Kupandangi hapeku yang tak lagi berdering sejak dua minggu lalu. Hape khusus untuk menerima telpon dan sms darimu. Karena cintaku yang besar padamu, hingga perlakuan istimewa aku berikan. Tak ada yang tahu nomor itu selain dirimu. Aku pernah memberitahukan hal itu. Apakah kamu masih ingat?
Sekarang hape itu tak lagi berdering. Aku menanti setiap hari. Menanti telpon dan smsmu yang tak jua kunjung datang. Rasa kesal mulai datang memenuhi hatiku. Pikiran buruk juga mulai antri. Akhirnya rasa cemburu serta kemarahan membuatku uring-uringan. Aku marah padamu yang tak jua memberi kabar. Marah karena aku tak tahu apapun tentangmu. Marah karena sahabatku lebih banyak tahu kabar tentangmu daripada aku. Aku kekasihmu atau bukan? apakah sekarang hatimu telah berpindah ke hati sahabatku itu?
“ Aku lagi sibuk.Ntar aja nelponnya.”
Begitu katamu saat aku akhirnya menelpon karena tak lagi bisa memendam rindu. Aku hanya terpaku menatap fotomu saat mendengar ucapanmu yang sedingin es. Aku menyabarkan hatiku yang mulai membara.
Menanti waktu yang berjalan membuat pikiranku mengembara kemana-mana bahkan ke hutan belantara yang mengerikan. Aku akhirnya membuka google. Mencoba mencari tahu apa gerangan yang terjadi denganmu. Walau aku tak ingin membukanya, tetap saja tanganku akhirnya mengetik di tuts laptopku.
“ Tanda-tanda Kekasih Minta Putus”
Upss. Akhirnya aku pasrah. Kunanti dengan debaran jantung diatas normal. Ini seperti membodohi diriku. Aku sudah hapal di luar kepala tanda-tanda seorang pacar yang tak lagi ingin bersama kekasihnya. Tapi hatiku seperti tak rela. Aku terus memberi ruang dihatiku untuk kata bijaksana, memaklumi. Aku harus maklum dengan sikapmu, mengerti dengan kesibukanmu. Menganggap kamu masih menyayangiku dan mencintaiku. Tapi apakah itu benar? Benarkah hatimu masih seperti yang dulu?
Google terbuka. Banyak pilihan yang membuatku bingung. Akhirnya aku meng klik salah satu postingan. Kubaca dengan hati terluka. Cintakah yang membuatku jadi bodoh atau aku memang tak lagi punya indera perasaan, hingga tak bisa merasakan kekasih yang sebenarnya ingin kabur?
Tanda-tanda kekasih yang ingin putus kubaca hingga tuntas. Aku bahkan meng copy lalu menyimpannya dalam dokumen di laptopku. Kalimat-kalimat itu seolah hadir terus didepan mataku hingga aku bisa membacanya walau sedang berada diatas angkot sekalipun. Detik-detik berlalu aku hanya memikirkanmu. Apakah aku mulai gila karena cinta yang tak lagi mendapat perhatian? Tapi sebenarnya rasaku wajar. Emang enak dicuekin? Aku kira siapapun tak ingin di acuhkan oleh seseorang yang dianggap istimewa apalagi seorang kekasih.
Pesan singkat terkirim lagi dari hape warna kuning milikku.Dua menit berlalu tak ada balasan. Lima menit kutunggu dengan kesabaran yang kupupuk dengan terpaksa. Akhirnya 20 menit membuatku tak tahan lagi. Sms susulan terbang dengan hatiku yang mulai galau. Nasibnya sama, tak ada balasan. Aku memilih menelpon dengan harapan mendapat sambutan yang manis. Tak diangkat hanya balasan sms yang aku terima.
Ntar malam aja ya… Aku lagi sibuk nih..
What? Tadi pagi bilangnya ntar siang, siang minta sore, sekarang saat sore menjelang aku diminta menunggu hingga malam. Apakah tidak bisa membalas dengan suara walau hanya beberapa detik saja?
Kulempar hape ke atas tempat tidur. Aku lalu keluar kamar. Dadaku rasanya panas mendapat perlakuan seperti itu. Kulkas sepertinya menjadi pilihan tepat untuk mendinginkan hatiku yang mulai terbakar. Bahkan dinas pemadam kebakaranpun sepertinya tak bisa memadamkan api dalam hatiku. Aku benar-benar marah.
Syukurlah kulkas berisi penuh minuman dan makanan hingga tensiku tidak ikutan naik saat melihat kulkas yang kosong. Kuraih teh botol lalu melangkah ke teras samping. Rimbun pohon mangga mengalirkan angin sore yang sejuk. Kuteguk hingga setengah, rasanya lumayan meredakan bara dalam hatiku. Pandanganku beralih menatap teras rumah sahabatku, Lila. Rasanya aku ingin berbincang dengannya. Sejak pagi aku tidak bertemu dengannya. Biasanya saat libur kuliah, kami saling berkunjung untuk sekedar ngobrol.
Kulangkahkan kaki mendekati rumah Lila. Tanpa permisi aku masuk ke dalam rumahnya. Tak ada siapapun. Aku terus ke kamar Lila. Suara Lila yang tertawa membuatku langsung mendorong pintu kamar. Tapi tanganku segera menarik lagi pintu kamarnya dengan pelan saat kudengar dia menyebut nama seseorang. Nama yang membuat jantungku berhenti berdetak.
“ Ihhh… mas Ryan bisa aja. Trus Sinta mau di kemanain? Dia kan pacar mas..”
Rasa penasaran membuatku jadi tidak sopan mendengar pembicaraan orang lain.
“ Udah putus? Mas jangan boong ya…Kok Sinta masih suka nanya-nanya tentang mas?”
Dikepalaku rasanya ada api unggun yang membuat amarahku ingin meledak.Putus? mas Ryan mengatakan kami putus? Kurang ajar. Pantas selama ini dia bersikap acuh padaku ternyata lagi mengejar mangsa baru. Dan mangsa itu adalah Lila, sahabatku sendiri.
Aku ingin masuk dan melabrak Lila, tapi sepertinya Allah masih melindungiku. Melindungi harga diriku sebagai wanita. Walau aku mendengar lagi kalimat yang menyakitkan, tapi aku memilih pergi. Aku tidak perlu berbicara empat mata dengan Lila. Dia juga tidak pernah menanyakan langsung padaku tentang hubunganku dengan mas Ryan. Seharusnya sebagai sahabat yang baik, dia mencari tahu jangan langsung menyalipku dari belakang.
Aku pulang ke rumah. Kucari hape ku yang tadi kulempar ke atas tempat tidur. Segera kuketik pesan untuk mas Ryan..
Memintaku melupakanmu? Baiklah..aku akan melupakanmu..bye.
Pesan terkirim. Kumatikan hape dan mengeluarkan sim cardnya. Selamat tinggal nomor khususku. Sekarang aku tidak memerlukanmu lagi. Emang enak dicuekin? Aku juga bisa…
0 komentar:
Posting Komentar