Senin, 28 November 2011

Rumah Di Hati Fera ( Bagian 7 )

0



Waktu berjalan sangat lambat bagi Fera. Menunggu papanya pulang serasa berbulan-bulan padahal sekarang sudah jam enam. Terdengar suara adzan magrib dari mesjid yang jaraknya lumayan dekat dari rumah Fera. Dia baru hendak berwudhu ketika handphonenya berbunyi.

” Halo, pa. Papa di mana sekarang?” tanya Fera tanpa semangat. Dia yakin bukan kabar baik yang akan di dengarnya.

” Sayang, papa minta maaf, papa ntar pulang jam sebelasan soalnya ada rapat mendadak di kantor. Kamu nggak marah kan sayang, mungkin besok papa ada waktu. Oh,ya sebenarnya kamu mau nanyain masalah apa sih, Fe?” Fera langsung lemas. Klop. Seperti yang sudah dibayangkan, pasti papanya sibuk lagi.

” Fera.. kamu masih disitu, kan sayang?”

” Iya deh pa. Besok aja.” jawab Fera dengan wajah cemberut. Papanya kemudian menutup telepon. Fera terdiam beberapa saat sebelum menyadari kalau tadi dia bermaksud untuk berwudhu. Selesai sholat Fera berdoa. Doanya panjang hingga Fera menangis. Suara mbak Hanum yang memanggilnya dari luar kamar membuat Fera cepat-cepat menghapus air matanya. Dia melepaskan mukena dan sarungnya kemudian menggantungnya di belakang pintu.

” Ada apa mbak Hanum?” tanya Fera sambil membuka pintu sedikit. Mbak Hanum menunjuk ke lantai satu.

” Tetangga sebelah. Ibu Ratna itu ada dibawah, non.” wajah mbak Hanum seperti habis melihat hantu, begitu pucat. Fera tertegun sesaat. Ada apa sih wanita itu datang kerumahnya, kan sudah disampaikan untuk tunggu info balik dari dia, pikir Fera. Fera kemudian turun ke ruang tamu. Di sana dia mendapati ibu Ratna tengah menangis.

” Maaf Fera, ibu datang malam-malam kemari. Karena ibu harus ketemu papamu secepatnya.” Fera mengela nafas. Dia mengatur posisi duduknya.

” Mbak, papaku ntar tengah malam baru pulang.” jawab Fera dengan malas. Wanita itu mengusap air matanya, dia kelihatan gelisah sekali.

” Apa tidak bisa pulang secepatnya? Maksud ibu, kamu bisa beritahu papamu kalau ada hal yang sangat penting?” alis Fera terangkat. Dia mulai tidak suka. Wanita itu seperti memaksakan kehendaknya.

” Maaf mbak,ya. Mungkin mbak nggak tahu kalau papaku itu manusia paling sibuk di dunia. Jangankan mbak, kami aja anak-anaknya harus bersabar kalo mau ketemu papa. Apalagi mbak? Kalau mbak perlu sama papa, mbak harus sabar.” wanita itu meremas-remas tangannya.

” Soalnya begini, Fera. Suami ibu sudah mengajak ibu pergi, kalau tidak ibu akan diceraikan. Kecuali ibu bisa buktikan kalo kamu adalah anak ibu.” Fera mulai emosi.

” Lho, mbak gimana sih? Kalau suami mbak ngajak pergi, ya pergi aja. Apa hubungannya dengan papa. Lagian kalo memang mbak benar-benar pengen ketemu dengan anak mbak, mbak harus berani memilih dong. Mbak pilih suami atau pilih anak mbak.” Wanita itu terdiam tapi air mata mengalir pelan dari kedua matanya. Mendadak suaminya muncul. Dia terkejut demikian juga dengan Fera, sementara suaminya tidak duduk, dia menatap istrinya dengan tajam.

“ Aku kan sudah bilang, sampai kapan kamu terobsesi dengan anakmu? Apa kamu lupa kalau anakmu sudah meninggal? sampai kapan kamu mengganggu anak ini?” wanita itu langsung memegang lutut suaminya.

” Mas, anakku masih hidup. Aku tahu, aku yang melahirkannya. Dia masih hidup waktu aku lahirkan, kenapa rumah sakit katakan dia sudah meninggal sejak lahir.” Ibu Ratna meratap. Airmatanya begitu deras mengalir. Fera kasihan juga melihatnya. Mbak Hanum yang sejak tadi ada di dapur tiba-tiba muncul karena mendengar keributan di ruang tamu. Tapi dia hanya berdiri terpaku. Dia sudah tahu apa yag terjadi karena kemarin mereka juga datang dan bertemu dengan mbak Hanum.

