Sabtu, 06 Agustus 2011

Air Mata Ratih

0




1310628163958806062


“ Jangan datang dulu untuk melamar, mas.” Suara Ratih terdengar cemas.

“ Lho kenapa? Aku justru datang untuk melamarmu. Kalo bukan untuk melamar, ngapain aku datang jauh-jauh? Aku nggak mungkin datang, minta ijin di kantor kalau hanya sekedar untuk jalan-jalan menemuimu. Kamu tahu sendirikan, tidak gampang minta ijin di kantorku.”

“ Tapi sekarang kondisinya tidak memungkinkan.”

“ Apalagi masalahnya? Kalau memang kamu nggak mau aku datang melamar, lebih baik aku tunda dulu berkunjung kerumahmu.”

“ Keluargaku belum mengenalmu, mas. Ada baiknya mas datang untuk perkenalan dulu.”

“ Nggak bisa, Ratih. Aku datang untuk melamar. Titik.”

Ratih menghela nafas berat. Sejak tadi dia kesulitan untuk meyakinkan Yoga, agar menunda keinginannya untuk melamar. Ratih bukan tidak ingin secepatnya menikah dengan Yoga. Tapi keinginannya itu harus sesuai dengan keinginan orang tuanya. Papa dan mamanya ingin mengenal lebih dulu siapa calon menantunya. Mereka tidak bisa menerima lamaran dari pemuda yang sama sekali tidak mereka kenal. Selama ini Ratih dan Yoga menjalin hubungan jarak jauh. Orang tua Ratih hanya mengenal Yoga lewat foto yang diperlihatkan Ratih lewat facebook. Beda penampilan di facebook dengan kenyataan setelah bertemu dengan orangnya. Begitu keyakinan orang tua Ratih.

“ Kalo mama dan papa sudah bertemu dengan mas, mungkin saja mereka langsung setuju. Tapi kan nggak bisa langsung ada acara lamaran.”

“ Kalo mereka nggak setuju? Gimana? Apa kita harus menunggu lagi?”

“ Sabarlah, mas. Kita juga belum ketemu. Hubungan kita hanya sebatas dunia maya, sms dan telpon.” Terdengar helaan nafas dari seberang.

“ Kamu nggak percaya sama aku?”

“ Bukan begitu, mas.” Sambung Ratih cepat. Bukan seperti itu yang ada dalam pikirannya.

“ Aku percaya sama mas. Tapi pernikahan tidak semudah itu. Ini melibatkan dua keluarga. Mas belum mengenal keluargaku, aku juga belum mengenal keluarga mas. Tempat tinggal kita dipisahkan lautan. Selama ini, mas tidak pernah berbicara dengan papa dan mama. Aku rasa sekalipun mas sudah berbicara dengan papa dan mama, tapi mereka tetap butuh keyakinan dan itu butuh pertemuan.”

“ Aku setuju dengan pendapatmu. Justru karena jarak kita yang jauh, maka kita perlu efisien dalam tindakan. Aku bisa datang sendiri, menemui orang tuamu. Tapi untuk balik lagi nanti tidak bisa secepat itu. Tahun ini aku sudah minta ijin beberapa kali. Kalau mengikuti caramu, mungkin tahun depan baru kita bisa menikah. Itu juga belum bisa kita pastikan. Kalau orang tuamu tidak setuju, berarti kita harus menunda dulu rencana pernikahan kita.”

Ratih terdiam. Bukan karena lelah berdebat dengan Yoga tapi ingatannya tertuju ke papa dan mamanya. Sebenarnya Ratih juga setuju dengan cara yang Yoga inginkan. Menikah untuk pasangan yang terpisah jarak cukup jauh memang menimbulkan masalah tersendiri. Terlebih karena Yoga adalah karyawan perusahaan swasta asing yang begitu ketat dalam memberikan ijin bagi karyawannya.

Namun bukan itu masalahnya. Ada masalah yang belum Ratih sampaikan ke Yoga. Orang tua Ratih sejak lama telah menjodohkan Ratih dengan Bayu. Bayu adalah sepupu dari suami Ranti,saudara Ratih. Dari sekedar bercanda menjadi serius ketika Ratih mengenalkan Yoga pada orang tuanya.

“ Menurut mama, kamu lebih baik dengan Bayu. Apa kurangnya coba? Kita mengenalnya, hampir setiap minggu dia kesini. Kita kenal keluarganya. Mereka ada dikota yang sama dengan kita. Kerjaan Bayu juga bagus. Dia manager bank. Kalau dengan Yoga, kalian belum pernah bertemu. Hanya lewat internet. Kita nggak jelas siapa keluarganya. Kerjanya juga belum jelas. Nanti kalau menikah, kamu pasti ikut kesana. Iya, kan? Dan mama nggak mungkin bisa melarang kamu ikut suamimu. Diakan suamimu. Tapi kalau mama boleh minta, kamu menikah dengan Bayu. Itu keinginan Papa, mama dan semua sodaramu. Dengan keluarga Bayu kita sudah sangat akrab. Seperti sodara.”

Ratih jadi lemas ketika mendengar ucapan mamanya.Ternyata candaan papa dan mamanya kala menerima kunjugan orang tua Bayu adalah serius.

“ Ratih, kenapa diam?” suara Yoga membuyarkan lamunan Ratih.

“ Eh, iya. Maaf, mas. Lain kali saja kita ngomong. Aku lagi bingung.”

“ Tapi jangan lama-lama. Aku perlu info yang akurat dari kamu sebelum minta ijin.”

“ Ok. Insya Allah besok malam atau lusa siang deh, aku infokan lagi.”

Ratih menutup telpon dengan gelisah. Otaknya berpikir keras mencari cara untuk membicarakan keinginan Yoga pada orang tuanya. Bagaimana harus memberitahu kalau Yoga akan datang melamar, sementara dalam impian orang tuanya Bayu lah yang akan datang meminangnya?

Sebenarnya sejak lama Yoga meminta kepastian akan hubungan mereka. Tapi Ratih selalu mengulur waktu dengan alasan orang tuanya ingin mengenal Yoga lebih dekat. Ratih masih mencoba terus untuk membujuk orang tuanya, walaupun dalam kenyataan hanya penolakan yang selalu dia terima.

“ Ratih, jodoh ditangan Allah. Mama tidak akan memaksamu, tapi kalau jodohmu Bayu. Maka kamu juga nggak bisa menolaknya. Ini bukan keinginan mama saja, tapi seluruh keluarga sudah mengambil keputusan. Kita hanya tinggal menunggu kapan orang tua Bayu bersedia datang untuk melamarmu.”

“ Tapi ma, Ratih mencintai mas Yoga.” Jawab Ratih dengan wajah sedih.

“ Sayang..apa kamu yakin kalau mencintai dia? Ketemu hanya lewat internet, telponan atau sms itu bukan jaminan. Bagaimana sikapnya, pribadi orangnya. Kamu kan belum tahu.”

Ucapan mamanya yang seperti itu membuat Ratih masuk ke kamar. Telengkup dipembaringan sambil memeluk guling. Menangis. Ratih kesal karena semua hal yang dia katakan tentang Yoga selalu tidak mendapat respon baik dari mamanya. Ratih tidak pernah memikirkan, kalau posisinya sebagai anak bungsu yang membuat orang tuanya begitu protektif menjaganya termasuk masalah jodoh.

Sebagai bungsu dari tujuh bersaudara dan belum menikah, wajar keluarga besarnya mengharapkan Ratih mendapatkan jodoh yang sama baiknya dengan semua saudaranya. Dari kakak yang pertama sampai yang keenam, semua menikah dengan yang sederajat dengan mereka. Bukan saja dari status keluarga, tapi juga pekerjaan. Mereka tentu tidak ingin putri bungsu dalam keluarga mereka berbuat hal yang memalukan keluarga, walaupun Ratih sudah menjelaskan siapa Yoga dengan lengkap.

~~

Handphone Ratih terus berdering tapi dia tidak mengangkatnya. Ratih tidak berani menerima telpon dari Yoga. Dia juga tidak tega untuk mematikan handphonenya. Sambil menatap cermin, airmata Ratih terus mengalir membasahi kedua pipinya. Dia terus menangis didepan cermin sejak tadi pagi.

“ Lho, hp nya kog nggak diangkat, Tih?” tegur kakaknya yang masuk ke dalam kamar membawa kebaya modern untuknya.

“ Kalau nggak mau diangkat. Matikan saja.” Ucap kakaknya lalu keluar.

Akhirnya Ratih mengambil handphonenya yang tergeletak manis diatas meja rias. Tangannya gemetar dan air matanya kian deras mengalir. Suaranya serasa parau saat mengucapkan salam.

“ Halo..mas.” Ratih hanya menangis. Terisak tak mampu berkata-kata.

“ Kamu kenapa, Ratih? Semalam aku nunggu info dari kamu. Terus tadi pagi aku juga nunggu tapi kamu nggak nelpon. Jadi gimana, keluargamu sudah setuju aku datang melamar?”

“ Ratih? Kamu nangis? Kenapa?”

Ratih mematikan handphonenya. Dia tidak sanggup memberitahu Yoga kalau hari ini prosesi lamaran orang tua Bayu akan di adakan. Ratih tidak berdaya melawan keinginan keluarga besarnya. Saat dia bermaksud memberitahu kalau Yoga akan datang melamarnya, mamanya justru lebih dulu memeluknya dengan rasa bahagia. Dengan begitu semangat mamanya memberitahu kalau hari ini, keluarga bayu akan melamarnya. Ratih tak bisa berkata-kata lagi selain hanya menangis dalam kamar.

Sekarang melihat kebaya yang tergeletak manis di atas tempat tidur, makin membuat hatinya bertambah sakit. Maafkan aku  mas Yoga, ucapnya dengan airmata yang tak  berhenti mengalir.***

0 komentar:

Posting Komentar