Senin, 28 November 2011

Lilin ( 4 )

0

 Ilustrasi google.com

” Makan ini, kalau lagi pilek harus makan ini.”

Andre mengupas jeruk yang tadi dia beli di swalayan. Mereka sedang duduk berdua di dalam Mobil. Andre sengaja memarkir mobilnya di tengah taman yang ada dalam kota. Sepulang dari dokter, Andre tidak langsung mengantar Lilin pulang kerumahnya.

” Kamu ingat? dulu aku yang selalu mengupas kulit jeruk untuk kamu.” Lilin mengangguk. Dia tertawa sambil memakan jeruk yang diberikan Andre.

” Mas Miko biasa kesal karena nggak kebagian jeruk.ha..ha..ha…”

Mereka tertawa berdua. Saat Lilin tertawa, Andre memperhatikannya. Benarkah perasaanku sekarang ini? Apakah ini hanya perasaan sesaat? Batinnya.

” Mas Andre ingat? Waktu kita ngambil jeruk di kebun kakek..ha..ha… mas Andre lompat dari atas pohon karena ada ulat ha..ha….ha..”

” Kapan? perasaan yang kabur si Miko, bukan aku.” Andre mencoba meluruskan cerita.

” Mas Andre. Saya ingat kog! Gara-gara lompat dari atas pohon, kaki mas Andre terkilir sampe harus di urut.” Lilin ngotot dengan pendapatnya. Andre mencoba mengingat kejadian waktu itu.

” Aku ingat sekarang. Kakek sampai memanggil mbah Jarnu untuk urut aku.”

” Tuh kan betul ingatanku.”

” Iya. Kamu yang betul.”

Sedang asyik mengenang masa lalu, handphone Andre berbunyi. Nada panggil. Andre melihatnya dari Monik. Dia menekan tombol off. Lilin yang melihatnya jadi heran.

” Kog nggak di angkat mas? Dari siapa sih?” Andre mengambil jeruk lalu mengupasnya.

” Nggak tau. Salah sambung”

” O..”

Andre tiba dirumahnya jam sebelas malam. Dia baru saja dari rumah Lilin. Selama dua jam dia dan Lilin berbincang-bincang. Andre masih merasa berat untuk pulang. Dia masih ingin berdua saja dengan Lilin tapi karena sudah malam maka dia harus pulang. Dalam perjalanan pulang Andre memikirkan dirinya. Apa yang telah dia lakukan? Apa dia telah melakukan kesalahan? Kalau dia melakukan kesalahan, lalu yang benar yang seperti apa? Menjalani suatu hubungan yang sejak awal ragu di jalani ataukah mengejar mimpi yang mungkin menjadi takdirnya.

” Ndre, kamu dari mana sayang?” tanya ibu Prita saat Andre muncul dari pintu ruang tamu. Andre menghentikan langkahnya.

” Dari rumah teman.”

” Tadi Monik menelpon mama. Kata Monik handphonemu tidak aktif. Benar seperti itu?”

Andre mendekai mamanya. Dia duduk di sofa.

” Andre lagi ngobrol dengan teman, ma. Nggak enak memotong pembicaraan karena handphone”

” Tapikan Monik tunanganmu. Kamu harus memberi perhatian lebih ke dia. Mama tidak enak sama maminya Monik.”

” Nggak apa-apa kog, ma. Nanti Andre hubungi Monik.”

Andre berdiri. Dia melangkah menuju kamarnya. Andre tidak tahu kalau ibu Prita sudah curiga ada sesuatu yang terjadi dalam hubungan Monik dan Andre. Tidak seperti sebelummnya, ibu Prita yakin ada seseorang yang membuat Andre jadi berubah. Sementara Andre di dalam kamarnya langsung meng on kan handphonenya. Ada pesan masuk.

Dari Monik..

Sibuk ya, Ndre. Kog telponku nggak diangkat?

Dari Monik lagi..

Ndre, besok aku kerumahmu. Jangan kemana-mana ya?

Andre meletakkan handphonenya di atas tempat tidur. Dia malas membalas sms dari Monik. Bahkan saat ada lagi bunyi sms dia lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mandi dan berpakaian, iseng-iseng Andre membuka pesan yang tadi dia acuhkan. Wajah Andre berubah cerah saat melihat siapa pengirim smsnya. Lilin. Andre lalu mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu yang temaram. Dalam balutan selimut Andre membalas pesan dari Lilin. Andre terlupa berapa lama dia saling berkirim pesan dengan Lilin. Dia baru berhenti saat matanya tertutup dan tangannya tak lagi bisa memegang handphonenya karena kantuk yang menyerang.

**

” Andre, bangun sayang. Di luar ada Monik.” Ibu Prita membangunkan Andre yang terlihat masih lelap dengan tidurnya. Andre membalikkan badannya. Menatap wajah ibu Prita dengan sebelah matanya yang masih menyipit.

” Ngapain Monik pagi-pagi kemari?”

” Kan mau ketemu kamu. Ayo mandi cepat. Sekalian sarapan bareng sama papa. ” bujuk ibu Prita. Andre membungkus tubuhnya dengan selimutnya.

” Andre masih ngantuk, ma. Tolong bilangin sama Monik. Tunggu bentar lagi.”

” Kasihan Monik, Ndre. Sepertinya dia mau ngajak kamu ke suatu tempat.” ibu Prita masih berusaha untuk membujuk anaknya. Andre membuka selimut yang menutupi wajahnya. Dia menatap ibunya.

” Mama betul-betul ingin Andre menikah dengan Monik?” ibu Prita terkejut dengan pertanyaan Andre.

” Lho kenapa pertanyaan kamu seperti itu? Jelas saja mama ingin kamu menikah dengan Monik. Untuk apa mama tunangkan kalian berdua, kalau nggak pengen kalian menikah?”

Andre beranjak dari pembaringan. Walau malas dia memaksakan diri untuk bangun.

” Seandainya Andre tidak jadi menikah dengan Monik. Mama tidak apa-apa kan?”

Ibu Prita terperanjat mendengar kata-kata Andre. Dia ingin protes tapi Andre sudah terlanjur masuk ke kamar mandi. Perkataan Andre membuat Ibu Prita merenung saat keluar dari kamar anaknya itu. Dia semakin curiga telah  terjadi sesuatu dalam hubungan Monik dan Andre. Ini tidak bisa di biarkan berlarut-larut, batin ibu Prita. Dia berjalan cepat menuruni tangga lalu ke teras samping. Di sana Monik sedang duduk sambil memainkan syalnya.

” Andre baru mandi. Bentar lagi dia datang.”

” Nggak pa pa kog ma. Biar Monik tunggu saja. Mungkin Andre masih capek.”

Ibu Prita memandangi Monik. Monik terlihat cerah tapi matanya terlihat sendu.

” Monik, mama mau tanya. Kamu jawab dengan serius. Hubungan kamu dengan Andre baik-baik saja kan?” Monik menatap ibu Prita sekilas lalu menunduk.

” Kami baik-baik saja kog, ma.”

” Benar semua baik-baik saja? Tapi kenapa mama melihat seperti ada yang kalian berdua sembunyikan. Andre tadi membuat mama jantungan.”

” Ada apa dengan Andre, ma?”

” Nggak tahu ada apa dengan anak itu. Dia bilang begini ke mama. Kalau Andre tidak jadi menikah dengan Monik, mama tidak apa-apa kan? Apa yang ada di kepala anak itu? Ngapain dia memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal.”

Monik terdiam. Hatinya pedih mendengar kata-kata ibu Prita. Benarkan Andre mengatakan kata-kata seperti itu. Kalau seperti ini haruskah dia bersikap tegas terhadap Andre. Tapi kalau Andre memilih melepaskannya? Bagaimana? Bukankah itu berati merugikan dia sendiri. Monik tidak ingin berpisah dengan Andre. Dia sudah menunggu ini sekian lama. Kalau kemudian karena kedatangan Lilin, Andre kemudian berubah maka Monik tidak boleh tinggal diam. Dia harus menyelamatkan pertunangannya. Dulu dia bisa bertahan, mengapa sekarang tidak?

Andre muncul dengan kesegaran yang alami. Tak ada aroma farfum hanya keharuman sabun dan shampoo yang terpancar dari tubuhnya. Andre duduk berhadapan dengan Monik. Dia mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih basah.

” Kamu terlihat lelah. Kenapa datang kemari kalau kamu masih capek?” tanya Andre.

” Apa terlihat kalau aku kelelahan?”

” Ya. Hitam di bagian bawah matamu itu jelas nampak kalau kamu sangat kelelahan.”

Monik ingin menjerit. Aku bukan lelah Ndre. Aku tidak bisa tidur memikirkan hubungan kita. Mengapa kamu tidak bisa membacanya? Haruskah selalu aku yang lebih dulu mengatakan apa yang terjadi denganku?Tidak bisakah kamu merasakan sendiri? Kamu bukan orang lain? kamu kekasihku, tunanganku!

” Perusahaan papi butuh asisten. Untuk sementara aku yang membantu papi. Ehm, kalau kamu tidak keberatan, aku ingin kita berdua yang membantu papi. Jadi kebersamaan kita tetap terjaga. Aku juga merasa pekerjaan itu terlalu menyita waktuku. Bagaimana? Kamu setuju kan, Ndre?” Andre memandang Monik.

” Kita tidak seperti karyawan yang lain. Jam kerja kita santai tapi tidak terbatas. Ini untuk uji coba dulu. Papi memintaku menawarkan ini padamu. Kalau kamu setuju, mulai besok kita bisa sama-sama ke kantor. Bagaimana?” Lanjut Monik.

” Papimu atau kamu yang meminta ini?”

” Aku yang ingin kita berdua bisa membantu papi. Sebagai bahan pelajaran untuk kita. Bukankah suatu saat kita juga yang harus menjalankan perusahaan?”

” Tapi perusahaan papaku juga membutuhkan aku. Kamu tahu sendiri, bagaimana paman membuat papa sakit kepala.”

Monik terlihat kecewa. Padahal maksud dari keinginannnya untuk mengajak Andre kerja di perusahaan papanya adalah agar dia setiap saat bisa bersama-sama dengan Andre. Dia ingin menjauhkan Andre dari Lilin. Tapi kalau sekarang Andre menolak, apa yang harus dia lakukan? Monik tidak ingin cara yang kasar. Baginya lebih baik memisahkan mereka tanpa membuatnya kehilangan muka.

” Ini untuk sementara, Ndre. Nanti kalau papi sudah menemukan asisten baru. Kita bisa keperusahaan papamu.”

” Kita?”

” Ya. Aku ingin kita bisa bekerja bersama-sama. Toh kalau nanti kita menikah, kita pasti akan bekerja bersama-sama juga.”

Andre tersenyum miris. Terbayang dakam ingatannya, bagaimana kakaknya Yudha harus selalu bersitegang dengan istrinya karena sama-sama mengelola perusahaan. Akankah dia seperti itu juga? Sekarang saja Monik sudah mulai mengatur hidupnya bagaimana nanti.

” Bagaimana, Ndre. Kamu setuju kalau untuk sekarang, kita membantu papiku dulu. Nanti setelah selesai baru kita membantu papamu.”

” Aku pikir-pikir dulu.”

” Aku sudah bicarakan dengan papamu. Papa setuju. Katanya supaya kamu tambah pengalaman.”

Andre tercenung. Dia kaget. Monik demikian cepat bertindak. Tanpa ijinnya dia sudah mengatur semuanya. Andre berdiri. Dia tidak senang hidupnya di atur-atur. Sudah cukup mamanya saja yang sudah mengaturnya. Mengatur semua dalam hidupnya termasuk urusan hati dan cintanya. Jadi apa gunanya dia sebagai manusia kalau semuanya harus serba diatur.

” Kenapa, Ndre? kamu tidak suka?” tanya Monik. Dia mulai khawatir.

“Tenanglah. Aku hanya ingin menenangkan diri.”

Andre lalu berjalan meninggalkan Monik yang masih menatapnya dengan khawatir. Monik sadar apa yang dia lakukan seperti pemaksaan. Tapi bagaimana lagi. Hatinya makin tidak tenang tiap kali mengingat sekarang ada Lilin yang setiap saat bisa merobohkan hati Andre. Sementara Andre terus berjalan ke kamarnya. Di dalam kamar dia menelpon Lilin. Wajahnya seketika berubah cerah. Senyumnya mengembang waktu berbicara dengan Lilin. Andre tidak tahu ibu Prita tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Mendengarkan dengan serius setiap kata-kata yang Andre ucapkan.

**

” Lin, ada yang mencarimu.” panggil Ratna. Lilin yang sedang merapikan barang-barang di etalase berbalik menatapnya.

” Siapa?”

” Nggak tahu, kamu liat aja.”

Lilin meletakkan keranjang barang di gudang lalu di melangkah ke depan.

Di sana berdiri ibu Prita dengan dandanan yang sempurna. Terlihat betapa ibu Prita ingin memperlihatkan status sosialnya dengan cara berdandan yang serba wah. Lilin mendekat. Dia sama sekali tidak mengenal siapa wanita yang ingin menemuinya. Saat berhadapan dengan ibu Prita, Lilin tersenyum.

” Maaf, ibu yang mencari saya?” tanyanya dengan ramah.

” Kamu yang bernama Lilin?” suara ibu Prita jauh dari kesan ramah.

” Iya benar. Boleh tahu ibu siapa ya?” ibu Prita melepas kacamata hitamnya yang sejak tadi dia pakai.

” Aku ibunya Andre. Kamu kenal Andre kan?”

” Mas Andre? Saya kenal mas Andre. Maaf ya tante, saya nggak tahu kalau tante ibunya mas Andre”

Ibu Prita tersenyum sinis.

” Sejak kapan kamu boleh memanggil aku dengan sebutan tante?”

Lilin terkejut. Dia tidak menyangka akan mendapat kata-kata yang begitu tidak bersahabat dari ibu Prita. Lilin menganggap karena ibu Prita ibunya Andre, tentu keramahannya sama dengan Andre. Lilin lupa kalau ibu Prita adalah istri Direktur yang tentu saja mempunyai sisi angkuh yang bisa timbul kapan saja. Apalagi kedatangan ibu Prita bukan untuk bermanis-manis dengan Lilin. Ibu Prita datang dengan amarah yang siap meledak. Dia datang mewakili diri dan calon menantunya Monik.

Ibu Prita telah mendengar pembicaraan Andre dengan Lilin. Itu sudah cukup bagi ibu Prita untuk mendesak Monik menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan Monik dan Andre. Dan Monik dengan berlinang air mata menceritakan kisah hubungan Andre dan Lilin dari awal hingga akhir. Maka dengan emosi yang tak bisa di kendalikan ibu Prita datang menemui Lilin di tempat kerjanya.

” Siapa yang mengijinkanmu memanggilku dengan sebutan tante? Apa kamu lupa kamu siapa? Aku siapa? Kamu adalah anak penjaga peternakan mertuaku sedangkan aku adalah menantu dari pemilik peternakan dan perkebunan yang paling luas di desamu. Apa kamu kira karena berteman dengan anakku kamu bisa bersikap akrab terhadapku. Kamu jangan mimpi. Tempatmu tidak sejajar denganku. Aku istri Direktur perusahaan terkenal tidak mungkin kenalanku gadis seperti kamu. Kamu juga jangan mimpi bisa merebut Andre dari Monik. Kamu pikir aku akan menerima gadis sepertimu untuk masuk dalam lingkungan keluargaku? Maaf mimpimu terlalu tinggi. Sadarlah hanya Monik satu-satunya gadis yang akan menjadi istri Andre. Jadi aku harap mulai sekarang kamu jangan lagi mendekati Andre atau kamu akan merasakan sendiri akibatnya karena terlalu memaksakan diri.”

Ibu Prita melangkah menuju pintu keluar meninggalkan Lilin yang diam terpaku. Mata Lilin sudah dipenui embun. Dia tidak menyangka hari ini akan ada kunjungan yang menyakiti hatinya. Dia sedih. Dia tidak pernah membayangkan kalau ibu Prita akan datang dan mengucapkan kata-kata yang sangat menusuk perasaan. Dia sedih karena hubungannya dengan Andre menjadi masalah untuk orang lain.

Lilin sepertinya harus menjaga jarak mulai sekarang dengan Andre. Walaupun dia menyukai Andre dan menyimpan rasa yang dia anggap cinta, tapi itu adalah mimpi yang harus segera dia hilangkan. Lilin tidak ingin mendapat kunjugan dari ibu Prita lagi karena masih berhubungan dengan Andre. Lilin kembali ke gudang. Dia mengeluarkan barang-barang yang rencananya akan dia atur di etalase. Saat menuju gudang dia mematikan handphonenya. Dia tidak ingin Andre menelponnya. Dia juga sudah berpesan ke temannya kalau Andre mencarinya agar mengatakan kalau dia sudah pulang. Atau kata-kata lain yang bisa mengalihkan Andre agar dia tidak mencari Lilin.

Tapi sepertinya taktik yang Lilin terapkan tidak berlaku untuk Andre. Andre tidak mencari Lilin di swalayan tempat Lilin kerja. Andre malah menunggu Lilin di rumah pamannya. Saat tiba di depan pintu, Lilin terlonjak kaget melihat Andre duduk di ruang tamu. Dia tidak menyangka ada Andre di dalam rumah karena mobil Andre tidak terparkir di depan rumah pamannya. Tapi Lilin tidak berkata-kata. Dia segeramasuk ke dalam kamarnya. Pamannya yang sejak tadi menemani Andre ngobrol jadi heran. Terlebih Andre yang sudah memasang senyum termanisnya. Dia hanya memandangi Lilin yang tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya.

” Lilin, kamu kenapa, nak? Nak Andre dari tadi menunggumu.” panggil pamannya.

Lilin duduk di pembaringannya. Dia menangis. Tidak kuasa memandang Andre yang ada di ruang tamu. Tadi sewaktu melintas di depan Andre dia memalingkan wajahnya. Lilin sedih. Mengapa saat dia merasakan kebahagiaan bertemu kembali dengan Andre, kebahagiaan itu harus di rengkuh dari hidupnya.

” Lilin!” suara Andre memanggil dari luar kamar. Lilin buru-buru menyeka air matanya.

” Kamu sakit ya? Kog nggak ngomong-ngomong?” tanya Andre lagi dari balik pintu.

Lilin berdiri. Dia memandangi dirinya di kaca. Menatap matanya. Apakah mas Andre akan tahu kalau aku habis menangis? Batinnya sambil mengusap air mata yang masih ada di sudut matanya. Lilin membuka pintu. Andre langsung memegang pundaknya. Merapikan rambutnya. Lilin tak berdaya. Mendapat perlakuan seperti itu membuat pertahanannya jebol. Dia menangis. Andre yang melihatnya jadi panik.

” Kenapa, Lin? Kamu kenapa? Kenapa menangis? Apa kamu sakit?”

Rentetan pertanyaan itu makin membuat sedih hati Lilin. Terlebih karena Andre memegang wajah Lilin menghadapkan ke wajahnya hingga Lilin bisa melihat dengan jelas tatapan cemas di mata Andre. Lilin sadar kalau dia mencintai Andre. Dulu, sekarang tapi entah masa yang akan datang. Pertemuaannya dengan Ibu Prita membuatnya harus berpikir untuk bisa melabuhkan hatinya pada Andre. Lilin juga belum sepenuhnya yakin dengan perasaan Andre. Lilin tahu ada Monik yang kini bersama Andre. Tapi ada bagian lain dari hati Lilin yang tetap menginginkan berada dekat dengan Andre. Lilin ingin Andre selalu ada untuknya.

Dia hanya ingin menikmati kebersamaan yang dulu hilang. Walau semuanya tak mungkin terulang tapi dia bisa menikmatinya bersama Andre. Seseorang yang ada dalam masa lalunya. Seseorang yang mungkin takkan dia temui di masa yang akan datang. Lilin berharap saat ini biarlah dia bersama Andre. Toh walau ada rasa cinta dihatinya tapi dia hanya bertepuk sebelah tangan. Andre hanya menganggapnya teman. Kalau Andre mencintainya atau mempunyai rasa terhadapnya tentu dia tidak akan mengabaikan surat-surat yang Lilin kirimkan untuknya. Surat-surat yang berisi ungkapan hatinya. Surat-surat yang akhirnya terkirim karena Lilin tak kuasa memendam rasa cinta dan rindunya pada Andre.

Lilin tiba-tiba ingat Miko. Seandainya ada mas Miko.

” Kamu kenapa Lin?”

” Nggak apa-apa kog, mas. Saya lagi kangen saja sama bapak.”

 Lilin terpaksa berbohong. Dia tidak memberitahukan masalah yang tadi dia alami. Biarlah dia sendiri yang menyelesaikan. Dia tidak ingin Andre terbawa dalam masalahnya. Karena Andre hanyalah seorang teman yang tidak mungkin masuk ke dalam kehidupannya yang sangat pribadi.

” Aku kemari ingin menawarkan pekerjaan ke kamu.” Andre berbicara setelah melihat Lilin tidak lagi terlihat sedih.

” Pekerjaan apa, mas?”

” Kalau kamu tidak keberatan. Aku berharap kamu mau kerja di kantor papaku.”

Lilin menatap Andre dengan sedih. Dia jadi ingat ucapan ibu Prita. Tidak mungkin dia berada di kantor papa Andre kalau ibu Prita sudah tidak senang dengan kehadirannya. Dengan lemah Lilin menggeleng.

” Maaf mas, saya sudah senang bekerja di tempat saya sekarang. Kalau harus beradaptasi lagi dengan tempat baru rasanya saya tidak sanggup. Saya sudah berkali-kali pindah tempat kerja, sudah jenuh dengan pergantian lokasi kerja.”

Andre menatap Lilin. Dia tidak menyangka Lilin akan menolak tawaraannya. Dan alasan yang Lilin kemukakan juga tidak masuk akal. Ada orang ditawarkan tempat yang bagus justru menolak hanya karena malas beradaptasi?

“ Padahal aku berharap kamu menerima tawaranku. Jadi kita kerja bersama-sama. Aku rasanya belum siap untuk bekerja di kantor papa, tapi karena aku ingat kamu makanya aku bersemangat.”

Terlihat jelas Andre sangat kecewa. Tapi Lilin tidak bisa menerima tawaran itu. Hanya akan menambah masalah di kemudian hari.

” Aku hampir lupa, kenapa handphonemu tidak bisa dihubungi? Kamu sengaja matikan ya?” Lilin jadi ingat dengan handphonenya.

” Handphoneku hilang. Mungkin terjatuh entah dimana.” Lilin ingin menghilangkan jejaknya. Dia tidak ingin Andre terus menelponnya. Dengan mengatakan seperti itu semoga saja Andre tidak menelponnya lagi. Andre kecewa tapi hanya sesaat wajahnya terlihat cerah lagi seperti semula.

 ( Bersambung )


0 komentar:

Posting Komentar