Sabtu, 26 November 2011

Janji Yang Tak Bisa Di Tepati

0


13169287311303614606

Aku salah tingkah. Sejak tadi aku duduk dengan gelisah. Segelas jus alpukat menjadi penetral rasa gugupku. Dan kini, gelas itu telah kosong. Aku tak punya sesuatu lagi untuk mengalihkan perhatianku. Sementara didepanku, isi gelas mas Dito sama sekali belum berkurang. Dia belum menyentuh minumannya.

“ Aku mau minta jus alpukat lagi.” Kataku bersiap untuk berdiri tapi tangan mas Dito menahanku.

“ Duduklah dulu. Jus itu tidak akan menyelesaikan masalah.Kalau kamu mau, kamu bisa minum minumanku. Aku tidak tertarik untuk memasukkan sesuatu ke mulutku sekarang ini.” Katanya lalu menyorongkan gelas miliknya kedepanku.

Aku akhirnya kembali duduk. Kupandangi gelas yang kini ada didepanku. Sebenarnya aku tidak merasa haus.Tapi kali ini aku benar-benar kikuk. Aku bingung mau bersikap bagaimana menjalani pembicaraan dengan mas Dito.

Tissu yang kupegang telah basah dan menjadi bulatan-bulatan bola. Tanpa sadar aku terus menggulungnya.

Mas Dito perlahan menyentuh tanganku. Aku menatapnya sekilas lalu menunduk lagi. Ingin kutarik tanganku tapi mas Dito menahannya dengan kuat.

Minara, tolong beri aku kepastian. Ini sudah satu tahun. “ Aku menatapnya.

Wajah mas Dito terlihat sendu. Aku menunduk lagi.

“ Tapi..aku belum bisa melupakannya, mas.”

“ Aku tidak minta kamu melupakannya. Tapi tolong beri aku kesempatan. Aku akan sabar menunggu sampai kamu bisa menerimaku. Tapi selama menunggu, kita jalani kebersamaan kita.Jangan seperti sekarang ini. Menggantung. Kamu masih ingatkan pesan Dimas padaku?”

Aku mengangguk sambil tetap menunduk.

Kejadian setahun lalu kembali membayang dipelupuk mataku.

Ketika mas Dimas sakit parah. Detik-detik terakhir dia berpesan pada mas Dito. Meminta mas Dito menggantikan posisinya di hatiku. Aku hanya bisa menangis kala itu. Bahkan saat mas Dimas meraih tanganku dan menyatukannya dengan jemari mas Dito, aku hanya berlinang air mata.

Perasaan sedih karena tahu akan segera kehilangan sosok mas Dimas, membuat pikiranku tidak fokus. Aku setuju saja dengan semua hal yang dikatakan mas Dimas. Hingga mas Dimas meninggalkan kami selamanya, aku tetap setuju dengan pesan yang telah disampaikan. Janji mas Dito untuk menjagaku, di laksanakan dengan tulus. Aku juga mulai berbesar hati melepaskan mas Dimas dan bersiap menerima kehadiran mas Dito dihatiku.

Hingga suatu hari, mbak Miska, kakakku mengalami kecelakaan. Kakinya lumpuh dan tak bisa berjalan lagi. Rasa sedihku masih belum pulih setelah ditinggal mas Dimas, bertambah lagi dengan musibah yang dialami mbak Miska. Keluargaku makin diliputi mendung. Ayah mulai terlihat murung, ibu kadang kulihat menangis sendirian di dalam kamar. Duka itu telah menghilangkan rasa bahagia dalam keluarga kami.

Aku akhirnya menunda keinginan memberitahu mas Dito kalau aku menerimanya. Aku tidak ingin menyampaikan berita gembira sementara keluargaku masih merasa sedih. Walau aku tahu, mas Dito pasti tetap akan merasa sedih mengingat selama ini hubungannya dengan mbak Miska sangat dekat. Mereka seringkali pergi berdua atau jalan bersama. Aku menganggap hubungan mereka seperti saudara karena mas Dito sering mengatakan seperti itu padaku. Dia menganggap Miska adalah calon kakak iparnya karena itu dia berbaik hati untuk menemani kemanapun, sesuai permintaan Miska.

Hubunganku dengan mas Dito, masih dianggap keluarga sebagai hubungan persahabatan. Mereka tak tahu tentang pesan dan janji yang telah diucapkan oleh mas Dimas dan mas Dito. Setelah kehilangan mas Dimas, aku sangat rapuh. Dan kehadiran mas Dito, dimata keluargaku dianggap sebagai sahabat yang bisa menghiburku.

Tapi malam itu, kudengar mbak Miska menangis. Tangisnya membuatku bangun dari pembaringan dan menuju kamarnya. Kubuka pintu perlahan. Nampak dia duduk di kursi roda menghadap jendela kamarnya. Tubuhnya bergetar menahan kesedihan. Aku mendekati, lalu mengelus rambutnya. Mbak Miska tahu kehadiranku. Dia memegang jemariku.

“ Mbak? Mbak kenapa?” tanyaku dengan mata yang mulai basah karena iba. Aku tahu pertanyaanku sangat konyol. Siapapun tahu mengapa mbak Miska menangis. Kehilangan kaki tentu membuat rasa sedih yang teramat sangat.

“ Mbak takut Minara..”

“ Takut kenapa, mbak?” aku maju hingga berhadapan dengannya. Dengan bersimpuh kupegang kedua tangannya yang sangat dingin. Wajah mbak Miska terlihat pucat.

“ Mbak takut, mas Dito akan meninggalkan mbak. Setelah mbak lumpuh, tentu mas Dito tidak ingin lagi bersama, mbak. Padahal mbak sangat mencintainya..huhuhuhu..”

Aku terperangah mendengar ucapan mbak Miska. Dengan lunglai aku duduk di lantai. Tanganku melemah hingga tak sanggup lagi memegang jemari mbak Miska. Aku tak sanggup lagi berpikir. Semuanya terasa gelap. Ketika aku mulai bisa menerima kehadiran mas Dito, ada seseorang yang menderita karenanya. Orang itu adalah kakakku sendiri. Haruskah aku menambah penderitaannya dengan menyampaikan kabar kalau sebentar lagi aku akan bertunangan dengan mas Dito?

“ Minara?” suara mas Dito membuyarkan lamunanku.

“ Bagaimana dengan mbak Miska, mas?” pertanyaanku membuat mas Dito menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“ Aku menganggapnya sebagai kakakku karena dia adalah kakakmu. Tidak lebih.”

“ Tapi mbak Miska mencintai mas dan mengira mas juga merasakan hal yang sama. Sekarang dengan kondisinya yang lumpuh, bagaimana mengatakan tentang hubungan kita. Mbak Miska bakal mengira, karena dia lumpuh maka mas Dito meninggalkannya dan memilih aku. Apa aku tega mas? Adik macam apa aku ini?”

“ Tapi aku tidak mencintainya, Minara.”

“ Tapi yang tahu itu cuma aku, mas. Mbak Miska dan orang tuaku tidak tahu karena kalian akrab sebelum mas Dimas meninggal. Kalau mas memilihku, orang tuaku akan menganggap akulah yang telah merebut mas dari mbak Miska. Sekarang yang terluka itu mbak Miska, bukan lagi aku. Akan terlihat kejam kalau aku akhirnya bersama mas.”

“ Minara! Cinta tidak bisa dipaksakan. Aku memilihmu sejak dulu.”

“ Benarkah? Bukankah kalau mas Dimas tidak meninggal, hubungan kalian pasti akan lanjut ke jenjang pernikahan. Iya, kan? Maafkan aku mas Dito. Aku tidak bisa memberi mas peluang, jika dalam peluang itu pihak yang terluka adalah kakakku dan orang tuaku. Andai mbak Miska tidak lumpuh, walau sulit, bebanku tidak akan terlalu berat mengatakan tentang hubungan kita. Orang tuaku juga mungkin akan memaklumi karena aku sedang drop pasca kehilangan mas Dimas. Tapi sekarang, yang drop itu mbak Miska. Sungguh terlalu kalau aku masih menambah beban dalam dukanya.”

Aku segera berdiri. Tak ada lagi yang harus aku bicarakan dengan mas Dito. Semuanya jelas. Pesan dan janji yang telah mereka ikrarkan dulu, tidak bisa terwujud.

“ Minara, tunggu!” mas Dito berdiri menahanku.

“ Aku tidak bisa bersama mbak Miska.” Kata mas Dito lemah.

“ Kalau begitu, kita juga tak bisa bersama. Sepanjang hidupnya, pasti mbak Miska akan menganggap kelumpuhannya yang membuat mas Dito pergi. Mas pikir orang yang sedang rapuh seperti mbak Miska, bisa berpikir dengan akal sehat? Hal-hal kecil saja bisa membuatnya tersinggung, apalagi hal sebesar ini. Maafkan aku. Aku permisi, mas.”

Aku melangkah meninggalkan cafe menuju tempat dimana mobilku terparkir. Sambil berjalan kedua mataku telah menghadirkan bulir-bulir bening air. Aku melangkah cepat, lalu membuka pintu mobil. Kularikan kendaraan dengan kencang. Hatiku benar-benar terluka. Saat aku mulai merasakan cinta pada mas Dito, saat ini pula aku harus melepaskannya. Aku tidak ingin bahagia diatas penderitaan mbak Miska.

Maafkan aku mas Dimas, pesanmu tidak terlaksana. Janjiku waktu itu ternyata tak bisa aku tepati. Maafkan aku, semoga di alam sana, engkau mendengar dan bisa memahami alasanku. ***

0 komentar:

Posting Komentar