Senin, 28 November 2011

Lilin ( 5 )

0

 Ilustrasi google.com

Andre menunggu Lilin di cafe depan swalayan. Dia sengaja tidak memberitahu Lilin kalau hari ini dia ingin bertemu Lilin. Dipandanginya kantong belanja yang dia letakkan di kursi sebelahnya. Andre tersenyum. Dia sedang mempersiapkan kado spesial untuk Lilin. Sambil menunggu Lilin dia menyeruput jus alpukatnya.

Jam empat lewat lima menit. Andre bergegas keluar cafe setelah terlebih dulu membayar tagihannya di kasir. Dia tersenyum saat melihat Lilin keluar dari swalayan. Tapi senyumnya mendadak hilang saat melihat  seorang pemuda yang berjalan di samping Lilin. Mereka berjalan sambil tertawa-tawa. Terlihat sangat akrab. Andre memperhatikan pemuda itu. Dia seperti mengenalnya. Senyumnya terkembang. Andre segera berlari menyebarangi jalan. Dihentikannya kendaraan yang lewat dengan gerakan tangan. Dia terus berlari mendekati Lilin.

“Miko?” Andre menghentikan langkah mereka.

Dengan nafas terengah-engah dan senyum yang lebar, Andre memeluk Miko. Miko yang tak siap dengan ragu-ragu membalas pelukan Andre.

“Andre?” Miko menatap Andre lekat-lekat.

Tersirat rasa tak percaya dalam pandangan matanya.

” Ha..ha… ternyata kamu benar Andre.”

Miko memeluk Andre. Kali ini tanpa keraguan. Andre juga memeluknya dengan lebih erat lagi. Lilin yang berada di dekat mereka jadi terharu. Dia tidak menyangka Andre dan Miko bisa bertemu secepat itu. Dia saja baru beberapa menit yang lalu bertemu Miko. Miko sengaja mencarinya. Dia mendapatkan alamat Lilin saat kembali ke desa.

Mereka bertiga kemudian menuju cafe tempat di mana Andre tadi menunggu. Andre tak henti-hentinya memandang Miko. Begitupun sebaliknya. Tiba-tiba mereka berdua memandang Lilin. Lilin yang tidak menyangka akan mendapat tatapan dari dua orang yang cakep-cakep jadi salah tingkah.

” Bagaimana, ko? Gadis kita sekarang? Tambah cantik, kan?” Andre senyum-senyum sambil melihat Lilin.

“Iya..kog bisa ya, Ndre. Setahuku gadis kita dulu jelek, item, bulukan….”

” Terus..deh..,terus ngomong yang jelek-jelek mulu..perasaan yang dulu wajahnya suka belepotan mas Miko deh.”

” Belepotan? Belepotan apa?” tanya Miko penasaran.

” Nggak ingat? Belepotan kena ingus..he…he..” Lilin tertawa. Mereka kemudian tertawa bersama.

” Kamu masih ingat..ha..ha… ” Andre menimpali.

” Trus yang nangis karena takut ama kecoak, siapa ayo?”

Miko dan Andre saling tatap. Mata mereka sudah menebak. Sedetik kemudian mereka memandang Lilin.

” Nggak usah main tebak-tebakan. Itu pasti saya..” Lilin sewot. Dia ingat gara-gara kecoak dia panik dan berlari tanpa melihat apa yang ada didepannya. Akhirnya dia terjatuh.

” Sampai sekarang kamu masih takut, ya sama kecoak?” Lilin mengangguk cepat.

” Baguslah kalau begitu. Aku akan sering-sering bawa kecoak nanti buat takut-takutin kamu. Biar kamu dekat-dekat aku terus.”

Miko tertawa. Lilin jadi cemberut. Andre yang melihat hanya tersenyum. Dia bahagia. Hari ini mereka bertiga bisa berkumpul kembali setelah terpisah sekian lama.

” Oh ya, Mik. Kamu sekarang kerja dimana?” tanya Andre beberapa waktu kemudian. Mereka bertiga sedang menyantap makanan.

” Aku nggak kerja tetap sih. Cuma namanya penghasilan ya ada. Kadang-kadang kalau job rame, rejeki ngalir. Tapi kalo sepi ya.rejeki sepi juga..he..he..”

” Kamu mau kerja bareng aku dikantor papaku?” mata Miko membulat.

” Apa bisa?”

” Jelas saja bisa. Kamu sedang bicara dengan pemiliknya kog masih ragu begitu? Kalau kamu mau mulai besok juga kamu dan aku bisa mulai kerja.”

” Benarkah? Aku jadi pegawai kantoran? Ahk,mimpi apa aku semalam..”

” Mas Miko mimpi ketemu bidadari..” Lilin nyeletuk.

