Senin, 19 Desember 2011

Hana ( 1 )

0



Inka kesal sekali. Liburan yang dibayangkannya jauh dari rencana. Ayahnya memintanya berlibur dirumah pamannya yang tinggal di pusat kota. Ayahnya beralasan sudah lama mereka tidak berkunjung sejak ibunya meninggal. Tapi Inka tidak berani menolak karena sejak ibunya meninggal tiga tahun yang lalu, ayahnya jadi begitu protektif menjaganya.

Jangan lupa, siapkan pakaianmu ,  minta bi Inah yang atur. Besok kita berangkat. Ayah ke kantor dulu.” Ucap ayahnya tak lupa mencium pipi Inka. Ayahnya langsung beranjak pergi tanpa memperhatikan wajah Inka yang sendu.

Malamnya Inka tidak bisa tidur. Dia sudah membayangkan hari-hari yang nanti akan dilewatinya. Liburan dipusat kota? apanya yang asyik. Seharusnya saat ini dia bersama teman-temannya mendaki gunung. Tapi apa yang dikatakan ayahnya tentang rencananya itu?

Kamu perempuan tidak ada gunanya ikut-ikut kegiatan macam begitu!”

Tapi,Yah.”

Tidak ada tapi-tapian, pokoknya liburan kali ini kita ke rumah pamanmu. Apa kamu pikir ayah bisa ikut kamu mendaki gunung?” Inka jadi bengong sendiri. Bingung dengan ucapan ayahnya.

*****

Akhirnya mereka jadi ke rumah paman Inka. Sepanjang jalan ayahnya terus membicarakan pamannya. Inka bosan juga. Tapi dia bisa apa. Kalau ayahnya sudah memutuskan sesuatu maka tidak dapat diubah lagi.

Di sana nanti kamu tidak akan kesepian, kan ada Fian yang bisa kamu ajak jalan-jalan.” Ayahnya menyebut nama sepupunya. Inka jadi membayangkan lagi wajah sepupunya itu. Bagaimana wujudnya sekarang? Terakhir mereka bertemu sepuluh tahun yang lalu saat masih anak-anak. Sewaktu ibu Inka meninggal tiga tahun yang lalu, Fian tidak datang. Dia tinggal dirumah neneknya. Jadi hanya paman dan bibinya yang datang melayat.

Hampir tengah hari mereka tiba di rumah pamannya, Pak Sunandar. Tapi bukan pak Sunandar yang menyambut mereka melainkan wanita setengah baya yang bekerja sebagai pembantu di rumah tersebut. Dari perkenalan Inka tahu kalau namanya bi Pati.

Maaf, Pak. Tuan tadi terima telpon, langsung buru-buru pergi..” ucapnya sambil mengangkat koper dan tas ke dalam rumah untuk selanjutnya di bawa ke kamar. Inka dan ayahnya mengikuti di belakang bi Pati.

Tapi tuan sudah titip pesan kalau nanti Bapak datang, biar nanti saya yang urus, silahkan pak,Non…” katanya ramah. Inka langsung merebahkan tubuhnya di pembaringan. Tapi ayahnya malah berjalan-jalan dalam rumah. Beberapa waktu kemudian ketika mencari ayahnya Inka mendapati ayahnya sedang memandangi lukisan yang ada di teras belakang.

Lukisan siapa,yah?”

Ibunya Fian.” jawab ayahnya singkat. Inka berdiri di samping ayahnya dia ikut memandangi lukisan itu. Wanita yang cantik, pikirnya. Tapi kenapa lukisan bibinya di taruh di teras belakang? apa tidak ada tempat yang lebih baik lagi di dalam rumah?.

Cantik kan? bibimu memang wanita yang cantik.” Inka mengangguk.

Tapi yah, kenapa di taruh di sini? nggak di taruh di dalam?” ayahnya duduk di kursi kayu tidak jauh dari situ.

Kalau itu, nanti kamu tanyakan langsung sama pamanmu. Ayah pikir pasti ada alasannya.”

Sayang ya, bibi sudah meninggal. Coba kalau belum. Pasti kita sudah makan kue buatan bibi yang enak itu.” Inka membayangkan kue buatan bibinya yang selalu dikirim kerumahnya.

Inka masih terus berceloteh ketika ada suara dari belakang mereka.

Tomo! Maaf tidak menyambut kalian. Tadi ada telpon dari klien, aku langsung pergi.” Inka memandangi paman dan ayahnya saling berpelukan. Pamannya tidak berubah. Tetap tampan dan menarik seperti biasa. Pak sunandar memandangi Inka. Senyumnya melebar.

Sudah jadi gadis yang cantik rupanya kamu, paman harap kamu betah disini. O,ya sudah ketemu Fian?” tanya pamannya sambil memeluk Inka.

Belum.”

Mungkin dia belum pulang.”

Bi Pati muncul dipintu.

Tuan, makanan sudah siap.”

Pak Sunandar berdiri.

Ayo,kita makan siang dulu. Silahkan,jangan malu-malu Inka. Anggap aja rumah sendiri.” Ucapnya sambil merangkul Inka.

*****

Makan siang yang menyenangkan. Setidaknya menurut Inka begitu. Karena ayah dan pamannya asyik sekali ngobrol. Inka sesekali menimpali kalau ada hal yang ditanyakan pamannya. Walau sebenarnya Inka tidak terlalu menikmati. Dia merasa tidak nyaman dengan kondisi rumah. Suasana rumah yang bernuansa tradisional, lengkap dengan perabotan antik menambah kesan misterius rumah ini. Apalagi luas rumah yang menurut Inka terlalu berlebihan untuk dihuni dua orang, paman dan sepupunya. Mengitari rumah ini saja pasti sudah membuat lelah.

Pikirannya melayang keteman-temannya. Pasti mereka sedang bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Apa yang nanti akan dia ceritakan pada teman-temannya?. Apa yang menarik untuk diceritakan. Tidak ada petualangan seru yang biasa mereka jalani saat liburan.

Selesai makan, Inka mohon diri untuk istrahat di kamar. Ayahnya masih asyik ngobrol dengan pamannya. Dua orang itu kalau sudah ketemu pasti sibuk membicarakan berbagai hal, sampai mereka lupa kalau ada Inka disekitar mereka. Inka maklum. Wajar saja bertahun-tahun ayahnya hanya ditemani Inka, pokok pembicaraan tentu tidak sama.

Inka tertidur dan baru terbangun sore harinya. Perjalanan yang jauh membuatnya lelah. Ketika membuka matanya Inka tidak menemukan sosok ayahnya. Mungkin di kamar sebelah. Mereka memang ditempatkan di kamar yang terpisah. Selesai mandi Inka keluar kamar. Inka mengeluh pelan, rumah ini terlalu luas. Dia melewati beberapa ruangan, ketika berpapasan dengan bi Pati. Wanita itu memberitahu kalau ayah dan pamannya sedang ada di halaman samping. Rumah dan halaman paman bersaing luasnya. Kenapa paman tidak menjualnya saja lalu membuat rumah yang lebih mungil yang cocok untuk mereka, pikir Inka.

Baru hendak melangkah menuju halaman samping Inka melihat sosok anak muda yang sedang duduk di ruang televisi. Sejenak Inka berpikir siapa anak muda itu. Tapi kemudian dia tersenyum. Dia pasti Fian. Inka langsung mendekatinya .

Fian Ya?” tanyanya dengan senyum simpatik. Yang di sapa juga tidak kalah kaget.

Eh,iya.kamu inka kan? ayahku sudah cerita kalau kamu dan ayahmu mau datang kemari.” Ucapnya. Fian kelihatan kikuk.

O,ya. Gimana kabar kamu? kamu sudah kuliah, ya?”

Baik. Eh,iya,maaf saya ke kamar dulu ya. Mau ambil laporan tugas.” Fian langsung pergi. Inka hanya tertegun menatapnya. Inikah Fian? apa karena baru bertemu, dia jadi gugup begitu?. Inka terpaku ditempatnya beberapa menit karena bingung dengan sikap Fian, kemudian dia sadar tujuannya untuk mencari ayahnya.

*****

Kegembiraan Inka yang bertemu Fian sedikit demi sedikit memudar. Sekarang yang ada malah rasa jenuh berkepanjangan karena kesepian. Sudah lima hari dia menginap ditempat ini tapi hanya dua kali dia berbicara dengan Fian. Aneh juga. Apa orang yang kuliah memang sesibuk itu. Pamannya malah lebih parah. Inka hanya bertemu pamannya saat sarapan dan makan malam. Itupun kalau pamannya tidak ada janji dengan klien. Ayahnya yang sediaanya menemani Inka selama liburan, tiba-tiba harus balik ke rumah karena ada masalah dipeternakan. Pak Hasan yang dipercayakan mengurus peternakan tiba-tiba jatuh sakit. Walau berat hati ayahnya terpaksa harus rela meninggalkan Inka.

Setelah ayahnya pergi, Inka baru merasakan bagaimana bahagianya jika ayahnya ada. Walau mereka hanya berdua di rumah,tapi tidak ada waktu yang terlewati tanpa kebersamaan. Berbeda sekali yang Inka rasakan dengan kehidupan paman dan sepupunya. Inka nyaris tidak percaya melihat kehidupan mereka. Hubungan ayah dan anak di mana?. Fian seharian kuliah. Kalaupun pulang pasti berdiam diri dikamarnya, entah apa yang dia lakukan. Pamannya pergi pagi dan pulang kadang larut malam. Walaupun ramah tapi Inka merasa obrolan yang ada diantara dia dan pamannya hanya sekedar basa-basi. Berbeda sekali ketika ayahnya ada.

Walau begitu Inka tidak mau membebani pikirannya. Mungkin pamannya terlalu capek, terlalu banyak yang dipikirkan atau ada hal-hal yang dil uar penglihatan Inka. Mungkin pamannya berkomunikasi dengan Fian lewat Handphone. Sekarangkan berkomunikasi tidak sulit lagi. Teknologi sudah maju. Dengan handphone seseorang bisa dihubungi dimanapun dia berada. Jarak bukan lagi masalah. Tapi apa tidak perlu lagi bertatap muka? Apa paman tidak merindukan anaknya? ataukah Fian yang tidak merindukan ayahnya?

Suntuk dengan pikirannya sendiri, Inka berinisiatif berjalan-jalan dalam rumah. Kalaupun tidak ada yang menemani setidaknya dia punya kesibukan. Melihat-lihat rumah pamannya. Heran kemana Bi Pati? pembantu itu sama susahnya ditemukan!

Inka membuat rencana. Target awal adalah berjalan-jalan di lantai tiga, baru turun ke lantai dua, kemudian lantai satu. Selanjutnya mengelilingi halaman. Kebetulan di halaman belakang dan samping banyak tanaman dan pohon buah-buahan. Entah buah apa.Yang pasti rencana Inka sudah matang. Daripada sibuk memikirkan kondisi di rumah pamannya, lebih baik dia membuat daftar kegiatan sendiri.

Target pertama lantai tiga. Inka mulai menaiki anak tangga satu persatu. Inka merasa takut juga. Suasana hening membuat pikirannya bercabang kemana-mana memikirkan hal-hal yang menakutkan. Andai perabotan dirumah ini tidak begitu antik dan banyak jendela sehingga cahaya leluasa untuk masuk, mungkin suasananya tidak terlalu menyeramkan. Menurut ayahnya, pamannya baru tiga tahun tinggal ditempat ini. Sebelumnya mereka tinggal pinggiran kota dan rumahnya tidak sebesar dan seluas ini.

Sambil berbicara sendiri Inka terus menaiki anak tangga. Akhirnya dia sampai di lantai tiga. Tempat yang baru pertama kali Inka masuki sejak datang ke rumah ini. Lantai satu sudah terlalu luas untuk dikelilingi mana sempat dia berpikir mau ke lantai tiga. Inka memperhatikan perabotan yang ada. Sepertinya pamannya sangat menyukai benda-benda unik. Di lantai tiga ini penuh dengan benda-benda antik. Inka tertarik untuk melihat setiap kamar. Kenapa pamannya tidak menyewakan saja atau menjadikan rumahnya penginapan. Begitu banyak kamar yang tidak terpakai.

Kamar pertama Inka buka. Matanya langsung membelalak. Isi kamar inipun sangat lengkap dan tertata rapi. Pikiran Inka langsung tertuju ke Bi Pati. Wanita itu apa sanggup membersihkan rumah ini sendirian? Wajar saja kalau mencarinya dalam rumah begitu susah. Mungkin saja dia ada di salah satu kamar sedang membersihkan atau merapikan isi kamar. Inka membuka pintu kamar berikutnya, kondisinya sama lengkap dan rapi. Begitu juga dengan kamar-kamar yang lainnya.

Total kamar ada sepuluh. Belum lagi ruang tengahnya yang bisa dijadikan lapangan sepakbola andai perabotan antik itu tidak ada memenuhi ruangan. Inka melirik jam tangannya. Sudah jam satu lewat lima menit. Inka mulai merasa haus dan lapar. Dia bergegas turun dan melangkah kedapur. Benar juga Bi Pati pasti ditemukan di dapur kalau waktunya makan. Di luar waktu itu jangan harap menemukan bi Pati. Kadang Inka memasak sendiri mi instant kalau dia ingin makan mie. Menyeduh teh sendiri karena bi Pati menghilang entah kemana.

Silahkan makan, Non. Sudah bibi siapkan. O,ya non darimana saja? tadi bibi ke kamar mau manggil non untuk makan, tapi non Inka tidak ada di kamar.” Inka menarik kursi makan lalu duduk.

Saya malah mencari bibi kemana-mana. Bibi kemana sih? susah sekali ketemunya?”

Bi Pati hanya tersenyum.

Anu Non,itu.. lagi beres-beres ruangan..” Inka melihat hidangan yang ada.selera makannya langsung timbul. Makanannya sederhana tapi aromanya itu sungguh membangkitkan selera. Sambil makan Inka memperhatikan Bi Pati. Dia baru saja hendak bertanya tentang kondisi rumah pamannya, ketika handphonenya berbunyi. Dari ayahnya.

Halo, ayah. Kapan balik kesini lagi? Inka suntuk disini sendirian!” wajah Inka memelas. Bi Pati hanya tersenyum melihatnya.

Nggak jadi? kalo gitu Inka pulang juga deh. Nggak ada ayah, nggak seru.”

Akh..ayah. Masa Inka liburan sendirian?” jawab Inka kesal. Sepertinya ayahnya melarangnya untuk pulang. Karena setelah lama terdiam mendengarkan handphonenya, wajah Inka berubah sendu.

Baik yah,daagh…” Kalau tadi Inka bersemangat untuk melahap hidangan yang ada, sekarang seleranya langsung lenyap. Dia hanya sibuk mengaduk-aduk nasi yang ada di piringnya.

Kenapa non? non nggak betah disini?” bi Pati menghampiri.

Bagaimana mau betah! sepertinya hanya saya sendiri di rumah ini yang merasakan kesepian! paman dan Fian sibuk dengan urusannya sendiri. Lha bibi banyak pekerjaan dalam rumah yang harus diselesaikan..” Inka menghentikan ucapannya. Matanya langsung berbinar.

Bi pati, bagaimana kalau saya bantu bi pati beres-beres rumah? daripada saya bengong? kan sekalian bisa ngobrol.” Usul Inka. Mata bi Pati seperti mau melompat saking kagetnya.

Tapi non, kalau tuan tahu gimana?” Wajah bi Pati nampak cemas. Inka langsung melahap lagi makanannya.

Tenang aja, nanti saya sampaikan ke paman. Nanti juga kalau bibi ke pasar,saya ikut yah.” Wajah bi pati tambah lesu.

Selesai makan Inka bergegas menuju lantai dua. Kondisinya sama juga ada sepuluh kamar. Inka melihat tiap kamar. Walaupun kali ini dia tidak begitu lama berada di dalam karena kondisinya tidak jauh berbeda dengan yang di lantai tiga. Akhirnya Inka turun ke lantai satu. Satu hal yang Inka sadari, masih banyak tempat di lantai satu ini yang belum dia masuki. Karena model ruangan di lantai tiga dan lantai dua berbeda dengan yang di lantai satu. Ada tembok yang memisahkan antara ruangan untuk tamu dan ruangan untuk tuan rumah. Jadi meskipun sudah bolak balik dari kamarnya keruangan lain, tetap saja Inka tidak pernah memasuki ruangan di mana terletak kamar Fian dan pamannya. Mungkin pamannya memang sengaja membuat ruangan khusus untuk menjaga privasinya jika ada tamu atau keluarga yang berkunjung.

Inka berdiri di depan pintu kamar. Entah kamar siapa yang pasti diruangan ini ada tiga pintu kamar. Kamar yang ada di depan Inka sekarang ini adalah kamar yang letaknya paling depan. Agak ragu Inka memegang gerendel pintu. Pikirannya berkecamuk, apakah ini tidak terlalu lancang? tanyanya dalam hati.Agak lama Inka bimbang tapi rasa penasarannya lebih besar menguasai pikirannya.

Akhirnya pintu terbuka dan Inka langsung tahu siapa pemilik kamar ini, Fian. Siapa lagi yang menata kamarnya dengan gambar-gambar mobil yang menempel di dinding kamarnya kalau bukan Fian. Inka melihat-lihat kamar Fian dengan rasa kagum. Kamar Fian sangat tertata rapi. Yang pasti bukan bi Pati yang merapikan kamarnya, karena wanita itu bahkan tidak tahu kamar Fian sewaktu Inka menanyakannya. Isi kamar Fian sangat lengkap, sesuai dengan ruangannya yang memang luas. Pantas saja dia betah dikamarnya, pikir Inka.Fasilitasnya lengkap. Bahkan ada kulkas di sudut ruangan.

Inka membuka kulkasnya, dia tambah berdecak kagum. Isinya bahkan lebih banyak daripada isi kulkas yang ada didapur. Aneh, kenapa Fian menaruh sayur-sayuran ikan dan lauk pauk lainnya di dalam kulkasnya? bukankah bi Pati yang memasak dan semuanya sudah disediakan di dapur?. Inka makin penasaran. Belum hilang rasa kagetnya, matanya melihat ruangan yang pintunya terbuka sedikit. Bergegas Inka kesana. Ternyata dapur kecil, ada peralatan memasak. Apakah Fian hobi memasak sampai-sampai di dalam kamarnya ada dapur mini? Inka makin tidak mengerti kehidupan macam apa yang sedang berlangsung di rumah pamannya.  ( Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar