Sayangku…
Surat ini semoga belum terlambat untuk menjadi jembatan kasih kita yang nyaris terlepas. Aku tidak ingin membuat hatimu menjadi bimbang setelah keputusan yang teramat berat hadir dalam pikiran kita. Aku tidak ingin kita berpisah walau itu menjadi pilihan terbaik. Sekali lagi aku tidak sanggup jika kita harus berpisah.
Sayangku…
Tetaplah menjadi kesayangan dalam hatiku. Aku tidak ingin kisah kita seperti api unggun. Yang nyalanya begitu membara menjelang malam namun meredup saat kokok ayam mulai terdengar bersahutan. Rasa takut itu bukan karena aku membenci api unggun. Aku ingin kehangatannya membuat cinta kita selalu ada dan menjaga hati kita tetap saling memiliki. Aku bukan takut menghadapi udara dingin saat subuh. Aku bukan takut embun akan menetes menambah dingin tubuhku. Aku bukan takut sinar mentari akan menyinari tubuhku.
Aku takut saat aku membuka mataku, kamu tak ada disampingku. Aku takut kamulah yang akan meninggalkan aku sendirian menghadapi api unggun. Aku takut langkah kakimu akan semakin jauh meninggalkan api unggun, meninggalkan aku. Aku bahkan tidak bisa melangkah lagi jika kamu benar-benar meninggalkan aku. Jika hendak pergi dalam tidurku, pergilah sejenak. Namun kembalilah sebelum fajar menembus kedua mataku. Aku ingin saat membuka mataku yang terlihat pertama kali adalah wajah dan senyummu.
Sayangku…
Aku berharap bisa selamanya memanggilmu dengan panggilan sayang. Aku tidak ingin panggilan itu berubah. Tetaplah juga memanggilku dengan sebutan itu karena tidak ada yang membawa kesejukan dihati selain mendengarmu menyebut namaku dengan kata sayang.****
0 komentar:
Posting Komentar