Suasana kantor desa sejak tadi lengang. Pak Kades Yayok ada urusan di kota, sedangkan Sekdes Acik telah lebih dulu pamit untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Tinggallah Pak RT Ibay yang duduk berhadapan seorang lelaki berwibawa yang sedang mengurus KTP.
Sebenarnya kalau mengikuti aturan, sejak tadi urusan pembuatan KTP ini kelar. Tapi entah apa yang ada dalam pikiran Pak RT, tanpa perasaan masih terus mengajak ngobrol pendatang baru tersebut.
“ Jadi mas Halim ini kerjanya Dosen ya?” tanya Pak RT Ibay. Lelaki yang bernama mas Halim itu kembali mengangguk sambil tersenyum. Bukan karena pertanyaannya tapi seingatnya ini sudah ke empat kalinya Pak RT menanyakan padanya. Tapi karena sungkan mas Halim tidak ingin mengoreksi. Selain karena segan, dia juga takut nanti KTP nya malah tidak jadi diproses. Padahal tujuan utamanya untuk datang ke Desa Rangkat adalah menetap jadi warga.
Setelah KTP nya selesai maka mas Halim bisa segera mewujudkan cita-cita mengejar cinta sejatinya. Cinta yang tumbuh tanpa sengaja saat dia bertemu dengan Sekdes Acik di sebuah acara bakti sosial. Senyum ramah dan tawa bahagia dari Acik sampai sekarang masih terekam dalam ingatannya. Bahkan saat dia tertidur, tawa Acik masih sering terdengar. Kadang mas Halim harus menajamkan pendengarannya. Takut kalau suara itu bukan suara tawa Acik. Kan menakutkan, hihihi..
“ Oh, sekarang baru jam 2 mas Halim.” Ucap Pak RT Ibay saat mas Halim melihat jam bulat besar yang tergantung di dinding kantor desa. Mas Halim menghela nafas kecewa. Maksudnya melihat jam dinding agar Pak RT sadar bahwa sekarang sudah waktunya untuk pulang.
“ Kampus tempat mas Halim mengajar itu dimana ya?” tanya Pak RT Ibay lagi. Mas Halim merengut. Kan tadi sudah di beritahu, batinnya kesal.
“ Kampus Universitas Islam, Pak.”
“ Oh, anak saya kuliah disana juga.” Pak RT begitu semangat. Mas Halim menghela nafas lagi. Udah tahu, kan tadi dah diberitahu, batinnya.
“ Ngomong-ngomong nanti tinggal dimana? Kalau belum punya tempat tinggal. Bisa kok tinggal dirumah saya dulu. Rumah saya luas, kamarnya banyak. Disamping kamar anak saya, ada yang kosong.” Pak RT Ibay menawarkan.
“ Oh, terima kasih, Pak. Nanti saja saya mencari, KTP nya juga belum jadi.”
“ Urusan KTP gampang. Besok juga kelar. Gimana? Tawaran saya diterima ya? Ya sambil nunggu dapat tempat tinggal yang pasti, nggak apa-apa kok numpang dirumah saya dulu.”
Mas Halim kembali tersenyum. Terlihat kalau mas Halim ini memang orang yang suka senyum.
“ Kok liat jam dinding terus mas Halim?” tanya Pak RT Ibay karena mas Halim kembali melirik jam dinding.
“ Maaf pak, saya ada janji dengan seseorang.” Jawab mas Halim akhirnya karena sudah tidak tahan. Mas Halim membayangkan, pasti Acik sudah menunggunya dengan gelisah.
“ Oh, maaf. Silahkan saya juga sudah mau pulang.” Ucap Pak RT sambil berdiri.
“ Kalau gitu saya permisi dulu, pak. Makasih.” Mas Halim mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan dengan Pak RT. Pak RT dengan cepat mengulurkan tangannya juga.
“ Selamat datang di Desa kami ya, semoga betah.”
Mas Halim dan Pak RT Ibay lalu berjalan keluar kantor desa. Kembali mas Halim mohon pamit saat masuk ke dalam mobilnya. Perlahan mobilnya meninggalkan kantor desa. Meninggalkan Pak RT Ibay yang tersenyum senang.
“ Dia pantas jadi menantuku.” Ucapnya mantap.
0 komentar:
Posting Komentar