Sabtu, 26 November 2011

Di Bawah Rindang Pohon Kemboja

0



13190777531876611731

Hari ini benar-benar luar biasa bagiku. Aku bertemu dengan mantan tunanganku, mas Herman. Seseorang di masa lalu yang nyaris saja menjadi suamiku. Walau diantara kami tidak ada saling benci, namun sejak kami memutuskan untuk berpisah tak pernah sekalipun kami saling kontak.

Aku tidak ingin menghubunginya, begitupun dia. Kami saling menjaga jarak. Lebih baik seperti itu. Membiarkan waktu berlalu menjadi kenangan baik. Aku dan dia sama-sama menyadari, tidak ada gunanya meneruskan pertunangan yang membuat kami tersiksa. Saling mempertahankan keinginan masing-masing dan tidak ada yang ingin mengalah, membuat perpisahan adalah jalan terbaik.

Pagi ini tanpa sengaja kami bertemu di sebuah gedung. Kantorku dan kantornya mengadakan acara di gedung yang sama. Kami lalu sepakat untuk bertemu sore ini di cafe. Tempatnya berdekatan dengan gedung tempat acara berlangsung.

“ Kamu sudah menikah?” suaranya masih tetap tenang seperti dulu. Cara dia menatapku saat bertanya, juga masih sama. 8 tahun ternyata tak membuatnya berubah.

“ Sudah. Aku dengar mas juga udah nikah, ya? Anak mas sekarang ada berapa?” tanyaku. Mas Herman tersenyum lalu menyeruput jus jeruk yang sejak tadi belum di minumnya.

“ Anakku sudah dua. Kalau kamu?”

“ Aku kalah, mas. Anakku Cuma satu. Belum dapat adeknya sampai sekarang.”

“ Nambah lagi satu. Kasihan gak ada temannya.”

Aku tertawa.

“ Iya, mas. Nanti saja.” Jawabku.

“ Suamimu kerja dimana?”

“ Dia kerja di bank swasta. Kalau istri mas? Kerja juga ya?”

Dia mengangguk cepat.

“ Sama. Dia juga kerja di bank swasta.”

Kami terdiam beberapa saat. Sibuk dengan pikiran kami. Aku bisa tahu yang aku pikirkan, tapi yang ada dalam pikirannya aku tidak bisa menebak. Mungkin dia juga sama gugupnya denganku. Sama-sama bingung mencari topik pembicaraan.

“ Mas sekarang tinggal dimana?” tanyaku memecah kebisuan diantara kami.

Dia menoleh, darahku berdesir. Kulihat pandangan matanya sangat sendu. Begitu jauh menerawang seolah tak ada aku didekatnya.

“ Di kompleks perumahan…” mas Herman menyebut nama perumahan. Lokasi yang sangat terpencil. Dekat dengan pekuburan umum. Setahuku, di tempat itu sangat sunyi. Mengapa dia memilih tinggal di tempat itu? bukankah masih banyak perumahan yang lokasinya lebih ramai?

“ Oh, disana. Aku tahu tempatnya.” Kataku.

“ Aku tahu yang ada dibenakmu. Kamu pasti herankan, kenapa aku memilih tinggal disana?” tebakannya membuatku kikuk. Dia tahu apa yang aku pikirkan.

“ Aku merasa damai ada disana. Orang-orang yang aku sayangi berada dekat denganku.”

“ Maaf, aku tidak berpikir begitu. Cuma aneh saja.”

“ Yah, sama saja. Semua orang akan berpikiran sama denganmu jika aku mengatakan alamat rumahku. Sudah umum pandangan orang-orang seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur senang berada disana.”

Kami terus ngobrol hingga dua jam lamanya. Suasana kaku di awal pertemuan perlahan mencair. Kami sudah bisa menetralisir perasaan masing-masing dan larut dalam perbincangan yang hangat. Dalam hati aku merasa aneh juga. Ternyata kami bisa sama-sama melupakan masa lalu. Mas Herman kini hidup bahagia dengan keluarganya begitu juga denganku. Kehidupan kami telah memiliki jalan masing-masing. Tidak terbayangkan kesedihan kami saat awal perpisahan. Sekarang kami bisa tersenyum menceritakan masa lalu.

Kami berpisah menjelang maghrib. Mas Herman mengendarai mobilnya, begitu juga denganku. Sore yang tidak mungkin aku lupa. Ini pertemuan pertama kami sejak berpisah delapan tahun yang lalu. Pertemuan yang indah, karena kami sama-sama telah menikmati kebahagiaan kami masing-masing.

Seminggu berlalu. Tak sengaja aku bertemu lagi dengannya. Tapi kali ini kami tidak janjian untuk bertemu di cafe. Kami hanya saling menyapa sebentar lalu dia membawa mobilnya meninggalkan parkiran.

Tapi pertemuan kali ini membuatku curiga. Mas Herman baru saja meninggalkan tempat praktek tanteku yang seorang psikiater. Rasa penasaran membuatku tak bisa menahan diri untuk bertanya pada tante Corry.

“ Sudah lama Herman jadi pasien tante. Dia juga yang meminta tante tidak memberitahu kamu. Kasihan dia, istri dan anaknya meninggal karena kecelakaan. Setiap hari dia hanya menjenguk makam mereka yang ada di dekat rumahnya.”

Ucapan tante Corry membuat jantung serasa berhenti berdetak. Mataku seketika penuh dengan air mata. Tanpa menunggu cerita tante Corry, aku segera pamit. Kularikan mobilku menuju tempat kerja mas Herman. Aku benar-benar tidak tahu musibah yang dialaminya. Pantas saja dia memilih tinggal di kompleks perumahan dekat pemakaman umum. Ternyata di sana ada makam istri dan anaknya.

Tiba di kantor mas Herman, aku di tunjukkan ruang kerjanya. Saat dia membuka pintu tanpa sadar aku memeluknya. Aku menangis sambil minta maaf. Teringat tawa dan canda kami saat pertemuan di cafe. Mengapa mas Herman tidak bercerita tentang musibah yang menimpanya? Aku benar-benar sedih. Sayang sekali aku tidak bisa menebak arti tatapan sendu mas Herman kala itu. Ternyata dia menyimpan duka yang teramat pedih. ***

0 komentar:

Posting Komentar