” Maaf sebelumnya de Fera, istri saya sudah mengganggu de Fera. Begini, sebelumnya saya juga percaya dengan cerita istri saya, tapi setelah saya cek dirumah sakit tempat istri saya dulu melahirkan trus saya cocokkan data-data yang ada, saya yakin kalau bayi yang dilahirkan istri saya waktu itu sudah meninggal.”

” Tidak!itu tidak benar! Mas jangan katakan itu lagi! Anakku tidak meninggal! Itu tidak benar Fera, kamu anak ibu. Ibu yakin, kamu harus percaya!”

” Sudah! Cukup! Sampai kapan kamu mengganggu anak orang! Kamu begitu tertekan karena tidak bisa punya anak, sebenarnya tujuanmu mencari anakmu bukan karena kamu merindukannya,kan? Kamu hanya ingin buktikan ke orang-orang kalau kamu itu tidak mandul, kamu pernah punya anak.” Ibu Ratna melepaskan pegangannya di lutut suaminya. Dia terduduk di lantai dengan lemas. Suaminya juga ikutan duduk di lantai lalu mengelus rambut istrinya.

”Aku kan sudah katakan berapa kali, aku tidak perduli kamu bisa melahirkan atau tidak. Kita bisa adopsi anak. Terserah omongan orang, yang penting kita bahagia. Jangan karena omongan orang, kita malah menderita selamanya.”

”Tapi anakku masih hidup, mas” ucapnya lirih. Suaminya memegang tangannya.

” Anakmu hidup dalam hatimu. Kamu harus rela melupakan masa lalu. Harus yakin kalau anakmu sudah meninggal. Kasihan de Fera, hidupnya jadi kacau balau karena keinginanmu untuk membuktikan kalau anakmu masih hidup. Ayo kita pulang. Penginapan dan restoran yang kita rintis dari nol sangat membutuhkanmu. Jangan hancurkan masa depanmu hanya karena masa lalu yang sudah tidak bisa kamu miliki.” Wanita itu menatap suaminya. Sesaat mereka saling bertatapan. Mungkin dia mencari kebenaran dari pandangan mata suaminya. Dan benar saja, sambil di pegang suaminya wanita itu bangkit berdiri. Dia mengusap airmatanya dan dengan kikuk dia menatap Fera.

” Maaf de Fera, ibu sudah mengganggu. Ibu pulang dulu ya.” Ucapnya pelan. Mereka berdua kemudian keluar dari rumah Fera. Fera dan mbak Hanum mengantar sampai ke teras. Bahkan sampai mereka hilang di balik tembok pembatas, Fera masih terus menatapnya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Rasanya Fera seperti bermimpi.

” Kog ada orang bisa seperti itu ya, non.” Ucap mbak Hanum sambil melihat kejalan. Fera menghela nafas.

” Sebenarnya aku kasian juga sama mereka, tapi tidak adil juga kalo mereka harus mengganggu kita. Yang penting sekarang masalah mbak itu sudah selesai. Bikin pusing saja.”

Fera dan mbak Hanum masih berdiri di teras ketika sebuah mobil parkir di jalan di depan rumah mereka. Fera melihat dengan bingung. Biasanya kalau papanya pulang cepat pasti sudah banyak tamu yang menunggunya di rumah tapi bukankah tadi papanya mengatakan pulang jam sebelas. Seharusnya tidak ada tamu yang datang untuk bertemu papanya. Fera masih melihat sosok yang turun dari mobil dan berjalan menuju kearahnya. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat siapa yang datang.

” Jody?!? Astaga aku kira tamunya papa, tumben kamu bawa mobil bukan motor?” Jody hanya mesem-mesem.

” Antisipasi, Fe. Malam-malam begini cuaca dingin, belum lagi kalo turun hujan, bisa sakit kita nanti.. Oh, ya kamu jadi pergi apa nggak?” Fera mengangkat bahunya sambil tersenyum.