” Dan bidadarinya kamu.” katanya sambil mencubit hidung Lilin. Andre yang melihatnya tak urung menutup mata. Sejak tadi dia begitu gembira bisa bertemu dengan teman masa kecilnya. Kenapa sekarang hatinya begitu resah saat melihat Miko begitu memanjakan Lilin?

” Bagaimana,Lin. Kamu bareng kita juga ya, kerja di kantor Andre.” tanya Miko. Lilin tertunduk.

” Udah aku tawarin, Mik. Tapi dia nggak mau. Nggak tau ada pikiran apa dalam kepalanya. Kog menolak tawaranku.”

” Mas Andre…” Lilin protes.

” Iya. Aku ngerti kamu nggak mau dekat-dekat sama aku. Iya, kan?”

” Lho,kog alasannya gitu. Kan saya nggak bilang seperti itu.”

” Intinya sama saja. Kamu tetap nggak mau kerja bareng kami kan?”

Miko mulai tidak enak hati melihat Lilin.

” Ya, sudah kalau Lilin tidak mau jangan dipaksa. Tapi kalau besok-besok kamu berubah pikiran beritahu kami ya, Lin.” Lilin tersenyum sambil mengangguk pelan.

Setelah berbincang sangat lama mereka kemudian meninggalkan cafe. Andre mengantar Lilin lebih dulu lalu  menuju rumah Miko. Saat Lilin turun dari mobil, Andre menitipkan kantong belanjaan yang tadi di bawahnya. Lilin ingin protes karena tidak tahu apa isi kantong belanjaan itu. Tapi Andre buru-buru masuk ke dalam mobil lalu menjalankan mobilnya.

” Aku tidak menyangka Lilin masih tetap lucu.” ucap Andre. Mereka berdua tertawa.

” Mukanya masih suka merah…ha..ha… padahal dia kan sudah kenal kita.” lanjut Miko.

” Aku akan sering menggodanya kalau dia seperti itu.”

“Oh,ya Mik. Lilin sudah punya pacar ya? ” tanya Andre. Miko melihat Andre. Ada perasaan heran yang tiba-tiba hadir dalam hatinya.

” Kenapa pertanyaanmu seperti itu?”

” Apa aneh aku menanyakan pacar Lilin?” Andre balik bertanya.

” Seharusnya kamu yang lebih tahu, siapa yang dicintai Lilin. Siapa yang ada dihatinya?” Andre menatap sekilas ke Miko. Dia semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka. Andre kemudian tertawa.

” Kamu aneh, Mik. Aku kan di Amerika, bagaimana aku tahu siapa pacar atau orang yang disukai Lilin? Atau kamu mau bilang kalau pacar Lilin itu kamu?”

” Andre..Andre kalau aku menyukai Lilin, maka sejak dulu aku sudah menikah dengan dia. Tapi karena aku tahu ada seseorang yang sangat dia cintai maka aku batal melamarnya. Kalau aku mencintai dia maka aku tidak akan bodoh untuk mengirimkan surat-suratnya padamu. Apa kamu tidak bisa melihat ungkapan cinta yang tergambar jelas dalam surat-suratnya?”

” Surat apa?” Andre makin penasaran.

” Surat cinta! Kamu dari tadi membingungkan. Apa kamu tidak menerima surat-surat Lilin?”

Mendadak Andre menghentikan kendaraannya. Dia menepi di jalan yang ramai dengan kendaraan lalu menatap Miko lekat-lekat.

” Surat katamu? Sejak kapan Lilin mengirim surat?” Wajah Miko juga diselimuti keheranan.

” Aku mengirimnya lima tahun yang lalu? Kenapa denganmu? Apa benar kamu sama sekali tidak tahu soal surat Lilin? Padahal dalam surat-suratnya Lilin mengungkapkan perasaannya terhadapmu. Dia melupakan rasa malu karena sudah terlalu rindu padamu. Aku sengaja membukanya. Aku tahu itu perbuatan yang salah tapi aku penasaran. Akhirnya aku tahu kalau Lilin sangat menyukai kamu. Sekarang bagaimana kamu bisa berpikir kalau dalam hatinya ada orang lain selain kamu?”

Andre lemas. Dia menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Kedua tangannya mengusap kepalanya. Lalu tangannya menyanggah belakang kepalanya. Andre menghela nafas dengan mata tertutup. Mengapa semuanya baru dia ketahui sekarang? Mengapa bukan dulu sebelum dia bertunangan dengan Monik. Padahal saat itu Andre sedang bimbang. Dia menanti jawaban dari Lilin. Dia dulu mengirim surat untuk Lilin. Dalam suratnya dia mengungkapkan perasaannya terhadap Lilin. Dia ingin kepastian agar ada alasan baginya untuk menolak pertunangannya dengan Monik. Tapi sampai pertunangannya terlaksana, bahkan sampai beberapa tahun kemudian tidak ada kabar dari Lilin.

Sekarang saat dia tahu harusnya dia merasa gembira tapi mengapa yang hadir justru rasa sedih. Dia sedih karena semua terlambat dia ketahui. Dia sedih karena ternyata perasaannya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Dia sedih karena surat-surat Lilin tidak ada satupun yang dia baca. Perasaan yang bercampur aduk itu membuat Andre berteriak dengan keras sambil memegang kepalanya. Dia keluar dari mobil. Menyandarkan tubuhnya di badan mobil. Miko yang merasa heran ikut keluar dari mobil.

” Kalau kamu berat menerima Lilin, kamu jangan memaksakan diri.” Katanya pelan mencoba menyabarkan Andre,

” Aku justru sangat menyukainya, Mik. Ada saat di mana aku melupakannya tapi itu semua karena rasa putus asa. Tapi dia tidak benar-benar hilang dalam ingatanku. Dia selalu ada di sini, Mik” Andre menyentuh dadanya.

” Lalu masalah kalian apa? Kalian saling menyukai, kenapa kamu terlihat begitu frustasi?”

” Karena aku sudah bertunangan. Tapi itu bukan masalah. Yang jadi masalah apakah Lilin mau menerimaku yang berarti dia akan menyakiti Monik.”

Miko ikut menyandarkan badannya di mobil.

” Aku kenal Lilin, Ndre. Dia mungkin awalnya akan menerima kamu sekalipun kamu sudah bertunangan. Tapi saat datang pengaruh-pengaruh yang membuat hatinya goyah. Maka kemungkinan terburuk dia akan meninggalkanmu sekalipun dia sudah berjanji.”

” Aku heran. Kenapa surat-surat Lilin nggak pernah aku terima? Padahal kalau aku pulang ke tanah air, pastinya surat itu aku terima kan? Aku jadi penasaran.” Andre seperti tersadar akan sesuatu. Dia masuk kembali ke dalam mobilnya. Miko menyusul. Mobil kemudian berjalan lagi. Melaju di tengah keramaian.

Andre berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia menuju ke kamar pembantunya, mbak Yati. Saat melewati dapur dilihatnya mbak Yati sedang mencuci piring.

” Eh, mas Andre. Darimana mas, tadi waktu makan malam nyonya nyari. Mas Andre darimana?”

” Sama teman. Ehm, mbak Yati waktu kami di Amerika, apa pernah ada surat dari desa kakek yang terkirim kesini?” Mbak Yati terlihat bingung dengan pertanyaan Andre.

” Surat apa, mas?” tanyanya. Andre makin gemas.

” Lima tahun yang lalu, apa ada surat yang terkirim untuk aku?”

” Ingat dong, mbak. Ini penting.”

Mbak Yati menghentikan mencuci piring. Beberapa menit dia berusaha mengingat kejadian beberapa tahun silam.

” Iya, mas. Saya ingat” Andre tersenyum.

” Dulu ada surat untuk mas Andre. Tapi seingat saya, surat itu saya simpan. Trus waktu mas Andre datang dari Amerika, surat itu mbak perlihatkan ke nyonya. Kata Nyonya, nanti nyonya yang berikan ke mas Andre.”

Andre terduduk lemas di kursi. Dia paham sekarang mengapa mamanya, ibu Prita begitu memaksakan perjodohannya dengan Monik. Mamanya telah mengetahui perasaan Andre. Mamanya tidak ingin ada hubungan antara dia dengan Lilin. Kalau sekarang Andre meminta surat itu ke mamanya, apakah mamanya akan memberikan? Bukankah itu sama saja dengan membangunkan mama dari ingatan lamanya. Ternyata mamanya telah tahu tentang Lilin sejak lama. Apakah sekarang mama sudah tahu kalau dia sudah bertemu dengan Lilin? Pikir Andre.

Andre berjalan lesu ke kamarnya. Dia bingung. Entah tindakan apa yang harus dia ambil. Sepertinya malam ini akan berlangsung sangat panjang karena Andre sama sekali tidak bisa tidur memikirkan masalahnya. Memikirkan perasaannya terhadap Lilin, Monik dan mamanya.

*

Sementara di sebuah kamar berukuran kecil. Lilin sedang memandang sebuah handphone merk terkenal yang tadi diberikan Andre. Lilin tidak pernah mengira Andre akan memberikan dia sebuah handphone. Lilin memperkirakan harga handphone itu sangat mahal. Kalau gaji Lilin terkumpul selama setahun pun dia tidak akan tega mengeluarkannya untuk membeli handphone sebagus itu. Baginya bisa sms dan telpon saja sudah cukup. Tidak perlu ada fitur-fitur lain, toh dia tidak memerlukannya. Sekarang dia malah bingung hendak mengoperasikan handphone tersebut. Akhirnya handphone itu hanya dia letakkan di dalam kotaknya. Lilin tidak tahu Andre gelisah karena tidak bisa menghubungi Lilin dengan nomor baru yang dia berikan.

Pagi harinya saat Lilin baru saja selesai mandi. Dia terkejut mendapati Andre sedang duduk di ruang tamu. Hanya Andre sendiri. Pamannya sejak tadi sudah meninggalkan rumah untuk menjual bubur ayam. Andre terkejut melihat Lilin yang hanya menggunakan sarung. Lilin buru-buru masuk ke dalam kamarnya..

” Ada apa, mas. Kog pagi-pagi sudah datang kemari?” Tanya Lilin dari dalam kamarnya. Andre tidak menjawab. Dia merasa tidak sreg menjawab pertanyaan dengan berteriak-teriak. Dia memilih menunggu Lilin ke luar dari kamar.

” Handphonemu kenapa tidak juga aktif sampai sekarang?” tanyanya saat Lilin keluar dari kamar. Lilin sudah berpakaian dan siap-siap hendak ke tempat kerjanya. Lilin bingung hendak menjawab apa,. Dia masuk kembali ke dalam kamarnya mengambil kotak hp yang diberikan Andre semalam.

” Saya nggak tahu gimana cara pakenya. Takut nanti handphonenya malah rusak.” Andre mengambil kotak itu lalu mengeluarkan isinya.

” Terima kasih atas handpnone ini, mas. Tapi apa tidak ada yang lebih sederhana. Tidak ribet. Saya tidak bisa menerima hadiah yang sebagus ini.”

” Apa salahnya aku memberikan hadiah untuk kamu? Pengganti hari-hari yang hilang. Hadiah apapun rasanya tidak bisa menggantikan.” Andre menatap Lilin. Lilin juga menatap Andre. Tapi dengan tatapan bingung. Dia tidak mengerti dengan maksud di balik kata-kata Andre.

” Mas Andre, bicara apa? Saya nggak ngerti.”

” Surat yang aku kirim untuk kamu waktu di desa. Apa kamu mnenerimanya?”

” Surat apa mas. Saya tidak pernah terima surat dari mas Andre?” Andre makin penasaran.

” Kamu ingat-ingat lagi. Apa benar kamu tidak pernah terima surat dari aku?”

Lilin berpikir beberapa saat tapi tetap dia merasa tidak pernah menerima surat dari Andre.

Lilin menggeleng.

” Nggak mas, saya nggak pernah terima surat dari mas Andre sejak mas Andre pergi”

” Kamu tidak menerima suratku dan aku juga tidak menerima suratmu. Kenapa serba kebetulan?”

” Surat?” tanya Lilin terkejut.

” Ya. Surat-surat yang kamu kirim. Kita sama-sama tidak tahu mengenai kabar dari surat-surat kita”

” Maksud mas Andre, surat yang saya kirim tidak pernah mas Andre terima apalagi baca?”

Andre mengangguk cepat. Lilin lemas. Pantas saja selama ini Andre tidak ada kabar beritanya. Andre juga tidak tahu tentang dirinya. Keadaan seperti ini sama seperti memulai dari awal lagi. Sekarang Lilin tentu tidak semudah itu mengatakan perasaannya pada Andre. Walau sekarang mereka bisa akrab kembali tapi sekarang ada Monik di samping Andre. Lilin tidak ingin mengganggu hubungan mereka. Belum tentu juga rasa yang dimiliki Lilin sama dengan yang dirasakan Andre. Lilin melamun. Dia tidak sadar Andre sedang memandangnya.

” Aku tahu isi suratmu. Walau aku belum membacanya tapi aku tahu isinya seperti apa.”

 Lilin tersadar dari lamunan. Dilihatnya Andre sudah memegang tangannya. Dia ingin menarik tangannya tapi Andre bertahan.

” Aku tak akan melepaskan tanganmu lagi. Saat ini aku memegangnya, maka akan selamanya seperti ini.Kamu mau tahu isi suratku seperti apa?” Wajah Lilin mulai terlihat sedih.

” Isinya sama dengan isi suratmu. Jadi kita jangan membohongi diri lagi. Aku datang kesini pagi-pagi karena aku tidak bisa tidur memikirkan kamu. Aku tidak ingin perasaanku saat ini terhalangi lagi seperti dulu. Jadi aku harap kamu juga seperti itu. Jangan memikirkan yang lain. Cukup kita saja.”

Andre menatap Lilin. Sangat dekat. Perlahan dia memeluk Lilin dengan penuh perasaan. Lilin menangis. Dia membalas pelukan Andre. Benarkah hanya kita saja yang harus kita pikirkan? suara hati Lilin berbisik.

 ( Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar