Lilin terkejut. Monik muncul di depan rumahnya saat dia hendak berangkat ke tempat kerja. Wajah Monik terlihat kusut. Warna hitam di bawah matanya jelas memperlihatkan kalau dia tidak tidur semalaman. Lilin mempersilahkan Monik masuk ke dalam rumah. Dia bingung dengan kedatangan Monik yang tiba-tiba.
” Lilin maaf aku mengganggu kamu lagi. Kamu pasti bisa menebak kedatanganku kerumahmu tidak lain karena Andre.”
Lilin hanya diam menatap Monik. Mata Monik sudah basah dengan air mata. Berulang kali dia mengusapnya.
” Aku hanya ingin menyampaikan kalau mamanya Andre akan memaksa kami menikah bagaimanapun caranya. Semalam mamanya Andre sudah menetapkan tanggal pernikahan kami. Masalah kita membuatnya hilang kesabaran. Padahal aku sudah berusaha untuk membujuknya tapi karena Andre yang keras hati makanya tidak ada kompromi dari mamanya Andre.”
Lilin menangis. Menangis dalam hati. Dia tahu akan kemana arah pembicaraan Monik. Tak perlu Monik lanjutkan Lilin sudah tahu. Tapi Lilin hanya diam terpaku. Serasa tak percaya dengan apa yang didengarnya. Monik dan mas Andre akan menikah? Tanyanya dalam hati.
” Aku takut saat akan menikah nanti Andre pergi bersamamu. Maka sekarang aku datang untuk memohon agar kamu bersedia meninggalkan Andre. Pergi tanpa memberitahu dia. Aku mungkin bisa menahan rasa kalau dia menghilang dihari pernikahan kami. Tapi orang tuaku, orang tua Andre. Apa yang akan terjadi dengan mereka. Aku takut papaku akan kena serangan jantung. Kamu mungkin bisa merasakan kehilangan orang tua. Aku takut kehilangan mereka bersamaan waktunya dengan kehilangan Andre. Entah bagaimana aku bisa bertahan.”
Lilin tertunduk. Memainkan jari jemarinya. Dia tahu sudah tiba saatnya dia harus memutuskan. Hatinya serasa hancur berkeping-keping saat dia mendekati Monik dan menyentuh jemari gadis itu.
” Mbak Monik tenang saja. Mas Andre tidak akan meninggalkan mbak di hari pernikahan. Saya janji.”
Lilin berkata dengan bibir gemetar. Dia baru saja mengucapkan kata perpisahan untuk Andre walaupun tidak secara langsung. Monik langsung memeluknya sambil menangis. Lilin sekuat tenaga menahan air matanya. Dia tahu saat Monik pergi nanti pasti airmatanya akan deras mengalir. Lebih baik dia menangis sekarang daripada nanti saat melihat Andre dan Monik menikah. Memutuskan untuk secepatnya menghilang dari kehidupan Andre akan memberinya kesempatan untuk membenahi hatinya yang porak pornda. Walau Lilin tidak yakin apakah dia bisa melupakan Andre. Melupakan Andre berarti melupakan cintanya. Dua hal yang sangat sulit untuk dilakukan.
**
Andre gelisah. Seharian dia menghubungi handphone Lilin tapi tidak pernah aktif. Karena tidak bisa menahan rasa gelisah yang terus menyerangnya Andre mendatangi rumah Lilin. Hanya paman Lilin yang dia temui di sana.
” Lilin nggak bilang dia mau kemana?” tanya Andre dengan rasa gelisah yang teramat sangat. Paman Lilin masuk ke dalam kamar Lilin lalu mengeluarkan sebuah kotak ukuran sedang. Dia menyerahkan ke Andre.
” Ini titipan Lilin dia minta paman menyerahkan ke nak Andre.”
Andre menerimanya dengan pandangan heran.
” Inikan handphone milik Lilin, paman? Kenapa dikembalikan? Aku dulu yang membelikan handphone ini untuk dia?”
” Didalamnya ada surat. Nak Andre bisa membacanya. Nak Lilin sudah pergi. Paman harap nak Andre bisa melepaskan nak Lilin menjalani hidupnya.”
Wajah Andre pucat seakan baru menyadari maksud dari kata-kata paman Lilin. Dia terduduk lemas di kursi. Perasaannya kacau. Rasa sedih, sakit, dan kecewa bercampur aduk. Dibukanya kotak handphone dan mengeluarkan kertas yang ada didalamnya.
Mas Andre, terima kasih karena sudah mencintai saya. Saya jadi yakin kalau rasa yang ada dalam hati bukan hanya perasaan saya saja. Mimpi kita sama. Tapi ada yang nyata yang menanti mas Andre. Jangan karena mimpi, mas Andre melupakan kehidupan nyata. Maafkan saya karena tak bisa menemani mas Andre mewujudkan mimpi. Biarlah mimpi itu menjadi mimpi kita selamanya.
Lilin
Andre meremas surat itu. Dia geram. Terlihat jelas diwajahnya. Dia berusaha menahan amarah. Andre tahu mengapa Lilin ingin pergi meninggalkannya. Padahal dia sudah berjanji akan menjalani semua rintangan yang menghalangi mereka.Andre berdiri. Setelah mohon pamit ke paman Lilin dia keluar dari rumah. Tergesa-gesa dia melangkah menuju mobilnya. Hatinya menyimpan bara. Terlihat dari matanya yang menatap tajam seperti macan yang akan menerkam mangsanya.
Setelah berjam-jam diperjalanan karena terhalang macet akhirnya Andre tiba di tujuan. Dia memarkir mobilnya di parkiran. Kemudian berjalan kaki menuju gedung yang terlihat megah. Satpam mengucapkan salam sambil tersenyum. Andre kemudian melangkah menuju lift. Wajahnya terlihat tegang karena menahan amarah. Lift berhenti. Andre keluar dan berjalan dengan cepat. Tiba disebuah ruangan Andre langsung membuka pintu. Seorang wanita tersenyum menyambutnya.
” Ibu ada?” tanyanya dengan menahan rasa gelisah.
” Maaf, bapak sebelumnya sudah ada janji?” Andre yang sudah dalam keadaan emosi mendapat pertanyaan seperti itu menjadi hilang kesabaran. Dia bergerak menuju pintu yang tertutup. Si wanita menegurnya tapi Andre tak peduli. Dia menyusul Andre. Andre terus saja membuka pintu. Seseorang yang ada di dalam mendongak kaget karena sedang menulis sesuatu.
” Andre?” Monik berseru kaget. Dia memberikan kode agar sekretarisnya segera keluar. Sekretarisnya mengerti. Dia lalu menutup pintu. Andre tanpa basa basi langsung memilih duduk di depan meja Monik. Monik menghentikan menulisnya. Dia memandangi wajah Andre yang penuh amarah.
” Ada apa? Kenapa nggak ngomong dulu kalau mau datang?” Andre tersnyum sinis.
” Apa yang kamu katakan pada Lilin? Kenapa sekarang dia menghilang? Aku yakin dia tidak akan semudah itu menghilang kalau tidak ada sesuatu yang membuatnya rela untuk pergi.”
Monik tertunduk beberapa saat. Dia seperti ingin mengumpulkan kata-kata yang pas untuk menjelaskan ke Andre. Melihat dari raut wajah Andre, Monik yakin penjelasan yang menyimpang sedikit saja akan memicu emosi Andre untuk keluar.
” Benar. Tapi aku tidak memintanya untuk pergi. Aku hanya memberikan gambaran apa yang akan terjadi sekiranya dia bertahan. Karena aku juga tidak akan semudah itu melepaskan hubungan kita. Kalau dia bijak memikirkan apa yang akan dia dapatkan kalau dia bertahan, maka keputusannya untuk pergi berarti dia sudah sadar, dia tidak akan mendapat apa-apa.”
Andre mengalihkan pandangnya sambil tersenyum. Dia kemudian menatap Monik lagi.
” Kamu sekarang pintar berkata-kata. Jelas saja Lilin akan memilih pergi. Dia tidak mungkin tinggal setelah mendengar kata-kata seperti itu.”
” Andre tolong jangan bersikap seperti ini.” pinta Monik dengan tatapan sendu.
” Kita sudah hampir menikah. Mamamu sudah menetapkan tanggal pernikahan kita. Apa lagi yang kamu harapkan? Mamamu akan rela membatalkannya? Kekerasan mamamu sama denganmu. Kalau aku boleh menasehati kamu, lebih baik mengalah. Ikuti saja mamamu.”
” Maksudmu kita jadi menikah? Itukan yang mamaku dan kamu inginkan?”
” Andre! Aku juga punya harga diri. Aku tidak akan memaksamu menikah denganku kalau kamu tidak ingin. Tapi karena masalah sudah demikian rumit, kita tidak bisa menghindar selain menjalani. Aku hanya ingin kita menikah. Setelah itu terserah kamu, kita terus menjalani pernikahan atau bercerai.”
Andre terkejut mendengar kata-kata terakhir Monik. Dipandanginya Monik dengan tatapan heran.
” Aku sudah memutuskan. Untuk menghindari masalah yang lebih rumit, lebih baik kita menikah. Semua akan bungkam saat kita menikah. Saat situasi tenang, baru kita bercerai.” kata Monik dengan wajah yang terlihat yakin.
” Maksudmu, kamu mengajakku ke dalam rencanamu?” Monik mengangguk.
” Setelah itu terserah mas Andre. Mau terus dalam pernikahan denganku atau kita bercerai dan mas Andre bisa mencari Lilin lagi.” Andre terdiam. Dia memikirkan kata-kata Monik. Sepertinya bukan ide yang buruk. Di saat yang sama Monik sedang berdoa semoga Andre menerima idenya. Dia hanya ingin menyelesaikan masalah yang ada saat ini. Setelah Andre menikah dengannya, maka lain lagi pemecahan masalah yang ingin dia terapkan.
Setelah beberapa menit terdiam Andre kemudian menatapnya.
” Aku setuju. Setelah menikah kita bercerai.”ucap Andre dengan suara tegas. Sepertinya dia betul-betul yakin Monik akan menerima perceraiannya setelah mereka menikah. Monik tersenyum. Dalam hati dia bersorak. Saat ini dia telah memegang satu poin kemenangan.
*
SATU TAHUN KEMUDIAN…….
” Lin, kamu dirumah?” teriak Sita dari teras. Lilin yang sedang ada di kamar bergegas keluar.
” Ada apa, mbak?” Lilin duduk di tembok yang menjadi pembatas di teras. Sita tersenyum.
” Aku ada kabar baik untuk kamu.”
” Kabar baik apa, mbak?” Sita mendekati Lilin dan ikut duduk di tembok.
” Aku dapat kerjaan untuk kamu.”
” Kerjaan? Kerjaan apa mbak?” tanya Lilin antusias. Dia jadi bersemangat setelah beberapa hari ini terlihat lesu. Sudah sebulan dia berhenti kerja karena PHK di pabrik.
” Kenalan majikanku mencari seorang baby sister. Nah Majikanku disuruh nyari orang.” Lilin berubah lesu. Tadi dia begitu gembira mendengar kabar akan dapat pekerjaan tapi setelah Sita mengucapkan kata-kata baby sister, kegembiraannya menguap. Sita jadi heran.
” Mbak gimana sih? Jadi baby sister itu harus ikut pelatihan dulu. Nggak main kerja saja.”
” Lho, apa salahnya? Kamu suka anak-anak, kamu keibuan, kamu lembut.Kurangnya apa?”
Lilin tertawa.
” Harus ikut pelatihan mbak. Bagaimana cara merawat bayi atau anak-anak, ada ilmunya juga. Nanti orang tuanya komplain, gimana?”
” Pokoknya kamu ikuti mbak saja. Sekarang bukan waktunya protes. Kamu butuh kerja, terima. Kecuali nanti mereka nggak sreg atau kamu yang nggak betah, ya kamu berhenti saja. Majikanku itu percaya sama aku. Intinya harus jujur itu saja katanya. Apalagi dia maunya aku yang nyariin. Kan lucu kalo mbak nawarin ke orang lain, padahal kamu masih nganggur.”
Lilin masih terlihat ragu. Sita menepuk lengannya.
” Ayolah. Kata orang satu pintu bisa membuka pintu yang lain. Siapa tahu dengan kerja di sana kamu bisa dapat kerja yang lebih baik lagi. Dengar-dengar mereka kaya banget..”
Lilin akhirnya mengangguk walau dari wajahnya nampak jelas keraguan yang menggantung.
**
Esoknya Lilin bersama Sita menemui majikan Sita. Majikannya terlihat suka dengan penampilan Lilin. Dia menyetujui tanpa bertanya lagi. Sepertinya dia percaya sepenuhnya dengan pilihan Sita. Sita memang sudah lama ikut dengannya, karena itu dia percaya apapun yang di pilihkan Sita.
” Besok, kamu kesini lagi tapi jangan lupa bawa pakaian. Karena kamu akan langsung tinggal di sana.” ucap majikan Sita sambil tersenyum ramah.
Majikan mbak Sita memang baik, pantas saja mbak Sita betah kerja di tempatnya, pikir Lilin.
Mereka kemudian pamit.
**
Pagi-pagi sekali Lilin sudah berangkat ke tempat majikan Sita. Dia tidak lama menunggu karena orang yang menjemputnya telah menunggunya sekitar setengah jam.
” Nama mbak, Lilin ya?” tegur sopir yang menjemputnya. Sejak tadi mereka hanya diam. Lilin asyik memandang keluar. Melihat-lihat tempat-tempat yang mereka lewati.
” Iya.”
” Mudah-mudahan mbak betah kerja di sana. Selama tuan ada dis ana sudah banyak perawat yang di pekerjakan tapi kemudian minta berhenti. Mereka tidak tahan karena tuan emosinya tidak stabil.”
” Maksud bapak, orang tua dari anak yang akan saya rawat?” Pak sopir meliriknya sekilas.
” Anak? Mbak bukan merawat anak tapi anak muda.”
” Saya kan jadi baby sister.” Sopir itu tertawa.
” Aduh pasti informasinya salah nih. Tuan belum menikah. Bagaimana bisa ada bayi yang harus di rawat? Tempo hari saya bilang sama Ibu Devi tolong dicarikan orang yang bisa ngerawat.. seperti baby sister begitu..ha..ha.. ternyata keterusan baby sisternya.”
Sopir itu terus tertawa. Mungkin dia merasa geli. Dia tidak melihat Lilin di sebelahnya masih tetap bingung.
” Asal mbak tahan banting saja. Kalau mbak bisa sabar menghadapi.. kalau bisa..karena banyak yang gagal.” sopir itu berucap lagi.
” Orangnya jahat ya?”
” Nanti mbak akan liat sendiri seperti apa orangnya. Untunglah saya jarang berhubungan dengan beliau. Sayakan sopir. Tugas hanya antar jemput..he..he..”
Lilin tidak suka mendengar tawa dan melihat senyuman bapak sopir disebelahnya. Seperti ada sesuatu yang buruk yang menantinya di tempat kerjanya yang baru. Mendadak timbul rasa cemas dalam hati Lilin. Seandainya dia bisa kembali ke kota. Tapi jarak ke kota sangat jauh. Tidak mungkin dia kembali.
Mereka memasuki daerah perbukitan yang hijau. Sepertinya tempat yang akan mereka tuju adalah sebuah villa. Setelah setengah jam berada di perbukitan. Mereka kemudian tiba di sebuh Villa yang sangat indah. Suasana sangat asri karena begitu banyak bunga dan tanaman lain yang memenuhi halaman. Seorang wanita berlari-lari dari dalam rumah menyambut mereka. Dia tersenyum ke arah Lilin lalu dengan sigap dia mengambil tas yang di bawa Lilin.
” Ada kabar terbaru, Leha?” tanya pak sopir sambil menutup pintu mobilnya. Dia kemudian mengikuti langkah Lilin dan wanita yang tadi di panggilnya Leha. Leha terlihat cemas.
” Pak Rinto kayak nggak kenal tuan saja. Setiap hari kalau tidak bikin tegang, bukan tuan namanya.”
Pak Sopir yang ternyata bernama Rinto tersenyum.
” Sekarang apa lagi?”
” Tuan ngamuk karena perawat nggak ada. Dia mau perawat sekarang juga ada di kamarnya, untunglah pak Rinto segera datang. Saya sudah kehabisan alasan. Beliau marah-marah terus.”
” Lebih baik sekarang kamu bawa mbak ini ke kamar tuan. Asal dia melihat ada perawat pengganti, pasti dia jadi tenang.”
Lilin yang berjalan beriringan dengan mereka jadi terkejut. Dia tiba-tiba merasa takut. Mendengar pembicaraan mereka membuatnya tidak berani untuk memulai kerja.
” Apa saya bisa membatalkan rencana saya kerja disini?” ucap Lilin dengan wajah cemas. Pak Rinto dan mbak Leha langsung menghentikan langkah mereka. Terlebih mbak Leha, tas Lilin yang dibawanya terjatuh dari tangannya.
” Mbak mau berhenti? Jangan sekarang! Sekarang kondisi sedang gawat. Kalo mbak berhenti bisa-bisa kami yang kabur dari sini.”
Mbak Leha kemudian memegang tangan Lilin.
” Ayo ikut saya. Mbak harus ketemu tuan. Sejak pagi tuan mencari orang yang bisa berada didekatnya, mengurusnya.”
Tanpa menunggu persetujuan Lilin, mbak Leha langsung menarik tangan Lilin memasuki ruangan. Mereka naik kelantai dua.
Lilin mulai gemetaran sejak mendengar tentang orang yang akan dirawatnya. Apakah dia dapat bertahan menghadapi tuan yang pemarah seperti itu? Lilin terus bertanya-tanya dalam hati.
” Nih, ruangannya disini, mbak.” katanya lalu membuka pintu.
” Tuan, saya Leha. Saya bawa orang yang akan mengurus tuan!” teriak Leha dari balik pintu yang belum seluruhnya terbuka. Walau belum ada balasan, Leha tetap masuk ke dalam. Lilin ikut di belakangnya. Wajah Lilin sangat pucat. Sejak masuk dia terus berdoa. Dia benar-benar ketakutan. Rasanya seperti masuk ke sarang macan.
Tiba-tiba Leha berhenti. Dia mendorong Lilin untuk terus berjalan. Sambil menggunakan isyarat tangan dia menunjuk ke ruangan di depan mereka.
” Ayo.. terus saja jalan ke sana.” Leha berbisik. Dia kemudian berbalik meninggalkan Lilin. Dia keluar dari ruangan lalu menutup pintu.
Lilin tegang. Kakinya serasa sulit melangkah. Akhirnya dia berjalan juga walau dengan perlahan. Semakin dekat jantung Lilin berdetak kian cepat. Akhirnya dia bisa melihat seseorang yang sedang duduk di depan jendela. Orang itu menatap keluar seolah sedang mengamati sesuatu.
Lilin berjalan mendekatinya.
” Kamu orang baru itu?” tanya orang itu tanpa berbalik. Lilin tersentak kaget. Bagaimana dia bisa tahu kalau Lilin ada di belakangnya? Lilin mengangguk tapi sedetik kemudian dia sadar orang itu tidak melihatnya.
” Iya tuan, saya yang akan bekerja disini. Nama saya Meylin.. panggil saja saya Lilin..saya…..”
Lilin belum selesai dengan kalimatnya karena orang itu tiba-tiba berbalik. Mereka berdua terkejut. Mata Lilin tak berkedip memandang tuan yang baru saja di temuinya. Lama mereka saling pandang. Seperti sedang berbicara melalui bahasa mata, tak seorangpun yang bergerak dari tempatnya.
” Lilin?” Pemuda itu menyebut namanya. Dia ternyata adalah Andre. Andre terdiam tidak bisa mendorong kursi rodanya.
” Mas Andre?” ucap Lilin sambil melangkah maju. Mendekati Andre yang tak berhenti memandangnya. Lilin menangis. Dia tidak menyangka akan bertemu Andre dengan kondisi memakai kursi roda. Dia jatuh terduduk di depan kursi roda Andre. Andre meraih tangannya. Menarik Lilin hingga berdekatan dengannya. Diusapnya air mata yang mengalir di pipi Lilin.Tangannya memegang kedua pipi Lilin. Dia melihat tanpa berkedip seolah ingin meyakinkan dirinya kalau yang ada didepannya benar-benar Lilin. Setelah yakin dia langsung memeluk Lilin. Mereka berdua saling berpelukan dalam tangis. Tak ada yang berbicara, hanya suara tangisan mereka yang terdengar.
Orang-orang yang ada dalam villa tersebut menunggu dengan cemas kabar dari Lilin. Sejak tadi Lilin belum keluar dari kamar. Biasanya kalau ada orang baru, pasti akan keluar dengan tetesan air mata. Mereka tidak tahu Lilin juga menangis tapi tangisan kebahagian. Akhirnya dia menemukan kembali cintanya yang hilang. Andre dan Monik ternyata tidak jadi menikah. Andre tidak sengaja mendengar rencana Monik saat Monik berbicara dengan ibu Prita.
Karena merasa tertipu, Andre jadi emosi. Putus asa membuatnya tanpa sadar menyetir mobil dengan kecepatan tinggi. Dia kecelakaan. Untunglah dia tidak tewas. Tapi karena kecekaan itu dia jadi lumpuh. Orang tua Monik akhirnya menolak menikahkan anaknya dengan Andre. Mereka tidak ingin punya menantu cacad. Padahal Andre tidak sepenuhnya cacad. Dia bisa berjalan lagi tergantung motivasi dan semangat yang ada dalam hatinya. Sekarang saat bertemu dengan Lilin, sepertinya semangat itu mulai menghiasi seluruh hati dan jiwanya.
T A M A T
0 komentar:
Posting Komentar