Fita melirik mamanya saat handphonenya berdering. Ini sudah ke lima kali dalam sehari nomor telpon yang sama terus menghubunginya. Nomor telkomsel dengan kode area Kalimantan. Fita mengetahui kode wilayah itu setelah mencarinya di internet.
“ Siapa sih nih orang? Iseng amat! Giliran diangkat malah nggak ada.” Omel Fita sambil menemani ibunya di kios. Ibunya lagi sibuk mengatur barang-barang yang baru saja dibeli dari pasar.
“ Ada apa, Fit? Kok ngomel sendiri?” tegur ibunya.
“ Ini loh, bu. Ada orang iseng yang nelpon. Katanya sih salah sambung, tapi kok berulang-ulang? Jadi sebel deh.”
“ Kalo gitu jangan diterima telponnya.”
“ Tapi kalo nggak diangkat, orang itu malah nelpon terus bu.”
Fita bermaksud meng off kan handphonenya ketika terdengar nada dering. Fita melihat nomornya lagi.
“ Dia lagi. Aku matikan saja deh nih hape. Capek meladeni orang iseng.”
Handphone Fita kemudian tidak aktif hingga dia kembali sehabis sholat tarwih di mesjid. Fita meng on kan handphonenya lagi. Dia lupa dengan teror telpon yang sejak pagi hingga tengah hari terus menggangunya.Fita dan ibunya berniat untuk makan malam. Kebiasaan mereka sehabis dari mesjid menunaikan sholat tarwih dilanjutkan dengan makan. Fita baru saja mengambil nasi ketika handphonenya berdering. Dia langsung menerima.
“ Halo, siapa nih? Jangan suka iseng ya. Ini bulan puasa. Dosa gangguin orang.” Ucap Fita sedikit kesal. Dalam hati Fita merasa heran karena si penelpon tidak memutuskan sambungan telpon. Terdengar suara orang mendesah dari seberang.
“ Fita, jangan marah ya. Ini ayah.” Suara berat dari seberang membuat Fita merinding. Dia terpaku. Piring yang tadi dipegangnya diletakkan kembali di atas meja.
“ A..a…a…pa? kamu si…si…apa?” suara Fita bergetar. Dia melirik mamanya yang tengah mengambil lauk.
“ Aku ayahmu. Maafkan ayah kalau telpon ayah membuatmu terganggu. Berulangkali ayah ingin berbicara tapi tidak jadi. Ayah tidak berani untuk menelpon tapi ayah rindu.” Suara isak terdengar dari seberang. Mulut Fita terkatup. Matanya berkaca-kaca. Dia terus memandang ibunya yang sedang serius menikmati hidangan makan malam.
Fita kemudian berdiri lalu berjalan menuju teras. Dia tidak ingin ibunya curiga karena melihat air mata yang membasahi wajahnya. Ibunya menegur tapi Fita hanya menjawab ada telpon penting dari temannya.
“ Kenapa ayah baru menelpon sekarang? Kenapa sekian lama ayah menghilang? Apa ayah tidak tahu betapa kami merindukan ayah? Ibu bahkan mengira ayah telah mati.” Fita terisak. Dia tidak dapat menahan kesedihannya.
Tangisan dari seberang makin jelas terdengar. Hati Fita serasa tersayat sembilu.
“ Kenapa ayah? Kenapa setelah 10 tahun menghilang, baru sekarang ayah menelpon kami?”
“ Ayah minta maaf. Rasanya tidak pantas ayah menelpon sekarang. Ayah malu menghubungi kalian, tapi ayah rindu. Terlebih ini adalah bulan puasa pertama ayah setelah bebas.”
Fita tersentak kaget. Bebas? Kata-kata itu mengapa terucap dari ayahnya? Ataukah jangan-jangan ayahnya…
“ Bebas? Bebas darimana, yah?” Jantung Fita berdegup kencang. Dia takut mendengar jawaban dari ayahnya tapi dia penasaran. Walau bagaimanapun dia merindukan ayahnya. Dalam hatinya ada ruang kosong yang menanti kehadiran ayahnya. Rasa kesal dan kecewa tidak bisa menutupi rasa rindunya.
“ Ayah dipenjara selama 10 tahun, Fita. Ayah takut memberitahu kalian. Takut kalian malu. Karena itu ayah tak pernah mengirim kabar. Tapi sekarang ayah benar-benar merindukan kalian. Merindukan kamu dan ibumu.”
Fita tertegun. Airmatanya kian deras mengalir. Dia tiba-tiba merasa menyesal telah berpikir kalau ayahnya sengaja meninggalkan dia dan ibunya. Ternyata ayahnya mengalami peristiwa yang tak pernah dia dan ibunya bayangkan. Ayahnya di penjara? Kenapa bisa? Kesalahan apa yang diperbuat ayahnya? Ayah, sungguh malang nasibmu, batin Fita sedih.
“ Sekarang ayah dimana?” tanya Fita akhirnya setelah lama terdiam dalam tangis.
“ Ayah disini. Di depan rumah lagi melihatmu menerima telpon dari ayah.”
Fita tersentak kaget. Matanya segera menyusuri depan rumahnya. Tak ada siapa-siapa. Dia berlari menuju pagar. Matanya mencari dengan gelisah. Tiba-tiba pandangan Fita tertuju ke arah seorang lelaki yang sedang duduk didepan kios yang tertutup. Bayangan seorang lelaki yang tidak begitu jelas karena sinar lampu yang remang-remang.
Fita terus menatap hingga dia menyadari kalau lelaki itu adalah ayahnya. Bergegas Fita membuka pintu pagar dan berlari menuju ke arah ayahnya. Airmatanya kian deras mengalir saat dia menghambur di pelukan ayahnya. Ayahnya membalas pelukannya dengan tangisan pilu.
“ Ayah..” panggilnya dengan kerinduan yang teramat sangat.
*****
0 komentar:
Posting Komentar