Fera menyingkap sedikit tirai jendelanya kamarnya ketika didengarnya suara tawa dari luar. Dilihatnya dua orang di halaman samping sedang tertawa. Fera mengenalnya. Mereka tetangga yang baru tiga hari menghuni rumah sebelah. Kamar Fera memang bersebelahan dengan halaman samping rumah mereka. Jadi Fera dapat melihat dengan jelas aktivitas yang dilakukan diteras tetangga barunya itu.
“ Fera!!!
Suara panggilan mamanya mengagetkan Fera. Dia segera melepaskan pegangannya pada kain jendela lalu buru-buru keluar kamar.
“ Ada apa, ma?” tanya Fera begitu sampai anak tangga paling bawah.
Mamanya berdiri tidak jauh dari Fera dengan mata melotot. Fera merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“ Mama sudah katakan berapa kali! Jangan ikuti kegiatan balap motormu yang gila itu! Apa ucapan mama belum jelas?!?!”
Suara mamanya menggelegar. Fera seketika kaget. Mamanya tahu dari mana kalau semalam dia ikut teman-temannya balap motor di kampus? pikirnya.
“ Siapa bilang, ma? Fera nggak ikut kegiatan macam begitu lagi kog.” Fera masih mencoba berdalih. Mamanya memberikan kertas ke Fera.
“ Jangan bohong. Tulisan yang ada di kertas itu, memangnya bukan namamu?” sambung mamanya cepat sambil berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Fera masih berdiri dan membaca kertas itu. Kertas apaan? Pikirnya. Dan jantungnya langsung mau copot begitu membaca tulisan yang ada dikertas tersebut :
Kami atas nama Panitia Balap Motor kampus mengundang Saudari Dayfera Adipta Pratiwi untuk menghadiri malam penganugrahan penghargaan atas prestasi yang Saudari dapatkan sebagai Juara Dua dalam Lomba Balap Motor Kampus. Atas kehadiran Saudari kami ucapkan terima kasih.
Fera memandang mamanya. Dia tidak tahu mau bicara apa. Perlahan dia mendekati mamanya dan duduk di sofa sebelah. Wajah mamanya belum berubah masih tetap menakutkan. Tapi mamanya tidak bicara, mungkin menunggu penjelasan dari Fera. Setelah lama terdiam akhirnya Fera memberanikan diri untuk bicara.
“ Maafkan Fera, ma. Semalam Fera ikut kegiatan balap itu karena diajak teman-teman.” Mamanya tetap memandangnya.
“ Kamu lebih mendengarkan teman-temanmu daripada mama?”
“ Bukan begitu ma. Fera sebenarnya sudah keluar dari kelompok tapi kemarin ada undangan dari kampus. Undangannya perkelompok harus enam orang tapi Dian salah satu teman kami, dia tidak bisa ikut karena sedang di rawat di rumah sakit. Teman-teman sangat mengharapkan Fera untuk menggantikan dia. Karena kalau tidak maka kelompok kami tidak bisa ikut. Apalagi waktunya sudah mepet. Mau memanggil orang lain tidak ada waktu.” Mamanya tetap memandang dengan pandangan tajam.
“ Sekarang mama bisa terima alasan kamu. Tapi ingat, ini yang terakhir. Jangan macam-macam lagi atau mama tidak akan memaafkan kamu. Ingat itu!”
Mamanya beranjak pergi. Fera lega. Cuma dia masih bingung kenapa surat itu bisa sampai kerumahnya. Padahal yang ketua tim bukan dia. Karena bingung Fera berinisitif untuk menghubungi salah seorang temannya yang ikut dalam kegiatan tersebut.
“ Hallo, May. Ini aku Fera. Kamu lagi di mana sekarang?” tanya Fera setelah berada kembali dikamarnya. Suara tawa dari tetangga sebelah masih terdengar. Fera menyingkap lagi tirai jendelanya. Dia memandang lagi tetangga barunya itu.
“ Oh, di rumah. Sama dong dengan aku, hari ini nggak kemana-mana soalnya capek. Eh, aku mo nanya nih. Kenapa surat undangan dari kampusnya Ergi bisa sampai kerumahku?” lanjut Fera setelah lama terdiam mendengarkan handphonenya.
“ Kalian gimana sih? Apa bedanya kalian dengan aku? Mamaku sampai marah besar loh. Iyalah, aku tahu. Cuma aku sudah dapat teguran keras dari mama. Artinya sudah tidak ada lain kali untuk ikut kegiatan begitu lagi.”
“ Oke, deh. Nggak pa pa. Sampaikan salamku untuk anak-anak yang lain. Bye.”
Fera menutup pembicaraan. Ternyata teman-temannya ketakutan untuk memakai alamat rumah mereka. Alasannya sama dengan dia, takut diketahui orang tua masing-masing.
Fera masih memandang kerumah sebelah. Diam-diam dia merasa iri. Bahagia sekali mereka, pikirnya. Tidak sama dengan dirinya. Bahkan sudah kelas tiga sekarangpun belum ada cowok di sekolah yang berniat untuk nangkring dan melabuhkan hatinya pada Fera. Padahal kalau di lihat dan kalau dipikir-pikir dia sama sekali tidak jelek bahkan cenderung manis. Soal kepintaran, dia juga tidak jeblok amat. Buktinya semester kemarin dia dapat peringkat enam. Fera jadi bingung. Apa yang salah dengan dirinya?
“ Mungkin kamu terlalu tomboy, Fe.” Ucap Lula, kakaknya sewaktu Fera menelponnya via Handphone. Lula adalah satu-satunya kakak perempuan yang di miliki Fera. Dua kakaknya yang lain adalah laki-laki. Ketiga kakaknya semuanya sedang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri di Propinsi lain. Hanya Fera dan adiknya Sefi yang tinggal dirumah dan masih berstatus siswa SMA. Dia kelas tiga dan Sefi kelas satu. Memang kalau dilihat dari kualitas mereka bersaudara hanya Fera yang paling dibawah rata-rata. Fera satu-satunya dalam keluarga mereka yang setiap semester meraih peringkat ke enam. Ketiga kakaknya bahkan Sefi selalu meraih peringkat pertama. Karena itu Fera bingung sendiri malah dia pernah berpikir mungkin dia bukan anak kandung mama dan papanya.
“ Tomboy gimana, kak?” Tanya Fera kemudian.
“ Mungkin sekarang kamu sudah harus berfikir untuk merubah tampilanmu. Jangan lagi berdandan semaunya. Bersikap semaunya. Ingat loh, kamu perempuan. Sudah kelas tiga SMA lagi. Sebentar lagi kamu kuliah. Masak harus bersikap seperti ini terus. Iya, kan?” Ucap Lula. Fera bangkit dari pembaringan. Dia lalu berdiri di depan cermin.
“ Emang apa yang salah dengan penampilanku, kak ? aku juga rajin mandi. Rajin pakai parfum. Rajin cuci rambut pake shampoo. Emang sih, seumur hidup aku belum pernah luluran apalagi creambath disalon.”
Lula tertawa.
“ Nanti deh liburan, kakak pulang untuk ajarin kamu gimana cara dandan. Ok, pokoknya sekarang, kamu harus dengar kata-kata mama. Yang dikatakan mama itu betul. Demi keselamatan kamu, jangan lagi balap motor. Ok?”
Itu seminggu yang lalu waktu Fera menelpon kakaknya. Andai Lula tahu kalau baru saja Fera kena marah dari mamanya karena ikut kegiatan balap motor lagi.
**
Di sekolah Fera tiba-tiba jadi kalem. Dia memperhatikan teman-teman kelasnya yang perempuan. Bagaimana gaya mereka bicara, dandanan mereka. Semakin diperhatikan, Fera semakin sadar kalau selama ini dia tidak menyadari kalau dia bukan lagi murid SD yang bisa bersikap semaunya. Bahkan, Leni yang dulu temannya sewaktu di sekolah dasar sangat hitam dan jelek. Sekarang malah jadi gadis yang cantik dan jadi idola disekolahnya.
Kulitnya jadi kuning langsat. Operasi plastik dimana dia? Pikir Fera. Apa dia juga harus operasi plastik? Fera tambah bingung. Sekarang pandangannya beralih ke Gita. Gita tergolong tidak macam-macam dalam berdandan dan bersikap, orangnya juga kalem. Tapi itulah karena dia kalem itu justru banyak yang ngincar. Kata teman sekelasnya yang cowok, Gita itu misterius. Apanya yang misterius? Aneh.
Dia beralih lagi ke Intan. Cewek ini sesuai namanya, berkilau. Jelas saja. Tajirnya minta ampun. Dia diam saja, banyak cowok yang bakal antri dibelakangnya apalagi dia supel. Orangnya heboh. Banyak teman dimana-mana. Makin banyaklah cowok yang mengincar dia. Sampai di sini, Fera makin pusing. Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana caranya menjadikan dia menarik agar cowok-cowok itu tertarik padanya?
“ Kamu hari ini aneh,deh.” Komentar Leli, teman sebangkunya. Mereka baru saja duduk di sudut kantin. Fera memandang Leli.
“ Apanya yang aneh? Biasa aja kog.” Tangan Fera meraih daftar makanan.
“ Kayaknya hari ini kamu lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya..”
Fera terus memilih makanan yang akan dia pesan.
“ Kamu pesan apa? Kalau aku bakso.” Ucap Fera. Leli mendesah pelan.
“ Aku bakso juga.” Sambungnya cepat tanpa melihat daftar makanan. Fera beranjak ke kasir. Membayar makanannya lalu membawanya ke bagian dapur. Kemudian dia kembali ke tempat duduknya semula tanpa melihat wajah Leli yang murung.
“ Kamu kenapa sih, Fer? Bikin bingung aja deh!” sungut Leli. Kelihatannya dia sudah tidak tahan dengan sikap Fera yang misterius.
“ Memangnya kenapa dengan sikapku? Apanya yang aneh?” Leli memandangnya.
“ Kamu ada masalah,ya?” tanyanya lembut.
“ Kitakan sudah jadi sahabat sejak masuk sekolah ini. Kalau kamu memang ada masalah, kamu bisa kog curhat ke aku.” Lanjut Leli.
Obrolan mereka terhenti. Pelayan kantin datang membawakan pesanan mereka.
“ Aku nggak ada masalah kog. Cuma lagi malas aja.” Ucap Fera sambil menaruh saus cabe di mangkok baksonya.
Leli masih sibuk menaruh kecap di mangkok baksonya.
“ Baiklah. Mungkin kamu memang belum mau curhat. Tapi kalau kamu bilang nggak ada masalah. No, way. Aku sama sekali nggak percaya.”
Kali ini Leli memasukkan saus cabe ke mangkok baksonya. Kemudian menyantap baksonya tanpa berkomentar lagi. Sepertinya dia maklum kalau Fera tidak akan menceritakan masalah yang dihadapinya.
**
Sejak pulang dari sekolah, Fera hanya berdiam diri dikamarnya. Dia bingung bagaimana memecahkan masalah yang dia hadapi. Harus memulai darimana? Baru tampil diam dan kalem saja, Leli sudah luar biasa heran dan curiga. Bagaimana kalau dia berubah tampilan?
Fera bolak balik dipembaringan. Semakin dipikir dia semakin bingung. Pintu kamar Fera terbuka. Nampak Sefi sedang membawa nampan yang diatasnya ada segelas susu dan sepiring roti oles.
“ Tumben kamu baik banget bawain kekamarku..” ucap Fera sambil bangun dan duduk di lantai kamar. Dia menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.
“ Bukan Sefi, kak. Tapi mama. Habis tadi pagi, kak Fera langsung kabur ke sekolah. Nggak sarapan, nggak minum susu. Jadi sekarang susunya harus dihabiskan. Begitu pesan mama..” Jelas Sefi.
Dia lalu duduk di depan meja belajar Fera. Tangannya meraih salah satu majalah yang ada di deretan buku-buku. Tapi kemudian dia kembalikan lagi ke posisi semula karena majalahnya tidak menarik perhatiannya. Biasa majalah otomotif kegemaran Fera. Dia lalu berbalik memandang Fera.
“ Mama ada dirumah, Fi ?” Tanya Fera sambil meminum susu coklatnya.
“ Mama pergi arisan darma wanita. Jam tiga tadi sudah berangkat. Aku hampir lupa bikinin kakak susu. Untung saja mama telpon. Coba kalau tidak, pasti sampai sekarang belum aku buatin .“ Sefi cekikikan sendiri. Fera hanya merengut.
“ O, ya kak. Minggu depan ada Lomba Pemilihan Putri Duta Sekolah . Kita pergi ya , kak. Soalnya teman-teman di kelas pada pergi semua. Kan lucu kalo Sefi sendiri yang nggak pergi.”
“ Kamu pergi saja dengan teman-temanmu. Kan enak bisa rombongan. Rame-rame.” Sefi cemberut.
“ Nggak boleh sama mama. Katanya kalo Sefi mau pergi harus sama kak Fera. Kalo sama teman-teman, mama nggak percaya. Ntar katanya Sefi ngeluyur kemana lagi. Please, dong kak. Kak Fera kan juga bisa nonton acaranya. Dengar-dengar katanya bakalan seru. Model-model yang cowok, yang cakep-cakep bakal hadir juga kak.” bujuk Sefi.
Fera masih terus mengunyah roti lapisnya. Kelihatannya dia masih mempertimbangkan apakah akan ikut atau tidak. Dia sebenarnya malas nonton acara seperti itu. Lain kalau acara otomotif, mau jaraknya berapa jauhpun pasti dia datangi.
“ Bagaimana, ya..” ujar Fera. Dia masih berpikir. Dipandanginya Sefi. Kasihan juga melihat adiknya dengan wajah memelas setengah mati.
“ Kamu pengen banget ya pergi?’’ tanyanya lagi yang di sambut Sefi dengan anggukan kepala yang kencang.
“ Baiklah. Minggu depan kakak temani kamu.” Sefi kegirangan dia mengucapkan terima kasih sambil berlari keluar kamar.
Melihat itu Fera jadi menyadari sesuatu. Ternyata susu coklat dan roti lapis ini sengaja di bawa Sefi untuk menyogok dia supaya mau menemaninya pergi. Fera hanya geleng-geleng kepala sambil menghabiskan susu coklatnya. Setelah Sefi keluar kamar, Fera kembali dengan masalahnya semula. Bagaimana membuat dia menarik. Apa dia harus ke salon? Fera bicara sendiri. Sepertinya tidak ada salahnya di coba. Siapa tahu dengan ke salon dia bisa mengubah penampilan jadi lebih menarik untuk di pandang.
Fera berdiri. Dia merentangkan kedua tangannya keatas untuk merenggangkan otot-ototnya. Suara tawa dari sebelah makin membuat pusing kepala Fera. Kalau kemarin dia buru-buru menyingkap tirai jendela kamarnya, sekarang dia malah menutup telingannya dengan kedua tangannya. Tawa mereka malah jadi beban yang tidak ingin Fera dengar.
**
Keesokan harinya di sekolah, Fera jadi keheranan sendiri. Dari jauh dilihatnya teman-teman sekelas ramai-ramai berkerumun di depan kelas. Ketika Fera mendekat ternyata mereka sedang membaca kertas yang di tempel di tembok. Dia juga langsung ikut-ikutan berdiri dan berdesak-desakan dengan teman-temannya untuk mengetahui tulisan yang ada di kertas itu.
“ Ada apa sih ?” tanyanya.
Namun tidak ada seorangpun temannya yang menjawab karena konsentrasi membaca. Fera akhirnya bisa melihat huruf-huruf dengan jelas. Tapi baru saja dia hendak membaca, tiba-tiba seseorang menariknya dari belakang. Fera nyaris marah namun urung ketika melihat siapa yang menariknya, ternyata Leli.
“ Kenapa sih, Li? Aku kan belum selesai membaca.” Protes Fera.
Leli menaruh jari telunjuknya di mulut Fera. Kemudian dia menarik Fera menjauh dari kerumunan teman-temannya.
“ Sebenarnya ada apa sih?” Tanya Fera begitu mereka sampai di halaman sekolah. Walaupun ada beberapa siswa di halaman,tapi jarak mereka lumayan jauh untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
“ Begini, Fer. Kamu jangan kaget, ya. Sebenarnya isi pengumuman yang di tempel di tembok tadi itu, mencari kamu.”
“ Mencari aku? Memang ada masalah apa?” tanya Fera tidak mengerti.
“ Sebenarnya bukan nama lengkapmu yang di tulis di situ. Bahkan teman-teman satu sekolahan inipun, kecuali aku yang tahu kalau itu namamu. Mereka mencari Deedee. Itukan namamu di tempat balap. Iyakan?”
Fera mengangguk walau masih bingung. Leli melanjutkan ceritanya.
“ Ada kelompok balap motor dari Kampus lain. Kayaknya mereka penasaran dengan kamu. Mereka pengen kamu gabung dengan mereka. Cuma mereka nggak tahu, mau menghubungi siapa. Mereka hanya tahu kamu sekolah di sini, trus namamu Deedee. Mungkin panitia dari lomba yang kamu ikuti kemarin nggak pengen kasi data kamu ke mereka.”
“ Lalu masalahnya apa? Kog kamu jadi ketakutan begitu? Kalau mereka pengen ketemu aku, ya udah ketemuan aja. Cuma sorry aja, sekarang aku sudah tutup buku dengan dunia balap. Aku sudah dapat ultimatum dari mamaku. Tidak boleh lagi ikut balap.” Leli mendesah pelan.
“ Masalahnya bukan itu, Fer.”
“ Jadi apa?” tanya Fera tidak sabaran.
“ Kamu tahu Jody kan? Anak Fisik yang cakepnya luar biasa itu, yang jadi incaran cewek-cewek sekolahan kita, yang dulu pernah kamu tampar. Nah, dia itu yang cari kamu. Kakaknya Jody, yang punya kelompok balap motor itu. Dia suruh Jody buat nyariin kamu, karena kamu satu sekolah sama Jody.”
Jantung Fera rasanya mau copot. Jangankan bertemu Jody, mendengar namanya pun dia sudah gemetaran. Bukan karena takut tapi karena ada hal lain yang malu untuk Fera ceritakan. Bahkan Leli pun tidak tahu kejadiannya. Dia hanya tahu kalau Fera pernah berantem dengan Jody. Fera jadi ingat kejadian masa lalu.
Dulu, waktu masih baru masuk sekolah ini, dia pernah ribut dengan Jody. Masalahnya sepele tapi Fera menganggap yang berhubungan dengan harga diri tidak ada yang sepele. Waktu itu Fera luar biasa tomboy, rambutnya cepak habis. Klimis lagi. Waktu ada tugas yang di bagi perkelompok antara laki-laki dan perempuan. Jody nyelutuk. Katanya Dayfera di taruh dimana? Karena jenis kelaminnya nggak jelas. Kontan saja satu kelas tertawa. Fera marah sekali. Padahal maksud Jody hanya bercanda.
Saat ibu gurunya keluar, Fera mendatangi Jody dibangkunya. Dia mengajak Jody bicara empat mata, di kamar mandi. Lucunya lagi, Jody masih sempat bercanda waktu mereka sampai dikamar mandi. Mau ke kamar mandi yang mana, laki-laki atau perempuan. Fera makin emosi. Dia langsung menanyakan maksud dari perkataan Jody. Jody kaget karena tidak menyangka kalau perkataannya membuat Fera marah.
Mulanya Jody juga tidak emosi. Tapi saat Fera menyebut ayahnya Jody koruptor. Kebetulan Fera pernah dengar gosip seputar kondisi keluarga Jody. Jody emosi juga. Dia masih menahan diri menganggap Fera perempuan. Tapi Fera menantangnya dengan mengatakan apa masalahnya kalau dia perempuan. Tapi Fera tidak menyangka kalau Jody akan mencium bibirnya dengan tiba-tiba. Refleks Fera menamparnya.
Adegan tamparan itulah yang disaksikan teman-temannya. Mereka khawatir jadi menyusul Jody dan Fera ke kamar mandi. Teman-teman yang cowok langsung membawa Jody sedangkan yang cewek berusaha menenangkan Fera. Padahal mereka tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi sebelum mereka datang. Sejak kejadian itu Fera tidak pernah lagi bertegur sapa dengan Jody, walaupun Jody masih sering mengganggunya.
Kemudian karena penjaringan kelas, akhirnya mereka terpisah. Fera tidak mau tahu lagi Jody ada di kelas mana. Yang jelas dia merasa nyaman karena sudah tidak sekelas lagi dengan Jody. Kalaupun mereka bertemu karena namanya satu sekolah pasti akan ketemu, Fera pasti sudah bersembunyi atau mencari jalan lain untuk menghindar. Dan sekarang setelah dia hidup tenang, Jody mencarinya. Rasanya Fera ingin pindah sekolah saja. Bayangan bibir Jody yang menempel di bibirnya tidak bisa hilang dari ingatannya.
“ Aku khawatir, Fer. Makanya aku kasi tahu kamu. Jadi bagaimana? Kamu masih tetap mau ketemuan dengan mereka?” Tanya Leli menyadarkan Fera dari lamunan.
Fera menggeleng. Kemudian berjalan menuju kelas.
“ Selama berhubungan dengan Jody, kayaknya lebih baik aku menghindar saja deh.” Ucapnya pelan.
Fera berdoa semoga dari ke enam teman-teman kelompok balapnya tidak ada satupun yang membocorkan rahasia identitasnya. Kalau tidak, maka habislah dia. Jody pasti akan semakin menghinanya. Dulu saja dia sudah begitu menghina Fera, bagaimana nanti kalau dia tahu Fera seorang pembalap. Memang tidak ada celanya wanita jadi pembalap. Cuma untuk Fera ada pengecualian. Penampilannya yang tomboy saja sudah di hina Jody, makin lengkaplah kalau Jody tahu dia doyan balap.
Tapi rupanya Fera hanya merasakan tenang selama dua hari. Hari ketiga begitu tiba di pintu gerbang, seseorang mencegatnya. Anak muda. Dari penampilannya kelihatannya dia mahasiswa. Orangnya juga lumayan cakep.
“ Maaf, kamu Fera, ya?” tanya orang itu. Fera menganguk.
“ Iya. Aku Fera. Ada perlu apa, ya?” Fera balik bertanya.
“ Kamu kenal Maya Anugrah, kan?” Fera terdiam. Dia merasa curiga karena Maya teman balapnya dan tidak satu sekolah dengan dia. Kalau ada pertanyaan seputar Maya. Jangan-jangan…, Fera sudah berpikir yang macam-macam. Tapi Fera mencoba tidak gugup. Dia bersikap biasa saja.
“ Maya Anugrah yang mana? temanku juga ada yang namanya Maya.” Suaranya di buat setenang mungkin.
“ Maya Anugrah yang sekolah di SMA Angkasa.”
“ O, itu. Aku kenal. Memang ada apa dengan Maya?” pemuda itu tersenyum.
“ Nggak apa-apa. Cuma mau memastikan saja. Oh, ya makasih ya…” Jawabnya. Dia kemudian pergi meninggalkan Fera yang bengong sendiri di pintu gerbang. Fera masih memperhatikan pemuda itu berjalan menuju mobilnya yang di parkir di seberang jalan. Kelihatannya di mobil itu ada beberapa orang didalamnya. Fera buru-buru masuk ke lokasi sekolah saat mobil itu menghilang dikejauhan.
Tiba di kelas, Leli sedang menulis sesuatu tapi dihentikannya ketika melihat Fera muncul dengan muka agak pucat.
“ Kamu kenapa Fer? Seperti habis melihat hantu saja.” Tanya Leli sambil memperhatikan Fera duduk disebelahnya. Fera masih mengatur nafasnya sehabis berlari karena gugup dengan kejadian yang baru dia alami.
“ Tadi dipintu gerbang, ada cowok yang mencurigakan, Li.” ucap Fera setengah berbisik.
“ Mencurigakan gimana?”
“ Dia tanya, apa aku kenal dengan Maya Anugrah. Aku jadi curiga, soalnya Maya kan anggota kelompok balapku juga. Jangan-jangan, kakaknya Jody sudah tahu identitasku. Aduh, bagaimana nih. “ Fera mulai panik.
“ Kamu jangan panik gitu dong. Ntar teman-teman heran lagi. Begini saja. Nanti jam istrahat, aku ke kelasnya Jody. Biar nanti aku yang mata-matai dia. Aku ada tetangga yang satu kelas dengan dia. Pokoknya kamu tenang saja.”
Fera mengangguk walau sejujurnya dia belum tenang sama sekali. Seandainya bukan kakak Jody yang mencarinya….
Jam istrahat, Fera malas keluar kelas. Teman-temannya semuanya menghilang entah kemana. Tinggal Fera sendiri. Kebetulan tadi pagi Fera membawa minuman kotak dan roti lapis. Mamanya yang menaruh langsung dalam tasnya.
“Mama memang baik banget.” ucap Fera sambil tersenyum mengingat mamanya. Fera menyeruput minuman kotaknya sambil memandang keluar jendela. Dia membelakangi pintu hingga dia tidak menyadari seseorang masuk dan duduk di bangku yang ada didepannya.
“ Kebiasaan kamu ternyata nggak berubah, ya..” suara orang itu mengagetkan Fera. Tapi bukan itu yang membuatnya lebih kaget.
“ Jody?!? Ngapain kamu kesini??” tanya Fera. Dia kaget luar biasa. Fera gugup hingga jadi salah tingkah. Ini pertama kalinya dia berbicara dengan Jody sejak kejadian di kamar mandi itu.
Jody hanya tersenyum. Dan senyumnya luar biasa cakep. Fera mengalihkan pandangannya keluar jendela. Melihat ke halaman sekolah.
“ Aku kira kamu sudah tidak jutek lagi. Perempuan itu harus keibuan, lembut, kalem. Jangan kayak kamu. Baru ditegur sedikit sudah garang banget, macan kali.” Jody cengengesan.
“ Biarin! Apa urusannya dengan kamu! Aku mau jutek kek, mau kalem kek, mau lembut kek, itu urusanku. Peduli amat dengan kamu!” Ucap Fera ketus. Dia berdiri dan berjalan meninggalkan Jody namun tangan Jody menahan langkahnya.
“ Fer, aku minta maaf ya, soal kejadian di kamar mandi tempo hari. Sampai sekarang aku belum lupa kejadian itu. Sebenarnya waktu itu, aku tidak bermaksud menciummu. Cuma..waktu kamu marah. Kamu cantik banget. Bibir kamu kelihatan bagus sekali..sampai tidak sadar..aku menciummu.”
Suara Jody bergetar. Tangannya tetap memegang tangan Fera. Fera tidak bergerak. Dia tidak menyangka Jody akan mengatakan kata-kata seperti itu. Jantungnya berdetak dengan cepat. Dia bingung karena dia tidak pernah mempersiapkan diri untuk memulai pembicaraan dengan Jody. Setiap hari dia hanya berharap tidak ada pertemuan atau perjumpaan dengan Jody yang membuatnya harus berbicara. Dan sekarang Jody mengatakan kata-kata seperti itu. Apa yang harus dia katakan?
“ Aku tahu kamu marah sekali.” Jody melanjutkan kata-katanya.
” Tapi Fer, aku juga nggak tahu. Semuanya langsung terjadi begitu saja. Aku tiba-tiba merasa, aku harus mencium kamu atau nanti aku akan menyesal karena tidak menciummu.”
Fera berpaling memandang Jody yang juga memandangnya sejak tadi. Mata Fera berkaca-kaca. Dia berusaha menahan kesedihan dan rasa malu yang menjadi satu.
“ Apa kamu tahu? sepanjang tahun aku merasa kejadian itu sebagai penghinaan. Aku merasa satu sekolah ini mengetahui kejadian itu walaupun mungkin tidak. Tapi perasaanku begitu Jo. Berjalan dalam sekolah ini rasanya semua orang melihatku dengan buruk karena kejadian itu. Aku hanya berusaha bertahan dan berharap semoga waktu cepat berlalu dan aku tamat dari sekolah ini.” Fera mulai terisak.
“ Sekarang kamu malah datang mengingatkan itu lagi. Apa belum cukup yang kamu lakukan waktu itu?” Fera berusaha melepaskan tangannya tapi Jody malah berdiri dan memegang kedua lengannya.
“ Fera, dengar dulu. Apa kamu pernah dengar atau melihat aku pacaran dengan seseorang di sekolah kita. Tidak kan? Terserah mereka bilang aku ini cakep, kaya, incaran cewek-cewek sekolahan atau sekolah lain. Yang pasti aku tidak begitu. Kamu tahu, sejak kejadian itu aku memikirkan kamu terus. Aku juga bingung mau bersikap bagaimana. Aku menegurmu, kamu nggak balas. Pokoknya bingung, deh. Padahal aku juga mencari jawaban, kenapa aku bisa berbuat begitu. Sekarang aku baru tahu, Fer.” Jody mengangkat dagu Fera supaya memandangnya.
“ Mungkin aku jatuh cinta sama kamu. Aku tidak tahu pastinya. Yang jelas aku nggak bisa memikirkan gadis lain selain kamu. Aku bahkan pernah berniat pindah sekolah, tapi bagaimana mau pindah? Liburan seminggu saja aku sudah kangen setengah mati sama kamu. Kamu mungkin nggak percaya, waktu liburan itu, setiap hari aku parkir mobilku di dekat rumahmu. Mungkin kamu nggak tahu, ngeliat pagar rumahmu saja hatiku sudah tenang.”
Jody mengucapkannya dengan pelan. Fera terdiam. Dia tidak bisa berbicara. Bahkan bergerakpun tidak bisa.
Apa yang terjadi denganku Tuhan? tanya Fera dalam hati. Kenapa aku jadi gugup begini? Tanganku juga terasa dingin. Fera masih terus bertanya dalam hati. Tapi Jody terlanjur menunduk dan mencium keningnya. Dia melakukannya dengan lembut. Fera tetap tidak bisa bergerak. Tidak ada gerakan refleks seperti yang pernah dia lakukan sewaktu menampar Jody karena menciumnya di kamar mandi. Fera hanya merasa jantungnya berdegup kencang sekali. Di lain pihak dia tiba-tiba merasakan seuatu yang dingin dihatinya. Begitu menyejukkan. Tapi apa itu?
Jody melepaskan ciumannya. Tatapannya sangat lembut waktu memandang Fera. Sementara Fera tetap tidak bergeming. Fera dan Jody tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang baru saja masuk dan melihat mereka. Semuanya terkejut. Mata teman-teman Fera seperti mau melompat saja. Fera tersadar. Dia salah tingkah dan malu sekali. Tapi Jody hanya tersenyum melihat ke arah mereka. Kemudian pandangannya beralih ke Fera. Dia lalu memegang tangan Fera.
“ Ayo, kita keluar dari sini. Aku pengen bawa kamu kesuatu tempat, yang pasti kamu suka.” Ditariknya tangan Fera kemudian berjalan melewati teman-teman Fera yang memandang mereka seperti melihat hantu. Fera menurut saja ketika tangannya ditarik. Dia bahkan melihat Leli tapi suaranya mendadak hilang hingga untuk berbicara dengan Leli pun dia tidak sanggup.
Jody terus membawa Fera berjalan melewati koridor sekolah. Semua mata melihat mereka. Wajar saja. Jody idola disekolah. Sepertinya cewek-cewek yang ada disekolah ini semuanya memimpikan Jody jadi kekasih mereka, entah itu yang terang-terangan mengejarnya karena merasa percaya diri sampai yang hanya mengaguminya dalam hati. Mungkin hanya Fera satu-satunya siswa disekolah ini yang tidak pernah memimpikannya bahkan berusaha tidak memikirkannya kalau boleh dikatakan membencinya.
Mereka memandangnya dengan rasa heran yang luar biasa. Fera dan Jody mungkin tidak tahu saat mereka meninggalkan sekolah,terjadi kehebohan yang luar biasa. Mereka tidak tahu apa yang menanti mereka sekembalinya mereka kesekolah nanti.
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar