Tengah malam Fera terbangun. Dia melihat jam dinding, tepat jam dua belas malam. Apa kak Lula sudah pulang ya? Pikirnya. Padahal Fera tadi berusaha untuk tidak tidur menunggu Lula pulang tapi ternyata dia ketiduran juga. Fera bangkit dari pembaringan lalu berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamarnya. Suasana di luar gelap. Mbak Hanum ternyata sudah ketika mendengar suara orang sedang menangis. Arahnya dari ruang tamu. Fera kemudian menuruni anak tangga satu persatu. Dia berusaha mencari asal suara itu. Dalam hati Fera merasa curiga kalau yang menangis itu adalah Lula, dia cuma ingin memastikan saja.
Tebakan Fera benar. Dia melihat Lula sedang duduk di lantai bersandar pada pintu ruang tamu.
” Kak Lula? Kakak kenapa?” tanya Fera yang ikut-ikutan duduk di lantai. Lula langsung memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. Tanpa bercerita Fera sudah membayangkan masalah apa yang dihadapi kakaknya itu. Tapi untuk sekarang dia tidak ingin bertanya macam-macam. Cukup memeluk dan mendengarkan tangisan Lula saja membuatnya begitu sedih.
Lama Lula memeluknya sambil menangis. Ketika tangisnya sudah mulai reda Lula melepaskan pelukannya.
” Kita ke kamar saja, ya kak.” ajak Fera sambil mengusap air mata dipipi Lula. Lula mengangguk kemudian perlahan berdiri.
” Sefi sudah tidur ?” tanya Lula dengan suara serak karena habis menangis.
”Iya. Dari tadi sebenarnya kami tungguin kakak pulang. Karena sudah ngantuk Sefi memilih tidur dikamarnya.” Jawab Fera sambil merangkul kakaknya itu menaiki anak tangga satu persatu. Tiba di kamar Lula, Fera menyalakan lampu kamar. Sedangkan Lula berbaring di tempat tidur.
” Kak Lula mau Fera buatkan susu hangat?” tanya Fera sambil duduk di tempat tidur di samping Lula. Lula langsung mengangguk.
” Kak Lula tunggu sebentar ya, Fera kedapur dulu.”
Fera bergegas keluar. Lima belas menit kemudian dia datang membawa segelas susu coklat dan roti lapis selai yang dibubuhi butiran coklat diatasnya. Kalau tadi Lula berbaring sekarang dia sedang duduk di kursi belajarnya. Sepertinya dia sedang menulis sesuatu.
” Kak Lula, ini susunya kak. Diminum dulu.” Lula langsung mengambil susu coklatnya itu kemudian meminumnya seteguk. Mereka berdua kemudian duduk di lantai. Fera menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.
” Thanks ya Fer, kakak nggak tahu mau bagaimana lagi. Tadi itu kakak rasanya sudah tidak kuat melangkah. Kaki kakak rasanya lemas.”
” Kak Lula pulang dengan siapa? diantar mas Yudi?” Lula menggeleng.
“ Kakak pulang naik taksi. Tadi sebenarnya mas Yudi mau mengantar kakak tapi kakak tidak mau. Biarlah tadi jadi pertemuan kami yang terakhir.”
“ Sebenarnya ada masalah apa sih kak? Kenapa mas Yudi malah mau melamar kakak?” Lula meminum susu coklatnya. Dia terdiam beberapa saat.
“ Tadi waktu kakak menanyakan masalah yang diceritakan Andre, mas Yudi kaget setengah mati. Dia betul-betul tidak menyangka kalau kakak secepat ini akan tahu masalahnya. Dia hanya ingin menikah dengan kakak lalu pergi ke Amerika. Itu saja.”
” Lalu pacarnya yang hamil itu bagaimana?”
” Mereka nggak bisa nikah, kalaupun mereka nekad untuk menikah, maka mas Yudi dihapuskan dari daftar keluarga. Semua Fasilitas yang dia pakai selama ini akan hilang karena pihak keluarga tidak merestui hubungan mereka.” Fera yang tadinya bersandar di tempat tidur kini duduk bersila dengan posisi tegak.
” Lho, kenapa serumit itu? Perempuan itukan sedang hamil? Apa keluarga mas Yudi nggak tahu?”
“ Justru itu Fe, keluarga mas Yudi hanya tahu yang jadi calon menantu mereka itu kakak. Mereka nggak ingin orang lain. Makanya mereka murka waktu tahu mas Yudi pacaran dengan orang lain.”
“ Tapi kan kak Lula sudah lama nggak pacaran lagi dengan mas Yudi? Kalaupun pacaran tapi kalau ada perempuan yang sedang mengandung anaknya, masak pihak keluarga tega? Harusnya kan mereka ikhlas untuk melupakan kakak.” Lula menggeleng pelan sambil mengunyah roti lapisnya.
” Kamu nggak tahu keluarga mas Yudi seperti apa. Bagi mereka sesuatu yang sudah ditetapkan dalam rapat keluarga besar, itu nggak bisa diubah-ubah. Makanya kakak dulu berpikir ratusan kali menerima mas Yudi. Bahkan mas yudi nyaris tidak jadi pacar kakak karena keluarga mereka seperti itu. Baru datang dirumahnya saja kakak sudah di periksa dari ujung kaki sampai ujung rambut.”
” Tapi kog mas Yudi tega ninggalin pacarnya yang lagi hamil?”
” Itulah Fer, kakak marah besar tadi. Rasanya seumur-umur baru tadi kakak murka banget sama mas Yudi. Kakak memang sangat mencintai mas Yudi tapi kalau sampai mas Yudi menjadikan kakak alatnya untuk dapat fasilitas keluarga, kakak nggak bisa terima. Mas Yudi tadi mengaku kalaupun kami tetap menikah maka pacarnya itu akan tetap dia biayai, dia nikahi walaupun mungkin hanya nikah sederhana. Kakak akan tetap jadi istrinya. Bisa nggak kamu pikir, kog mas Yudi tega banget sama kakak. Keterlaluan kan? Padahal kakak mengira, dia balik kembali karena memang sangat mencintai kakak dan ingin membina rumah tangga dengan kakak. Tapi kalau kejadiannya seperti ini, kakak betul-betul menyesal masih terus mencintai dia sampai sekarang. Selama ini kakak merasa bersalah makanya tidak bisa menerima orang lain di hatikakak. Kakak merasa sudah salah meninggalkan mas yudi untuk kuliah di tempat lain. Tapi dengan adanya peristiwa seperti ini, rasanya kakak sudah lega. Tidak ada beban lagi. Bisa lebih tenang menjalani hidup. Kakak tidak perlu takut menerima orang lain. Kakak harus menjalani hidup.” Fera langsung memeluk Lula.
” Ini baru kak Lula. Pantang menyerah. Kakak harus optimis. Kalau sekarang kakak merasa kecewa maka anggap itu sebagai anugrah. Liat sisi positifnya. Coba kalau nggak ada masalah seperti ini, mungkin kakak akan terus mengharapkan mas yudi yang ternyata sudah mencintai orang lain. Kasihankan hidup kakak kalau seperti itu.”
Lula mengangguk. Meneguk susu coklatnya sampai tetesan terakhir. Fera tersenyum tipis melihatnya. Setidaknya dia melihat contoh yang harus dia ikuti. Tidak boleh patah semangat. Merasa sedih boleh saja tapi tidak boleh berlarut-larut karena hidup terus berjalan. Tidak boleh jatuh hanya karena masalah yang sebenarnya jika ditanggapi positif bisa selesai dengan sendirinya.
Seminggu kemudian Fera ujian. Menjelang ujian dia dibebaskan dari tugas menjaga mamanya dirumah sakit. Ketiga kakaknya dan Sefi bergantian berjaga dirumah sakit. Fera juga cuti sementara dari bertemu Jody. Mereka sudah sepakat selama ujian ini mereka harus bisa menahan diri tidak bertemu. Tidak telepon. Pokoknya puasa dari pacaran.Tapi dasar Jody, di sekolah dia masih mencari Fera. Berdiri di dekat pintu ruang ujian, kemudian menengok ke dalam kelas sambil memberikan senyuman termanisnya untuk Fera yang sedang duduk. Fera balas tersenyum tapi kemudian dengan isyarat tangan menyuruh Jody pergi sebelum pengawas ujian datang.
*
Akhirnya selesai sudah Fera menjalani ujian akhir. Fera merasa lega. Karena beban yang ada dikepalanya sudah hilang. Tinggal menunggu pengumuman hasil ujian. Ketiga kakaknya juga akan segera balik ke kampus mereka. Rencananya memang setelah Fera selesai ujian baru mereka akan kembali kuliah.
” Jangan lupa ya Fe, jagain mama baik-baik ya. Jaga papa,Sefi dan juga selalu hati-hati. Jangan nakal-nakal ya” pesan Lula waktu mereka berpisah di bandara. Fera dan Sefi hanya mengangguk sambil tersenyum kemudian memeluk Lula. Begitupun dengan Andre dengan Hendra. Bergantian mereka mengucapkan salam perpisahan sambil berpelukan.
” Kakak pergi dulu ya.” ucap Andre dan Hendra. Fera dan Sefi melihat ketiga kakaknya melangkah menuju ruang keberangkatan. Terlintas dalam pikian Fera kalau tidak lama lagi dia akan mengikuti ketiga kakaknya kuliah. Tapi apakah dia akan kuliah disana juga? Rasanya sedih kalau harus berpisah dengan orang tuanya. Apalagi sekarang mamanya belum siuman. Akankah dia kuliah juga?Pikiran itu terus bermain dikepala Fera sampai dia tidak sadar dari tadi hanya berdiri sambil melamun.
” Kak, Fe. Ayo pulang.” ajak Sefi sambil menyentuh lengannya. Fera tersadar. Dia menatap ke arah ketiga kakaknya melangkah tadi. Mereka sudah tidak ada.
” Kak Lula, mas andre, mas Hendra sudah pergi, Fi?” tanyanya bingung.
” Iya. Kakak aja tuh yang melamun dari tadi.Waktu mereka melambaikan tangan kakak tidak membalasnya”
” Kog bisa ya..”
” Makanya kak, jangan melamun saja. Kak Fe melamunkan apa sih? Bisa gawat kalau kakak sendirian. Ntar sudah kecopetan kakak baru sadar.” Sefi berbicara sambil terus melangkah keluar ketempat parkir. Fera mengikutinya kemudian mereka berjalan beriringan.
*
Siang ini Fera menjaga mamanya dirumah sakit. Fera berdoa semoga mamanya cepat sadar dan mereka bisa berkumpul kembali sebagai suatu keluarga. Fera baru saja meneguk minumannya ketika tiba-tiba pintu terbuka. Dia hampir saja tersedak begitu melihat siapa yang datang,
“ Jody?! Kenapa kamu nggak bilang mau datang?!” tanya Fera kaget. Jody hanya mesem-mesem.
” HP mu nggak aktif. Coba aja liat. Gimana aku bisa hubungi kamu? Untung aku telpon Sefi. Jadi aku tahu kamu lagi dirumah sakit.” Fera melihat HP nya. Benar saja HP nya tidak aktif.
” Kamu itu ya… hoby banget matiin HP, suka lupa charge. Kamu mikirin apa sih?” Fera tidak menjawab. Dia sibuk mencari sesuatu didalam tasnya.
” Aduh, charge ku dimana sih? Padahal tadi kan aku bawa.” gumam Fera. Jody ikut-ikutan melihat kedalam tas Fera. Tapi Fera malah melihatnya.
“ Kamu kenapa sih,Jo?” Jody balik memandangnya. Wajah mereka begitu dekat. Fera salah tingkah. Dia mengalihkan pandangannya kembali melihat tasnya. Jady tersenyum tipis. Dia lalu mencium kening Fera. Fera keget dia tidak menyangka Jody akan menciumnya. Dia hanya bengong memandang Jody.
“ Aku kangen banget sama kamu.” ucap Jody pelan.
” Aku juga kangen Jo, Cuma kan ada mama disini. Ntar mama marah..”
Jody tersadar. Dia memilih duduk di sofa.
” Aku lupa, Fer. Maaf ya tante.” ucapnya sambil melirik ke mama Fera. Karena masih memikirkan chargenya, Fera tidak melihat ujung mata mamanya menetes setitik air mata. Kemudian mengaliri wajah mamanya. Tapi Fera tidak melihatnya…..
” Kamu nggak pengen daftar kuliah, Fer?” tanya Jody kemudian. Fera menggeleng pelan. Mukanya di tekuk.
” Gimana ya Jo, aku bingung. Mau daftar di mana? Semua kakakku kan tidak kuliah di sini. Trus kalau aku kuliah di sana, kasihan mama. Maunya sih aku kuliah di sini. Cuma masih pikir-pikir dulu.”
” Kalau aku sih, terserah kamu. Kalo kamu kuliah di sini, aku ikut. Kuliah di mana juga, aku ikut.” Ucap Jody. Fera memandangnya heran.
” Kamu mau kuliah atau membuntuti aku sih?” Jody tertawa.
” Dua-duanya. Kuliah sambil menemani kamu…he..he…he” Fera memnyorongkan bibirnya.
” Kuliah apa kuliah?”
” Kuliah dong. Tapi Fer, aku lagi bingung nih. Papiku pengennya aku ambil jurusan ekonomi katanya biar nanti bisa pegang perusahaan papi tapi aku pengennya ambil jurusan kedokteran, ya kalau nggak bisa setidaknya yang dekat-dekat dengan medislah, seperti psikiater atau dokter gigi…pokoknya kesehatan.”
” Kamu nggak bilang ke papimu kalo kamu pengen di medis?”
” Udah. Tapi papi nggak punya pilihan lain karena kakakku nggak bisa. Kamu tahu sendirikan dia hobi sekali balap motor dan sepertinya dia tidak bisa hidup tanpa balapnya itu. Dia bakalan nggak betah diam dalam kantor.” Wajah Jody kelihatan lesu.
”Kalo aku sih pengen jadi sarjana tehnik supaya nggak jauh dari hobiku, kayaknya asyik..” Jody memandang Fera kali ini dia tambah nelangsa. Dia sadar kalau Fera tomboy dan suka balap motor. Jelas saja jurusan yang dipilihnya tidak jauh dari sifat dan hobinya.
” Kamu enak bisa pilih sendiri. Kalau aku semua harus sesuai saran papi. Tapi sebenarnya papi betul juga. Aku kan cuma dua bersaudara. Kalau kakakku nggak bisa berarti aku dong yang ambil alih. Oh, ya Fer gimana kalo kamu ngambil jurusan ekonomi juga, sama seperti aku. Jadi kita bisa sama-sama terus kuliahnya.”
Fera terdiam sesaat. Dia seperti memikirkan sesuatu.
” Kayaknya idemu bagus juga tuh, Jo. Aku memang suka banget sama otomotif tapi mamaku kan nggak suka. Jadi kalo aku kuliah di tehnik mesin. Pas mamaku siuman dan dia tahu, bisa-bisa mamaku pingsan lagi…”
Mata Jody langsung bersinar. Walau alasan yang Fera kemukakan lumayan lucu tapi setidaknya Jody bisa membujuknya. Beban berat yang ada dikepalanya perlahan sirna. Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan saran papinya. Sekarang dia lega. Dia tidak bisa membayangkan kalau harus terpisah dari Fera.
Dan untuk kedua kalinya Fera tidak melihat kalau airmata menetes lagi dari ujung mata mamanya. Mereka lagi asyik ngobrol jadi tidak melihat kejadian itu.
Sore harinya Sefi datang. Jody baru saja pulang tapi mereka tidak bertemu karena Jody melewati lorong yang lain. Sefi bertemu Fera di depan pintu kamar mamanya.
” Lagi ngapain kak, di depan pintu?” tanya Sefi lalu masuk ke dalam ruangan. Fera ikut dibelakangnya.
” Nggak. Tadi Jody kemari. Jadi kakak mengantarnya sampai dia pergi.” jawab Fera sambil menutup pintu kembali.Sefi meletakkan bungkusan di atas meja. Dia mencium kening mamanya dan mengelus-elus wajah mamanya. Tapi kemudian Sefi kelihatan bingung. Dia memperhatikan ujung mata mamanya.
” Kak Fera, liat sini. Kayaknya ada yang aneh deh.” Fera mendekat.
” Apanya yang aneh?” tanyanya sambil melihat wajah mamanya.
” Mama seperti habis menangis. Coba liat di sini seperti bekas air mata.” ucap Sefi sambil menunjuk mata mamanya. Fera mendekat untuk melihat lebih jelas lagi. Dia langsung duduk di sofa tanpa bicara.
” Betul kan kak? Itu bekas air mata?” tanya Sefi. Mungkin dia heran karena Fera terdiam dan duduk di sofa.
” Kakak takut, Fi. Kalau mama sudah bisa menangis apa itu tandanya mama sudah hampir siuman?”
” Kenapa kakak takut?”
” Jangan sampai kita terlalu berharap, padahal mama masih lama siumannya. Kita tanya dokternya saja, Fi?” Sefi ikutan duduk di dekat Fera.
” Besok pagi dokter yang biasa menangani mama baru datang. Biar kak Fera tanyakan saja nanti. Mudah-mudahan ini pertanda baik.”
Fera menganguk sambil memperhatikan mamanya. Diam-diam Fera berdoa semoga mamanya bisa cepat sadar. Kejadian itu membuat Fera dan Sefi lebih sering melihat wajah mama mereka. Mereka takut kalau tiba-tiba mama mereka menangis lagi atau yang lebih mustahil menggerakkan tangan. Tapi sekian lama memperhatikan mama mereka tetap saja diam tanpa ada perubahan berarti. Walau begitu Fera dan Sefi sangat yakin kalau mama mereka pernah mengeluarkan air mata.
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar