Pikirkan saja dulu. Papa tidak memaksa kamu, kalau memang kamu tidak mau. Ayolah sayang, jangan bingung begitu. Papa jadi sedih kalau liat putri papa yang biasanya optimis kog jadi lemas begini.” Fera melihat papanya kemudian tersenyum.

” Nah, gitu dong! ini baru anak papa. Ayo, sekarang kamu pulang dulu. Istrahat. Besok jagain mama lagi.” Fera kemudian berdiri. Mengambil tasnya lalu mencium tangan papanya.

” Fera pulang dulu pa..” Ucap Fera kemudian melangkah keluar kamar.

Tiba dihalaman rumah sakit handphone Fera berbunyi. Fera melihat layarnya, dari Lula.

” Halo, kak Lula. Ada apa?”

“ Nggak ada apa-apa. Cuma pengen tau aja, mama bagaimana?” suara Lula dari seberang.

“ Masih begitu, sama seperti kemarin-kemarin. Sekarang ini papa yang jagain mama. Aku lagi di halaman rumah sakit, mau pulang kerumah. Kak Lula baik-baik saja kan?”

” Iya. Kakak sehat-sehat saja. Cuma kakak pengen minta tolong ke kamu.”

” Apaan tuh, kak?”

” Tolong carikan buku di kamar kakak. Nanti kalau udah sampe d irumah, kamu hubungi kakak biar nanti kakak beritahukan judulnya. Ntar kalau sudah ketemu, kamu kirimkan ke kakak via pos.”

”Oke kak. Bye”

Fera menutup handphonenya dan bermaksud melangkah ke pintu gerbang rumah sakit ketika sebuah motor tiba-tiba menghalangi langkahnya. Fera sudah mau marah tapi begitu melihat siapa yang menyalipnya dia malah tersenyum manis.

” Maaf, ya. Perasaan aku nggak manggil ojek tuh..” Ucap Fera judes. Jody hanya tersenyum.

” Maaf juga ya, perasaan aku juga nggak pernah tuh, jadi tukang ojek.” balas Jody.

” Trus ngapain kemari? Aku kan nggak manggil kamu?”

” Aku mau menjemput pacarku yang judesnya minta ampun..”

” Siapa yang judes?!?!?!” Fera sudah maju untuk memukul Jody.

” Ampun, kamu gimana sih? ntar aku jatuh dari motor gimana? Kan kamu juga yang repot, ngerawat aku terus ngerawat mama kamu juga.”

” Habis, aku dibilangin judes.” Ucap Fera dengan mimik cemberut. Jody hanya tersenyum.

” Kalo kamu nggak pengen di sebut judes, kalo begitu kamu cepat naik ke motorku, biar aku anterin kamu pulang”. bujuk Jody dengan suara lembut. Fera meliriknya tapi dengan wajah cemberut.

” Jangan cemberut gitu dong sayang, cepetan naik, ntar motorku mogok, gimana? Ayo!”

Fera lalu mengambil helm yang diberikan Jody lalu duduk di belakang Jody dengan manisnya. Walau tadi bersikap judes sebenarnya Fera bahagia sekali Jody datang menjemputnya. Untunglah dia memiliki Jody. Di saat hatinya gamang dengan keadaan mamanya, ada Jody yang siap menghiburnya kapan saja, bahkan tanpa di minta. Seperti saat ini. Padahal baru saja Fera bermaksud untuk menghubunginya tapi tidak untuk di jemput melainkan untuk datang kerumahnya. Jody dengan manis datang menemuinya. Fera senyum-senyum sendiri sambil menyandarkan tubuhnya di belakang Jody. Dia sejenak lupa dengan mimpinya yang tadi membuatnya menangis.

” Kamu nggak tidur kan, Fe?” tanya Jody dengan sedikit berteriak. Maklum suara motor Jody lumayan keras untuk di dengar di telinga. Jody juga bukan tipe orang yang suka menjalankan motornya dengan pelan. Kebetulan sekali yang ada diboncengannya adalah Fera. Gadis tomboy yang hobby balap. Fera tidak merasa terganggu dengan cara Jody menjalankan motornya. Dia malah makin terlena dengan kebahagiaan karena memiliki Jody sebagai kekasih. Hingga suara Jody tidak Fera dengarkan.

” Fera..!!! kamu nggak tidurkan!?! ” Akhirnya suara Jody lebih keras lagi bertanya. Fera tersentak kaget.

” Kenapa, Jo?” tanya Fera heran. Akhirnya Jody menghentikan kendaraannya di tepi jalan.

” Kamu nggak tidur kan?” tanya Jody cemas. Fera menggeleng dengan bingung.

” Memang ada apa sih, Jo? Kamu kog keliatan begitu ketakutan?”

Jody tersenyum tapi matanya tidak bisa menipu Fera. Dia seperti menyembunyikan sesuatu.

” Aku nggak mau ikut kalo kamu nggak cerita. Kenapa kamu jadi begitu panik kalo aku tertidur tadi?” Jody menghela nafas beberapa kali. Dia kemudian menatap Fera.

” Tadi malam, pacar temanku meninggal. Kecelakaan. Dia terjatuh saat di bonceng. Waktu itu dia tertidur. Ada mobil lain yang menabraknya dari belakang. Dia langsung tewas saat itu juga.” Jody berhenti sejenak. Fera langsung memegang pundaknya.

”Aku nggak sanggup membayangkan, kalo tiba-tiba kamu tertidur dan terjatuh..” Mata Jody berkaca-kaca.

” Maafkan aku, Jo. Aku nggak bermaksud membuatmu sedih. Ayo kita kerumahku. Kamu bisa istrahat dan tenangkan pikiranmu di sana.”

Jody mengangguk pelan. Fera kemudian melingkarkan tangannya dipinggang kekasihnya itu. Tapi kali ini Fera tidak bisa memejamkan matanya. Dia tidak mau membuat Jody khawatir karena itu sambil memeluk Jody, Fera menggerak-gerakkan tangannya agar Jody tahu kalau dia ada di belakang dan tidak tidur.

Tiba di rumah Fera di sambut mbak Hanum. Wanita itu kelihatan gelisah sekali. Fera jadi heran tapi tidak mau menanyakannya langsung saat di depan Jody. Setelah mempersilahkan Jody duduk di ruang tengah, Fera menyusul mbak Hanum ke dapur.

” Mbak Hanum baik-baik saja kan?” tanya Fera sambil membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin. Mbak Hanum yang lsedang menyiapkan makanan kelihatan gugup. Fera makin penasaran.

” Kalo lagi ada masalah atau lagi butuh bantuan, cerita saja. Daripada Mbak kebingungan begitu. Ada apa sih?” tanya Fera lagi sambil mengambil dua gelas dan menaruhnya di atas nampan bersama dengan sebotol air dingin tadi. Mbak Hanum memandang Fera dengan gelisah.

” Begini non. Tadi tetangga sebelah datang kemari. Mereka mencari non Fera. Tapi mbak bilang, non Fera lagi di rumah sakit. Cuma anehnya kog suaminya itu selalu memaksa istrinya untuk pulang sementara istrinya justru ngotot pengen bicara dengan non.”

” Mereka nggak ngomong ke mbak Hanum apa yang mereka mau bicarakan?”

” Nggak non. Cuma mereka berdebat. Istrinya bilang pokoknya aku harus beritahu dia. Dia harus tahu yang sebenarnya! Trus suaminya bilang begini non nggak usah!dia tidak perlu tahu!apa bagusnya buat dia untuk tahu semuanya. Mbak nggak ngerti omongan mereka. Tapi mereka nggak lama kog non. Begitu tahu non nggak ada mereka pulang. Tapi sepertinya istrinya itu pengen banget non, ketemu dengan non..”

Fera tercenung sesaat. Dia penasaran juga dengan maksud kedatangan tetangganya itu. Tapi Fera ingat kalau Jody sedang menunggunya di ruang tengah. Fera lalu bergegas ke ruang tengah.

Sampai diruang tengah didapatinya Jody tengah termenung memandangi lantai.

” Ini minumnya , Jo. Kamu minum dulu, biar perasaan kamu enakan..” tegur Fera. Jody memandangi Fera sambil tersenyum.

” Maaf, Fer sudah merepotkan kamu. Aku nggak tau lagi mau kemana.”

Fera tersenyum manis.

” Kamu tuh ya orangnya aneh-aneh.. masak ketemu pacar harus minta maaf karena merepotkan?” Jody hanya mesem-mesem. Fera lalu menuangkan air kegelas Jody lalu menyerahkan gelas berisi minuman itu ke Jody.

” Sebenarnya kamu ada masalah apa sih, Jo? Kog keliahatannya kamu nelangsa banget.” Jody memainkan gelas ditangannya. Lama dia berpikir sebelum akhirnya bicara.

“ Aku baru tahu, Fe kalau mamiku ternyata masih hidup.” Fera menatap Jody dengan heran.

” Lho setahuku mamimu memang masih hidup kan? Yang ada dirumahmu itu kan mamimu..” Jody menggeleng cepat dengan senyum miris.

” Dia bukan mami ku. Selama ini aku dan kakakku menganggapnya hanya sekretaris papi, tapi papiku marah dan menyuruh kami menganggap kalau wanita itu adalah ibu tiri kami.”

Fera terdiam dia tidak menyangka kalau kehidupan Jody juga penuh masalah.

” Umurku tujuh tahun waktu mami tiba-tiba menghilang. Kakakku waktu itu sepuluh tahun. Aku hanya anak kecil yang sibuk dengan duniaku. Selama ada Mbok Sarjim pengasuhku, maka aku tidak perduli siapapun, bahkan dengan mami. Jadi ketika mami pergi, aku sama sekali tidak merasa kehilangan. Bahkan sebenarnya sampai sekarang aku tidak bisa merasakan kasih sayang mami itu seperti apa. Karena sejak kecil yang merawat aku ya mbok sarjim itu.”

Fera masih menatap Jody. Dia sengaja tidak menimpali sekedar memberikan kesempatan Jody untuk mencurahkan isi hatinya. Fera menuang air lagi ke gelas Jody.

” Aku tidak tahu ada masalah apa antara mami dengan papi. Yang aku tahu tante Keisya yang sejak dulu tinggal di rumah dan jadi asisten papi, lama kelamaan berubah jadi ibu tiri kami. Aku dan kakakku sepenuhnya menyalahkan tante Keisya, makanya sampai sekarang hubungan kami tidak begitu baik. Kakakku apalagi. Dia jarang pulang ke rumah. Aku masih lumayan, masih menganggap kalau rumah itu adalah tempat aku pulang.”

Fera menyesal dulu berantem dengan Jody di kamar mandi. Kalau tahu kisah hidupnya begitu menyedihkan Fera pasti tidak akan mengatakan hal-hal yang menyakitkan hati Jody waktu itu.

“ Trus kamu tahu mami kamu masih hidup dari mana? Apa ada orang yang memberitahu?”

” Tadi malam, aku pulang telat karena habis melihat teman yang kecelakaan. Pas lewat di kamar papi aku dengar papi bertengkar dengan tante Keisya. Aku dengar tante Keisya cemburu karena mami. Tante Keisya menyuruh papi untuk mencari mami kalau itu memang yang papi inginkan. Aku tidak tahu ada masalah apa, yang aku dengar ya seperti itu, aku jadi berpikir, berarti mami masih hidup. Kalo mami sudah mati kenapa tante Keisya harus cemburu?” Jody meneguk minumannya.

” Mungkin juga. Tapi kenapa kamu nggak tanyakan aja ke papimu, Jo? Daripada kamu bingung sendiri, lebih baik bertanya kan?” usul Fera. Jody menggeleng pelan.

”Aku sudah berkali-kali tanyain papi. Tapi apa jawaban papi? Mamimu sudah mati. Titik. Jangan tanya-tanya tentang mamimu lagi. Papi bahkan marah besar waktu itu. Sampai berhari-hari papi tidak menegurku. Akhirnya aku jadi malas untuk membahas itu lagi dengan papi. Mungkin papi sendiri punya alasan kenapa sampai tidak ingin kami tahu tentang mami. Akhirnya aku malah terbiasa. Kami sudah menjalani hidup begitu lama tanpa mami. Semuanya malah kelihatan normal-normal saja. Tante Keisya tetap ada di rumah tanpa sekalipun kami berbicara. Dia juga sepertinya maklum untuk tidak memulai pembicaraan dengan kami karena itu sama saja dengan memancing emosi kami. Jadi kalau di rumah, aku lebih banyak menghindar atau lebih tepatnya kami saling menjaga jarak. Aku masih mending, masih mau menatapnya. Kalau kakakku, jangankan menatap, masuk kerumahpun dia langsung lewat jendela kamarnya. Tidak sekalipun dia lewat pintu. Makanya di bawah jendela kamar kakakku, ada tangga. Sepertinya yang jadi musuh kakakku bukan saja tante Keisya tapi juga papi.”

Sampai disini Jody berhenti karena dilihatnya Fera memandangnya seperti orang bingung. Jody langsung menyentuh tangan Fera. Fera tergagap.

” Kamu kenapa, Fer?” tanya Jody heran. Fera tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

” Maaf, ya Jo. Aku nggak nyangka kisahmu begitu sedih. Harusnya dulu aku tidak boleh memakimu waktu kita bertengkar di kamar mandi tempo hari.” Jody tersenyum.

” Fera, kenapa kamu begitu lucu? Itukan sudah lewat kenapa masih kamu ingat? Kamu malah minta maaf segala.” ucap Jody sambil menghapus air mata di pipi Fera.

“ Aku sedih, Jo. Aku nggak nyangka rumahmu yang begitu mewah, ternyata kamu tidak bahagia didalamnya..”

“ Tapi sejak ketemu kamu, aku selalu bahagia. Kamu mau dengar cerita? Sebelum kita pacaran, aku malah memotret kamu beberapa kali. Jadi dialbum fotoku, fotomu banyak sekali. Bahkan aku pernah memotret sepatumu dsaja…ha…ha…”

Jody tertawa tapi Fera merasa kalau tawa itu seperti berisi tangis yang tertahan. Fera akhirnya tersenyum juga walau dia merasa aneh karena mereka sedang membicarakan hal yang menyedihkan tapi malah di selingi dengan tawa.

“ Jadi apa rencanamu sekarang, Jo?” tanya Fera kemudian. Jody menghela nafas.

” Aku belum tahu. Liat nanti saja. Soalnya saat ini pikiranku betul-betul kacau. Aku pengen kakakku juga ikut dalam rencanaku atau setidaknya bisa memberikan ide. Maaf ya, Fer aku sudah ngeganggu kamu. Harusnya sekarang ini kamu istrahat. Kamukan capek jagain mamamu dirumah sakit.”

Fera tersenyum.

” Yah…namanya juga manusia,Jo. Harus saling tolong. Kali aja lain waktu giliran kamu yang tolongin aku. Ya nggak?” Fera memasang wajah lucu. Jody hanya tersenyum tipis sambil menyentuh wajah Fera dengan tangannya.

” Aku cinta banget sama kamu, Fer..” Fera tidak menyangka Jody akan mengucapkan kata-kata itu. Wajahnya langsung bersemu merah.

” Kamu cinta juga sama aku?” tanya Jody lagi dengan pandangan lembut. Fera langsung mengangguk pelan.

” Tapi kita belum mau nikah sekarang kan, Jo?” Jody tertawa lagi.

” Lebih baik aku pulang dulu, Fer. Sepertinya kamu butuh istrahat. Bicaramu makin ngaco.” ucap Jody sambil berdiri.

Fera kemudian menemani Jody sampai di teras. Dia menunggu sampai motor Jody keluar dari pintu gerbang. Sesaat setelah Jody pergi Fera bergegas kekamar Lula. Dia baru ingat sudah janji mencarikan kakaknya itu buku. Sampai dikamar Lula, Fera mengirim sms ke Lula. Tidak lama kemudian ada balasan sms dari Lula. Isinya mengenai judul buku yang harus Fera cari.

Fera kemudian memeriksa rak buku-buku di kamar Lula. Satu persatu judul dibacanya namun belum satupun yang ketemu. Fera lalu membuka lemari kaca yang dari luar tampak susunan buku juga. Benar saja Fera menemukan buku itu disitu. Fera bemaksud menutup kembali lemari kaca itu ketika tiba-tiba dia melihat sesuatu. Di deretan buku itu ada satu buku yang sepertinya mengundang perhatiannya. Judul buku itu yang membuat Fera penasaran. ” My Best Diary”. Diary siapa tanya Fera dalam hati. Apakah kak Lula yang punya diary ini? Pikir Fera.

( Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar