Entah bermula sejak kapan. Perbedaan di antara kami kian hari kian melebar. Aku dengan duniaku, Deffi adikku dengan dunianya sendiri. Sebagai saudara yang hanya di takdirkan berdua saja di dunia ini seharusnya kami berdua saling menyayangi. Tapi entahlah mungkin itu hanya perasaanku saja. Karena dengan bertambahnya hari, aku merasa akulah yang paling sering berkorban untuk hal-hal yang berhubungan dengan Deffi.
Sejak memasuki bangku sekolah menengah pertama. Perbedaan itu mulai tampak. Deffi yang semula selalu berbagi denganku. Berbagi apa saja, perasaannya saat sedih dan senang, hadiah-hadiah yang dia dapatkan atau hal yang lainnya. Dari segi hobi, Deffi juga mulai berubah. Sejak kecil kami hobi berenang dan itu selalu kami lakukan berdua. Tapi sejak beberapa bulan menjalani pendidikan di sekolah menengah pertama, Deffi berganti hobi Dia lebih memilih basket sebagai hobinya yang baru. Sedangkan aku tetap dengan kegiatan rutinku setiap sabtu minggu, yaitu berenang.
Aku menganggap itu sebagai hal yang biasa. Memasuki dunia baru dengan teman-teman baru, tentu membuka cakrawala berpikir Deffi. Dia tentu ingin menikmati dunianya dengan teman-temannya. Apalagi yang aku lihat di sekolah, sebagian besar teman-teman Deffi berasal dari keluarga kaya.
Dalam memilih tempat les kami juga berbeda. Aku lebih memilih les menari sedangkan Deffi lebih senang bergabung dengan teman-teman sekolahnya yang mengikuti les bahasa inggris. Ada satu hal yang membuatku makin yakin kalau Deffi sudah bukan lagi Deffi yang kukenal. Walau satu sekolah, teman-teman Deffi sama sekali tidak tahu kalau aku saudara Deffi. Lain dengan teman-temanku, mereka semua tahu kalau Deffi adalah saudaraku. Entah aku yang terlalu ingin di ketahui atau karena Deffi yang tidak ingin keberadaannya di antara teman-temannya terusik olehku.
Kami juga mulai jarang melakukan kegiatan bersama. Bahkan untuk berangkat ke sekolah, Deffi memilih mengikuti temannya yang diantar supirnya ke sekolah daripada bersama denganku dan Pak Yasin, sopir kami. Pak Yasin sering menanyakan hal itu, tapi aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Biarlah. Aku tidak ingin menjadikan ini sebagai beban. Aku juga punya dunia sendiri yang harus aku jalani. Mungkin apa yang dilakukan Deffi untuk mulai memisahkan diri dariku adalah proses untuk menjalani hidupnya dengan lebih banyak warna. Karena selama ini kami selalu melakukan kegiatan bersama. Tentu banyak hal yang berbeda yang ingin dia jalani sendiri tanpa aku.
*
Tiga tahun sudah sejak aku mulai merasakan perbedaan yang ada dalam diri adikku, Deffi. Sekarang aku sudah duduk di bangku sekolah menengah atas. Perbedaan antara diriku dengan adikku, terlihat sangat jelas. Mungkin karena terpengaruh lingkungan pergaulan dengan teman-temannya. Orang-orang akan mengira kami bukan saudara kalau hanya melihat dari penampilan fisik kami. Kalau aku dalam penampilan lebih memilih yang sederhana saja. Apa adanya.
Aku tidak memilih merk dalam hal membeli suatu produk. Tidak ada alasan khusus bagiku hingga harus menentukan merk tertentu sebagai pedoman untukku dalam menunjang penampilan.Lain dengan Deffi. Semua hal yang berkaitan dengannya adalah produk yang bermerk. Seringkali untuk mewujudkan hal itu dia melakukan cara-cara yang merugikan aku. Contohnya dia ngambek, marah bahkan tidak mau sekolah.
Akhirnya mama mengurangi jatah untukku. Yang seharusnya terbagi sama antara aku dan Deffi. Aku baru tahu setiap kali aku ingin meminta uang, mama selalu memberikan tidak sesuai dengan permintaanku sebelumnya. Pernah sekali aku bertanya, mama menyuruhku bersabar karena sebagai kakak aku harus mengalah terhadap Deffi. Aku hanya diam ketika mama mengatakan hal itu. Rasanya aku tidak sampai hati harus berdebat dengan mama. Pikiran mama sudah dipenuhi dengan masalah Deffi, aku tidak ingin menambah beban mama lagi.
Karena terlalu sering seperti itu, akhirnya aku berinisiatif untuk menyisihkan uang jajanku. Aku juga mulai membatasi pemakaian pulsa demi mengurangi pengeluaran. Hobi berenang yang biasa aku lakukan setiap sabtu dan minggu, aku ubah hanya dua kali dalam sebulan. Sebagai gantinya biasanya aku jalan-jalan ke toko buku atau sekedar duduk-duduk di taman kota sambil membaca buku yang aku bawa. Di sana aku menghabiskan waktu sesuai dengan jadwalku berenang. Semua ini aku lakukan agar mama tidak curiga. Aku pulang ke rumah sengaja aku atur agar waktunya sama seperti kalau aku benar-benar pulang dari berenang.
Aku pikir apa yang aku lakukan setidaknya bisa mengurangi beban mama. Ternyata dugaanku salah. Keinginan Deffi dari waktu ke waktu semakin banyak dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Suatu hari Deffi ingin mengganti handponenya. Katanya handphone yang dia miliki sudah ketinggalan jaman. Padahal dibandingkan dengan handphone yang aku punya, milik Deffi jauh lebih canggih. Sejak papa membelikan kami berdua handphone, Deffi sudah empat kali mengganti handphonenya.Sementara aku sama sekali tidak ada keinginan untuk membeli atau mengganti dengan yang baru. Bagiku, cukuplah untuk aku pakai sms dan menelpon. Ada fasilitas lagu-lagu yang bisa aku dengarkan. Kurang apa lagi. Aku sudah sangat bersyukur dengan itu.
Akhir yang bisa ku tebak. Mama untuk ke sekian kalinya memenuhi keinginan Deffi. Dan kembali untuk kesekian kalinya pula aku harus mengalah. Tapi kali ini aku mengalah dengan meneteskan air mata. Karena untuk memenuhi keinginan Deffi tersebut mama tidak memberiku jatah bulanan selama tiga bulan. Aku menangis diam-diam di kamar. Terkadang aku berpikir mengapa aku tidak protes saja, atau marah atas ketidak adilan yang aku dapatkan. Tapi kemudian aku memilih diam. Mungkin seluruh hatiku bukan hati pemberontak.
Aku kadang merasa mungkin aku yang terlalu bodoh atau terlalu sabar, hingga semua hal yang juga menjadi milikku harus rela aku bagi atau berikan ke Deffi. Tapi kemudian setelah puas menangis, hatiku mulai tenang. Dan kalau aku mulai tenang, maka semua hal yang terlewati menjadi hal yang tidak penting lagi. Aku hanya ingin menikmati hidup dengan damai. Dan hidup yang aku anggap damai adalah dengan tidak memiliki rasa bersalah terhadap papa dan mama. Dan untuk mencegah rasa bersalah itu adalah dengan tidak membuat papa dan mama resah karena aku. Itu prinsip hidupku yang mungkin tidak dimiliki Deffi.
*
Siang itu sepulang sekolah, aku langsung menemui mama di kamarnya. Mama sedang istrahat siang. Ku dekati mama dengan perlahan. Aku cuma ingin memastikan apakah mama sedang tidur atau tidak. Karena kalau mama tertidur, aku pasti tidak tega untuk membangunkannya. Aku makin dekat dengan mama. Ternyata mama tertidur. Aku langsung membalik badan bersiap untuk keluar ketika tiba-tiba mama memanggilku. Aku kemudian duduk di tempat tidur sementara mama masih berbaring. Kulihat wajah mama sangat lelah. Aku jadi kasihan. Rasanya tidak tega menyampaikan rencana yang ada dalam pikiranku.
Mama menanyakan banyak hal tapi aku tetap tidak bisa mengutarakan keinginan yang ada dalam pikiranku. Tapi akhirnya aku memberanikan diri. Aku menyampaikan ke mama kalau aku mau mengambil bimbingan belajar untuk persiapan mengikuti tes masuk ke universitas. Sekarang aku sudah kelas tiga. Persiapan untuk mengikuti ujian masuk tersebut harus di mulai dari sekarang. Di luar dugaanku mama menyanggupi. Aku langsung tersenyum. Ku peluk mama dengan erat kemudian aku berlari keluar dari kamar mama dengan rasa gembira.
Baru saja aku merasa sangat gembira dengan rencanaku untuk ikut bimbingan belajar, kejadian buruk terjadi lagi. Malamnya Deffi menangis. Dia ingin merayakan ulang tahunnya di restoran hotel. Kata Deffi sahabat-sahabatnya semua merayakan ulang tahun di restoran hotel. Dia pasti malu jika ulang tahunnya kali ini diadakan di rumah seperti tahun-tahun sebelumnya. Kalau sebelumnya dia memberikan berbagai macam alasan ke sahabat-sahabatnya maka untuk sekarang dia sudah tidak punya alasan lagi yang masuk akal.
Deffi tidak ingin malu di depan sahabat-sahabatnya. Lebih baik dia berhenti sekolah daripada harus menanggung malu. Kulihat mama dan papa terdiam. Mereka saling pandang. Aku lebih memilih masuk ke dalam kamarku. Tidak perlu mendengarkan jawaban mama dan papa, aku sudah tahu jawaban mereka. Pasti keinginan Deffi itu akan terwujud. Aku hanya berdoa semoga rencanaku untuk ikut bimbingan belajar tidak digagalkan Deffi dengan rencana menggelar acara ulang tahunnya. Yang pasti acara itu akan berlangsung bukan di restoran hotel biasa tapi di hotel berbintang. Aku termenung di kamar. Apa yang terjadi dengan adikku itu. Makin hari keinginannya makin sulit di tebak.
Pagi harinya saat akan berangkat ke sekolah mama menyampaikan kalau sebaiknya keinginanku untuk ikut bimbingan belajar di tunda saja atau diganti saja dengan paket yang lebih singkat. Aku terdiam. Aku sudah bisa menebak apa yang akan mama katakan. Aku tidak perlu bertanya lagi. Dengan langkah lesu aku masuk ke mobil. Pak Yasin memperhatikan dan bertanya mengapa aku kelihatan muram. Aku akhirnya tersenyum. Tidak ada gunanya menceritakan masalahku ke Pak Yasin. Dia tidak akan mengerti.
Sepanjang jalan aku melamunkan hidupku. Mengapa makin lama aku merasa kalau mama dan papa lebih memperhatikan Deffi. Semua keinginan Deffi selalu di ikuti. Mama dan papa sama sekali tidak pernah menolak. Lain denganku. Entah bagian mana dari keinginanku yang pernah mama dan papa wujudkan. Kalaupun keinginanku terwujud itu karena berbarengan dengan keinginan Deffi. Seperti waktu Deffi ingin handphone. Sebelumnya aku meminta di belikan handphone. Akhirnya papa membelikan kami berdua handphone.Aku sangat gembira waktu itu tanpa menyadari kalau itu bukan keinginanku yang di penuhi tapi itu adalah permintaan Deffi.
*
Suatu hari papa pulang dari luar negeri. Dengan gembira kami menyambut papa di rumah. Papa membelikan kami oleh-oleh. Aku dan Deffi di belikan baju lumayan cantik. Saat kami membukanya di depan papa, aku lihat Deffi melihat bajunya kemudian melirik ke baju yang ada ditanganku. Baju Pink yang ada di tangannya dan baju ungu yang ada ditanganku di pandanginya secara bergantian.Aku kemudian sadar kalau kedua warna itu adalah warna favorit Deffi. Aku bisa menebak kemana arah pikirannya. Pasti dia ingin memiliki baju yang ada ditanganku. Tidak ingin berlama-lama dalam rasa khawatir aku memilih untuk secepatnya ke kamarku.
Aku membuka lemari. Aku ingat dulu aku punya bawahan yang sepertinya pas untuk baju ungu itu. Tapi begitu aku menutup lemari, aku langsung terkejut. Karena tiba-tiba Deffi sudah berdiri di sampingku.Dia langsung mengambil baju ungu itu dari tanganku. Aku mengambilnya kembali. Dia bermaksud mengambilnya lagi tapi aku menahannya. Akhirnya kami saling tarik menarik. Tapi aku yang menang. Deffi terjatuh di atas tempat tidur. Wajahnya terlihat penuh amarah.
Dia menyuruhku untuk tidak bertingkah. Sebaiknya baju ungu yang ada di tanganku di berikan kepadanya karena itu adalah haknya. Dengan berteriak Deffi mengatakan kalau semua barang yang aku miliki adalah haknya karena aku hanya anak angkat di rumah ini. Aku tidak punya hak apa-apa. Aku terpana. Benarkah apa yang aku dengar dan benarkah apa yang Deffi katakan. Aku menyangkalnya. Aku katakan kalau dia salah. Dia menantangku untuk menanyakan langsung ke papa dan mama. Akhirnya aku menyerah. Baju ungu di tanganku di tarik Deffi dengan paksa lalu dia keluar dari kamarku.
Aku terduduk di lantai bersandar di sisi tempat tidur. Benarkah apa yang Deffi katakan? Benarkah aku bukan anak kandung papa dan mama?. Kalau melihat semua hal yang aku lalui sejak kami kecil rasanya aku tidak perlu jawaban untuk membenarkan semua itu. Mungkin inilah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pikiranku tentang perubahan sikap Deffi. Deffi sudah tahu tentang statusku karena itu sikapnya berubah. Tiba-tiba aku merasa rumah ini terasa asing bagiku…
**********
0 komentar:
Posting Komentar