_________________________________________________________________________________
Aku baru tiba dari kampus saat kudapati Nina, teman kostku sedang merenung menghadap jendela di dalam kamar. Aku mengucapkan salam lalu menaruh tas di atas meja.
“ Melamunkan apa sih, Nin?” tegurku sambil membuka lemari pakaian. Aku mengeluarkan kaos lengan panjang putih dan rok lalu berganti pakaian. Kudengar Nina menghela nafas.
“ Bentar lagi puasa.” Gumamnya. Aku melihatnya sekilas.
“ Mau puasa kok kamu kelihatan lesu. Puasa berarti kita bisa mudik. Iya, kan?”
Kembali Nina menghela nafas. Aku sudah selesai berganti pakaian dan sedang menggantung pakaianku di belakang pintu ketika kudengar Nina seperti menangis. Perlahan aku mendekatinya lalu menyentuh pundaknya. Benar, dia sedang menangis. Airmata menetes dipipinya yang putih.
Aku menatapnya dengan heran. Tidak biasanya Nina menangis. Dia adalah gadis yang ceria. Kami memang baru setahun ini satu kamar dan mungkin aku belum mengenalnya terlalu dalam. Namun satu tahun juga bukan waktu yang singkat untuk bisa mengenal sosoknya yang supel dan penuh dengan canda tawa.
“ Kamu kenapa? Kok nangis? Sebentar lagi kita mudik loh. Jangan sedih ya.” Aku mengelus-elus pundaknya. Rasanya sedih juga melihat dia menangis. Tak sadar mataku ikut berkaca-kaca. Aku memang tidak tahan bila melihat orang sedang menangis. Tidak butuh waktu lama, pasti aku akan terbawa suasana dan jadi sedih.
“ Aku tidak akan pulang.” Ucap Nina dengan terisak.
“ Kenapa? Bukankah kamu selalu merindukan ramadhan karena bisa kumpul dengan keluargamu?” Nina menggeleng.
“ Aku tetap tidak mau pulang.”
“ Kenapa? Tidak ada duit untuk ongkos pulang? Nanti aku bantu kalau kamu memang butuh.” Nina menggeleng. Airmata tetap mengalir di kedua pipinya.
“ Makasih. Tapi aku memang nggak mau pulang.” Aku makin heran mendengar jawaban Nina. Rasanya aneh jika dia tidak ingin pulang kampung. Sejak satu kamar dengannya di rumah kost ini, dia selalu bercerita tentang keluarganya.
Nina selalu menceritakan bagaimana persiapan keluarganya menyambut ramadhan. Bagaimana gembiranya mereka sekeluarga bisa berkumpul bersama menikmati bulan puasa. Kadang aku iri mendengar dia bercerita. Keluargaku tidak seperti yang dia ceritakan. Kami memang tetap menjalani puasa dengan bahagia, namun beda dengan Nina. Cara dia menggambarkan situasi rumahnya terlihat kalau dia begitu bahagia.
“ Di depan rumahku, ada pohon kelapa. Nah, waktu kecil aku dapat hadiah satu butir kelapa jika aku bisa puasa sampai sehari penuh. Cuma karena buahnya sedikit, jadi nggak sampai sebulan udah habis.hehehehe.” ceritanya suatu hari dengan begitu gembira.
“ Papa dan mama juga lebih banyak dirumah. Padahal diluar puasa, bertemu dengan papa dan mama itu sangat susah karena mereka sangat sibuk. Puasa benar-benar membuat keluargaku kompak. Saudara-saudaraku semua balik kerumah. Rumah jadi ramai, menyenagkan.” Mata Nina berbinar saat bercerita. Aku biasanya tersenyum namun dalam hati merasa sedih juga. Keluargaku kadang tidak bisa berkumpul bersama karena masing-masing sibuk dengan urusan mereka. Aku biasa berbuka puasa hanya di temani pembantu dan anaknya yang tinggal bersama kami.
“ Kami juga pernah berpuasa di Villa kami. Papa dan mama khusus meninggalkan kantor pada asistennya, agar bisa berkumpul bersama kami. Papa dan mama memang sangat baik. Sengaja menyediakan waktu untuk menemani kami.”
Aku makin sedih mendengar kisahnya. Dirumahku tidak seperti itu. Bahkan sampai lebaran, ayahku sibuk bekerja. Ibuku juga sama. Malah menjelang ramadhan ibu makin sibuk mengurus tokonya yang menjual kue dan makanan. Walau aku membantu ibu di toko, aku tetap bahagia hingga kudengar cerita dari Nina. Benar-benar kehidupan kami sangat berbeda. Nina gadis yang beruntung memiliki keluarga yang begitu sempurna.
Tapi kenyataan yang ada didepan mataku sekarang membuatku penasaran. Mengapa Nina yang jika bercerita tentang keluarganya begitu semangat dan gembira, tiba-tiba tidak ingin pulang? Bukankah aneh jika dia tidak ingin berkumpul dengan keluarganya? Jika dia merasa begitu bahagia setiap ramadhan tiba, seharusnya dia mudik kerumahnya. Bukan berdiam di rumah kost seperti yang nanti akan dia jalani jika kami semua telah mudik ke rumah masing-masing.
Nina mengambil sesuatu dari dalam lemari lalu kembali duduk di dekatku.
“ Ini rumahku.” Ucapnya sambil menyerahkan selembar foto. Aku menerimanya lalu melihat foto itu. Di foto itu nampak rumah semi permanen yang sangat sederhana. Aku melihatnya tapi tetap tidak mengerti mengapa Nina memperlihatkan foto itu padaku.
“ Selama ini aku berbohong padamu. Kehidupanku tidak seperti yang aku ceritakan. Itu hanyalah hayalanku tentang hidup yang aku impikan. Orang tuaku meninggal sewaktu aku masih kecil. Jadi sejak kecil aku tinggal berdua saja dengan kakakku. Kehidupan kami sangat sederhana. Aku bisa kuliah seperti sekarang ini karena mendapat bea siswa.” Nina menunduk sambil menangis. Aku terkejut mendengar pengakuannya.
“ Aku tidak ingin pulang karena percuma saja. Disana tidak ada siapa-siapa. Yang ada hanya penjaga rumah. Kakakku dan istrinya pergi merantau. Kehidupan mereka juga sangat pas-pasan. Aku tidak ingin merepotkan mereka.”
Kusentuh jemari Nina. Aku memang kaget mendengar penuturannya tapi justru itu yang membuatku makin sedih. Ternyata apa yang Nina ceritakan selama ini tidak benar. Sungguh malang nasib Nina, dia hidup dengan imajinasinya agar bisa tetap terlihat bahagia padahal dalam hati dia menderita.
“ Kamu ikut kerumahku saja. Kita mudik berdua. Aku tidak tega meninggalkan kamu sendirian disini. Mau ya? “ bujukku. Nina menatapku dengan mata yang dipenuhi embun.
“ Keluargamu nggak marah?” aku menggeleng cepat.
“ Keluargaku pasti senang menerimamu. Hanya mungkin kamu akan repot membantu di toko kue milik ibuku dan kamu jangan tersinggung ya kalau ibuku cerewet hahaha..” aku tertawa. Senyum Nina akhirnya hadir di wajahnya setelah sejak tadi hanya dihiasi mendung dan air mata. Tiba-tiba dia memelukku. Aku membalas pelukannya dengan erat karena kutahu itu adalah tanda bahwa dia sangat bahagia.****
0 komentar:
Posting Komentar