Sabtu, 26 November 2011

Aku Ibu Rohana

0

13189503911026738563

Kulangkahkan kaki menapaki jalan berbatu. Menuju villa itu memang harus melewati jalan ini. Tak ada kendaraan yang bisa masuk karena jalan ini sangat kecil. Hanya ukuran motor yang bisa melewati. Aku malah memastikan, pengendara motor pasti akan kesulitan jika memaksa diri melewati jalan ini. Jalan yang mendaki dengan batu-batu yang terjal, malah bisa menyebabkan kecelakaan.

Aku heran, mengapa saudara nenek membuat villa yang terpencil dan sulit untuk di jangkau kendaraan roda dua atau empat. Padahal demi kelangsungan hidup bukankan saudara nenek itu harus membuat villa yang ramai dengan kunjugan orang-orang?

Aku berhenti sejenak. Kutatap bukit yang nampak diatasku. Masih jauh. Kutarik nafas berulang-ulang. Sinar matahari yang terik makin menambah penderitaanku. Andai bukan karena pesan nenek sebelum meninggal, aku tidak akan berkunjung ke tempat ini.

Sudah sejak lama, nenek dan saudarinya bermusuhan. Salah satu dari mereka tidak ada yang berniat untuk saling meminta maaf. Entah ada masalah apa di masa yang lalu, hingga mereka berdua bisa saling benci. Ayah dan ibu juga tidak tahu masalahnya karena nenek selalu bungkam. Kami jadi maklum dan mencoba tidak mengungkit keberadaan saudara nenek itu.

Suatu hari nenek sakit keras. Sebelum ajal menjemput, nenek berpesan padaku. Dengan suara pelan, nenek berbisik di telingaku.

“ Kunjungi nenek Hana mu ya, sampaikan maaf dari nenek..”

Pesan itu terngiang-ngiang saat di pemakaman nenek. Aku yang semula acuh, makin penasaran ketika membuka lemari nenek. Nampak foto nenek semasa remaja, berpose bersama dengan saudarinya, nenek Hana. Aku jadi ingin tahu keadaan nenek yang belum pernah aku temui sejak aku lahir. Kehilangan nenek membuatku merindukan nenek Hana. Berbekal rasa rindu dan penasaran, aku meminta ijin ayah dan ibu untuk mengunjungi nenek Hana. Ayah dan ibu tidak keberatan. Mereka bahkan berpesan, agar liburanku kali ini aku habiskan bersama nenek Hana. Aku setuju saja, meski belum yakin apakah akan betah tinggal bersama nenek Hana.

Saat aku turun dari bus dan bertanya tentang villa nenek Hana, beberapa tukang ojek nampak mengerutkan kening. Mereka seperti enggan menjawab. Saling pandang satu sama lain. Bahkan ketika aku minta salah seorang dari mereka untuk mengantarku, tidak ada yang bersedia. Dalam hati aku merasa aneh juga. Biasanya tukang ojek akan senang mendapatkan penumpang, tapi mereka tidak sama sekali.

Setelah duduk satu jam lamanya, bapak tua pemilik warung nampak kasihan melihatku. Dia meraih kunci motor dan menghampiriku dengan motornya.

“ Sini, bapak antar kamu sampai di gerbang saja ya. Selanjutnya kamu jalan kaki ke villa itu.” aku mengangguk senang. Belum terbayang kondisi jalan yang aku tempuh. Aku begitu gembira karena akhirnya ada orang yang bersedia mengantarku ke villa nenek. Meski tidak benar-benar sampai ke tempat nenek Hana.

“ Kamu siapa? Dari mana tahu kalau di atas bukit itu ada villa.” Tanya bapak itu saat jarak kami lumayan jauh dari pangkalan ojek.

“ Itu milik nenekku.”

“ Nenekmu?” suara bapak itu terdengar aneh.

“ Iya. Dia tinggal di villa itu. Apa bapak pernah bertemu dengan nenek?” Bapak itu menggeleng cepat. Dia tidak bertanya lagi sampai kami tiba di gerbang menuju villa nenek.

“ Terima kasih, pak.” Kataku setelah turun dari motor. Bapak itu mengamatiku beberapa saat. Aku makin merasa aneh.

“ Ada apa, pak?”

“ Ehm…tidak. Cuma kamu hati-hati saja. Setiap orang yang naik ke atas, tidak pernah lagi terlihat turun.”

“ Maksud bapak?”

“ Sudah bertahun-tahun, bapak sering mengantarkan orang ke sini. Tapi anehnya, mereka tidak pernah terlihat lagi sejak ke villa nenekmu.”

“ Mungkin bapak saja yang tidak melihatnya.”

“ Mungkin.”

Bapak itu kemudian pamit dan meninggalkan aku sendiri. Kupandangi jalan setapak menuju bukit. Aku bersyukur tiba pagi hari tadi, tidak terbayang aku harus menempuh jalan setapak ini dalam kegelapan.

Setelah berjalan satu jam lamanya, aku akhirnya tiba di villa nenek Hana. Villa dengan halaman yang sangat luas. Tanaman yang indah terlihat menghiasi halaman namun tidak tertata dengan baik. Pasti nenek kewalahan mengurus semuanya, pikirku. Aku menuju teras villa. Dalam hati aku merasa kagum, villa nenek terlihat bersih. Hanya sangat sunyi.

Kuketuk pintu yang terbuka. Tidak ada sahutan dari dalam. Ku ulangi hingga tiga kali tetap tidak ada jawaban. Aku lalu menaruh ranselku dan memilih duduk di kursi rotan yang ada di teras. Pandanganku mengitari lokasi villa. Ada penyesalan juga dalam hati mengapa aku baru berkunjung ke tempat ini. Andai ke dua nenekku tidak bermusuhan, pastilah ini akan menjadi tempat liburan yang menyenangkan.

Suara deburan ombak terdengar sayup-sayup. Pasti dibelakang villa ini ada laut. Sore hari akan nampak pemandangan yang sempurna. Siluet senja akan menyinari bukit dan menjadi lukisan alam yang menakjubkan.

“ Kamu siapa?” suara seseorang membuatku terkejut dan berbalik cepat. Nampak seorang wanita paruh baya, dia tidak tersenyum hanya menatapku. Aku berpikir cepat, mungkin wanita ini adalah anak nenek Hana. Tapi kemudian aku teringat pesan nenek, kabar terakhir yang nenek dengar. Nenek Hana tidak menikah. Apakah wanita ini anak angkat atau pengurus villa?

“ Perkenalkan, saya Sari…saya..” ucapanku tertahan karena tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang. Seperti ada isyarat agar aku tidak meneruskan ucapanku. Aku sangat takut jika mengalami hal tersebut. Setiap kali aku mengalaminya, pasti itu adalah petunjuk akan terjadi sesuatu.

“ Kamu mau menginap disini?” tanya wanita itu. Dia tetap tidak tersenyum. Aku merasa aneh. Biasanya pemilik villa atau penginapan akan senang jika ada pengunjung yang datang. Wanita ini malah sebaliknya. Terlihat tidak ramah bahkan cenderung misterius buatku.

“ Ayo, aku tunjukkan kamarmu. Ingin menginap berapa lama?” wanita itu melangkah masuk ke dalam villa. Aku meraih ranselku dengan cepat lalu menyusul wanita itu.

Ruangan dalam villa nampak bersih, hanya terkesan seram. Mungkin karena lingkungan sekeliling yang sangat sepi. Perabotan juga terlihat sangat kuno. Beberapa bahkan terlihat mulai rusak. Mungkin nenek Hana tidak mempunyai uang untuk membeli yang baru, pikirku.

“ Ini kamarmu. Disini tidak ada sistem kunci kamar. Tapi percayalah, barang-barangmu akan aman jika kamu berniat jalan-jalan keluar. Kamar mandi di sebelah sana, maklum villa jaman dulu.” Wanita itu membuka pintu kamar. Aku lalu masuk mengamati kondisi kamar.

“ Aku ada di belakang. Jika perlu sesuatu, cari saja aku.” Katanya lalu melangkah keluar kamar.

“ Oh, ya.” Wanita itu tiba-tiba muncul lagi.

“ Saranku, sebentar sore sebaiknya kamu melihat sunset di belakang villa. Sangat cantik.” Ucapnya sambil tersenyum manis yang membuatku terpana karena heran. Ternyata wanita itu juga bisa tersenyum.

Aku menutup pintu lalu menaruh ranselku di samping tempat tidur. Kusingkap tirai jendela, memandangi taman samping yang penuh dengan bunga-bunga. Villa ini hanya kurang terawat, gumamku.

Aku langsung teringat nenek Hana. Tadi karena perasaanku tidak enak, aku batal memperkenalkan diri.

Kututup pintu kamar, lalu berjalan menuju ruang belakang sesuai ucapan wanita tadi. Tapi langkahku terhenti di depan sebuah kamar. Sayup-sayup aku mendengar seseorang sedang berbicara..

“ Aku harus hati-hati dengan gadis ini, dia harus segera mati. Kalau tidak, aku yang bakal kena kutukan. Kamu tenanglah wahai pemilik kutukan, kali ini juga aku akan selamat. Kalian tidak akan bisa menghilangkan aku…hihihi..”

Aku diam terpaku. Rasa takut membuatku susah untuk membalikkan tubuhku.

Apakah wanita itu yang berbicara? Pikirku dengan gugup.

“ Jangan lagi menyiksaku! Aku sudah letih! Gadis ini akan aku persembahkan untuk kalian tapi tolong jangan ganggu aku lagi! Kalian seharusnya senang, setelah enam bulan, ada lagi korban yang bisa aku persembahkan.”

Aku tak tahan lagi. Aku berbalik lalu melangkah cepat menuju kamarku. Aku berniat untuk mengambil ransel dan secepatnya meninggalkan villa ini. Mendengar ucapan wanita itu membuatku gemetaran. Aku yakin dia tidak sedang latihan drama atau senang menghapal skenario. Ini pasti kenyataan.

Karena gugup, tak sadar foto nenek terjatuh dari ranselku. Kupandangi foto itu. Teringat pesan nenek sebelum meninggal. Haruskah aku meninggalkan villa ini tanpa mengetahui keadaan nenek Hana? Bukankah pesan terakhir nenek adalah mencari tahu keadaan nenek Hana?

“ Kamu sudah makan siang?” aku terperanjat. Tiba-tiba saja wanita itu sudah ada di belakangku. Pelan-pelan aku memasukkan foto nenek ke dalam tas.

“ Be..be..lum..” Jawabku sambil menghadap ke arahnya.

“ Kalo begitu, yuk sama-sama. Kita makan siang bareng. Sudah lama tidak ada yang menemaniku makan.”

Pandangan wanita itu sangat menakutkan. Aku tidak tahu apakah ini pengaruh dari ucapan wanita itu yang tadi ku dengar.

“ Ayo.” Panggilnya. Dia tetap berdiri menungguku keluar lebih dulu dari kamar.

Bulu kudukku merinding saat melangkah bersama wanita itu. Dia tidak berbicara lagi hingga kami berdua tiba di meja makan. Kupandangi hidangan yang tersedia. Tidak ada yang istimewa. Hanya makanan sederhana. Nasi dan sayur. Tidak ada ikan atau lauk lain sebagai pelengkap.

“ Silahkan, maaf hanya ala kadarnya. Kondisi kesehatanku membuat aku hanya mengkonsumsi sayuran.” Ucap wanita itu seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.

Dia menarik kursi lalu mendorong bahuku. Aku merasa seperti di paksa menemaninya makan siang.

Wanita itu meraih piring di depanku lalu menaruh nasi. Hanya sedikit. Dia lalu menyendokkan sayuran.

“ Silahkan, jangan malu-malu untuk nambah.” Katanya saat menyorongkan piring ke hadapanku.

Aku terpaku bingung. Haruskah aku memakan hidangan yang telah dia sajikan? Jika mendengar ucapannya yang menyeramkan, mungkinkah makanan ini telah di beri racun agar aku mati?

“ Ayo dimakan.” Kulihat dia mulai mengunyah makanannya. Aku mulai lega. Jika makanan ini beracun, pastilah wanita ini tidak akan menyantapnya. Mustahil dia ingin membahayakan dirinya sendiri. Aku mulai ragu, apakah aku yang terlalu curiga hingga berpikir yang tidak-tidak. Berpikir hal yang menyeramkan. Mengapa aku tidak mencoba untuk mencari tahu tentang nenek. Sejak tadi aku tidak melihat nenek Hana. Apakah dia masih hidup atau sudah meninggal?

“ Ibu pemilik villa ini?” aku mulai menenangkan diriku. Wanita itu mengangguk.

“ Benar.”

“ Sejak kapan, bu?” tanyaku lagi. Wanita itu terdiam beberapa saat.

“ Maksud kamu?”

“ Apa villa ini warisan orang tua?”

“ Oh, bukan. Aku pemiliknya sejak awal. Aku yang membangunnya.”

Aku makin penasaran. Apakah aku salah villa? Jangan-jangan villa ini bukan milik nenek Hana?

“ Boleh tahu, nama ibu siapa?”

“ Namaku Rohana, kalau kamu siapa?”

Tenggorokanku terasa tercekat. Kutelan makanan dengan cepat. Nama yang sama dengan nenek Hana.

“ Saya Sari, bu. Tadi sudah saya katakan.”

Wanita tersenyum.

“ Maaf aku lupa. “

“ Apa disekitar sini, ada villa yang lain, bu? Soalnya saya sedang mencari seseorang.”

“ Setahuku tidak ada lagi villa selain di sini. Boleh tahu kamu sedang mencari siapa?”

“ Hanya keluarga jauh, kebetulan saya kemari, jadi mencarinya. Mungkin saja dia sudah pindah tempat. Saya juga belum pernah bertemu dengannya.”

“ Oh, begitu. Jangan lupa, sebentar sore, kita lihat sunset ya. Indah sekali. Pertama melihatnya, aku yakin kamu akan betah disini dan tidak akan pulang. Andai kamu pulang, pasti kamu merindukan tempat ini.” Aku merasa aneh juga mendengar ucapan wanita ini. Sejak aku tiba di villa ini, dia terus mengucapkan tentang sunset. Apakah sunset di belakang villa sangat indah hingga di terkesan mempromosikan secara berlebihan?

“ Iya, bu.” Kataku kemudian.

“ Ibu tinggal dengan siapa disini? Sendirian?”

“ Iya.”

“ Ibu berani? Tidak merasa takut?” dia tertawa.

“ Sudah terbiasa.”

Aku sudah selesai makan namun untuk beranjak rasanya enggan karena kulihat wanita itu masih mengunyah makanannya.

“ Besok pagi, saya berniat turun,bu.” Wajah wanita itu tidak terkejut. Dia terlihat tenang saja.

“ Oh, ya biaya nginap semalam, berapa ya,bu?” tanyaku ketika kulihat wanita itu tidak menanggapi ucapanku.

“ Tidak usah bayar. Kamu cuma sebentar di sini.” Dia meraih segelas air lalu meminumnya beberapa teguk.

“ Aku hampir lupa. Aku ada keperluan sebentar, tolong kamu jaga villa ini, ya. Tidak lama kok, mungkin hanya satu jam.”

“ Ibu mau kemana?” tanyaku. Walau cemas, aku tidak merasa curiga dengan niatnya untuk pergi sejenak. Mungkin memang ada keperluan yang akan dia selesaikan.

Wanita itu kemudian beranjak meninggalkan meja makan. Aku menyusul di belakangnya menuju teras. Sebelum pergi dia menepuk pundakku dengan pandangan aneh. Juga ketika langkahnya baru beberapa meter, kulihat dia berbalik sambil tersenyum aneh. Semua terasa aneh menurutku. Entahlah, aku mulai ragu dengan pikiranku sendiri. Apakah benar ucapan wanita itu yang kudengar tadi di sebuah kamar. Ataukah itu hanya suara angin yang membuatku berhalusinasi?

Aku duduk di teras beberapa saat. Rasanya jenuh juga. Aku melongok melihat ke dalam rumah. Terlihat menyeramkan untuk memasukinya seorang diri. Aku lalu berdiri. Mencoba menghapus bayangan ketakutan dari pikiranku. Aku terlalu hanyut dengan cerita yang menakutkan. Toh hingga sekarang semuanya baik-baik saja.

Aku lalu memilih melangkah memasuki rumah. Aku ingin melihat ruangan dalam rumah ini lebih dekat lagi. Rasa penasaran akan villa nenek Hana membuatku tak tenang. Kalau nenek Hana tidak disini lagi, lalu dia berada dimana sekarang?

Langkahku terhenti di depan sebuah kamar yang pintunya terbuka sedikit. Kudorong pintu itu dengan debar jantung berpacu cepat. Pintu terbuka. Ruangan ini seperti gudang. Terlihat barang-barang menumpuk. Aku masuk. Kusentuh beberapa barang yang nampak sudah berdebu. Ada foto dengan bingkai yang indah. Kuraih lalu menepiskan debu yang menutupinya. Kupandangi dengan baik foto seorang wanita yang ada didepanku. Mataku membelalak. Gambar wanita dalam foto berbingkai indah tersebut adalah nenek Hana!

Foto berbingkai itu masih aku pegang. Tanganku makin gemetar. Mengapa foto nenek Hana bisa berada dalam ruangan yang mirip gudang ini? Kalau wanita itu pemiliknya, apakah nenek Hana telah menjual villa ini? Mengapa semuanya tidak jelas?

“ Ternyata kamu disini.” tiba-tiba saja wanita itu telah muncul dibelakangku. Mengapa dia begitu cepat kembali? Bukankah dia mengatakan pergi sejam?

Foto nenek Hana tidak sempat aku letakkan. Dia mengamatiku sambil tersenyum.

“ Itu foto ibuku, namanya Rukmina.” Ucapnya lalu meraih foto itu dari genggamanku. Wanita itu meletakkannya di atas tumpukan barang. Dia lalu menarik tanganku agar keluar dari ruangan.

“ Dia sudah meninggal karena itu aku tidak pernah masuk ke ruangan ini lagi.” Lanjutnya sambil menutup pintu.

“ Mengapa betah disini? Disini sangat sepi.”

“ Karena aku tidak punya rumah yang lain lagi. Aku pernah berniat menjual villa ini, tapi tiba-tiba mama muncul dalam mimpiku. Mama marah dan mengamuk. Menjambak rambutku, memukulku dengan rotan.”

Kupandangi wajahnya saat bercerita. Wajahnya terlihat sangat sedih.

“ Tidak ada saudara yang bisa ibu kunjungi?”

“ Ada. Tapi sudah lama kami tidak saling bertegur sapa. Aku membencinya dan dia juga membenciku. Namanya Rohani.” Aku seperti tersengat aliran listrik. Wanita ini baru saja menyebut nama nenekku, nenek Hani.

Apa yang terjadi sekarang ini? Mengapa wanita ini bisa menyebutkan nama yang sama persis dengan nama nenek?

“ Aku malas jika harus membicarakan masa lalu. Terlalu pahit untuk di kenang. Aku membenci mamaku, membenci Rohani dan pasti dia juga sangat membenciku. Kami terlahir kembar dan masing-masing memiliki kekurangan. Aku benci karena dia sangat lemah dan sabar, sementara dia membenciku karena sering memaksanya agar lebih berani. Menghadapi mama yang kejam, kami berdua tidak punya pilihan lain selain melawan.  Kamu jangan kaget kalau aku memberitahu satu rahasia untukmu.”

Dia menatapku lekat membuatku merinding.

“ Aku yang telah membunuh mamaku. Minumannya kuberi racun. Karena itulah Rohani sangat membenciku. Aku juga membencinya karena tidak tahu diri. Menyalahkanku atas sesuatu yang turut dia nikmati juga. Dia terbebas tanpa harus menanggung dosa. Sementara aku, sepanjang sisa hidupku aku terus merasakan ketakutan. Dikejar-kejar wajah mama yang marah dan seakan ingin membunuhku.”

Aku mendengarkan ceritanya dengan nafas tertahan.

“ Sekarang, dimana saudara ibu? Apa ibu tahu tempat tinggalnya?”

“ Dia sudah meninggal. Bukankah kamu cucunya?”

Wajahku tiba-tiba membeku. Mungkin pucat pasi dalam pandangannya. Dia menatapku sambil tersenyum.

“ Aku tahu siapa dirimu tanpa harus kamu jelaskan. Sejak kamu datang, aku tahu siapa yang kamu cari. Jangan ikut campur masalah kami. Sebaiknya kamu segera pulang dan tinggalkan tempat ini sebelum aku berubah pikiran.”

“ Tidak mungkin ibu saudara nenek. Kalau ibu saudaranya, pasti ibu sudah sangat tua. Wajah ibu juga sangat berbeda dengan nenek. Ibu pasti berbohong!”

“ Aku tidak butuh kamu percaya atau tidak. Tadinya aku ingin kamu jadi persembahanku. Tapi aku jadi ragu. Sesuatu seperti mencekik leherku membuatku sulit bernafas. Mungkin itu mama yang marah karena aku berniat jahat padamu. Sekarang lebih baik kamu segera pergi dari tempat ini. Jangan pernah kemari lagi. Soal nenek Hani mu, biar saja itu jadi masalah kami.”

Aku segera berdiri dan berjalan cepat menuju kamarku. Kuraih ransel dan keluar kamar. Kupandangi sekali lagi wanita itu saat berdiri di depan kamar. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sangat tua. Dia terlihat mirip dengan nenek Hani. Mengapa wajahnya bisa berubah demikian cepat?

Aku berlari ketakutan meninggalkan villa. Sepanjang jalan tiba-tiba kulihat banyak orang-orang berkerumun. Salah seorang malah memegang bahuku, menahan langkahku.

Kupandangi wajah lelaki itu, ternyata dia bapak tua yang tadi mengantarku.

“ Kamu baik-baik saja? Kami khawatir lalu menyusulmu dengan polisi.”

“ Ada apa, pak? Saya tidak mengerti, villa itu menakutkan.” Kataku dengan gemetar. Bapak itu merangkulku lalu membawaku duduk di bawah pohon.

“ Seseorang melaporkan ke polres kalau menemukan banyak tengkorak di lubang berbatu pinggir laut, persis di bawah bukit belakang villa. Bapak langsung teringat kamu. Syukurlah semuanya belum terlambat. Sekarang biar itu menjadi urusan polisi. Kami curiga ada pembunuh di dalam villa ini.”

Aku terpana mendengar ucapan bapak itu. Teringat nenek Hana, apakah dia juga telah di bunuh oleh wanita yang mengaku sebagai nenek Hana? Lalu siapa wanita itu, mengapa dia tahu persis masa lalu nenek?

Kami menunggu dengan cemas saat polisi menyerbu masuk ke dalam villa. Tapi mereka tidak menemukan siapapun. Semua ruangan telah di periksa, namun jejak wanita itu seperti hilang ditelan bumi. Entah dia memiliki ilmu menghilangkan diri ataukah dia hantu yang berkeliaran karena penasaran mencari mangsa.

Bapak tua itu menemaniku turun dan mengantarku hingga ke terminal bus. Aku tak berbicara sejak duduk dalam bus. Seorang ibu menyapaku namun kudiamkan dan lebih memilih memandang ke luar jendela. Dia akhirnya diam dan memilih untuk tidur.

Hujan yang turun di sepanjang jalan membuat jendela bus di penuhi embun. Aku jadi tertarik untuk menuliskan sesuatu di kaca tersebut. Kutuliskan namaku..

Aku Ibu Rohana..



0 komentar:

Posting Komentar