“ Monik sayang, kemarin bareng Andre pergi kemana?” tanya ibu Prita. Mereka sedang duduk-duduk di teras samping. Sambil membuka majalah yang ada ditangannya di tatapnya calon menantunya itu sekilas.
“ Kemarin mas Andre nyari temennya, ma.”
“ Temannya laki atau perempuan?”
“ Perempuan, ma. Namanya Lilin.” Monik menjawab tanpa melihat ekspresi wajah ibu Prita karena dia juga asyik membuka majalah. Ibu Prita mengalihkan pandangannya ke Monik.
“ Lilin ? sepertinya mama pernah dengar nama itu. Tapi di mana ya?”
“ Kata mas Andre, Lilin temennya waktu di tinggal di Villa sama kakek dan nenek.”
Terlihat ibu Prita berusaha berpikir mencari jawaban dari rasa penasarannya. Dia seperti pernah mendengar nama itu. Ibu Prita kemudian meletakkan majalahnya di atas meja. Dia mengingat nama itu. Tapi ekspresi wajah ibu Prita saat menemukan jawaban atas pertanyaannya sama sekali jauh dari keramahan.
**
“ Ayolah, Lin. Ikut kami.” Bujuk Andre dengan wajah memelas.
Lilin memandang Andre dan Monik bergantian. Dia sebenarnya ingin menolak tapi tidak ada alasan yang bisa dia utarakan. Apalagi Andre sejak tadi terus membujuknya tanpa lelah.
“ Baiklah, aku ikut kalian.” Andre berseru gembira.
Dia lalu menarik tangan Lilin. Berjalan beriringan sambil memegang tangan Lilin. Andre lupa kalau Monik sejak tadi ikut bersamanya. Andre terlalu gembira hingga dia lupa kalau Monik adalah tunangannya. Lilin ingin melepaskan tangannya dari genggaman Andre tapi tangan Andre demikian erat memegang tangannya hingga susah terlepas. Monik hanya memandang mereka berdua yang berjalan di depannya sambil berpegangan tangan. Monik sadar kalau hal seperti ini akan terjadi.
Sejak melihat pandangan mata Andre saat pertama kali bertemu Lilin, Monik sudah bisa menebak arah hati Andre. Monik tahu sekarang waktu Andre bukan untuknya. Dia memang bersama-sama dengan Andre tapi dalam fikiran dan mata Andre hanya tertuju pada Lilin. Tak ada Monik di sana. Monik sedih, dia merasa terpinggirkan. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menanti saat di mana hati Andre benar-benar kembali padanya. Walau terkadang Monik ragu, apakah benar selama ini hati Andre telah dia miliki seutuhnya?
Mereka bertiga menikmati hari dengan gembira. Andre seperti ingin mengulang masa kecilnya dengan Lilin. Walau sekarang keadaan berbeda tapi Andre sama sekali tidak melihat hal itu. Dia hanya ingin bergembira dengan Lilin. Nonton bersama, jalan-jalan di mall, makan-makan di cafe. Bahkan saat mereka di toko perhiasan, Andre membeli sebuah kalung cantik bernisial M.
Monik semula mengira itu untuk dirinya. Seharian melihat hal yang menyakitkan mata, tiba-tiba dia melihat Andre memilih kalung dengan inisial M membuat Monik melupakan kesedihannya. Tapi air mata Monik nyaris tumpah sewaktu di mobil, Andre justru menghadiakan kalung itu untuk Lilin. Monik terdiam. Dia baru sadar kalau inisial nama Lilin sama dengannya M. Tapi Monik sepertinya harus bersabar lebih lama. Saat pertama kali Andre mengajak Lilin untuk menikmati kota bersamanya itu bukanlah untuk terakhir kalinya. Ada hari-hari yang lebih panjang yang disiapkan Andre untuk Lilin.
**
Monik termenung dikamarnya. Dia baru saja tiba setelah seharian jalan bareng dengan Andre dan Lilin. Tadi saat akan turun dari mobil, Andre hanya tersenyum melihatnya. Andre tidak turun dari mobil untuk mengantarnya sampai ke teras. Andre bahkan tidak mencium Monik. Monik berdiri di teras sesaat setelah dia menutup pintu mobil. Mobil Andre melaju meninggalkan Monik yang masih berdiri mematung memandang mobil Andre.
Monik menatap cincin tunangan yang melingkar manis di jemarinya. Itu cincin tanda ikatan cinta dia dengan Andre. Monik percaya dengan kekuatan cinta yang ada dalam cincin itu. Mengapa sekarang dia merasa cintanya tengah di uji? Saat melihat Andre memperlakukan Lilin dengan sangat manis, dia merasa hatinya teriris sembilu. Tapi kenapa Andre sama sekali tidak tenggang rasa terhadapnya? Apakah cuma dia yang terlalu menganggap serius perlakuan Andre ke Lilin padahal Andre menganggap itu sebagai hal biasa?
Monik resah demikian pula dengan Lilin. Sejak tiba di rumah setelah seharian menghabiskan waktu dengan Andre dan Monik, Lilin merasa hatinya tidak tenang. Tiap kali teringat Andre jantungnya berdebar tidak karuan. Ada perasaan senang saat Andre memegang tangannya. Awalnya Lilin risih. Dia merasa tidak nyaman karena ada Monik. Tapi kata-kata Andre yang mengatakan tidak ada salahnya berpegangan tangan karena dia sangat rindu dengan Lilin membuat Lilin pasrah. Terlebih karena Lilin juga sangat rindu dengan Andre. Apa salahnya memanjakan hati untuk sehari itu. Karena mereka sudah lama sekali tidak bertemu.
Lilin menatap kalung pemberian Andre. Ada inisial M. Inisial itu dari namanya Meylin. Sudah lama sekali Lilin tidak merasakan perasaan seperti ini. Dia merasa sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan Andre. Lilin teringat dengan Miko. Seandainya mereka bertiga bisa bertemu kembali alangkah bahagianya. Mereka bisa menghabiskan waktu bersama sambil mengenang masa lalu. Lilin tertidur sambil memegang kalung yang melingkar di lehernya. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu kembali dengan Miko.
**
“Andre, kamu mau kemana sayang?” tanya ibu Prita ketika dilihatnya Andre melewati ruang makan.
” Andre keluar dulu, ma.” Andre terus melangkah ke luar. Ibu Prita menyusulnya dengan cepat.
” Andre, mama mau bicara Sebentar saja.” Andre menghentikan langkahnya. Jaraknya tinggal selangkah dari mobilnya. Andai ibu Prita tidak berlari mengejarnya, mungkin Andre sudah menjalankan mobilnya.
Andre mendekati ibu Prita.
” Ada apa, ma?”
Ibu Prita memperlihatkan undangan pernikahan. Andre menerimanya dengan heran.
” Undangan siapa ma?”
” Itu contoh undangan pernikahan kamu.”
“Lho, Andre belum mau menikah sekarang, ma. Kenapa sudah ada pemesanan undangan?” .
Protes Andre dengan wajah cemberut.
” Kamu sudah tiga tahun tunangan. Apalagi yang kamu tunggu? Selain pernikahan apa tujuan kalian untuk tunangan? Pada akhirnya semua harus menikah. Iya, kan?” Ibu Prita melihat wajah anaknya yang muram.
“ Tapi bukan sekarang, ma.”
” Lalu kapan? Sekarang kita ada di Indonesia. Apa salahnya diadakan sekarang. Toh kamu tidak repot mempersiapkan. Biar mama yang tangani. Kamu tinggal terima beres saja.”
Andre melangkah menuju mobilnya. Dia tidak mendengarkan ucapan mamanya. Dia hanya melihat dari kaca mobil, mamanya masih melihat undangan yang ada ditangannya. Andre ingin menjelaskan tapi pasti mamanya akan sulit menerima. Apa nanti tanggapan mamanya kalau Andre mengatakan bahwa dia butuh waktu untuk memastikan perasaannya. Pasti mamanya tidak akan menerima alasan seperti itu.
Sebenarnya sebelum bertemu Lilin, Andre sudah merasa kalau dia mencintai Monik. Hatinya yakin dan dia sudah siap jika mereka akan menikah. Tapi saat bertemu Lilin ada sesuatu yang berubah. Dia merasa hatinya damai saat bersama Lilin. Sesuatu yang tidak dia rasakan saat bersama Monik. Andre butuh waktu untuk memastikan perasaannya. Dia ingin tahu perasaannya terhadap Monik apakah memang cinta yang sesungguhnya ataukah perasaan itu milik Lilin? Andre tidak ingin mendua tapi dia juga butuh kepastian. Pernikahan adalah keputusan yang penting. Andre ingin saat dia memutuskan untuk menikah tidak ada lagi keraguan dalam hatinya.
Handphone Andre berbunyi. Pesan masuk. Dari Monik
Andre bisa kita ketemu sekarang. Aku di rumah.
Andre menaruh handphonenya di jok mobil. Sms dari Monik membuatnya harus mengubah rencana. Dia berencana untuk menemui Lilin karena sejak tadi malam dia terus merasa gelisah. Padahal kemarin mereka seharian menghabiskan waktu bersama-sama. Aneh karena dia tetap merasa rindu dan ingin bertemu.
Andre mengambil handphonenya. Dia ingin menghubungi Lilin.
“ Hallo, kamu Lin? Ini aku Andre.”
” Ada apa, mas?” suara Lilin terdengar aneh. Andre memperbaiki posisi handphonenya.
” Kamu kenapa, Lin? Kamu sakit ya? Kog suaramu terdengar parau?”
Terdengar Lilin batuk-batuk.
” Cuma batuk pilek kog mas, mungkin capek seharian kemarin keliling-keliling.”
” Sekarang kamu di mana?”
” Saya di tempat kerja.”
” Ok. Nanti aku kesana.”
Andre kemudian mengarahkan mobilnya menuju rumah Monik. Dia akan menemui Monik terlebih dulu setelah itu baru menemui Lilin. Walau arah mobilnya menuju rumah Monik tapi yang ada dalam pikiran Andre adalah Lilin. Dia khawatir dengan Lilin. Sejak kecil Lilin suka sakit-sakitan. Capek sedikit saja pasti dia demam.
“Aku ingin kita bicara tentang pernikahan kita, Ndre.” Ucap Monik. Andre tiba setengah jam yang lalu dan sekarang mereka sedang ada di teras samping rumah Monik. Alis Andre terangkat. Dia merasa aneh. Tadi dirumah, mamanya menunjukkan undangan pernikahan. Sekarang Monik membicarakan rencana pernikahan mereka. Ada apa ini?
” Apa mamaku yang mengusulkan ide pernikahan ini?” tanya Andre sambil menatap Monik. Monik salah tingkah. Dia tidak menyangka Andre akan menanyakan hal seperti itu. Menurutnya membicarakan pernikahan bagi mereka bukan hal yang aneh. Mereka sudah tiga tahun bertunangan, justru kalau tidak ada niat menikah maka itu wajar di pertanyakan.
” Apa harus mamamu yang memberikan ide baru kita bisa menikah? Aku yang mengusulkan lalu mamamu dan mamaku berunding. Apa keinginanku itu terlalu berlebihan?” Andre terdiam. Dia mempermainkan kunci mobil yang sejak tadi ada dalam genggamannya.
” Aku tidak bisa memutuskan sekarang. Aku belum siap untuk menikah. Itu saja alasanku”
Monik menatap Andre. Kekhawatirannya selama ini sepertinya beralasan. Dia khawatir akan perhatian Andre ke Lilin. Dia hanya ingin tahu bagaimana perasaan Andre terhadapnya. Maka tanpa sepengetahuan Andre, Monik menelpon ibu Prita dan mengirimkan contoh undangan yang nanti akan dia pakai. Ternyata ibu Prita menyambut gembira keinginan Monik. Dia memang ingin agar Andre cepat menikah.
Tapi ibu Prita tidak tahu kalau Monik ingin mempercepat pernikahannya karena Monik resah dengan kehadiran Lilin. Monik tidak percaya diri bersaing dengan Lilin walau dia tahu dalam segala hal dia lebih dari Lilin. Tapi Lilin punya masa lalu dengan Andre. Masa lalu yang terekam dalam ingatan Andre dan terus terbawa mengikuti irama hidupnya. Monik baru saja mau membuka kebersamaannya dengan Andre ketika Lilin tiba-tiba muncul. Andre yang semula memperhatikan Monik jadi berubah lebih memperhatikan Lilin. Monik tahu mungkin dia yang terlalu cemburu. Tapi bukankah wajar jika dia cemburu. Melihat tunangan akrab dengan wanita lain adalah hal yang wajar bagi siapapun untuk cemburu.
” Aku hanya ingin agar hubungan kita menjadi resmi dalam suatu ikatan perkawinan. Tapi kalau menurutmu aku terlalu memaksa, maka sebaiknya kita tunda saja.” kata Monik akhirnya setelah dilihatnya Andre hanya terdiam setelah kata-kata terakhirnya. Andre ternyata tersentuh juga dengan ucapan Monik. Dia sadar mungkin kata-katanya tadi telah menyakiti hati Monik.
” Maafkan aku Monik. Aku bukan tidak ingin menikah denganmu tapi untuk sekarang, aku rasa bukan waktu yang tepat.”
Waktu yang tepat untuk siapa? Batin Monik. Untukmu? Karena Lilin sekarang hadir dalam kehidupanmu?
Andre meninggalkan rumah Monik dengan rasa gundah. Bebannya kini makin bertambah. Dia tahu tidak ada yang salah dari keinginan mamanya dan Monik. Tapi Andre tidak ingin sekarang. Saat ini bukan waktu yang tepat. Salahkah jika dia ingin kepastian hati saat memasuki pernikahan? Andre tidak ingin membawa beban ke dalam perkawinannya. Dia tidak yakin dengan ketenangan rumah tangganya saat bayangan Lilin bermain-main dalam pikirannya. Andre hanya ingin kepastian itu saja. Tapi pasti Mamanya dan Monik tidak akan pernah mengerti Bahkan mungkin mereka akan marah kalau tahu Andre sedang mempertaruhkan masa depan hubungannya dengan Monik hanya demi seorang Lilin.
Lilin sedang menyusun barang-barang di etalase saat tangannya di tahan seseorang. Lilin berbalik ternyata Andre yang menahan tangannya. Andre tersenyum manis.
” Mas Andre? Sejak kapan datang?”
” Baru saja. Kamu pulangnya jam berapaan?”
” Jam empat. Ada apa sih, mas? Mau ngajak jalan-jalan lagi? Saya nggak bisa mas. Sekarang saya nggak enak badan.”
Andre tertawa.
” Aku mau mengantarmu ke dokter. Kamu kog geer amat.”
Andre melirik jam tangannya. Jam dua. Itu artinya masih dua jam lagi Lilin bebas tugas. Dia tidak mungkin berada di dekat Lilin selama dua jam. Karena itu sama saja dengan mengganggu pekerjaan Lilin. Akhirnya Andre menunggu di cafe yang ada dalam swalayan. Cafe kecil yang hanya terdiri dari tiga pasang kursi dan meja. Dia menunggu di sana sambil memperhatikan Lilin yang sedang bekerja. Tempat Lilin berdiri memang terlihat jelas dari cafe. Sesekali Andre mengirim sms-sms lucu yang membuat Lilin tertawa. Saat tertawa Lilin akan memandang Andre dari kejauhan.
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar