Sabtu, 06 Agustus 2011

Mas Halim Yang Histeris

0




1310972032916309335


Siang di rumah Acik. Nampak acik sedang duduk di lantai menghadap meja kecil. Didepannya nampak dua lembar kertas surat yang sama-sama berwarna pink. Ehm, pasti surat cinta,pikir Asih yang mengintip adiknya lewat gorden kamar. Dalam hati Asih merasa senang adiknya itu telah kembali menikmati nuansa cinta yang romantis.

“ Surat cinta ya, Cik?” tegur Asih sambil keluar dari kamar. Acik mengangguk cepat.

“ Tapi dua-duanya meragukan. Aku bingung mbak mau memilih yang mana.”

Asih menghampiri adiknya.

“ Kok bingung? Memangnya ada dua toh yang kirim surat cinta?”

Acik mengangguk lagi.

“ Kamu harus memilih salah satu. Jangan semuanya.”

“ Justru itu mbak. Semuanya membuatku bingung.” Acik berbaring dilantai. Terlihat kalau dia benar-benar sangat resah, bingung dan bimbang. Semua yang mewakili perasaan hati berkumpul dalam dirinya.

“ Kalau bingung, kamu harus jawab dengan bijaksana. Tulis dalam suratmu, kamu minta waktu untuk berpikir. Lebih baik begitu, daripada kamu pusing trus yang disana juga nunggu lama. Kan kasihan.”

Acik langsung bangun lalu duduk. Senyum mengembang di wajahnya.

“ Oke mbakku.Makasih sarannya. Sekarang juga aku akan menulis untuk mereka. Lebih cepat lebih baik.”

Satu jam lewat. Acik selesai menulis surat-surat itu. Dia menatap kedua surat itu dengan senangnya. Asih menghampiri adiknya lagi.

“ Gimana? Sudah selesai? Cepat kirim. Biar masalah cepat kelar.” Acik mengangguk dengan semangat. Dengan cepat dilipatnya kedua surat itu lalu memasukkan kedalam masing-masing amplop.

“ Aku ke rumah Depe dulu ya, mbak.”

“ Kok kerumah Depe?” tanya Asih heran.

“ Iya. Bagian ngantar surat kan Depe hehehehe…pergi dulu mbakku.”

Acik berjalan cepat meninggalkan rumah. Dengan riang dia mencari Depe. Kebetulan Depe tengah membeli Es cendol yang lewat didepan rumahnya.

“ Mau ngirim surat lagi ya tante?” sambut Depe saat melihat senyum Acik yang luar biasa manis. Acik langsung mencubit pipinya dan merangkulnya.

“ Bener, sayang. Depe bisa bantuin tante lagi kan? Ntar tante kasi duit 20 ribu. Mau, ya?” bujuk Acik. Depe girang bukan main.

“ Mau..mau..suratnya untuk siapa tante?”

Acik memperlihatkan dua buah surat.

“ Yang warna pink untuk Om Halim. Trus yang warna biru untuk Pak RT. Depe ngerti? Pink untuk Om Halim, Biru untuk Pak RT.”

“ Kok nggak ada namanya tante. Kan nanti Depe bingung?”

“ Sssstttt..kalo ada namanya bisa ketahuan.Mengerti?”

Depe mengangguk tanda mengerti. Acik tersenyum senang. Dia meninggalkan Depe yang masih menimbang-nimbang surat itu sambil terus  mengingat pesan Acik padanya.

Sambil berjalan Depe terus mengucapkan pesan Acik. Dia takut terlupa bisa hilang duit 20 ribu kalau pesannya sampai salah.

“ Depe!!! Mau kemana?!! Teriak ibu Depe yang melihat anaknya meninggalkan rumah. Depe berbalik.

“ Cuma sebentar bunda, ntar balik lagi!”

Baru saja Depe berniat melangkah, tiba-tiba dari jauh terlihat mobil mas Halim. Dengan berlari Depe mengejar mobil itu dan berhenti tepat didepannya. Mas Halim menghentikan mendadak mobilnya. Dalam hati mas Halim mendongkol tapi demi melihat seorang Depe, dia jadi senang. Teringat surat pertama yang datang dari Acik, petugas pengantarnya adalah Depe.

“ Om Halim, nih ada surat.” Ucap Depe sambil menyerahkan surat warna biru ke mas Halim. Mata mas Halim berbinar-binar.

“ Dari siapa? Tante Acik ya?” tanya mas Halim dengan  semangat. Depe mengangguk.

“ Makasih ya Depe. Oh, iya Om lupa. Nih, duit buat kamu jajan.” Mas Halim menyerahkan lembaran 20 ribu. Depe kegirangan. Dia berlari-lari sambil bernyanyi. Terbayang dalam ingatannya bakal mendapat duit 20 ribu lagi dari Pak RT. Trus nanti dapat dari tante Acik. Duitnya bisa jadi 60 ribu.

“ Duitku banyak!!!!! Teriak Depe.

Sementara itu mas Halim segera menuju sungai setelah menerima surat dari Acik. Dia berlari ke pinggir sungai lalu duduk dibawah pohon yang rindang. Tak sabar segera dibukanya amplop warna biru dari Acik.

Pak RT yang terhormat,

Terima kasih atas saran Pak RT agar saya menerima Pak RW sebagai calon suami saya. Saya sangat tersanjung mengingat beliau memang orang yang sangat saya hormati. Namun untuk memberi jawaban sekarang, saya belum bisa. Saya harus mempertimbangkan lebih dulu. Sejujurnya, saya juga tidak sepenuhnya menolak kalau Pak RW berniat baik pada saya….”

Mas Halim tidak menyelesaikan membaca suratnya.

“ Acikkkkkkkkk..aku mencintaimu..jangan menikah dengan Pak RW!!!!!! Teriak mas Halim histeris…

0 komentar:

Posting Komentar