Tara masih menangis saat kulihat arlojiku menunjukkan pukul lima sore. Dan kuhitung-hitung sudah dua jam lebih Tara menangis dan terus meratapi dirinya.
“ Diar..” ucapnya lagi. Entah sudah berpuluh-puluh kali nama itu keluar dari bibirnya yang mungil.
“ Tara, sudah jam lima. Kamu nggak mau pulang?” Tara menggeleng. Matanya masih sembab dengan air mata. Aku sedih juga tapi tidak tahu mau berbuat apa.
“ Aku sudah curiga waktu itu, kenapa Diar selalu tidak mau bepergian denganku. Dia selalu memilih ngobrol di rumah saja, padahal..ukh..ukh…” Tara menangis lagi dengan air mata yang lebih deras mengalir dari matanya yang indah.
“ Tara, kamu masih menganggap aku temankan?” Tara memandangku.
“ Kenapa?”
“ Kalau kamu masih menganggap aku temanmu, tolong, kamu harus kuat. Kamu harus tabah. Sejak mengenal kamu enam tahun yang lalu, baru kali ini aku lihat kamu sedih seperti ini. Maaf kalau aku mengatakan begitu, soalnya aku kesal juga melihat kamu diperlakukan seperti ini. Tapi kalau aku pikir-pikir keputusan akhir ada padamu. Masih ingin di bohongi atau berhenti berhubungan dengannya..” Tara menghapus air matanya dengan sapu tangan yang sejak tadi ada dalam genggamannya.
“ Aku belum bisa memutuskan.Tapi untuk kembali sepertinya sudah tidak mungkin lagi..”
Kugenggam jemari Tara. Lama sekali tapi aku tidak mengucapkan sepatah katapun.
“ Fery..” panggil Tara pelan.
“ Ya..” balasku tak kalah pelannya.
“ Terima kasih, tanpa kamu aku akan terus di bohongi Diar..” Tara mengusap embun di sudut matanya.
“ Sudahlah, Tara. Ayo kita pulang. Hari sudah sore, nanti mamimu cari-cari kamu lagi. Mending kalo nyarinya ke rumah teman-teman kamu. Tapi kalau sampai nelpon Filsa, anak pengusaha coklat itu. Wah bisa kacau. Biar anak pengusaha kalau melambai, apa kata dunia..”
Tara tersenyum. Aku sengaja ingin mengalihkan pikirannya. Dia memang pernah di kejar-kejar sama Filsa, anak pengusaha coklat yang kebetulan sekelas dengannya. Tapi itu masa lalu, aku hanya ingin mengajaknya tertawa supaya beban yang ada dihatinya hilang walaupun cuma sedikit.
*
Aku baru keluar dari toko buku ketika seseorang memegang bahuku dari belakang. Aku berbalik ternyata Tara.
“ Hai.!” sapanya riang. Aku terpana. Kaget dengan perubahan yang terjadi pada Tara. Padahal kemarin Tara banjir dengan air mata, kenapa sekarang berubah riang?
“ Dari mana, Ra?” tanyaku kemudian.
“ Biasa. Jalan-jalan. Tadi aku nelpon ke hp mu tapi tidak aktif. Aku telpon kerumahmu, ibumu bilang kamu kemari..ya aku susul saja kamu kemari..”
Aku tersenyum miris. Sebenarnya asyik kalau ada teman yang menemani kita berjalan-jalan. Tapi kalau mau jujur, aku lagi ingin sendiri saat ini. Dari luar saja aku terlihat tenang, tapi sebenarnya aku sedang terkena beban pikiran yang entah darimana datangnya.Sejak kemarin, tepatnya sejak aku memegang tangan Tara, jantungku rasanya berdetak tidak karuan. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan perasaanku sendiri. Apakah benar aku jatuh cinta pada Tara? Apakah itu mungkin dan kalaupun benar kenapa baru sekarang? Mengapa bukan sejak dulu?. Padahal dulu juga Tara pernah patah hati dan seperti biasa aku yang selalu membujuknya. Tapi mengapa perasaan itu baru muncul sekarang?
“ Hei..” Tara menepuk pundakku. Aku tersentak kaget.
“ Kita makan bakso yuk..” tanpa menunggu jawabanku Tara sudah menarik tanganku menuju salah satu ruko yang menjual bakso. Sampai di dalam ruangan, kami memilih duduk di tengah di bawah putaran kipas angin. Aku sejak tadi diam dan rupanya Tara tidak menyadari itu. Sampai pesanan kami tiba, dia langsung menyantap baksonya dengan lahap. Meminum es tehnya sampai setengah gelas. Tapi rupanya Tara mulai menyadari. Dia memandangku dengan heran.
“ Kamu kenapa, Fer? Lagi ada masalah, ya?” aku memandangnya.
“ Kamu nggak bisa begini, Ra.Kamu nggak harus berubah. Aku kira kamu orang yang tenang. Kenapa sekarang kamu jadi berubah begitu drastis?”
Tara mengalihkan pandangannya keluar jendela. Matanya kini dipenuhi embun. Aku jadi merasa bersalah karena mengucapkan kata-kata seperti itu.
“ Maafkan aku, Ra. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Cuma aku merasa, kamu membohongi dirimu sendiri. Orang nggak akan tahu apa yang terjadi dengan kamu. Tapi dengan tingkahmu seperti tadi, pasti mudah di tebak kalau kamu sedang ada masalah. Aku lebih senang kalo kamu tetap seperti yang dulu, yang tenang meskipun ada masalah. Kalau Diar melihatmu, pasti dia akan tersenyum penuh kemenangan. Apalagi saat ini dia sudah punya pacar baru. Kalau kamu berpapasan dengannya, bersikaplah yang wajar. Itu lebih menolong walaupun menyakitkan..”
“ Apa aku salah bersikap seperti ini, Fer? Aku cuma ingin menenangkan pikiranku dulu..”
“ Tapi caramu itu. Terus terang sebagai sahabatmu aku nggak suka. Aku tahu kamu sedang berusaha melarikan diri dari kenyataan. Aku tahu itu. Aku tidak mau Diar melihatmu dengan kondisi seperti sekarang. Tolong, jangan bersikap seperti itu lagi..” aku terus memandangi Tara sampai dia berpaling menatapku.
“ Fer, tolong jaga aku ya? Aku takut tidak bisa mengendalikan perasaanku.Kamu tahukan, selama ini aku begitu mempercayai Diar. Tapi dia membohongi aku..”
“ Aku akan menjaga. Always Tara. Sejak dulu aku selalu menjagamu. Iya,kan?” Tara tersenyum.
“ Bagaimana? Masih mau jalan-jalan? Aku temani..” ajakku. Tara mengangguk sambil tersenyum tipis.
Siang itu berlalu dengan bahagia. Bahagia untuk sementara, karena malamnya aku tidak bisa tidur. Aku hanya berbalik kesana kemari di atas pembaringan. Aku gelisah. Aku bangun dari pembaringan. Ku buka lemari buku. Tanganku mengambil buku harian yang ada di deretan depan. Lebih baik aku membaca buku harian ini, batinku. Tapi apa yang kulakukan malah membuat pikiranku tambah tidak tenang. Karena tulisan yang ada di dalam buku harian tersebut semuanya tentang Tara. Aku jadi termenung. Apakah selama ini aku telah mencintai Tara tanpa aku sadari? Selama ini kehidupanku selalu di isi dengan Tara, Tara dan Tara. Apa mungkin seseorang bisa jatuh cinta tanpa menyadari dia jatuh cinta? Pertanyaan itu terus ada di benakku sampai aku tertidur.
*
“ Tara? Ada apa pagi-pagi kamu kemari?” aku terkejut karena begitu membuka pintu kamarku dan bermaksud melangkah ke kamar mandi, wajah cantik Tara sudah ada didepanku. Dia tersenyum dengan manisnya.
“ Selamat Ulang Tahun, Fer..” Tara langsung mencium pipiku. Jantungku rasanya sudah terbang entah kemana. Tuhan kenapa aku ini? Apa yang salah dengan ciuman Tara, toh setiap tahun Tara selalu mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Hanya muncul di pagi buta seperti sekarang ini baru kali ini.
“ Aku tadi telpon ke sini.kata bik Ima, ibu dan ayahmu lagi ada urusan di kampung. Daripada nunggu sampai siang, kan kasian kalo nggak ada yang buat kue ulang tahun untuk kamu. Sekarang kamu nunggu, ya. Aku ke dapur dulu. Oh, iya aku hampir lupa. Ulang tahun kamu kita rayain berdua saja, soalnya aku lagi alergi dengan keramaian..”
Aku mengangguk setuju walaupun masih bingung dengan kata-kata Tara. Begitu Tara menghilang ke dapur, aku langsung masuk ke kamar mandi. Aku mengguyur kepalaku dengan air yang masih terasa dingin. Tapi kepalaku terasa panas karena beban pikiran sejak tadi malam. Apakah Tara tahu kalau aku sendiri lupa dengan ulang tahunku? Apakah dia tahu kalau semalaman yang aku pikirkan hanya dia?.
Aku menghentikan menyiram kepalaku dengan air. Kenapa aku ini? Kenapa aku merasa aneh dengan perhatian Tara. Tara memang selalu bersikap manis sejak dulu. Lalu kenapa aku harus merasa geer dengan sikapnya?. Mungkin aku yang mulai gila karena mencampur adukkan antara persahabatan dan cinta. Sikap dan perhatian Tara itu hal yang wajar. Aku sahabatnya, aku juga selalu bersikap manis padanya. Lalu apanya yang salah? Mengapa aku jadi bingung begini?. Aku tertawa sendiri di kamar mandi. Kenapa harus bingung? Bersikap wajar saja. Hari ini ulang tahunku,tidak ada salahnya menikmati berdua saja dengan Tara. Aku langsung teringat kue ulang tahun. Kusambar handukku dan bergegas keluar dari kamar mandi menuju kamarku. Aku sengaja mengenakan pakaian andalanku. Ini adalah hadiah dari Tara sewaktu aku ulang tahun, tahun lalu. Kebetulan aku memang sangat menyukai warnanya.
Aku keluar dari kamar. Niatku mau langsung ke dapur tapi suara ketukan di pintu menghalangi niatku untuk ke dapur. Aku melangkah menuju pintu ruang tamu.
“ Ninda?” hanya itu yang bisa aku ucapkan begitu pintu terbuka. Aku sangat kaget. Ada angin apa sampai Ninda muncul di rumahku?
“ Kamu kenapa, Fer? Kaget ya liat aku. Masak sih, aku kan bukan hantu..”
Aku mempersilahkan Ninda masuk. Ninda tidak berhenti memandangiku.
“ Kenapa,Nin. Ada yang salah dengan penampilanku?” tanyaku heran.
“ Aku lupa kalau hari ini kamu ulang tahun. Selamat lang tahun ya, Fer..” Ninda menghampiriku. Dia memelukku lalu mencium pipiku. Aku jadi ingat kenangan kami sewaktu pacaran dulu. Kenapa sekarang dia datang lagi?
“ Kamu ada acara khusus? Kalau tidak ada, bagaimana kalau hari ini aku traktir kamu. Kamu pilih deh mau makan di mana, aku ikut saja..” Aku bingung mau menjawab apa. Ninda adalah mantan kekasihku. Tapi dia adalah keluargaku dari papa. Jadi kalau dia datang berkunjung itu bukan masalah, terlepas dari masa lalu kami yang pernah pacaran.
“ Aku tidak ada acara khusus. Hanya sudah ada janji dengan teman..” susah payah aku mencari alasan atas ajakannya.
“ Dengan siapa? Pacar ya? Aku lupa kita kan sudah putus. Harusnya aku tidak mengganggu kamu..” Ninda melangkah menuju ruang baca.
“ Fer, bisa temani aku cari buku sebentar. Aku ada tugas. Nggak lama kog..”
Aku mengikuti Ninda ke ruang baca. Aku berpikir lebih cepat membantu Ninda maka dia akan cepat pulang. Aku tidak ingin merusak acaraku dengan Tara.
Sampai di ruang baca aku mulai mencari buku yang dibutuhkan Ninda. Dia memang selalu mencari bahan literatur dari perpustakaan ayah kalau ada tugas-tugas dari kampusnya.
Sekian lama mencari aku bahkan belum menemukan buku yang pas dengan materi yang di carinya.
“ Tolong, ya Fer.. aku nggak mungkin memeriksa buku ini sendirian.. kamu nggak keberatan kan?”
Aku hanya terdiam memandangi Ninda. Entah mengapa aku merasa seperti di jebak Ninda di dalam ruangan ini.Aku langsung beranjak keluar.
“ Fer, kamu mau kemana?” teriak Ninda. Aku tidak memperdulikan Ninda. Aku hanya ingat Tara. Bergegas aku menuju dapur. Tapi disana hanya ada bik Ima yang sibuk membuat kue.
“ Tara mana bik?” tanyaku. Kulihat bik Ima seperti bingung menjawab pertanyaanku.
“ Anu, den. Tadi non Tara mau manggil den Ferry, tapi kog malah non Tara buru-buru pulang sambil menangis”
Kepalaku rasanya mau pecah. Ini pasti gara-gara si Ninda yang tiba-tiba muncul merusak suasana. Pasti tadi Tara melihat aku dengan Ninda. Entah apa yang ada dalam pikiran Tara saat ini. Pasti dia sedih melihat aku dengan Ninda. Kenapa aku ini? Kenapa aku begitu khawatir dengan apa yang Tara pikirkan?
Aku memencet nomor di handphoneku mencoba menghubungi Tara. Handphonenya tidak aktif. Aku menelpon kerumahnya, kata pembantunya Tara keluar sejak pagi. Memang benar karena sejak pagi buta Tara sudah muncul dirumahku. Tapi sekarang di mana dia? Batinku menjerit.
Aku meninggalkan rumah dengan mobil hitamku. Aku berharap masih bisa menemukan Tara di tempat-tempat yang biasa dia dan aku kunjungi. Tapi setelah berjam-jam mencari, aku tidak menemukan sosok Tara. Handphonenya juga tidak aktif sama sekali. Berulang kali aku menelpon kerumahnya untuk memastikan apakah Tara sudah ada dirumah, tapi tetap saja jawaban yang kudengar membuat lemah jiwa dan ragaku. Tara belum kembali!
Aku mencari Tara sampai mentari bersiap meninggalkan bumi. Bayangan siluet masih terlihat saat aku melintas di pinggir pantai. Disinipun tak kutemukan sosok Tara, padahal di pinggir pantai ini adalah tempat favoritnya. Tara biasa duduk-duduk di tembok yang ada di pinggir pantai. Memandangi siluet sambil bercerita tentang apa saja. Seperti biasa aku adalah pendengar yang baik. Telingaku sudah aku sterilkan dari hal-hal lain setiap kali Tara ingin curhat. Tapi kini Tara menghilang entah kemana. Membayangkan dia seorang diri dengan masalah yang di hadapinya membuat hatiku nelangsa. Apa yang akan dia lakukan tanpa teman curhat seperti aku? Bayangan-bayangan buruk bergantian melintas dalam pikiranku. Akhirnya setelah seharian lelah mencari aku langsung pulang ke rumah. Saat tiba di depan rumah sekilas kupandangi langit. Rembulan ternyata sudah menampakkan diri sejak tadi. Hanya aku yang tidak menyadari kalau sekarang sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Bik Ima menyambutku di depan pintu.
“ Tadi Non Tara kesini, den..” aku menghentikan langkahku.
“ Kenapa nggak telpon aku, bik..” kataku lemah.
“ Non Tara melarang den, katanya nanti mengganggu acara den Fery dengan non Ninda..”
“ Tapi aku nggak sama Ninda seharian ini, aku sendirian!” aku tersadar ketika kulihat wajah bik Ima seperti ketakutan. Mungkin nada suaraku yang terdengar penuh emosi. Padahal aku sama sekali tidak marah padanya.
“ Tapi tadi non Ninda bilang, mau bikin acara berdua saja dengan den Fery..”
“ Apa? Ninda bilang begitu? Ya tuhan, kenapa bisa kacau begini?!?” aku melangkah melewati ruang tamu.
“ Den Fery..” panggil bik Ima yang menyusulku dengan tergopoh-gopoh.
“ Apa, bik..” bik Ima menyerahkan lipatan kertas.
“ Apa ini?”
“ Surat dari non Tara. Tadi sore non Tara datang kemari. Dia titip surat ini..”
Aku membuka lipatan kertas itu.
Fer, maafkan aku. Memang aku yang salah. Aku datang pagi-pagi mengganggu acaramu. Padahal kamu sudah ada janji. Aku lupa kalau aku hanya seorang teman. Tentunya ada yang lebih istimewa dihatimu dan aku sudah tahu itu. Sekali lagi maafkan aku.
Aku langsung menuju garasi. Kuhidupkan mobilku dan segera menuju rumah Tara. Aku tahu saat ini pasti Tara sangat sedih. Mengapa Ninda berbuat begitu? Apa dia memang sengaja ingin mengganggu acaraku dengan Tara? Tapi mengapa harus berbohong? Ninda..Ninda ternyata kamu sama sekali belum berubah…
“ Nyari Non Tara, den Fery?” sambut pak Kusno, satpam di rumah Tara. Aku langsung mengangguk sambil tersenyum.
“ Iya, pak. Tolong pintunya di buka..” pak Kusno membuka pintu pagar. Aku menjalankan mobil dengan pelan sampai di teras depan. Pak Kusno ikut dibelakangku.
“ Mungkin non Tara sudah tidur. Den..” katanya begitu aku turun.
“ Maaf, pak. Masalah kami sudah sangat gawat harus diselesaikan malam ini juga.”
Pak Kusno seperti mengerti. Dia mengantarku lewat pintu samping dekat garasi. Tidak lama kemudian pembantu Tara, bik Num membuka pintu.
“ Den, Fery. Silahkan masuk, den.” bik Num mempersilahkan aku masuk.
“ Mau ketemu non Tara, den?”
“ Iya, bik”
“ Tapi ini sudah malam, den. Non Tara sudah tidur sejak tadi..”
“ Yang bilang siang itu siapa..” kataku kesal. Aku melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Tara. Bik Num apa tidak mengerti keadaan sudah kacau begini masih melihat tata krama. Apa dia tahu kalau besok akan ada perang dingin antara aku dan Tara kalau masalahnya tidak diselesaikan sekarang.
Aku menghentikan langkahku di depan pintu kamar Tara. Aku baru sadar kalau sejak tadi bik Num ternyata mengikutiku dari belakang.
“ Den, Fery..” panggil bik Num.
“ Apa?” jawabku sedikit kesal.
“ Anu, den. Cuma mau kasi tahu den Fery, kalau nyonya dan tuan sedang ke Singapura untuk check up..”
“ Cuma itu? Bisa tidak sekarang bik Num tinggalkan aku..”
Bik Num segera berlalu. Aku sadar kelakuanku sudah tidak sopan tapi aku sendiri tidak bisa menghentikannya. Aku sangat ingin bertemu Tara saat ini. Ada perasaan tidak tenang sebelum melihat wajahnya.
Kuketuk pintu dengan pelan. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Tapi pintu tidak juga terbuka. Kusentuh gerendel pintu. Ternyata pintunya tidak terkunci.Biarlah kali ini aku harus nekad walau harus melanggar norma-norma kesopanan. Malam-malam masuk ke dalam kamar seorang gadis. Tapi aku tidak perduli. Siapa lagi yang akan menyelesaikan masalahku kalau bukan aku sendiri?
Aku masuk ke dalam kamar Tara. Mataku langsung singgah di atas pembaringan. Nampak Tara tengah tidur dengan lelapnya. Aku mendekat ke sisi pembaringan. Hatiku terasa dingin saat melihat wajah Tara. Aku tidak ingin membangunkan Tara yang sangat lelap dalam tidurnya. Aku hanya ingin menulis pesan untuknya. Semoga saat dia terbangun dia membaca tulisanku dan masalah kami menjadi tidak terlalu pelik seperti saat ini. Saat ingin menulis di atas kertas, mataku tertuju ke kertas yang ada diatas meja kecil di samping pembaringan Tara.
Aku membaca tulisan itu.
Fer, aku salah telah jatuh cinta sama kamu. Harusnya kita berteman saja. Aku salah duga dengan sikapmu. Harusnya aku sadar, kamu hanya menganggapku sebagai teman. Tidak lebih.
Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat membaca tulisan itu. Semua bercampur aduk antara senang, sedih dan kaget. Aku duduk bersandar di kursi yang ada di dekat pembaringan Tara. Lama kupandangi wajahnya. Sepertinya dia habis menangis. Kasihan kamu Tara. Kamu salah duga. Tidak ada orang lain dihatiku selain kamu. Sejak dulu sebenarnya tanpa aku sadari aku telah mencintai kamu. Tapi aku terkungkung dalam kata persahabatan yang selalu kamu ucapkan. Aku takut kamu jadi benci padaku karena mempunyai perasaan seperti itu.Aku tidak mau kehilangan kamu Tara. Aku tidak mau.
Ku sentuh rambut Tara. Ku elus dengan lembut. Andai kamu tahu aku juga sangat mencintai kamu. Aku tersentak kaget. Tara berbalik ke samping hingga wajahnya berhadapan denganku. Aku tidak tega untuk membangunkannya. Akhirnya aku menulis pesan di kertas itu juga..
Tara, I always love you, now and forever..Fery..
Aku meletakkan kertas itu ditempatnya semula. Ku elus sekali lagi rambut Tara sebelum aku keluar dari kamarnya. Ternyata bik Num dan pak Kusno menungguku di bawah dengan wajah cemas.
“ Ada apa sebenarnya, den?” tanya pak Kusno begitu aku mendekat.
“ Nggak apa-apa kog, pak. Semua sudah beres. Makasih pak, bik atas pengertiannya. Maaf kalau kedatanganku telah mengganggu pak Kusno dan bik Num..”
Mereka mengantarku sampai masuk ke dalam mobil. Aku pulang dengan perasaan plong luar biasa. Semoga besok pagi Tara bangun dengan bahagia karena membaca tulisanku di kertas itu. Aku berdoa mudah-mudahan aku tidak seperti Diar yang tega menyakiti Tara. Tiba-tiba suara handphoneku membuyarkan lamunanku. Suara nada panggil. Kuangkat handphoneku. Aku langsung menepikan kendaraan di pinggir jalan saat kulihat di layar handphone nama yang menelponku.Tara!
“Hallo..Tara..”ucapku dengan gugup.
“ Fery, kamu dimana?”
Aku menyandarkan tubuhku di jok mobil. Suara Tara terdengar sangat indah. Aku terdiam dan hanya mendengarkan suaranya saja. Beban di hatiku kini benar-benar telah hilang.*******
0 komentar:
Posting Komentar