Sabtu, 06 Agustus 2011

Mukena Untuk Putriku

0



1312551619317602561


Hasmi berjalan mengelilingi pasar. Sejak tadi dia hanya mengamati mukena-mukena cantik yang tergantung di kios-kios pasar. Pandangannya tertuju ke arah deretan mukena tapi pikirannya mengembara. Nampak dua wajah putrinya yang manis. Senyum bahagia pasti akan hadir di wajah mereka jika hari ini dia pulang membawa dua mukena baru dengan model yang cantik.

“ Ma, Feby bisa minta dibeliin mukena baru? Soalnya mukena Feby modelnya nggak baru lagi. Punya Sasa cantik, ma. Feby mau yang modelnya seperti Sasa.” Ungkap Feby, putri tertuanya saat pulang dari tarwih malam pertama ramadhan. Ucapan Feby itu diikuti dengan anggukan oleh putri keduanya, Feny yang baru berumur 7 tahun.

“ Tapi kalo mama nggak punya duit, ya nggak apa-apa. Iya, kan kak?” sambung Feny dengan wajahnya yang lugu. Dia kemudian melepaskan mukena yang dipakainya. Mereka berdua mencuci kaki lalu beranjak ke tempat tidur.

Hasmi mengambil dua mukena milik putrinya. Dia baru sadar kalau mukena itu sudah terlihat usang. Meski warnanya masih putih namun modelnya kelihatan ketinggalan jaman. Mukena itu dibelinya tiga tahun yang lalu saat ada pasar murah disekitar mesjid. Baginya tak mengapa memakai mukena lama asal bersih dan tidak ada noda. Namun bagaimana dengan anak-anaknya?

Tadi setelah shalat subuh, Hasmi terus memikirkan mukena untuk anaknya. Dia menghitung-hitung uang yang disimpannya. Rasanya cukup untuk membeli dua buah mukena. Tapi bagaimana saat lebaran nanti? Anak-anaknya pasti menginginkan baju baru untuk lebaran. Hasmi makin bingung. Sementara penghasilan dari suaminya yang bekerja sebagai buruh pabrik tidak mencukupi untuk memenuhi semua keinginan anaknya.

Hasmi juga tak lupa mengecek sepatu putri-putrinya. Nampak masih bagus walau telah ada lecet di beberapa bagian. Dia bernafas lega. Setidaknya untuk urusan sepatu bukan masalah. Lalu bagaimana dengan mukena dan baju lebaran kedua putrinya? Dia harus memilih salah satu, tidak mungkin menyediakan dua barang itu. Uangnya tidak cukup jika harus membeli semuanya.

“ Mau beli mukena ya, bu? Pilih saja mau model yang mana. Sekarang yang lagi rame model ini bu.” Tegur seorang penjual sambil menunjuk mukena yang tergantung. Hasmi tanpa sadar telah berdiri sejak tadi mengamati mukena-mukena yang terpajang.

Hasmi tiba-tiba tersenyum. Dia menggeleng lalu bergegas meninggalkan kios si ibu. Langkahnya tergesa-gesa meninggalkan pasar. Bahkan saat dalam angkot dia terlihat gelisah seolah ingin secepatnya tiba dirumah.

Tiba dirumah dilihatnya wajah kedua putrinya. Mereka menyambut Hasmi dengan senyum gembira namun tak lama. Senyum itu hilang saat mereka melihat mama mereka pulang tanpa membawa bungkusan.

“ Mukenanya mana,ma?” tanya dua putrinya bersamaan. Hasmi merangkul kedua buah hatinya.

“ Mama tidak jadi beli mukena tapi mama ada ide. Kalian janji tidak akan meminta mukena baru jika mama bisa membuatkan mukena yang cantik untuk kalian?” Kedua anaknya memandang heran.

“ Mama mau buat mukena?” Hasmi mengangguk cepat.

Hasmi lalu membuka lemari pakaiannya mencari potongan kain sisa yang didapatnya dari tukang jahit. Dia mengumpulkan kain-kain yang kira-kira ukurannya pas untuk mukena putrinya. Hasmi bernafas lega saat kain-kain itu dia temukan. Mulailah dia membuat pola seperti model yang dilihatnya di pasar. Dia lalu menggunting kemudian menjahit dan membentuk model di mukena anaknya.

Kedua anaknya hanya memperhatikan kesibukan Hasmi. Mereka masih belum mengerti apa yang sedang mama mereka kerjakan. Sementara Hasmi terus dengan kegiatannya. Berbekal mesin jahit tua hasil warisan orang tuanya, dia begitu bersemangat memberikan kejutan untuk kedua putrinya.

Beberapa jam kemudian..

“ Sudah jadiiiiii..!” teriak Hasmi girang sambil memperlihatkan mukena itu ke putrinya. Anak-anaknya juga terlihat gembira melihat perubahan yang dilakukan Hasmi pada mukena lama milik mereka.

“ Mukenanya jadi cantik, ma. Seperti punya Sasa.” Ucap Feby. Feny si bungsu lebih senang lagi.

“ Mama pintar. Sekarang Feny senang ke mesjid dengan mukena baru ini.”

Hasmi tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia bersyukur memiliki dua putri yang sangat sabar dan pengertian. Dia juga berterima kasih pada orang tuanya karena mewariskan mesin jahit kepadanya. Dalam hati Hasmi merasa lega karena telah membuatkan mukena baru untuk anaknya tanpa harus mengeluarkan biaya. Kedua putrinya tetap akan mendapatkan baju baru saat lebaran nanti. Hasmi lalu memeluk kedua putrinya dengan airmata yang menetes.

“ Putri-putriku yang manis.” Ucapnya dengan rasa haru.

*****

0 komentar:

Posting Komentar