” Mas Andre, ditunggu nyonya di ruang keluarga.”
Sambut mbak Yati pembantu Andre saat Andre masuk ke dalam rumah. Andre berjalan perlahan. Dia membayangkan apa yang akan dihadapinya. Tadi di luar dia melihat ada mobil Monik. Andre sudah bisa menebak pembicaraan yang akan dia dengarkan. Tapi dia tidak bisa menghindar. Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah. Sejak beberapa hari ini dia terus mengelak dari panggilan mamanya. Monik juga terus menerus memintanya bertemu. Sekarang Andre sudah siap. Hatinya tenang karena dia dan Lilin telah saling mengetahui perasaan mereka masing-masing. Dia tidak khawatir lagi. Sekalipun hal terburuk mungkin terjadi padanya.
Mata ibu Prita langsung tertuju ke Andre begitu dia memasuki ruang keluarga. Monik hanya melihatnya sekilas lalu kembali menghadap ke arah ibu Prita duduk. Andre kemudian duduk di depan Monik. Monik menatapnya. Tatapan matanya terlihat sedih.
” Baiklah, karena sekarang kalian berdua sudah hadir. Mama ingin, kita tuntaskan masalah kalian sekarang juga. Mama tidak ingin ada masalah yang mempengaruhi rencana pernikahan kalian yang sudah di depan mata.”
Andre melihat Monik yang tertunduk. Monik memegang erat saputangan yang ada dalam genggamannya. Andre sadar. Perasaannya terhadap Monik adalah pelarian dari rasa yang ada untuk Lilin. Rasa putus asa tak ada harapan dengan Lilin waktu itu membuat Andre berpaling melihat Monik yang terlihat lembut dan cantik. Tak ada alasan Andre untuk menolaknya. Tapi sekarang Andre menyadari. Bukan kecantikan fisik yang membuatnya berpaling dari Monik.
Kalau karena fisik maka Lilin tidak akan bisa bersaing. Lilin hanya gadis biasa sedangkan Monik adalah gadis dengan pola hidup yang terbiasa dalam gelimangan harta. Kepercayaan diri yang begitu tinggi tidak bisa dibandingkan dengan Lilin. Ingat Lilin menghadirkan rasa rindu di hati Andre. Beberapa hari ini Andre hanya bertemu sebentar dengan Lilin. Andre sibuk melihat kegiatan di kantor papanya.Tapi saat tadi Andre menerima telpon dari mamanya untuk bertemu di rumah, Andre sudah memutuskan. Sekarang atau tidak sama sekali. Dia harus memilih di antara Monik dan Lilin. Dan jawabannya tidak perlu ditanyakan lagi.
” Mama ingin dengar dari kalian. Andre, apa kamu masih menganggap mama sebagai orang tua yang harus kamu hormati?” Tanya ibu Prita. Andre menatap mamanya. Dia tidak mengerti kenapa mamanya tiba-tiba menanyakan hal seperti itu.
” Jelas ma. Andre menghormati mama.” Ibu Prita tersenyum. Pandangan beralih ke Monik.
” Monik. Bagaimana denganmu?”
” Iya, ma. Monik menghormati mama.” jawab Monik dengan tertunduk.
” Kalau kalian berdua benar-benar menghormati mama. Maka sekarang mama minta kalian tentukan tanggal pernikahan kalian.”
Andre dan Monik sama-sama terkejut. Mereka memandang ibu Prita. Sementara ibu Prita menatap mereka satu persatu.
” Kalian harus menentukan tanggalnya atau mama akan menganggap kalian sama sekali tidak menghormati mama karena terus membuat mama merasa khawatir.”
Monik dan Andre saling pandang. Andre duduk dengan gelisah. Dia tentu saja tidak menginginkan satu tanggal pun ditetapkan oleh mamanya. Tapi kalau mamanya sudah mendesak dengan menekan seperti ini bagaimana cara Andre untuk mengelak.
” Kalau kalian tidak bisa menetapkan. Maka biar mama yang menetapkan tanggalnya. Kalau kalian tidak setuju silahkan kalian yang menentukan tanggalnya.”
Andre tertawa. Ada apa ini dia seperti terjebak di antara dua pilihan yang sama sekali tidak ingin dia pilih.
” Jangan seperti ini, ma. Andre tidak bisa menentukan dalam keadaan terdesak.” Protes Andre.
Mamanya menatapnya tajam.
” Tidak ada yang mendesakmu, Ndre. Mama hanya memberikan pilihan karena sampai sekarang nasib kalian terkatung-katung. Bertunangan tapi sama sekali tidak pernah membicarakan pernikahan itukan hal yang aneh? Apa kamu pikir masa depanmu di mulai sekarang? Masa depanmu sudah ditentukan saat kamu masih kecil. Jadi jangan membuat mama dan papa membuat kesalahan dengan membuat keputusan yang berbeda saat kamu masih kecil.”
” Tapi Andre tidak bisa di desak, ma. Andre tidak memikirkan pernikahan saat ini.”
Wajah ibu Prita menegang berusaha menahan amarahnya.
” Kalau karena gadis itu kamu jadi berubah pikiran, maka buang jauh-jauh hayalanmu. Mama tidak kan pernah memafkan kalian, kalau sampai kalian menentang mama.”
Andre menatap mamanya dengan heran.
” Maksud mama, apa? Andre tidak mengerti”
” Jangan coba menyakiti Monik lagi dengan gadis yang bernama Lilin itu. Sudah cukup mama membahasnya hari ini. Jangan ada lagi cerita Lilin di antara kalian. Kalau kamu tetap bersikeras maka mama akan menentukan tanggal pernikahan kalian dan segera mengatur rencananya mulai sekarang!”
Selesai berkata ibu Prita bangkit. Dia berjalan ke luar dari ruangan meninggalkan Andre dan Monik yang saling diam.
” Aku tidak ingin menyakitimu, Nik. Tapi semua sudah berubah. Aku merasa kita harus bisa memilih kebahagiaan kita sendiri. Aku sudah berusaha mencoba tapi tetap tidak bisa.”
” Aku tidak punya pilihan mas Andre. Aku hanya bisa menatapmu tak ada yang lain. Kalau karena itu kamu merasa tertekan, apa dayaku. Aku sendiri tidak bisa berpisah denganmu. Tolong pikirkan lagi hubungan kita. Aku akan sabar menunggu sampai mas Andre benar-benar siap. Masalah mama, biar nanti aku yang bicara dengan mama. Asalkan kita tidak membuat mama khawatir, mama pasti tidak akan mendesak kita dengan rencana pernikahan.” Monik berdiri. Saat dia berjalan melewati Andre, Andre meraih tangannya.
” Ku mohon. Jangan memaksakan diri, Nik. Tidak baik untuk kita. Aku yakin kamu pasti paham seperti apa hubungan yang terjalin karena terpaksa.”
Suara Andre terdengar putus asa. Monik terdiam. Bulir-bulir embun sudah siap berjatuhan dari matanya. Dilepaskannya tangan Andre dengan perlahan. Dia lalu melangkah ke pintu. Saat berada di luar, airmata Monik tidak dapat lagi bertahan. Berjatuhan memenuhi pipinya yang putih. Monik sadar sebenarnya dia tidak pernah memiliki Andre. Sejak pertama bertunangan hingga sekarang.
Dia pernah merasa gembira saat Andre mengatakan mencintainya tapi itu sebelum bertemu Lilin. Saat ada Lilin, Monik sadar hati Andre seutuhnya adalah milik Lilin. Mereka hanya tidak punya kesempatan di masa lalu untuk bersama. Sekarang saat mereka mendapatkan kesempatan itu, apakah mereka akan melepaskannya? Pandangan Monik makin kabur tertutupi airmata yang kian deras.
Dia teringat kemarin saat menelpon ke apartemen Andre. Saat itu dia hanya ingin mengetahui di mana Andre berada karena handphonenya tidak aktif. Rasa penasaran membuat Monik akhirnya memilih menelpon. Dia terkejut saat mendengar suara wanita yang menerima telponnya. Suara wanita yang sama dengan suara Lilin. Monik yakin itu Lilin karena suaranya persis sama. Monik yakin kini tak ada lagi ruang kosong dalam hati Andre untuknya. Andre sudah mengajak Lilin ke apartemennya, tempat yang tidak pernah di kunjungi Monik sejak mereka bersepakat untuk menjalani hubungan mereka.
**
Lilin sedang melangkah memasuki swalayan saat pesan sms masuk di handphonenya. Dari Andre.
Lin, kalau nanti kamu menerima kata-kata yang meminta kamu untuk meninggalkan aku, maka aku harap kamu jangan memikirkannya. Cukup pikirkan aku saja, jangan yang lain. Biar aku yang menyelesaikan masalah yang lain itu
Lilin tidak mengerti dengan pesan sms dari Andre. Dia berjalan masuk dengan pikiran yang masih sibuk menerka maksud dari kata-kata dikirimkan Andre.
” Lin!” panggil seseorang. Lilin menoleh. Ternyata Monik. Dia tersenyum sambil berjalan mendekati Lilin.
” Bisa kita bicara?”
” Tapi mbak, saya mau masuk dulu. Banyak pekerjaan yang sudah menunggu saya.”
Monik memegang lengannya.
” Kamu tahu siapa pemilik swalayan ini?” tanya Monik sambil tersenyum. Dia menatap Lilin yang terlihat bingung dengan pertanyaannya.
” Papiku pemiliknya. Haruskah kamu takut saat pemiliknya meminta waktumu?”
” Benarkah? Yang yang punya swalayan ini mbak Monik?” Monik mengangguk. Tangannya kemudian meraih tangan Lilin. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Monik yang ada di parkiran.
” Maaf sudah mengganggu jam kerjamu. Tapi karena ini masalah penting, maka aku pikir kamu pasti tidak keberatan untuk berbicara denganku.”ucap Monik saat mereka sudah ada di dalam mobil.
Lilin terdiam.
” Aku yakin kamu sudah tahu kenapa aku ingin kita bicara. Ini masalah mas Andre.”
Lilin tetap tak berbicara. Dia ingat sms yang tadi Andre kirimkan untuknya. Apakah yang dimaksud mas Andre tentang masalah lain adalah Monik? Lilin menebak-nebak dengan pikirannya.
” Maaf, Lin. Aku ingin kita bicara jujur. Aku tahu akhir-akhir ini kamu dekat dengan Andre.”
Lilin mulai gelisah. Dia memegang tali tasnya untuk menghilangkan rasa gelisah yang tiba-tiba hinggap dihatinya.
“Kamu tahu kalau aku dan Andre bertunangan. Aku bukan menyuruhmu meninggalkan Andre. Kalau kamu tidak ingin, jangan lakukan. Karena aku tahu, Andre sangat menyukai kamu. Dia bahkan rela meninggalkan aku. Aku hanya ingin kita saling mengerti. Aku bisa saja meninggalkan Andre tapi apa itu keputusan yang tepat? Kamu dan dia bersama, apa itu juga keputusan yang tepat? Karena cinta kadang bukan masalah perasaan tapi juga masalah logika. Andai aku meninggalkannya, apa itu menyelesaikan masalah? Andai kamu bersamanya apa itu tidak menimbulkan masalah? Kamu tahu Andre terbiasa hidup berkecukupan. Dia terbiasa mendapatkan semuanya. Kalau tiba-tiba dia kehilangan semua itu. Apa dia sanggup? Mungkin kalian bisa mengatakan rejeki bisa di cari. Tapi apa kamu tega melihat Andre. Tolong kamu pikirkan lagi. Mamanya tentu tidak akan tinggal diam saat Andre memilihmu. Kemungkinan terburuk dia akan kehilangan semuanya. Bagimu mungkin tidak apa-apa tapi Andre? Dia akan sangat menderita. Sebelum semuanya jadi penyesalan lebih baik kita berdua mengambil waktu untuk berpikir. Hubungi aku jika kamu sudah mantap dengan keputusanmu. Apapun itu aku siap menerimanya.”
Monik memandang Lilin dengan lembut. Dia tahu menempuh cara yang ekstrim tidak akan menguntungkan dia. Dengan menyentuh sisi kemanusiaan dari Lilin, pasti hatinya akan tersentuh. Monik juga tidak bisa berharap dari Andre. Dia hanya bisa menyentuh hati Andre melalui ibu Prita. Walaupun sentuhan itu mungkin terlalu menekan Andre. Tapi Monik tidak berdaya. Mempertahankan miliknya hanyalah satu-satunya harapan dia saat ini. Tidak ada keinginan yang lain.
” Saya akan memikirkannya, mbak. Apa ada lagi yang mbak ingin sampaikan?”
Monik tersenyum.
” Hanya itu. Terima kasih. Pikirkanlah dengan tenang.”
Lilin membuka mobil. Melangkah menjauh meninggalkan mobil Monik. Di depan Monik dia bisa menahan air matanya tapi saat ini matanya sudah berkaca-kaca. Dia bukan anak kecil. Siapapun bisa menebak arti dari kata-kata Monik. Monik ingin dia pergi dari kehidupan Andre. Dia memintanya dengan cara yang halus seolah-olah dia tidak berkaitan di dalamnya. Bertambah lagi satu beban dalam pikiran Lilin. Sebelumnya ada mamanya Andre. Sekarang ada Monik yang datang dengan cara yang halus tapi sebetulnya sangat menekannya.
Lilin masuk ke dalam swalayan dengan hati yang kacau. Dia ingin pergi ke suatu tempat untuk menenangkan hatinya. Beberapa hari ini dia merasa sangat bahagia. Dia bersama Andre melewati hari bersama.. Andre mengatakan kalau dalam hatinya tidak pernah ada Monik. Tapi bagaimana menjelaskan ke Monik kalau Andre ingin berpisah dengannya? Lilin tahu Monik pasti akan mempertahankan Andre dengan cara apapun. Sedangkan dia? Haruskah dia mempertahankan Andre? kalau dia ingin mempertahankan Andre, bagaimana caranya? Dengan melepasnya dari keluarganya? Kalau ingat kata-kata Andre sepertinya Andre tidak ingin mereka berpisah. Apa seharusnya Andre tahu hal ini?
Lilin bingung. Dia ingin semua baik-baik saja. Tidak ada masalah dalam keluarga Andre. Tidak ada masalah dengan hubungan Andre dan Monik. Tapi sepertinya itu tidak mungkin jika dia ingin melibatkan diri di dalamnya. Pasti ada masalah kecuali dia pergi dari kehidupan Andre. Berarti inilah maksud dari kata-kata Monik. Lilin adalah pangkal masalahnya. Kalau dia tidak ada, tidak pernah hadir dalam kehidupan Andre. Pasti hubungan Andre dan Monik tetap harmonis bahkan mungkin mereka sudah menikah. Tapi karena kehadirannya semua rencana dalam keluarga mereka menjadi berantakan. Lilin menangis. Lalu bagaimana dengan perasaannya? Tidak adakah yang mempertimbangkan perasaannya. Dia juga mencintai Andre. Rasa itu tulus. Kalau karena rasa itu membuat keluarga mereka tidak bahagia haruskan Lilin yang disalahkan?
” Lin, kamu kenapa?” tegur Retha, teman kerjanya. Mungkin karena dilihatnya Lilin menangis di gudang. Lilin buru-buru menghapus airmatanya.
” Nggak apa-apa. Saya cuma nggak enak badan.”
” Kalo sakit, kamu ijin aja.” Lilin menggeleng.
” Nggak usah. Saya baik-baik saja.” Lilin berdiri. Belum lama berjalan Lilin terjatuh. Dia pingsan.
**
Lilin membuka matanya perlahan-lahan. Dia terkejut saat melihat ruangan tempatnya berbaring. Ruangan ini bukan di swalayan. Lalu dia dimana? Perlahan Lilin menyadari dia sedang berada di kamar Andre. Lilin berusaha untuk bangun.
” Kamu sudah bangun?” tiba-tiba ada suara yang mengalihkan pandangannya ke samping. Nampak Andre tengah berdiri didepan jendela. Andre menutup tirai jendela lalu berjalan mendekatinya.
” Gimana perasaan kamu? Masih pusing?” Andre bertanya sambil memegang dahinya.
” Tadi kamu agak demam. Syukurlah sekarang tidak lagi.”
” Kenapa saya ada di apartemen mas Andre?” tanya Lilin heran.
” Kebetulan aku nelpon. Temanmu yang terima. Dia bilang kamu pingsan. Aku langsung menjemputmu.”
Lilin memegang kepalanya.
” Masih sakit? Kalau begitu kamu disini saja. Nanti kalo perasaan kamu sudah enak baru aku antar kamu pulang.”
Lilin bangun dari pembaringan. Dia berdiri merapikan pakaiannya lalu berjalan menuju pintu. Andre yang melihatnya langsung mengejar dan menahan tangannya.
” Kamu kenapa, Lin? Mau pulang? Nanti aku antar.”
” Nggak usah mas, biar saya pulang sendiri saja.” Lilin melepaskan pegangan tangan Andre. Dia keluar dari kamar tidur Andre. Andre menghela nafas. Dia lalu mengejar Lilin, meraih tangannya lalu memeluknya.
” Jangan bersikap seperti ini. Kalau aku punya salah lebih baik kamu beritahu apa kesalahanku. Jangan diam dan mengacuhkan aku.” Katanya sambil memeluk Lilin dengan erat. Airmata Lilin menetes. Kesalahanmu hanya satu mas Andre, kenapa mencariku? Kalau kita tidak bertemu mungkin aku akan melupakan perasaanku, bisik hati Lilin.
Andre melepaskan pelukannya. Dia memegang bahu Lilin, lalu menatap Lilin dengan serius. Jelas terlihat keterkejutan di mata Andre saat melihat mata Lilin yang penuh air mata.
” Apa hari ini terjadi sesuatu? Aku kan sudah mengirim sms ke kamu. Kalau ada masalah berkaitan dengan kita, jangan kamu pikirkan. Biar aku yang menyelesaikan.”
Andre menatap cemas. Bibir Lilin bergetar, hatinya bimbang. Dia sangat ingin mengeluarkan semua isi hatinya tapi ada bisikan lain yang membuatnya tak kuasa untuk membuka mulutnya. Apa yang akan terjadi kalau kita bersama mas Andre? Apakah kita hanya akan menimbulkan luka dalam keluargamu? Lilin terus dengan pikirannya.
” Mas Andre, saya…saya… sangat takut kehilangan mas Andre.” Andre tersenyum. Kembali dia menarik Lilin ke dalam pelukannya. Lilin menutup matanya. Perlahan-lahan tangannya memeluk Andre. Andre tidak tahu separuh hati Lilin sudah berniat meninggalkannya.
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar