Senin, 28 November 2011

Rumah Di Hati Fera ( bagian 2 )

0



Di tempat lain. Nampak Jody sedang membonceng Fera. Dia memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Dibelakangnya Fera memeluk pinggang Jody dengan erat. Fera tidak melihat lagi jalan yang di laluinya. Matanya terpejam. Dia membayangkan keajaiban yang baru saja menghampirinya. Mimpi apa dia semalam sampai mendapatkan anugrah yang begitu indah. Jody, impian teman-teman sekolah yang kini jadi kekasihnya. Fera membayangkan wajah Leli yang pasti tidak percaya melihat kenyatan dia dengan Jody.

Tapi Fera masih bingung. Apa yang telah dia lakukan hingga Jody tertarik padanya? Padahal dia belum merubah penampilan, belum luluran, belum creambath, belum bonding, pokoknya belum macam-macam. Atau jangan-jangan Jody memperalatnya agar mau bergabung dengan kelompok balap motor kakaknya. Fera tersadar. Dia memukul Jody dengan pelan isyarat agar Jody berhenti. Jody kemudian menghentikan motornya di tepi jalan.

Fera melompat turun lalu memandang Jody dengan tajam. Jody membuka helmnya.

“ Ada apa, Fer? Kamu pusing ya?” tanya Jody. Dia tidak mengerti kenapa Fera tiba-tiba minta berhenti.

“ Kamu jujur saja deh, Jo. Kamu ada niat jahatkan sama aku?”

Jody tersenyum. Dia turun dari motornya.

“ Kamu kenapa sih, Fer?Aku ada niat jahat apa sama kamu?” tanyanya dengan pandangan lembut.

“ Kamu kan di suruh kakakmu untuk mencari aku? Mereka kan mau ngajak aku gabung dengan kelompok mereka.” Jody tertawa ngakak.

“ Astaga, Fera sayang, kamu itu salah paham. Kakakku nggak pernah maksa kamu untuk bergabung. Dia hanya ingin ketemu kamu saja. Trus dia tahu kalau aku suka kamu sejak dulu. Cuma dia nggak tahu kalau kita satu sekolah. Jadi dia berusaha untuk cari tahu kamu sekolah dimana, nama lengkapmu siapa. Tapi aku nggak tahu, sampai aku baca sendiri pengumuman di tembok itu kalau dia mencarimu. Tapi apa yang aku lakukan nggak ada hubungannya dengan kakakku. Aku menemuimu karena memang menyukai kamu. Urusan kakakku, nanti kamu sendiri yang menjelaskan ke dia.”

Fera terdiam. Dia menyesal telah menuduh Jody yang bukan-bukan.

“ Maafkan aku, ya Jo. Aku sudah nuduh kamu. Habisnya kamu juga aneh, sih. Pas ada pengumuman seperti itu kamu juga mendekat. Jelas aku curiga.” Jody hanya tersenyum tipis. Dia mengelus rambut Fera.

“ Ya, udah. Sekarang kamu nggak curiga lagi kan sama aku? Jadi perjalanan bisa kita lanjutkan kembali. Nanti deh kamu kalau kita sudah sampai, kamu pasti senang luar biasa.” Ucap Jody sambil mengenakan helmnya kembali. Fera masih berdiri disampingnya. Dia merasa tidak enak hati karena sudah menuduh Jody.

“ Ayo dong, Fer. Cepat naik atau…aku cium kamu disini,bagaimana?” Fera buru-buru mengenakan helmnya lalu duduk dibelakang Jody. Jody tersenyum lalu menjalankan motornya. Dasar anak yang aneh, gumamnya.

Ternyata Jody membawa Fera kerumah yang besar sekali. Halamannya saja luas. Jody memarkir motornya di garasi.

“ Rumah siapa, Jo?” tanya Fera sambil melepaskan helmnya. Jody melepaskan helmnya lalu mengambil helm Fera dan menggantungnya di motor.

“ Ini rumahku, Fer. Ayo,aku tunjukkan sesuatu yang pasti kamu suka.” Ajaknya sambil memegang tangan Fera. Mereka masuk lewat pintu samping. Lelaki setengah baya yang berpapasan dengan mereka tersenyum.

“ Itu Pak Atman. Dia tukang kebun disini, istrinya jadi pembantu juga di sini.” Ucap Jody ketika mereka agak jauh. Jody membawa Fera naik kelantai dua. Mereka melewati tangga yang memutar. Sejak masuk ke rumah Jody, Fera merasa takjub. Dia tidak pernah menyangka rumah Jody sebesar itu. Padahal rumah Fera juga bagus. Tapi tidak sebesar dan semewah rumah Jody. Perabotan dirumahnya tidak sebagus yang ada d sini.

“ Kamu kog, diam aja dari tadi?” tanya Jody. Fera memandangnya.

“ Aku bingung. Rumah kamu kog besar sekali. Bisa jadi sekolah.” Jody tersenyum. Dia berdiri di depan pintu kamar.

“ Sekarang tutup mata kamu!” ucap Jody. Dia masih memegang tangan Fera. Perlahan Jody membuka pintu. Dia membimbing Fera berjalan. Fera hanya tersenyum.

“ Kamu pengen kasi liat apa sih, Jo?” tanyanya dengan mata terpejam.

“ Nanti aja kamu liat.” Jody berhenti. Fera juga.

“ Nah, buka mata kamu!” Fera membuka matanya. Senyumnya mengembang. Matanya juga  berbinar-binar.

“ Astaga, Jody. Bagus sekali.” Fera  kegirangan. Ternyata Jody memperlihatkan koleksi otomotif yang di milikinya. Gambar-gambar pembalap dunia yang terkenal di tempel di tembok. Belum lagi koleksi motor-motor balap mini yang berderet di etalase lemari. Ada juga miniatur sirkuit balap Moto Gp dari berbagai negara. Ada suvenir-suvenir cantik model motor dan mobil. Bahkan ada ruangan yang didalamnya ada motor besar dan peralatan mekanik layaknya ruangan yang di pakai di arena balap motor yang biasa Fera lihat ditelevisi.

Fera masih terpesona dengan apa yang dilihatnya. Dia takjub luar biasa.

“ Kamu suka?” tanya Jody. Fera mengangguk.

“ Ini hadiah untuk kamu. Aku sudah lama tahu kamu suka balap dan suka semua yang berhubungan dengan motor.”

“ Kamu tahu sejak dulu aku suka balap? Tapi kenapa kamu tetap suka sama aku? Nggak malu punya pacar tomboy, suka balap, nggak feminim?” tanya Fera dengan wajah bingung. Jody tertawa.

“ Pikiran kamu terlalu berat. Suka ya suka, masa karena kamu tomboy nggak boleh punya pacar? Nggak boleh di sukai sama cowok?”

“ Tapi aku heran. Kenapa kamu bela-belain kumpulin semua ini. Itukan nggak gampang.”

“ Untuk minta maaf ke kamu. Aku pengen kasih hadiah yang membuat kamu bahagia. Kebetulan aku tahu kamu suka sekali balap motor. Jadi aku mulai mencari pernak-perniknya. Bahkan waktu aku keluar negeri, aku sempatkan membelikannya untuk kamu.”

Mata Fera berkaca-kaca dia nyaris menangis. Jody memegang tangannya.

“ Aku sayang sekali sama kamu, Fer. Sayang banget. Kamu nggak tahu, di sekolah aku selalu merhatiin kamu. Kalau kamu bicara sama cowok lain, rasanya aku pengen lari dan misahin kalian supaya nggak ngobrol.”

“ Itu namanya cemburu.”

“ Mungkin. Tapi untungnya kamu jarang bicara sama cowok.”

Fera memandang Jody.

“ Padahal beberapa hari ini, aku bingung sekali.”

“ Bingung kenapa?” Fera menunduk kemudian memandang Jody lagi.

“ Aku itu bingung. Kenapa nggak ada cowok yang suka sama aku. Bahkan udah kelas tiga belum ada yang naksir. Kan malu. Teman-teman yang lain sudah ada pacar. Kalaupun nggak ada pacar setidaknya ada yang nitip salam. Lha, aku nggak ada sama sekali.” Jody tersenyum.

“ Aku rencananya malah mau ke salon. Mau luluran, mau creambath, potong rambut, pokoknya apa aja yang penting berubah jadi lebih cantik.” Kali ini Jody tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa ngakak. Fera cemberut.

“ Kamu kog, ketawa sih, Jo?” agak lama Jody baru bisa menghentikan tawanya.

“ Syukurlah kamu belum ke salon. Coba kalau kamu kesalon, aku bakalan nggak kenalin kamu lagi. Trus mau ngasih hadiah ini kemana kalo aku nggak kenal kamu lagi?” Jody masih tertawa walaupun sudah tidak ngakak lagi. Fera masih cemberut.

“ Tapi bagus juga kalo kamu pengen kesalon. Nanti aku anterin. Tapi sebenarnya nggak perlu ke salon juga nggak apa-apa. Aku sudah suka kamu kog yang seperti ini.” Fera tersenyum.

“ Betul?” Jody mengangguk.

“ Tapi aku takut Jo. Kitakan kabur dari sekolah. Mana teman-teman udah liat kita ciuman lagi. Pasti sekolahan sudah heboh. Aku malu ke sekolah.”

Jody memegang tangan Fera.

“ Cuek aja. Kalo besok kita disuruh menghadap nanti aku saja yang ngomong. Kamu diam saja. Nggak perlu bicara apa-apa.Ok? sekarang aku anterin kamu pulang. Mau balik kesekolah juga, sekolah sudah bubar dari tadi.” Fera mengangguk.

*

Tiba di rumah, Fera di sambut Sefi dipintu.

“ Kak, ada apa sih? Kenapa tas kakak, kak Leli yang balikin?” tanyanya. Sefi sempat melihat Jody menjalankan motornya.

“ Nggak kog. Nggak pa pa. Nanti deh, kakak cerita. Sekarang mo makan dulu. Lapar.”

Fera berjalan ke ruang makan sementara Sefi terus menguntit dibelakangnya. Dia menarik kursi kemudian duduk di depan meja makan.

“ Mama kemana, Fi?” tanya Fera sambil mengambil nasi dari pemanas.

“ Biasa. Ke salon.” Jawab Sefi singkat. Dia mengambil tempe goreng lalu memakannya.

“ Untung aja mama nggak ada. Coba kalo tadi mama yang terima tas kakak. Pasti mama sudah pidato panjang kali lebar, apalagi liat kakak diantar sama cowok. Tambah ngamuk deh, mama.”

“ Kamu jangan cerita-cerita ya ke mama?” Sefi mengunci mulutnya dengan jarinya.

“ Janji. Cuma kakak harus cerita. Soalnya tadi kak Leli gelisah banget. Katanya Handphone kakak nggak aktif.”

“ Iya. Kakak lupa. Kakak emang nggak bawa HP. Ketinggalan dikamar tadi. Mungkin baterenya lowbatt.”

Sambil makan Fera membayangkan apa yang akan terjadi besok di sekolah. Pasti si biang Gosip, Jennifer sudah memasukan berita ini ke Majalah Dinding Sekolah. Tapi kenapa dia harus bingung? Bukankah ini lebih baik. Setidaknya Fera jadi tahu ternyata ada juga cowok yang naksir dan merindukan dia sejak dulu. Padahal sekian lama Fera uring-uringan sendiri. Mencari kelemahannya sendiri. Tidak bersyukur dengan segala hal yang di miliki hanya karena sampai kelas tiga tidak ada seorangpun cowok yang mengaku naksir padanya. Ini seperti menyadarkan Fera kalau mulai sekarang dia harus bisa menghargai dirinya sendiri. Harus lebih bahagia dengan apa yang di miliki dan berhenti untuk menjadi orang lain hanya karena butuh pengakuan dari orang lain. Padahal menjadi dirinya sendiri dan tidak perlu berpura-pura bukankah itu lebih membahagiakan?

“ Kak, Fer. Cerita dong.” Sefi menyentuh tangannya. Mungkin karena dilihatnya Fera makan sambil melamun.

“ Tapi yang singkat saja, ya…. Sekarang kakak sudah punya pacar.” ujar Fera sambil tersenyum.

Mata Sefi terbelalak.

“ Hah? Betul, kak? Apa cowok yang antar kakak tadi, dia orangnya?” Fera mengangguk.

“ Namanya Jody Adrian. Dia teman sekolah kakak. Pokoknya sekarang kakak bisa malam mingguan,trus kemana-mana nggak sendiri lagi.”

“ Tapi kak, kalo mama tahu, gimana?” wajah Sefi berubah jadi sendu.

“ Makanya jangan bilang dulu. Kakak kan belum mau kawin sekarang. Nantilah kasi tahunya. Kalau sudah sarjana dan mau merit.”

Fera tertawa. Sefi juga. Pandangan mata mereka bertemu. Ketawa mereka makin heboh. Mereka jadi ingat kejadian yang menimpa Lula, kakak mereka. Waktu Lula kelas Dua SMA, ada cowok anak pejabat yang naksir berat sama dia. Setelah di tolak beberapa kali akhirnya Lula menerimanya. Tapi pas malam mingguan pertama kali, kedua orang tua mereka ikut duduk disitu. Menanyakan macam-macam. Lula sudah kikuk setengah mati. Sudah seperti proses melamar saja. Setiap malam minggu modelnya seperti itu. Mama mereka melarang Lula untuk malam mingguan di luar kecuali di temani saudara laki-lakinya, Hendra atau Andre. Toh hubungan itu berakhir pas saat Lula kuliah di propinsi lain. Rupanya pacarnya tidak sanggup pacaran jarak jauh. Akhirnya mereka bubar. Padahal mama mereka sudah menganggap pacar Lula sebagai menantunya….

*

Pagi harinya di sekolah. Atau tepatnya d ruangan kepala sekolah. Nampak dua orang berseragam putih abu-abu sedang duduk menghadap Kepala Sekolah. Mereka Jody dan Fera. Kepala mereka tertunduk sambil sesekali saling melirik. Kepala sekolah, Pak Sunaryo memandang mereka dengan tajam. Sesekali dia menarik nafas seperti sedang menghadapi masalah yang sangat pelik. Kemudian..

“ Kalian tahu, kenapa bapak menyuruh kalian kemari?” Jody dan Fera mengangkat kepala mereka.

“ Tahu, Pak. Karena kemarin kami berdua bolos dari sekolah.” Jawab Jody pelan.

“ Bukan itu saja!” Sambung pak Sunaryo cepat.

” Kalian kedapatan berciuman di dalam kelas. Memalukan! Apa kalian tidak sadar sedang berada di sekolah? Bapak betul-betul tidak habis pikir. Harusnya kalian tahu, kalian masih sekolah. Belum waktunya memikirkan hal-hal seperti itu. Bapak akan memanggil orang tua kalian, biar mereka bisa mendidik kalian lebih baik lagi!” Fera dan Jody saling pandang dengan karena takut. Mereka kompak maju memegang lutut Pak Sunaryo. Pak Sunaryo kaget setengah mati.

“ Tolonglah, pak. Jangan panggil orang tua kami. Hukumlah kami apa saja, asal jangan panggil mereka kemari. Tolonglah pak, kami berjanji tidak akan melakukan perbuatan itu lagi.”

Jody memohon dengan suara yang memelas. Fera juga ikut-ikutan memohon. Dia bahkan bersiap-siap untuk menangis.

“ Pak. Tolonglah kami. Kalau orang tua kami tahu, pasti kami akan langsung dinikahkan. Kalau kami menikah,bagaimana dengan sekolah kami? Apalagi kalau nanti aku hamil, kan nggak mungkin pergi kesekolah..” Ucap Fera terisak-isak. Dia tidak tahu ucapannya barusan membuat Pak Sunaryo tertegun. Jody malah memelotinya karena kaget. Dia tidak menyangka Fera akan mengucapkan kata-kata seperti itu. Tapi Fera mengedipkan sebelah matanya sambil terus terisak. Dia terus memegang lutut Pak Sunaryo. Jody tersenyum tipis.

“ Padahal, aku kan pengen melanjutkan kuliah, pak. Aku pengen jadi…eh.. Psikolog. Kalau tidak tamat SMA, bagaimana bisa kuliah.” Sepertinya kata-kata Fera menyentuh pikiran Pak Sunaryo.

“ Baiklah. Kalian bangun dan duduk kembali. Bapak tidak akan memanggil orang tua kalian. Tapi kalian tetap di hukum. Dan hukumannya kalian harus membersihkan semua laboratorium selama seminggu eh enam hari.” Ucap Pak Sunaryo. Fera dan Jody langsung lega.

“ Terima kasih pak, terima kasih.” Kata mereka berbarengan.

“ Tapi ingat, jangan melakukan hal seperti itu lagi atau bapak betul-betul akan memanggil orang tua kalian. Biar kalian langsung dinikahkan saja.” Fera dan Jody langsung mengangguk.

“ Janji pak. Kami tidak akan melakukan itu lagi…hukumannya mulai hari ini pak kami kerjakan?”

“ Ya, setiap pulang sekolah kalian harus mengerjakannya.”

Fera dan Jody keluar dari ruangan kepala sekolah dengan lega. Setidaknya mereka bisa mencegah orang tua mereka untuk datang kesekolah. Fera tidak bisa membayangkan kalau mamanya yang datang kesekolah. Apalagi kalau sampai bertemu dengan orang tua Jody. Mereka bisa perang mulut karena sama-sama saling menyalahkan.

“ Kalo kuliah nanti kamu pengen jadi psikilog, ya?” tanya Jody ketika mereka berjalan dikoridor sekolah.

“ Nggak tau, ya. Belum kepikiran.” Jody memandang heran.

“ Lho,bukannya tadi kamu bilang mau jadi psikolog di depan kepala sekolah?”

“ Tadi itu aku bingung. Pas ngomong kuliah, yang terbersit itu karena deretan buku di belakang Pak Sunaryo, ada tulisan Psikolog. Aku bilang saja begitu..”

Jody tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Mereka tidak melihat setiap kelas yang mereka lewati, kepala-kepala menyembul dari balik jendela. Bahkan ada yang sampai bersusun di balik pintu. Tapi begitu dilihat kepala-kepala itu langsung hilang. Fera dan Jody hanya tertawa-tawa.

**

Waktunya sekolah bubar. Tapi Fera dan Jody masih sibuk dengan tugas di laboratorium. Walau bentuknya hukuman tapi Fera dan Jody tidak merasa ini sebuah siksaan. Mereka membersihkan Lab sambil sesekali saling ganggu dengan sapu atau dengan cerita-cerita lucu yang membuat mereka tertawa.

“ Fer, tau nggak. Aku jadi menghayal kalo nanti kita udah merit, udah punya anak, kita bisa ceritain kalo kita, papa mamanya pernah dihukum gara-gara pacaran dikelas…..ha..ha..”

“ Tapi apa nanti, anak kita malah jadi bandel? Soalnya mereka pikir papa mamanya juga waktu sekolah bandel. Aduh, bagaimana dong, Jo. Kalo anak kita sekolah di sini, trus kepala sekolahnya masih Pas Sunaryo, trus karena anak kita bandel makanya kita dipanggil ke sekolah, ntar kepala sekolah ngeliat kita, pasti pak Sunaryo nggak heran kalau anak kita jadi nakal solanya keturunan dari papa mamanya.” Ucap Fera cemas. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana malunya anaknya nanti. Kalau tahu akan begini jadinya lebih baik dia tidak usah pacaran dulu dengan Jody.

“ Fera, kamu pikirnya kejauhan. Masak sampai anak kita bisa ketemu dengan pak Sunaryo? Anaknya aja belum ada? Jangankan anaknya, kita aja belum merit. Atau jangan-jangan kamu udah pengen merit ya..?” Fera langsung memukul Jody. Jody pura-pura meringis.

“ Kamu kog jahat banget, sih Fer. Sakit tau!” Fera hanya cengengesan.

“ Habisnya kamu kegenitan sih. Jo, soal kamu mau cerita sama anak kita, jangan dulu ya. Ntar mereka jadi nakal.” sekarang Jody malah tertawa ngakak

“ Nggak. Pokoknya aku pengen cerita kalau mama mereka itu bandel banget, tomboy, suka mukulin papa waktu sekolah.”

“ Aku bilang jangan dulu! Kamu gimana sih? Di bilangin. Kalau terjadi apa-apa dengan mereka? kamu mau tanggung jawab?” Fera makin ketus. Tapi Jody malah semakin ngotot juga.

“ Pokoknya aku pengen cerita!”

“ Nggak boleh!”

“ Harus!”

“ Pokoknya nggak boleh cerita…a….a…..a…..!!!”Fera berteriak panjang. Tiba-tiba pintu Laboratorium terbuka. Nampak Pak Sunaryo sedang memandang mereka dengan heran.

“ Kalian sedang apa? Bukannya bapak menyuruh kalian membersihkan ruangan ini? Kog sekarang malah bercanda? Ayo cepat bersihkan, supaya kalian bisa pulang cepat!”

Fera dan Jody mengangguk lalu buru-buru menyapu ruangan tanpa berbicara lagi. Bahkan ketika pak Sunaryo sudah pergi, mereka hanya saling melotot dari jauh.

“ Kamu masih marah, ya?” tanya Jody di tempat parkir. Jody sedang memakai helmnya dan dilihatnya Fera hanya diam tanpa senyum sama sekali. Bahkan ketika Jody memberikan helm, tidak dia kenakan hanya dipegang saja.

“ Kalau kamu masih marah soal yang tadi, aku janji deh nggak bakalan cerita ke anak-anak kita.” Jody setengah mati menahan tawanya. Dia heran kenapa Fera jadi senewen begini?

Fera baru memandangnya.

“ Awas ya kalau nanti kamu cerita, aku nggak akan maafin kamu.” Fera memakai helmnya. Kemudian duduk di belakang Jody. Jody menjalankan kendaraannya dengan senyum-senyum. Fera..fera kamu kog makin lucu..

*

Sampai dirumahnya tidak seperti yang dibayangkan Fera. Ternyata mamanya sudah menunggu di depan pintu. Mamanya bahkan melihat Jody. Jody mengangguk sambil tersenyum sebelum menjalankan motornya kembali. Fera gugup setengah mati. Menghadapi mamanya sepertinya jurus apapun tidak ampuh.

Mamanya memandang tajam kearah Fera. Walau tadi dia membalas senyuman Jody, tapi senyumnya seketika hilang saat berhadapan dengan Fera.

“ Sefi sepertinya selalu melindungi kamu. Setiap mama keluar, mama selalu telpon, apa kamu sudah pulang dari sekolah atau belum. Dan adikmu itu selalu bilang kamu sudah ada di rumah. Tapi kenyataannya sekarang, untung tadi acaranya dibatalkan dan mama bisa melihat sendiri kamu pulang jam lima sore. Padahal tadi waktu mama telpon Sefi, dia bilang kamu sedang tidur. Sekarang mama minta penjelasan kamu !”

Mamanya meninggalkan Fera dan berjalan menuju ruang tengah. Di sana mamanya tidak duduk tapi berdiri di depan meja utama sambil melipat kedua tangannya. Fera berjalan perlahan, dia sempat melihat Sefi mengintip dari lantai atas. Adiknya itu sama takutnya dengan dirinya. Hingga untuk menampakkan diripun Sefi tidak berani.

Fera merasa tengorokannya kering. Dia tidak tahu mau memulai pembicaraan dari mana. Sorot mata mamanya memancarkan kemarahan. Biasanya kalau mamanya masih duduk artinya emosi belum tinggi, tapi sekarang mamanya sudah berdiri itu artinya…

“ Fera, selama ini mama nggak pernah melarang kamu ikut kegiatan apapun, kecuali balap motor. Kamu mau pergi kemana aja, mama nggak pernah melarang. Tapi kenapa Sefi juga jadi ikut membohongi mama? Kamu betul-betul keterlaluan! Sekarang kamu bahkan sudah di antar pulang sama cowok. Sebenarnya kata-kata mama selama ini, kamu dengarkan atau tidak, sih? Bikin malu saja. Ayo jawab! Mama butuh penjelasan kamu sekarang!”

Tangan Fera dingin. Mau menjelaskan yang mana? Pikirnya bingung. Kalau bohong, mama pasti marah. Tapi kalau jujur, lebih marah lagi.

“ Itu..ma, tadi Fera habis membersihkan Laboratorium. Rencananya selama enam hari kami harus membersihkan semua Laboratorium.” Ucap Fera dengan suara tersekat. Alis mamanya terangkat.

“ Laboratorium? Kenapa kalian yang harus membersihkan? Bukankah di sekolah kalian ada petugas kebersihan yang sudah di gaji?” tanya mamanya heran. Pikiran Fera sudah terbang kemana-mana mencari pertolongan, Fera bahkan sudah berdoa agar diselamatkan dari mamanya tapi sepertinya kondisi makin memprihatinkan. Tidak ada satupun sinyal pertolongan yang datang.

“ Sebenarnya, Fera sedang dihukum ma, makanya harus membersihkan Laboratorium.” Akhirnya keluar juga kata-kata itu. Fera seperti menahan batu dilehernya. Rasanya sangat berat. Dan sekarang setelah dia mengatakan kata-kata itu ke mamanya, rasanya jadi lebih ringan. Dia pasrah apapun yang terjadi. Soalnya tidak ada pilihan. Mamanya bukan orang bodoh yang bisa dengan mudah dibohongi.

“ Di hukum? Kamu di hukum di sekolah? Memangnya apa yang kamu perbuat? Aduh Fera. Kamu bikin malu mama aja, kenapa kamu bisa di hukum?” Mamanya terduduk di sofa dengan lemas.

“ Anu.. ma. Kemarin..kemarin itu Fera bolos sekolah sama teman..” jawab Fera pelan. Dia masih tertunduk. Mamanya menatapnya.

” Bolos?? Kamu bolos dari sekolah? Ya, ampun Fera. Kamu ini, bagaimana sih? Bikin malu saja. Anak perempuan kog, bisa bolos? Kamu sepertinya sudah keterlaluan. Kakakmu saja, Hendra dan Andre nggak pernah bolos, padahal mereka laki-laki. Kamu? perempuan?bolos??”

Mamanya menarik napas beberapa kali. Seperti berusaha untuk mengontrol emosinya yang sepertinya akan memecahkan kepalanya.

“ Maafkan Fera ma, kemarin itu ada teman ngajak liat kumpulan koleksinya dirumahnya. Ya, akhirnya kami pergi pas jam sekolah.”

“ Sudah..sudah.. mama nggak mau dengar lagi. Kepala mama pusing.”

Setelah berkata begitu mamanya beranjak dari sofa dan menuju ke kamar. Pintu kamar lalu di tutup. Fera hanya memandang kamar mamanya. Aneh, tidak biasanya mama membiarkan masalah menggantung seperti ini. Biasanya mamanya akan bertanya terus sampai tuntas. Tapi kenapa sekarang mamanya tidak peduli. Atau mamanya tidak kuat mendengar Fera membolos? Tanya Fera dalam hati. Fera berjalan ketangga dengan pelan. Dia masih bingung memikirkan sikap mamanya.

Tiba di lantai atas, Sefi keluar dari kamarnya. Dia mendatangi Fera sambil sesekali melihat ke lantai bawah.

“ Bagaimana, kak. Tadi aku nggak dengar dengan jelas. Mama marah banget ya kak?” Fera membuka pintu kamarnya. Sefi ikut dibelakangnya. Dia duduk di tempat tidur.

“ Mama, aneh deh, Fi..” Fera berkata sambil meletakkan tasnya diatas meja.

“ Apa mungkin mama lagi sakit?” lanjut Fera.

“ Mama? Mama sakit apa kak? aku lihat mama sehat-sehat aja kog. Tiap hari banyak kegiatan. Selalu keluar rumah. Nggak keliatan sakit kog.” Jelas Sefi. Fera masih menatap adiknya.

“ Tapi kenapa tadi, waktu mama tanya kakak, kog mama langsung masuk kekamarnya? Padahal kakak belum jelaskan semuanya, Fi.”

Fera masih bingung. Sifat mamanya tidak begitu. Handphone Sefi berbunyi. Dia merogoh kantong celananya. Mengeluarkan HP dan melihat layarnya. Tapi alis Sefi berkerut.

“ Aneh. Kog mama telpon sih, kak? Kita kan ada di rumah?” ujar Sefi. Fera langsung curiga.

“ Halo, ma. Ada apa? Mama dikamarkan ?” Sefi tidak mendengar suara. Hanya suara orang kesakitan. Dia panik.

“ Kak, ayo kita kekamar mama..!” Sefi berlari keluar kamar. Begitu juga dengan Fera. Mereka menuruni anak tangga dengan cepat. Saat membuka pintu kamar mamanya, mereka melihat mama mereka terbaring di tempat tidur.

“ Ma, mama kenapa? Mama sakit?” tanya Fera panik. Sefi juga ikut-ikut memegang kaki mamanya. Tapi mamanya hanya diam saja.

“ Ma, mama kenapa? Bangun dong ma.” Fera makin ketakutan. Dia menaruh tangannya di lubang hidung mamanya. Masih ada hawa panas. Fera lega. Tapi kenapa mamanya hanya diam saja?

“ Kak, mama kenapa sih? Kog nggak bangun-bangun, apa mama pingsan?” tanya Sefi dengan nada suara penuh ketakutan. Dia mulai menangis.

“ Ma.. bangun dong ma.., “

Fera menelpon papanya.

“ Pa, mama pa. Nggak tahu tiba-tiba diam saja. Mungkin mama pingsan. Cepat pulang dong, pa.”

Fera betul-betul bingung. Dia berlari ke dapur memanggil mbak Hanum, pembantu mereka.

“ Kenapa nyonya non?” tanya mbak Hanum begitu sampai di kamar.

“ Mbak, tolong ambil bawang merah dengan minyak kelapa. Sekalian minyak kayu putih juga.” Tidak lama kemudian mbak Hanum datang. Mereka mengoleskan minyak di kaki dan tangan mamanya lalu di kepala juga di sekitar hidung. Fera sudah menangis, Sefi juga. Tapi mama mereka belum bangun juga.

“ Ma, maafkan Fera ma. Kalau Fera bikin mama sakit. Fera janji nggak akan nakal lagi.”

Ucap Fera di sela isaknya. Tangannya masih memijat-mijat tangan mamanya. Aroma kamar berubah jadi aroma minyak kayu putih.

Satu jam kemudian, papa mereka. Pak Handono datang. Dia bergegas turun dari mobil dan buru-buru masuk ke dalam rumah. Sampai di kamar dia memegang istrinya.

“ Fera, Sefi, siapkan pakaian mama, papa mau bawa mama kerumah sakit. Mamamu sakit parah, harus di rawat dirumah sakit.”

Pak Handono berkata lalu bersiap-siap menggendong istrinya. Sopir mereka ikut membantu mengangkat nyonya Handono. Fera dan Sefi kaget setengah mati mendengar kata-kata Papa mereka. Tapi tidak ada waktu berdiam diri. Fera dan Sefi mengambil tas, memasukkan pakaian dan perlengkapan lainnya. Sedangkan mbak Hanum ikut membantu mengangkat nyonya Handono ke mobil.

“ Fera, Sefi. Ayo cepat!” panggil Pak Handono. Fera dan Sefi berlarian dari dalam rumah sambil membawa tas. Kemudian Fera merangkul mamanya di dalam mobil.

“ Mbak Hanum, jaga rumah baik-baik ya..kami pergi dulu.”

Fera pamit. Mobil kemudian melaju kencang. Fera dan Sefi begitu tegang. Papa mereka juga. Sementara mama mereka masih terdiam. Fera mengelus rambut mamanya. Dia tiba-tiba merasa sangat takut kehilangan mamanya. Dia tiba-tiba mengharapkan mamanya terbangun dan memarahinya. Sepertinya lebih baik kalau mamanya memarahinya saja daripada terdiam seperti itu. Sama sekali tidak ada ekspresi. Fera tidak suka.

( Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar