Senin, 28 November 2011

Rumah Di Hati Fera ( Bagian 3 )

0



“ Bagaimana, pa? Fera nggak usah ke sekolah dulu ya hari ini, besok saja..” tanya Fera keesokan paginya di rumah sakit. Mbak Hanum baru saja datang membawakan sarapan untuk mereka.

“ Kamu tetap sekolah. Sefi juga. Biar mbak hanum yang tungguin mama. Nanti siang baru kalian kemari. Ujian semester kan sudah dekat. Kalau kalian tidak pergi sekolah, bagaimana bisa belajar dengan baik. Papa juga akan ke kantor. Papa yakin, kalau mama kalian bisa bicara pasti dia tidak mau kalian ijin dari sekolah.” Ucap Pak Handono.

Fera saling pandang dengan adiknya. Padahal tadi malam mereka sudah sepakat kalau hari ini tidak masuk sekolah dulu. Tapi kalau papa mereka mengharuskan untuk sekolah terpaksa Fera dan Sefi harus mengikuti.

“ Mama kamu sakit apa, Fer?” tanya Leli begitu Fera sampai di kelas. Sebenarnya Fera malas ke sekolah hari ini. Dia masih mengantuk karena kurang tidur semalam.

“ Mamaku sakit kepala kronis. Dia pingsan sampai sekarang belum sadar juga.” Jawab Fera sambil telengkup di atas tasnya yang di taruh di atas meja. Matanya terpejam.

“ Kamu ngantuk sekali, ya?” tanya Leli. Fera mengangguk. Leli baru saja ingin memberitahu Fera kalau Jody masuk dalam ruangan, tapi Jody langsung menaruh telunjuknya dibibirnya, tanda supaya Leli tidak berbicara.

“ Pagi Cinta.” Sapa Jody. Fera tidak bangun. Dia hanya membuka sebelah matanya.

“ Jody..Aku ngantuk sekali. Rasanya pengen tidur saja.” Fera menutup kembali matanya.

Jody hanya tersenyum. Dia membawa bungkusan dan diletakkan di atas meja di depan Fera.

“ Ok. Kamu tidur saja dulu. Nanti jam istrahat aku jemput ya. Kita keruangan Kepala Sekolah.” Jody belum menyelesaikan kalimatnya Fera langsung tersentak bangun.

“ Astaga..Jo. Kitakan harus membersihkan Lab? Aduh, bagaimana ini… aku kan mau kerumah sakit lagi. Bagaimana membersihkan Lab?” ucap Fera cemas.

“ Makanya ntar jam istrahat kita ketemu Kepala Sekolah. Ok, aku kekelasku dulu. O, ya aku bawakan sarapan untuk kamu. Di makan Ya..” Jody tersenyum sambil mengedipkan matanya. Fera tersenyum juga. Dia membuka bungkusan yang di bawa Jody. Disebelahnya Leli melihatnya dengan sinar mata kekaguman.

“ Aku nggak nyangka deh, Jody itu romantis banget. Dia perhatian banget ke kamu Fer, sampai-sampai dia bawakan kamu makanan lagi.”

Fera tersenyum tipis. Sebenarnya walau badan Fera ada di sekolah, seluruh isi kepalanya hanya memikirkan mamanya yang terbaring dirumah sakit. Tapi kalau ingat kata-kata papanya dan juga sikap mamanya menyangkut bolos sekolah, Fera jadi maklum kalau dia memang tidak boleh ijin sekolah.

Fera tersentak. Handphonenya berbunyi. Sebuah SMS dari Lula, kakaknya :

Mama bagaimana Fer, kakak baru baca SMS kamu. Soalnya dua hari ini kakak ada tugas keluar daerah yang tidak ada sinyal. Insya Allah, besok kakak pulang. Sekarang baru urus ijin.

Fera membalasnya. Ketik pesan. Kirim.

Karena bel sudah berbunyi Fera mematikan Handphonenya. Peraturan di sekolah memang seperti itu. Harus mematikan Handphone pada saat pelajaran sedang berlangsung.

Jam istrahat. Fera dan Jody sudah ada di ruangan kepala sekolah. Tapi Kepala sekolah pergi sejak tadi. Ada rapat di Dinas pendidikan dan Kebudayaan.

“ Bagaimana, Jo. Kita keluar saja. Besok lagi kita kemari. Jam istrahat udah mau kelar..” ucap Fera dengan suara pelan. Jody mengangguk. Mereka berjalan di koridor sekolah. Fera hendak berbelok kekelasnya ketika Jody menarik tangannya mengajak ke kantin.

“ Jo, kelas bentar lagi mulai” Protes Fera.

Jody terus membawanya. Tiba di kantin Fera terperangah. Ternyata Jody telah memesan makanan yang di atur di atas meja. Romantis sekali. Jody membimbing Fera untuk duduk di kursi. Dia menarik kursinya. Fera tidak bisa berkata-kata. Dia hanya duduk sambil memperhatikan makanan didepannya dan Jody bergantian. Fera tidak bisa menerima perlakuan romantis semacam ini. Matanya langsung berkaca-kaca. Sejenak dia melupakan kesedihannya karena mamanya yang sakit.

Tingkah mereka mengundang perhatian murid-murid yang masih ada di kantin tersebut. Gosip seputar hubungan Fera dan Jody yang kontroversial sudah bukan rahasia umum lagi di sekolah. Mereka memandang Fera dan Jody seperti mahkluk langka. Ada rasa iri, cemburu, simpati bercampur jadi satu. Yang mereka perhatikan bukan karena kemesraan mereka, tapi karena Jody yang terlalu cakep begitu sangat perhatian ke Fera yang manis sedikit. Ada keanehan yang tidak bisa mereka terima dengan akal. Fera dan Jody cuek saja. Hanya saat bel berbunyi, mereka berlari-lari balik kekelas.

*

Fera baru tiba di rumah sakit, ketika Lula menelpon. Ternyata Lula telah tiba di rumah dan sedang siap-siap ke rumah sakit. Dia hanya ingin memastikan posisi Fera dan meminta Fera menunggunya di rumah sakit.Tidak lama kemudian Lula datang bersama Andre dan Hendra. Mereka memeluk Fera dan Sefi bergantian. Lula menuju pembaringan mamanya. Dia tidak bisa menahan airmatanya saat melihat mamanya.

“ Ma, ini aku ma. Lula. Andre dan Hendra juga ada ma. Mama kenapa bisa begini? Mama ternyata sakit tapi semuanya mama simpan sendiri. Kenapa mama nggak pernah cerita?” Lula terisak-isak sambil telengkup memeluk mamanya yang terbaring tak sadar. Hendra memegang jemari mamanya sedangkan Andre berjalan ke sisi jendela. Dia menatap keluar jendela sambil mengusap air matanya. Semuanya terdiam. Bahkan Lula sudah tidak bersuara lagi. Dia hanya menangis sambil memeluk mamanya.

Fera tidak bisa lagi menahan rasa bersalahnya. Dia berbicara sambil menangis.

” Fera yang salah, kak. Sebelum pingsan, mama memarahi Fera. Trus mama sakit kepala” Sefi menyentuh pundak Fera mencoba menenangkan Fera yang makin kalut. Lula terbangun dan memandang Fera.

” Kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Mama memang sudah sakit, kebetulan aja waktu mama marahi kamu penyakitnya kambuh..”

” Iya, Fer” Andre ikut bicara.

”Kita semua tahu kog, mama paling sayang sama kamu. Jadi nggak mungkin mama membenci kamu. Yang penting sekarang, kita doakan mama supaya cepat sembuh.” Fera memandang semua saudaranya. Rasa bersalahnya sangat besar. Dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau mamanya sakit. Dia menganggap kalau penyebab mamanya sakit adalah karena mamanya marah waktu itu.

Di sekolah, Fera duduk sendiri di tangga lantai lima. Di sini suasananya sangat sunyi karena ruangan yang ada di lantai ini belum terpakai. Rencananya baru tahun ajaran baru nanti akan ada penambahan kelas, dan ruangan di lantai lima ini yang akan dipergunakan.

Fera termenung. Rasanya dia tidak siap dengan situasi ini. Berada dikeramaian sementara hatinya berada dirumah sakit.Mata Fera mulai basah. Mengingat kembali hal-hal yang terjadi antara dia dengan mamanya membuatnya makin sedih. Dikeluarganya hanya Fera yang suka bikin masalah dan itu seringkali membuat mamanya marah.

” Akhirnya! aku ketemu kamu juga.!” Jody muncul dengan nafas terngah-engah. Dia langsung duduk disamping Fera.

” Kenapa kamu kemari,Jo?” tanya Fera sambil mengapus air matanya dengan tissu. Jody mengatur nafasnya beberapa saat. Dia meletakkan bungkusan yang dia bawa disampingnya

” Fera. Kamu kan pacarku? Masak ketemu pacar aja harus ada alasan? Aku tuh cari kamu kemana-mana, karena satu-satunya informan yang bisa kupercaya, Leli, bahkan tidak tahu kamu dimana. Aku bahkan mencari kamu ke semua ruangan di sekolah ini.”

” Aku hanya pengen sendiri sekarang. Makanya aku kesini. Ini tempat favoritku. Sejak dulu aku suka kesini..”

” Fera, aku tahu kamu lagi sedih. Tapi tolong, jangan pendam sendiri. Jangan acuhkan aku. Kalau aku memang tidak bisa membantu, setidaknya biarkan aku temani kamu.OK ” Jody memandang Fera dengan tatapan lembut.Dielusnya rambut Fera.

” Orang bijak bilang, dua kepala lebih baik daripada satu kepala, artinya kalo kamu sendiri, bisa-bisa kamu nggak berpikir jernih. Aku takut, diketinggian begini, tiba-tiba kamu stress dan langsung lompat kebawah.” Fera langsung menatap Jody.

” Jadi kamu sengaja cari aku karena takut aku bunuh diri? Bukan karena kangen sama aku dan pengen bantuin aku?” Fera mulai sewot. Jody gelagapan.

”Bukan itu, selain khawatir, aku juga kangen sama kamu. Cuma apa semua alasan harus aku sebutkan?kepanjangan, Fe. Napasku nggak cukup tadi. Akukan lari-lari naik kemari. Sampe sekarang capeknya nggak hilang-hilang.”

” Kenapa kamu nggak nelpon ke HP ku? Pake cari kemana-mana lagi..” Jody tercenung. Dia tertawa tapi kemudian berhenti karena Fera memelototinya.

” Tadi itu aku panik banget, sampe lupa nelpon ke HP mu..” Jody tersadar. Dia ingat kantong plastik yang ada disampingnya.

” O,ya Fe. Ini aku bawain makanan. Soalnya nggak enak makan sendiri. Jadi aku cari kamu, sekalian makan bareng.” Fera melihat makanan yang dibawa Jody. Dia merasa lapar cuma tadi tidak ada keinginan untuk menuju kantin. Kakinya malah melangkah kelantai lima.

Jody membawa dua dos berisi nasi lengkap dengan lauknya. Ada juga kue dengan teh botol.

” Makanlah. Biar lagi sedih, perut nggak boleh kosong. Setan bisa datang kapan saja, kalo perut lagi lapar..” Jody bercuap-cuap sambil mengunyah makanannya. Kelihatannya dia memang sudah sangat lapar.

” Kalo setiap hari begini asyik juga, ya..” Jody masih belum lelah untuk berbicara.

” Kenapa ?”

” Iya. Setiap hari guru-guru rapat. Kita kan bisa santai-santai..”

” Nggak mungkin lah. Mereka kan rapat untuk membahas ujian. Memangnya setiap hari kita ujian..?” Fera jadi ingat ujian akhir sebentar lagi. Dia harus belajar dengan giat. Nilainya tidak boleh jelek. Setidaknya kalau mamanya siuman ada hal yang bisa dia banggakan untuk dia perlihatkan ke mamanya.

Hampir satu jam Jody dan Fera ngobrol di tangga lantai lima. Mereka baru turun ketika ada pengumuman kalau guru-guru sudah selesai rapat dan kegiatan belajar mengajar dilanjutkan.

” Tunggu aku sepulang sekolah ya, aku antar kamu pulang.” Ucap Jody sebelum mereka berpisah di anak tangga. Kelas Jody dan Fera memang berlawanan. Fera tersenyum menggiyakan untuk kemudian melangkah menuju kelasnya.

*

Tiba di rumah Fera melihat Lula yang sedang berbaring disofa . Wajahnya agak pucat. Kelihatan warna hitam dibawah kelopak matanya pertanda kurang tidur.

” Kak Lula baru pulang dari rumah sakit ya ? trus yang jagain mama sekarang siapa?” tanya Fera yang di jawab Lula dengan anggukan kepala. Lula kemudian menutup matanya dengan tangannya.

” Andre yang jaga mama.. kepala kakak rasanya sudah mau meledak. Mau tidur juga nggak bisa, mau melek juga nggak bisa. Bingung mau ngapain…”

Fera menghela nafas.

” Kak Lula harus makan yang bergizi. Ehm, bagaimana kalau kakak makan bubur ayam buatan mbak Hanum? Rasanya enak kak.. coba saja nanti. Fera kedapur dulu ya kak.” Fera tidak melihat lagi Lula mengangguk. Dia menuju dapur menemui mbak Hanum. emudian kekamarnya berganti pakaian.

Ketika turun kebawah dilihatnya Lula tidur dengan pulas. Nafasnya turun naik dengan teratur. Fera memandangi kakak perempuan satu-satunya itu agak lama sampai tidak menyadari kedatangan Sefi. Sefi berjalan perlahan mendekatinya. Dia mengikuti arah pandangan Fera dan itu berakhir di sofa. Ada Lula yang sedang berbaring.

” Kak, Fe. Ada apa dengan kak Lula? Kenapa diliatin terus?” Fera tersentak.

” Sefi!?! Kapan kamu datang? Kenapa tiba-tiba muncul?” tanya Fera dengan mimik terkejut. Sefi cengengesan.

” Kak Fera aja tuh yang melamun dari tadi, makanya Sefi datang, kak Fera nggak dengar. O, ya kak. Kenapa sih dari tadi liatin kak Lula terus. Emang ada yang aneh ?”

” Nggak. Cuma kasian aja sama kak Lula. Kelihatannya dia terpukul banget dengan keadaan mama. Aku nggak tau mau ngapain.” mata Fera berkaca-kaca. Sefi langsung menyentuh pundaknya.

” Kak fera jangan berpikir yang macam-macam. Kak Fera kayak nggak tau kak Lula aja. Dia itu mahkluk yang nggak pernah bisa marah. Pernah nggak kita liat kak Lula ngomel? Nggak kan? Jadi kalau sekarang kak Lula keliatan aneh, ya anggap aja lagi capek, atau memang lagi pengen diam aja.”

Fera tersenyum. Sefi kadang-kadang bisa berpikir dewasa juga. Walau hanya kadang-kadang timbulnya tapi lumayan untuk saat sekarang. Setidaknya mengurangi rasa sedih Fera.

” Sefi keatas dulu ya kak, mau ganti maju.”

” Iya. Cepetan ya, kakak tungguin di ruang makan. Kita makan sama-sama.”

Sefi menggangguk kemudian berlari menaiki tangga.

Selesai makan, Fera dan Sefi ke ruang tengah. Lula ternyata sudah bangun dan sedang bersandar di sofa.

” Kak Lula kapan bangunnya? Fera sama Sefi sudah makan duluan tadi. Soalnya mau bangunin kakak, nggak tega, kakak kan baru saja tidur.”

Ucap Fera. Dia lalu duduk disamping Lula. Lula hanya tersenyum tipis.

” Tadi Hendra nelpon, makanya kakak terbangun.”

” Ada masalah ya kak dirumah sakit?” Lula menggeleng pelan.

” Nggak ada. Cuma tadi mas Yudi, datang jenguk mama. Dia nanyain kakak, jadi Hendra telpon. ” Wajah Lula kelihatan sendu. Sefi yang tadi duduk di sofa yang lain sekarang juga ikutan duduk disamping Lula.

” Mas Yudi? darimana dia tau mama masuk rumah sakit?”tanya Sefi heran.

“ Tadi malam, mas Yudi tiba-tiba telpon kakak. Nanyain kabar kakak. Kakak bilang aja lagi di rumah sakit, lagi jagain mama.”

” Tapi kak, kog mas yudi tiba-tiba telpon kakak? Kak Lula pernah bilang, kalo mas Yudi sudah lama sekali nggak pernah hubungi kakak, kenapa sekarang tiba-tiba muncul? Apa dia sudah menikah?”

Fera langsung memelototi Sefi karena pertanyaan terakhirnya. Sefi hanya bengong. Dia baru sadar kata-katanya bisa menyakiti Lula. Tapi Lula hanya tersenyum tipis.

” Mas Yudi belum menikah. Dia justru menghubungi kakak untuk memastikan apa kakak punya pacar. Kalaupun kakak punya pacar, dia hanya mau tau, apa kalau dia melamar kakak, kakak akan menerimanya.” Fera dan Sefi saling memandang dengan mata melotot.

” Mas yudi melamar kakak?!? Tanya mereka bersamaan walaupun mereka tidak pernah latihan sebelumnya.

Lula mengangguk. Tapi dia kelihatan tidak bersemangat. Mimiknya masih sama. Kelihatan sendu. Fera menyentuh tangan Lula.

” Apa yang kakak pikirkan? Kak Lula sudah tidak mencintai mas yudi lagi?”

Lula menggeleng pelan.

” Sampai sekarang kakak masih cinta sama mas Yudi. Susah sekali menemukan orang yang bisa menggantikan posisinya. Tapi kakak sedih. Sedih sekali.”

Lula menghentikan kalimatnya. Fera dan Sefi hanya terdiam, Mereka menunggu kalimat bergulir lagi dari mulut Lula. Mata Lula berkaca-kaca.

” Kakak sedih, karena mas Yudi mau ke Amerika secepatnya. Kalau kakak bersedia menikah dengannya, maka minggu depan kami akan menikah. Masalahnya mama sakit dan belum sadar sampai sekarang dan entah sampai kapan mama baru siuman.”

Lula menangis. Fera dan Sefi juga ikutan meneteskan air mata. Mereka berdua merangkul Lula.

” Mas yudi mau melanjutkan kuliahnya. Kakak nanti akan menyusul selesai wisuda S2 kakak.”

“ Papa sudah tahu kalau mas yudi melamar kakak?” Lula mengangguk.

” Tapi papa hanya diam. Kelihatan bingung. Sampai sekarang papa belum bicara mengenai lamaran mas Yudi. Tadi pagi, mas yudi kekantor papa. Mungkin melamar kakak disana. Soalnya mau melamar dirumah, papa tidak pernah dirumah.”

” Mungkin papa kaget. Dengan kondisi mama seperti itu, tiba-tiba kakak di lamar, dan tiba-tiba harus pergi jauh. Tapi aku yakin kog kak, papa pasti setuju. Dulu saja papa dan mama sudah menganggap mas yudi menantu mereka. Jadi kalo sekarang mas Yudi melamar kakak, itukan yang papa dan mama harapkan..” Lula tersenyum tipis mendengar ucapan Fera. Dia menghapus air matanya dengan jemarinya.

” Sebenarnya ini kabar bahagia untuk keluarga kita. Tapi jadi menyedihkan karena mama sedang sakit. Kakak sedih kalo ingat mama. Di hari bahagia kakak, mama tidak bisa hadir. Padahal impian kakak dari dulu, kalo kakak menikah, mama bisa mendampingi kakak.” Lula menangis lagi.

” Tabah ya kak, nggak semua impian bisa terwujud.Anggap saja mama tahu. Kata orang-orang kalau kita berbicara dengan orang yang lagi koma, mereka bisa mendengarkan kita. Coba saja kak, bicara dengan mama. Siapa tahu mama bisa mendengar.”

” Kakak juga pernah dengar. Tapi apa mama bisa dengar?”

” Kakak coba dulu. Siapa tahu dengan begitu kakak bisa lebih lega.” Lula tersenyum. Kalau tadi dia nampak sedih sekarang raut mukanya sudah lebih tenang.

Malamnya Fera dan Sefi menemani Lula ke rumah sakit. Di sana Andre dan Hendra sudah menunggu mereka. Saat mereka tiba wajah Andre cemberut. Dia seperti menahan emosi yang dalam.

” Kak Lula benar mau menikah dengan Mas Yudi?” Tanya Andre dengan pandangan tajam. Dia menahan suaranya karena sedang berada dekat mama mereka. Walau heran Lula mengangguk juga.

” Ada masalah apa, Ndre. Apa ada yang salah kalau kakak menikah dengan mas Yudi?”

” Salah. Salah besar kak. Kita harus bicara tapi bukan di sini. Aku takut kalau-kalau mama dengar dan penyakitnya malah tambah parah.Kita bicara di luar saja.”

Andre keluar. Lula tidak segera menyusulnya. Dia mendekati Hendra yang berdiri dekat jendela. Fera dan Sefi hanya saling pandang. Mereka tidak tahu mau berkomentar apa.

” Ada apa sebenarnya, Hend? Kenapa Andre jadi begitu emosi?” tanya Lula bingung. Hendra hanya menatap kakaknya tanpa ekspresi.

” Tadi Papa datang. Papa cerita kalau mas Yudi melamar kakak. Sepertinya Andre tidak setuju.” Jawab hendra pelan.

”Tapi kenapa?apa yang salah dengan mas Yudi?”

” Aku juga tidak tahu kak. Andre tidak mau bicara. Dia mau bicara dulu dengan kakak. Lebih baik kak Lula langsung bicara dengan Andre. Aku juga bingung dengan sikapnya.” Lula menghela nafas sebelum keluar.

” Kenapa mas Andre jadi garang begitu mas Hend?” tanya Fera yang diikuti anggukan kepala oleh Sefi. Hendra duduk dekat tempat tidur. Tangannya memegang tangan mamanya.

” Mungkin dia tahu sesuatu. Andre tidak pernah memprotes kalau memang tidak ada alasan yang kuat.” Jawab Hendra pelan. Tangannya mengusap-usap rambut mamanya.

” Cepat sembuh ya ma. Kasian kak Lula…” lanjutnya.

Mereka menunggu dengan harap harap cemas. Tidak ada seorangpun yang berniat untuk berbicara. Bahkan Sefi dan Fera yang biasanya rasa ingin tahunya sangat besar kali ini hanya berdiam diri. Mereka masing-masing sibuk membaca majalah padahal majalah-majalah itu sudah berulangkali mereka baca.

Setengah jam kemudian Lula dan Andre muncul. Wajah Lula dan Andre susah untuk digambarkan. Fera dan Sefi tambah bingung. Apalagi kemudian Lula duduk di samping mereka lalu menangis.

” Sebenarnya ada apa sih, Ndre? Kamu ngomong apa ke kak Lula?” tanya Hendra tidak sabar.

” Nggak pa pa kog, Hend.”jawab Lula dengan mata berair.

” Andre justru memberikan informasi yang harus kakak tahu karena ini keputusan penting. Kalau kakak menikah tanpa tahu apa-apa, bisa-bisa nanti kakak menyesal.” Fera dan Sefi tambah bingung tapi mereka hanya bisa diam.

” Kalau begitu kak Lula beritahu kami, rasanya suntuk dengan kondisi yang tidak jelas begini. Setahuku mas Yudi dari dulu memang suka sama kakak. Alasannya putus waktu itu kan karena jarak. Kalau sekarang dia mau lamar kakak, apa itu salah?” tanya Hendra heran.

Lula menghapus air matanya sebelum bicara.

“ Masalah ada. Cuma tidak adil kalo kita langsung memutuskan sesuatu tanpa bertanya dulu ke mas Yudi. Karena menurut kakak, kalaupun nantinya kakak tidak jadi atau jadi menikah dengan mas Yudi, tidak boleh ada hal yang mengganjal atau jadi beban yang kemudian menjadi penyesalan buat kakak di kemudian hari.”

“ Kalo begitu masalahnya apa kak?” tanya Fera yang akhirnya bersuara juga. Lama Lula terdiam. Dia seperti mengumpulkan kekuatan. Mereka juga sepertinya maklum dengan tidak mendesak Lula untuk segera menjelaskan. Akhirnya setelah menarik nafas beberapa kali Lula akhirnya berbicara.

“ Andre cerita kalo mas Yudi sebenarnya sudah punya pacar dan dia cinta sama pacarnya. Andre tahu kisahnya karena pacarnya itu adiknya teman Andre. Sekarang dia lagi hamil. Andre waktu itu tidak memberitahu kakak karena mas Yudi kan sudah bukan pacar kakak lagi. Jadi menurut Andre hal itu tidak penting. Cuma sekarang karena mas Yudi mau melamar kakak, itu masalahnya. Pacarnya yang lagi hamil itu bagaimana?. Kakak minta andre hubungi temannya itu untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Kalau memang kenyataan mas Yudi bermasalah, otomatis kakak tidak jadi menikah dengan dia. Tapi semuanya harus jelas, kakak tidak mau ada penyesalan karena kakak juga cinta dengan mas Yudi. Sekarang kakak mau mau keluar dulu, mau telpon sekalian ketemuan dengan mas yudi.” Lula berdiri. Dia merapikan rambutnya kemudian memegang bahu Fera dan Sefi.

” Kakak pergi dulu ya..jagain mama..”Fera dan Sefi mengangguk bersamaan. Mereka ikut sedih dengan kenyataan yang dihadapi Lula. Karena mereka tahu Lula sangat mencintai mas Yudi. Mas Yudi adalah cinta pertama Lula dan mungkin akan sulit dilupakan kalau sekiranya nanti mereka tidak jadi menikah.

Setelah Lula pergi tinggal mereka berempat. Andre masih terdiam. Dari tadi dia tidak berbicara. Dia hanya duduk disofa sambil melipat kedua tangannya.

” Aku nggak ngerti mas Andre.” ucap Sefi.

” Kalau mas Yudi mencintai pacarnya dan pacarnya itu sekarang lagi hamil. Kog mas Yudi malah melamar kak Lula? bukannya melamar pacarnya itu. Dia kan lagi hamil, harusnya cepat-cepat menikah?” Andre melepaskan lipatan tangannya.

” Biar nanti mas Yudi yang menjelaskan. Soalnya kakak juga bingung ada masalah apa dengan mas Yudi.” Mereka kembali terdiam. Akhirnya karena bosan dalam ruangan Fera dan Sefi memilih pulang ke rumah. Rencananya tadi mereka bertiga akan menginap di rumah sakit sementara Andre dan Hendra pulang ke rumah. Karena kondisi tidak memungkinkan terpaksa mereka pulang dulu. Hanya Andre dan Hendra yang menjaga mama mereka dirumah sakit.

(Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar