Sudah beberapa hari ini Novi, keponakanku tinggal bersama kami di desa. Dia ingin menghabiskan masa libur kuliahnya sambil menikmati udara pegunungan yang sejuk.
“ Kamu masih ingatkan jalan ke rumah tante?” tanyaku agak cemas saat dia sudah ada diterminal. Dia menghubungiku via handphone.
“ Masih kok, tante. Dulu aku kan pernah ke sini. Waktu umur 12 tahun. Tante masih ingatkan?”
Aku tersenyum.
“ Iya, tante lupa. Ya, sudah kalo gitu tante tunggu kamu dirumah , ya. Tante jadi nggak enak nih, sopir tante lagi sakit. Tante nggak tau nyetir, om mu lagi keluar kota.”
“ Nggak apa-apa tante. Aku berani kok.” Ucapnya dengan semangat. Keponakanku itu selain lembut juga pemberani. Dia suka melakukan perjalanan seorang diri. Tidak heran kalau orang tuanya begitu cemas melihat keadaan putrinya.
Aku masih ingat beberapa hari sebelum kedatangannya. Kakakku setiap malam menelpon mengabarkan kalau anaknya akan kerumahku. Ini bukan perjalanan biasa. Harus ditempuh dengan pesawat, selanjutnya naik ferry, lalu naik bus baru tiba dirumahku.
“ Aduh, Lisa. Mbak nggak tenang. Gimana kalo kamu yang jemput dia kesini?” usul kakakku yang membuatku tertawa.
“ Mbak gimana sih. Novi itu sudah besar. Biasa keluar negeri. Masak ke sini aja harus dijemput? Trus yang jemput siapa?aku?gimana Yuyun dan Fisca kalau bundanya pergi?” kataku membuat alasan.
Ternyata kekhawatiran kakakku tidak terjadi. Anak gadisnya yang cantik tiba dengan selamat dirumahku. Novi bahkan sudah mengelilingi pegunungan sejak kedatangannya empat hari yang lalu. Benar-benar petualang sejati. Baru tiba sore itu, dia langsung menyusuri pedesaan tempatku tinggal. Tidak nampak kelelahan di wajahnya, selain rasa gembira.
~~
“ Darimana,Vi?” tanyaku saat dia pulang menjelang malam. Tepat tujuh hari kedatangannya dirumahku. Novi tersenyum lalu duduk di sebelahku. Dia ikut melihat majalah yang aku pegang.
“ Jalan-jalan tante. Nyari teman Novi waktu Novi kesini. Ternyata mereka pada nggak ada. Kemana mereka ya tante? kok menghilang semua?”
“ Mereka sama dengan kamu. Ada juga yang kuliah keluar kota. Ada yang kerja jadi TKI. Ada juga yang sudah nikah,ikut suaminya.”
Kulihat Novi manggut-manggut.
~
Setiap hari seperti itu. Novi selalu pulang menjelang malam. Alasannya mencari temannya. Mungkin saja masih ada yang dikenalnya. Aku yang semula maklum, lama-lama jadi curiga. Wajar aku curiga. Selama dua minggu Novi selalu pulang saat matahari sudah terbenam, dengan alasan yang sama. Apakah stok temannya didesa begitu banyak sampai harus setiap hari dicari, bahkan seharian penuh hingga menjelang malam?
Aku kemudian menguntitnya saat dia keluar pagi itu. Ku atur jarak agar tak ketahuan olehnya. Makin lama aku makin heran. Dia tidak menuju ke perumahan penduduk, tapi terus menyusuri bukit. Aku yang tak pernah lagi mendaki menjadi kewalahan saat harus menaiki bukit. Belum lagi aku harus selalu siap untuk bersembunyi kalau tiba-tiba dia berbalik.
Kuliat Novi berhenti di tepi bukit. Aku segera berlindung di balik pohon besar. Jantungku berdebar-debar sejak tadi. Dalam rasa gugupku, aku tersenyum menertawai diriku. Jadi ingat permainan waktu kami kanak-kanak. Sekarang seperti kembali ke masa itu.
Novi berdiri menatap laut yang terlihat indah dari atas bukit. Aku baru menyadari pemandangan dari tempat ini begitu indah. Kepulauan kecil yang ada di bawah sana, terlihat seperti potongan kue yang tertata dengan indah. Aku jadi mengerti, mengapa Novi begitu betah berlama-lama ditempat ini. Rasanya tak ada yang patut aku curigai.
“ Akhirnya kamu datang, aku kira tadi kamu ngambek lalu meninggalkan aku. Maaf, ya aku terlambat. Biasa, aku telat bangun, hehehe..” Novi berbicara dan tertawa sendiri. Aku yang baru saja berniat meninggalkannya, akhirnya kembali lagi ke balik pohon. Mataku mencari seseorang yang menjadi lawan bicara Novi. Tapi beberapa menit berlalu tak ada seorang pun yang muncul. Anehnya lagi, Novi malah semakin asyik berbicara dan ngobrol entah dengan siapa.
Aku makin merinding waktu kulihat gerakan tangan Novi seperti memegang tangan seseorang dan menariknya duduk di kursi kayu. Padahal tak ada orang yang di pegangnya. Novi kemudian duduk menghadap hamparan laut yang terlihat indah. Aku mencubit lenganku. Berharap aku sedang bermimpi. Terasa sakit, itu artinya ini nyata. Lalu Novi, keponakanku yang cantik itu. Apakah dia telah gila? Ataukah dia sedang berbicara dengan penunggu bukit ini?
Kakiku yang semula ringan saat melangkah, mendadak menjadi terasa sangat berat. Mataku juga terbuka lebar melihat Novi yang duduk membelakangiku begitu asyik ngobrol, tertawa bahkan terlihat saling memukul dengan seseorang. Tiba-tiba aku menjadi sangat takut. Bagaimana kalau Novi dirasuki makhluk halus? Apakah aku harus memanggil tetua kampung ini untuk mengobatinya?
Akhirnya setelah berjam-jam menguntit kegiatan Novi, aku tidak tahan juga. Dengan mengendap-endap dan langkah perlahan-lahan aku menyingkir. Tak sadar aku menuruni bukit sambil berlari. Tiba dirumah segera kubuka kulkas, mengambil air dingin di botol lalu meminumnya. Anakku yang tiba-tiba ada dibelakangku membuatku kaget.
“ Bunda! Kok minum langsung dari botol? Katanya nggak boleh?” tegur putriku. Aku yang tak menyangka kehadiran putriku langsung tersedak.
“ Bunda lagi panik dan kehausan.” Kataku sambil meletakkan lagi botol itu di dalam kulkas.
Anakku memandangku dengan tatapan heran. Mungkin dia merasa aneh melihat tingkahku. Aku baru sadar saat melewati cermin dan melihat wajahku. Ternyata wajahku pucat. Benar-benar pucat. Pantas saja anakku menatapku seperti itu. Mungkin dia mengira aku bukan bundanya.
~~
Menunggu Novi pulang serasa berbulan-bulan. Aku tidak ingin tinggal diam kali ini. Aku harus tegas bertanya padanya. Kalau ada hal yang mencurigakan, lebih baik dia segera pulang ke orang tuanya. Aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika dia lebih lama lagi didesa ini bersamaku.
“ Assalamu alaikum, malam tante.” Sapanya saat tiba diteras. Aku membalas salamnya. Kupegang dengan lembut tangannya, menariknya duduk bersamaku.
“ Pulang jam segini, apa masih mencari temanmu?” tanyaku dengan hati-hati. Novi menggeleng.
“ Tidak kok tante. Aku sudah bertemu dengan dia. Ternyata dia tinggal diatas bukit. Katanya sih dia pindah bersama orang tuanya.”
Aku merinding mendengar jawabannya. Bulu kudukku terasa berdiri. Kupaksakan terlihat biasa saja didepannya.
“ Oh, ya tante boleh tahu. Nama temanmu siapa ya, mungkin tante kenal.”
“ Pasti tante kenal. Kan dia juga kenal tante. Namanya Liandra.”
Jantungku serasa hampir copot saat mendengar Novi menyebut nama itu. Kepalaku tiba-tiba terasa pening. Aku berusaha bertahan tapi ternyata aku tidak kuat. Semua terlihat gelap. Tak ada lagi yang terlihat. Aku bahkan tak merasakan apa-apa lagi.
~~
“ Bunda!bunda! bangun bunda!” aku sedang bermimpi ketika kudengar suara anakku memanggilku. Segera kubuka mataku. Nampak dua anakku, Novi dan pembantuku tengah berada disisi pembaringan. Anakku terlihat menangis.
“ Aku kira bunda meninggal..huhuhuhu..” ucap Yuyun sambil mengelus rambutku sementara Fisca memegang jemariku dengan erat. Kulihat Novi duduk di kakiku. Dia terlihat cemas. Aku tiba-tiba teringat kejadian sebelum aku pingsan. Tanpa sadar aku bangkit lalu duduk bersandar pada bantal.
“ Novi, tante nggak akan tenang sebelum tante memberitahu kamu yang sebenarnya.”kataku. Novi memandangku dengan heran.
“ Ada apa tante?” tanyanya.
“ Maaf kalau tadi siang tante mengikuti kamu keatas bukit. Tante penasaran dengan kegiatanmu yang selalu pergi pagi pulang hampir malam. Tapi tante sangat terkejut ketika tiba diatas bukit dan melihatmu ngobrol.”
“ Tapi kami nggak bikin yang macam-macam kok tante. Liandra memang lelaki tapi dia sopan dan baik.” Wajah Novi terlihat cemas.
“ Bukan itu. Liandra itu sudah mati. Dia tenggelam di laut bersama orang tuanya. Jenasah mereka di makamkan diatas bukit. Jadi yang kamu ajak ngobrol beberapa hari ini adalah hantunya Liandra.”
Seketika wajah Novi memucat.
“ Tidak mungkin tante. Dia terlihat nyata.” Novi masih bertahan walau dengan airmata yang menetes di pipinya. Dengan isyarat tangan aku meminta pembantuku untuk membawanya kekamar. Biarlah dia mendengar penjelasan itu dari pembantuku. Aku rasanya tak sanggup untuk menceritakan kisah yang dialami keluarga Liandra. Kasihan Novi. Pasti dia sangat sedih mengetahui berita ini.
Esoknya dengan diantar pembantuku dan kedua putriku, Novi mengunjungi makam Liandra diatas bukit. Dia rencana pulang hari ini. Mengetahui kabar Liandra telah meninggal dua tahun yang lalu membuatnya shock. Liandra ternyata adalah cinta pertama dalam hidup Novi. Janji mereka telah terpaut saat pertama kali Novi datang ke desa ini. Novi telah berjanji untuk datang kembali ke desa ini. Aku jadi maklum, mengapa Novi begitu semangat datang ke desa ini. Dia terbang langsung dari Canada tanpa singgah dulu menengok kedua orang tuanya. Cinta yang telah menggerakkan hatinya. Namun kini cinta itu yang membuatnya terluka. Novi yang malang.***
0 komentar:
Posting Komentar