” Jadi dong. Tadi hampir saja….ups.” Fera tidak melanjutkan kata-katanya. Jody juga tidak mendengar kalimat Fera yang terakhir. Mereka masuk ke dalam rumah. Fera kemudian kekamarnya setelah sebelumnya mempersilahkan Jody untuk duduk di ruang tengah. Lima belas menit kemudian Fera turun. Dia sudah berganti pakaian. Tapi dasar Fera penampilannya jauh dari make up. Jody menatapnya lama sambil tersenyum tipis. Fera kikuk dipandangi seperti itu.

” Kenapa, Jo? Ada yang salah?” Jody menggeleng pelan. Dia kemudian memegang tangan Fera.

” Nggak, cuma tiba-tiba aku kog jadi tambah sayang sama kamu.” Fera memonyongkan mulutnya.

” Kalo tambah sayang, apa tandanya.” belum selesai Fera berbicara, Jody langsung mencium pipinya. Wajah Fera langsung bersemu merah.

“ Kita berangkat sekarang?” tanya Jody sambil mengelus rambut Fera. Walau kikuk, Fera mengangguk. Jody kemudian memegang tangan Fera sambil berjalan keluar. Jody tidak tahu kalau sebenarnya Fera salah paham. Fera mengira Jody akan memberikan hadiah, tidak perlu mahal. Hadiah yang selalu jadi suprise Jody untuk Fera. Karena baru kali ini Jody menjemput Fera dengan mobil, Fera langsung membuka pintu mobil.

”Eit, aturannya nggak begitu Fera. Begini.” Jody mengambil posisi di samping pintu mobil. Kemudian dengan sedikit membungkukkan badan dia mempersilahkan Fera untuk naik kemobil. Fera masuk ke mobil dengan sikap anggun. Jody kemudian masuk ke mobil. Berdua duduk dengan Fera di mobil untuk pertama kalinya, perasaan Jody sangat riang. Jody tidak segera menjalankan mobil. Untuk sesaat dia terdiam sambil memandang Fera.

” Ada apa,Jo? Kenapa kita belum berangkat?” Fera memandang heran.

“ Sabar, Fe. Perasaanku sekarang senang banget. Sebenarnya aku tuh dari dulu sudah pengen ngajak kamu naik mobil, Cuma gimana ya.. kamu kan sukanya naik motor. Jadi aku harus pendekatan kekamu dengan motor.”

” Trus kenapa sekarang kamu pake mobil?”

” Sebenarnya ini hari spesial Fe. Besok pengumuman kelulusan artinya kita bukan anak sma lagi, trus hari ini juga untuk pertama kalinya aku bareng kamu naik mobil. Mungkin aku akan lebih sering jemput kamu dengan mobil soalnya papiku marah banget. Tau nggak mobil ini hanya nganggur di garasi karena aku kebanyakan pake motor. Alasan yang lain, Fe. Mau nggak kamu eh kita saling berjanji untuk setia atau..ehm apa ya namanya… maksudku kamu mau tunangan dengan aku..” Jody mengucapkan kata-katanya dengan cepat. Sampai dia sendiri kaget dengan apa yang diucapkannya. Terlebih lagi dengan Fera. Mata Fera serasa mau melompat saking kagetnya mendengar ucapan dari Jody.

” Tunangan? Sekarang? Kitakan belum bicara dengan papaku, Jo. Kamu juga belum bicara dengan papimu, trus kita belum ngundang orang-orang, trus aku belum pesan baju..biasanyakan orang kalau mau tunangan pake kebaya…trus..” Fera terus bicara tidak karuan. Karena gemas Jody langsung mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Kemudian memegang jemari Fera. Dia memasangkan cincin di jari manis Fera.

“ Kamu bicara terus, padahal aku pengennya kasi cincin ini dengan kata-kata tapi kamu ngomong trus.. tapi nggak apa-apa yang penting sekarang kita sudah tunangan.”

” Kita sudah tunangan? Hanya begini saja sudah tunangan? Kog nggak ribet kayak orang-orang ya, Jo.” Jody tertawa.

” Fera.. ini antara kita saja. Ntar kalo resminya jelas harus papi yang datang kerumahmu. Kamu kenapa, Fe ?” tanya Jody heran karena Fera memegang tangannya.

” Kamu kog nggak pake cincin? Tunangan kan harus dua-duanya pake cincin? Kenapa Cuma aku saja yang pake.. kamu bawa cincinnya? Biar sini aku pakein.” Jody merogoh saku bajunya. Kemudian menyerahkan cincin ke Fera. Fera terdiam beberapa saat.

” Semoga dengan cincin ini, akan selalu menjaga kita untuk tetap bersama dalam suka dan duka sampai mati.”

” Lho,kog sampai mati, Fe. Apa nggak ada kalimat yang lebih halus gitu, yang nggak serem.”

” Baik, kata-kata yang halus ya.. semoga kita selalu bersama sampai maut memisahkan kita.. begitu?” Jody mengangguk sambil tersenyum. Fera kemudian memasang cincin itu di jari Jody.

” Terima kasih, sayang.” ucap Jody kemudian mengecup kening Fera. Jody memperhatikan cincin di jarinya.

” Kamu tahu darimana ukuran jariku, Jo?” tanya Fera beberapa saat kenudian. Di luar dugaan Fera, Jody tertawa ngakak.

”O, itu. Kamu ingat nggak, tempo hari waktu kamu kerumahku, dikamarku kan banyak cincin perak imitasi. Ukurannya macam-macam. Waktu itu aku minta kamu coba yang pas untuk kamu. Kamu ingat kan sekarang? Trus pas ketemu yang cocok dengan jari kamu, aku minta kembali cincinnya. Waktu itu aku bilang ntar aku balikin. Nah, sekarang baru aku balikin.” Jody tersenyum usai menjelaskan ke Fera. Sepertinya apa yang dia ucapkan membuatnya bangga karena bisa memberikan suprise untuk Fera.

” Trims ya, Jo. Sejak kita pacaran, kamu itu baek banget. Padahal waktu belum akrab dengan kamu, aku itu anggap kamu sombong, sok cakep dan lain-lain pokoknya.. taunya kamu nggak seperti itu.”

” Makanya, kamu jangan judes melulu sama orang. Harus ramah tapi jangan terlalu ramah juga. Karena tak kenal maka tak sayang…. ok kita berangkat sekarang..teman-teman I’m coming..!” seru Jody yang membuat Fera tertawa.

Belum jauh kendaraan mereka melaju, Handphone Fera berbunyi. Fera langsung menerimanya karena Sefi yang menelponnya.

” Hallo, Fi.”

” Kak Fera! mama sadar!mama sadar kak! Cepat kemari!” jeritan Sefi begitu keras di telinga Fera. Sefi juga terdengar panik sambil menangis. Fera kaget sampai lupa kalau Sefi masih ada di ujung telpon.

” Iya..iya Fi.. kamu tunggu disana, kakak kesana sekarang. Sudah hubungi papa?” tanya Fera gugup.

” Sudah, kak. Papa juga sedang kemari. Cepat kak Fera.”

Fera menutup telpon. Jody kemudian membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit. Sepertinya mereka berdua tidak akan menghadiri pesta perpisahan. Dan sepertinya malam ini akan berlangsung lama karena yang pasti di antara mereka tidak ada yang berniat untuk tidur. Tiba di rumah sakit, Fera dan Jody berlarian di lorong rumah sakit. Tidak ada yang lebih Fera harapkan saat ini selain terbang dan langsung berada di ruang perawatan mamanya. Sayangnya Fera tidak punya sayap jadi dia harus berlari sampai tepat di depan pintu ruangan. Fera istrahat beberapa detik untuk mengatur nafasnya sebelum membuka pintu. Jody yang juga ikut berlari dengannya malah bersandar di tembok saking lelahnya.

Perlahan Fera membuka pintu. Sefi yang melihatnya langsung memeluknya. Mereka berpelukan sambil menangis.

” Papa belum tiba, Fi?” tanya Fera sambil berbisik karena sejak masuk tidak melihat papanya. Sepertinya saat ini hembusan nafaspun akan terdengar karena ruangan begitu senyap. Sefi mengangguk pelan sambil mengusap air matanya. Dari tadi Sefi menangis walau berusaha untuk menahannya.

Tidak lama kemudian papanya, Pak Handono masuk bersama dengan Jody. Sejak tadi Jody memilih berada di luar dulu untuk istrahat setelah berlari dengan Fera. Sebenarnya Jody heran juga dengan Fera.yang berlari lebih kencang darinya tapi tidak kelihatan letih sementara Jody merasakan tubuhnya sangat lelah.

Begitu melihat papanya masuk, Fera dan Sefi serempak memeluk papanya. Sementara papanya mengusap-usap rambut kedua putrinya. Salah seorang dokter yang melihat Pak Handono masuk, perlahan mendekati mereka.

” Selamat malam, pak.” sapanya dengan senyum simpatik.

” Malam dokter. Maaf, bagaimana keadaan istri saya dok? Kata anak saya, istri saya sudah sadar. Apa itu betul, dok?” Dokter itu tersenyum lagi.

” Bisa keruangan saya sekarang, pak. Ada yang mau saya sampaikan.”

” O, bisa dok. Bisa.” Dokter itu kemudian keluar di susul Pak Handono. Fera dan Sefi hanya saling pandang. Sementara Jody mendekati Fera dan berdiri disampingnya.

” Kamu betul-betul melihat mama sadar kan, Fi?” tanya Fera tetap dengan berbisik.

” Tadi waktu keluar dari kamar mandi, Sefi lihat mata mama terbuka. Sefi langsung dekati mama. Mama memanggil-manggil nama kak Fera terus..” mendengar itu Fera tidak bisa menahan air matanya. Jody kemudian merangkulnya.

Sekitar lima belas menit kemudian para petugas medis itu keluar. Mereka kemudian mendekati pembaringan. Fera dan Sefi langsung menangis tersedu-sedu begitu melihat mata mama mereka terbuka. Mamanya malah mengangkat tangan untuk menyentuh Fera.

” Fera..” panggil mamanya lirih. Fera memegang tangan mamanya lalu menciumnya. Airmatanya membasahi jemari mamanya.

” Mama..Fera kangen sekali sama mama.” ucap Fera dengan terisak-isak. Jody yang berdiri di samping mereka juga terharu. Matanya berkaca-kaca.

” Akhirnya mama bisa ketemu kamu. Mama bermimpi ada orang yang mau mengambilmu dari mama. Waktu kamu di bawa pergi, mama terus mengejarmu. Kamu tidak meninggalkan mama kan, sayang?” Fera langsung memeluk mamanya. Mamanya juga menangis.

” Fera tidak akan pernah pergi, ma. Fera akan terus disisi mama.”

” Kamu janji tidak akan tinggalkan mama kan, sayang?” Fera bangun. Dia memandang mamanya kemudian mengangguk.

” Sefi, kemari sayang.” Fera mundur ke samping Jody, memberikan kesempatan Sefi untuk berbicara dengan mamanya.

” Mama.” Panggil Sefi kemudian memeluk mamanya.

” Anak bungsu mama, kamu tidak bikin susah papa dan kak Fera, kan?” Sefi mengangguk.

” Sefi pikir tidak akan ketemu mama lagi.” ucap Sefi dengan terisak-isak. Mamanya mengusap air mata dipipinya.

” Anak-anak mama, kalian begitu manis.”

Pembicaraan mereka terhenti karena Pak Handono masuk. Jody, Fera dan Sefi kemudian duduk di sofa. Sementara Pak Handono berdiri di samping pembaringan istrinya.

Fera memegang tangan Jody dan Sefi. Dia memberikan isyarat supaya mereka keluar. Fera ingin papa dan mamanya leluasa untuk berbicara tanpa canggung karena mereka ada di situ. Setelah tiba di luar mereka hanya berdiam diri. Mereka masih terbawa situasi dalam ruangan.

” Maaf ya, Jo. Rencana kita keacara teman-teman batal.” Fera berbicara setelah sekian lama mereka terdiam. Jody memegang tangannya sambil tersenyum.

“ Nggak pa pa. Aku tahu saat ini yang terpenting bagi kamu adalah kesembuhan mamamu. Aku juga andai ada diposisimu pasti akan seperti kamu juga. Ok, santai aja. Aku hanya tidak ingin kamu sedih..”

” Sebenarnya perasaanku belum sepenuhnya lega. Tapi nantilah, kalau keadaan sudah membaik, baru aku ceritakan kekamu.” Jody tercenung mendengar kata-kata Fera. Ada hal yang dia rasa menggantung. Tapi Jody tidak bertanya dia hanya tersenyum tipis.

*

Seminggu kemudian nyonya Handono diperbolehkan pulang. Fera dan Sefi serta semua orang yang ada di rumah bersuka cita menyambut kedatangan nyonya rumah mereka. Ada yang hilang selama beberapa minggu sejak nyonya Handono koma. Mereka seperti kehilangan pegangan karena biasanya ada yang mengatur segala sesuatu yang menjadi urusan di rumah. Sementara Lula, Andre dan Hendra mereka hanya mengirim kabar dari jauh. Mereka tidak bisa datang karena urusan di kampus mereka yang tidak bisa ditinggalkan. Nyonya Handono juga tidak menginginkan anak-anaknya meninggalkan kampus kalau tidak sedang libur.

Suatu pagi, seminggu sejak mamanya tiba kembali di rumah. Fera sedang menemani mamanya di taman halaman samping. Sebenarnya sejak mamanya datang Fera sama sekali tidak tidur dengan nyenyak. Dia berusaha mencari kata-kata yang pas untuk bertanya tentang statusnya sebagai anak angkat. Banyak hal yang ingin dia tanyakan terutama tentang siapa orang tua kandungnya.

” Kamu kenapa, Fer? dari tadi mama liat, kamu bengong aja. Mikirin apa sih sayang?” Fera pindah duduk di samping mamanya.

” Ng, anu ma.. itu. Waktu mama masih di rumah sakit, ada tante-tante yang datang kemari. Namanya ibu Ratna. Dia mengaku ibu kandung Fera. Sebenarnya Fera ini.. maksud Fera apa benar Fera anak angkat mama dan papa?” plong. Dada Fera langsung lega. Akhirnya dia bisa bertanya juga kemamanya. Tapi diluar dugaan Fera, mamanya malah tersenyum.

” Kamu tau dari mana kalo kamu ini anak angkat?”

” Pokoknya Fera dapat informasi begitu, ma. Terus tante itu juga ngotot. Tapi belakangan dia mengaku kalau dia sebenarnya bukan ibu kandung Fera. Dia hanya terobsesi dan kebetulan dia tahu tentang kondisi Fera.”

Nyonya Handono memegang jemari Fera.

” Sayang, apapun yang kamu dengar dari orang lain atau siapapun itu, apapun info seputar diri kamu yang disampaikan ke kamu, intinya kamu adalah anak mama dan papa. Sejak kamu lahir, mama yang menyusui kamu. Sama seperti saudaramu yang lain. Kamu juga ada dalam pelukan mama dalam keadaan masih merah. Kamu tidak berbeda dengan semua anak mama dan papa. Jadi mulai sekarang jangan lagi memikirkan semua hal yang berkaitan dengan statusmu. Kamu anak mama dan papa. Titik. Kalau ada yang mencoba mnngacaukan hidupmu, kamu harus berani bertahan dan mengatakan kalau kamu adalah anak mama dan papa.” Nyonya Handono mengelus rambut Fera.

” Mama ada rahasia kecil untuk kamu, kamu tahu sayang sebenarnya mama lebih menyayangi kamu daripada semua saudaramu yang lain. Selama ini mama begitu ketat mengatur kamu, tidak boleh ikut kegiatan yang bisa membahayakan nyawa kamu. Sebenarnya mama tidak mau terjadi sesuatu dengan kamu karena mama ingin melindungi kamu. Mama merasa bersalah dengan orang tua kandungmu. Mereka begitu baik. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan kamu, mama pasti tidak bisa memaafkan diri mama.”

Mata Fera berkaca-kaca. Dia kemudian memeluk mamanya.

” Fera merasa bersalah selalu bikin mama susah. Fera janji ma, Fera tidak akan bikin mama dan papa juga kakak-kakak susah lagi. Fera janji jadi anak yang baik.” Mamanya memeluknya dengan erat.

” Sayang, kamu itu nggak pernah bikin mama susah. Mama aja yang kelewat khawatir, jadi kamu jangan merasa bersalah, ya.” Mamanya kemudian mengusap-usap rambut Fera.

” Ma, apa orang tua kandung Fera masih hidup?” tanya Fera masih dalam pelukan mamanya.

” Mereka sudah meninggal. Jadi kamu jangan percaya siapapun yang datang mengaku kalau mereka adalah orang tua kandungmu. Kamu harus percaya, saat ini mama dan papa lah orang tua kandung kamu. Nggak ada orang lain. Hidup bukan menatap kebelakang sayang, tapi ke depan. Masa depanmu masih sangat panjang. Mama juga nggak tahu di mana mereka dikuburkan. Tapi biarpun begitu kamu bisa mengirimkan doa untuk mereka setiap habis sholat. Doamu pasti sampai.” Fera melepaskan pelukan mamanya.

” Mereka tahu kalo Fera yang mengirim doa?” mamanya mengangguk sambil tersenyum.

” Semua orang tua tahu siapa anaknya, begitu juga dengan papa dan mama. Jadi mulai sekarang, kamu jangan pikirkan itu lagi. Kamu bisa sampaikan ke semua orang dan tidak ada yang bisa membantah kalau kamu adalah anak mama dan papa.”

” Fera minta maaf ma.” mamanya menatap Fera dengan mimik heran.

” Kenapa lagi sayang? Kamu ada salah apa sama mama?”

” Itu ma. Waktu mama sakit kepala trus mama pingsan, kan sebelumnya mama kesal gara-gara Fera?” Nyonya Handono tersenyum lagi.

” O. Itu. Sayang, mama memang sudah sakit kepala dan itu memang penyakit mama. Cuma mama nggak pernah ngomong ke kalian kalau mama sakit. Mama tidak ingin anak-anak mama jadi khawatir.”

” Fera merasa bersalah ma, Fera sampai takut kalo mama tiba-tiba meninggal dan Fera belum minta maaf ke mama.” mata Fera berkaca-kaca. Mamanya kembali memeluknya.

” Mama baru tahu kalau ternyata anak mama yang satu ini juga hoby menangis.” Fera tertawa sambil menghapus air matanya.

” O, Iya. mama mau tanya. Sefi bilang cowok yang sering nemenin kamu itu, pacarmu ya?” Fera mengangguk.

” Rupanya banyak kejadian menarik selama mama nggak sadar. Mama menyesal, coba kalo mama nggak pingsan pasti mama bisa menyaksikan langsung. Ehm, anaknya cakep juga. Ternyata anak mama pintar juga milih cowok.” Fera tertawa.

” Akh, mama. Bukan Fera yang milih dia tapi dia yang milih Fera, model gini mau milih cowok? nggak bakalan ada yang mau.. Fera heran juga liat tuh anak. Kenapa dia bisa suka sama Fera ya.”

” Fera..Fera kamu tuh ya, kalau diperhatikan lebih lama, baru orang tertarik sama kamu. Karena kamu itu manis dan mata kamu, pernah nggak kamu perhatiin mata kamu? Sayang, mata kamu tuh bisa tenggelamkan banyak cowok loh.”

”Hah.. tengelam? mama bisa aja, memang mata Fera lautan?” Fera terbahak.

” Fera, ada ungkapan dari mata turun ke hati. Kalo mata kamu aja sudah bisa membuat orang jatuh hati, pasti banyak yang naksir sama kamu.”

” Nggak perlu banyak, ma. Cukup Jody saja.”

” O. Namanya Jody toh. Keren juga. Kapan-kapan bawa kemari.Mama pengen ngobrol sama dia.” Fera mengangguk sambil tersenyum.

Fera dan mamanya ngobrol sambil tertawa. Fera bahagia sekali, dia tidak menyangka bisa berbicara lagi dengan mamanya. Rasanya seperti melewati padang pasir yang sangat panas saat mamanya koma dirumah sakit. Seperti tidak ada jalan keluar selain menjalani kondisi yang serba tidak pasti tersebut. Fera bersyukur sekarang dia bisa bersama dengan mamanya lagi melewati hari.

*

Beberapa minggu kemudian Fera mulai kuliah di salah satu perguruan tinggi yang ada dikotanya. Seperti lem yang susah untuk dilepaskan, Jody juga memilih kuliah di tempat yang sama dengan Fera. Mereka mengambil jurusan ekonomi karena sesuai saran Jody yang nantinya akan memegang perusahaan papinya.

Hari pertama kuliah Jody menjemput Fera dirumahnya. Karena sudah terlambat Fera berdiri tidak sabar menunggu depan pintu pagar. Saat Jody muncul, Fera langsung membuka pintu mobil dan duduk dengan manis di samping Jody.

” Maaf ya, Fer. Aku terlambat. Soalnya tadi ada keluarga papi yang minta dijemput. Mana anaknya reseh lagi. Bikin susah saja.”

” Nggak apa-apa. Aku cuma takut terlambat, inikan hari pertama kuliah. Ntar dosennya bilang apa lagi.”

” Maaf sekali lagi. Besok-besok aku janji bakal on time. Kamu jangan khwatir ya Fera sayang, senyum dong, dari kog cemberut melulu.” Fera melirik Jody sambil tersenyum beberapa detik, lalu mukanya jutek lagi. Jody hanya tertawa pelan. Dia tahu Fera hanya berakting didepannya, pura-pura marah. Jody tersenyum sambil menyetir mobilnya menuju kampus.

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar