Sabtu, 06 Agustus 2011

Ketika Harus Berpisah

0


Menurut  kalian  apa  sebaiknya   yang  harus  dilakukan  orang  yang  baru  saja  patah  hati?  Pertama  kali apa seharusnya   menangis?  Atau  menangis  sambil  merobek-robek  foto  kekasih? Atau  pergi  berkumpul  dengan teman-teman sambil makan-makan di warung yang  ada di ujung lorong?atau  berjalan-jalan seorang diri di pinggir pantai supaya kelihatan lebih dramatis?

Semua ide itu tidak ada dalam kepalaku walau aku tahu kejadian itu semakin dekat menghampiriku. Aku jadi berpikir ke arah Pemutusan Hubungan Kasih saat kulihat pandangan mata kekasihku sudah berubah. Aku sudah bisa menebak kemana arah angin akan berhembus. Aku tidak perlu bertanya ke badan meteorologi dan geofisika bagaimana cuaca beberapa hari kedepan. Atau bertanya ke orang pintar apa gerangan yang terjadi dengan kekasihku.

Aku bahkan tidak perlu bertanya langsung kepadanya tentang perubahan sikapnya. Aku hanya menunggu. Menunggu apa gerangan yang akan terjadi. Aku lebih fokus melihat segala perubahan sikapnya. Aku penasaran. Aku pernah dengar kalau sebagian besar laki-laki tidak mengucapkan kata putus secara langsung ke pacarnya. Katanya tidak tega kalau sudah melihat pacarnya menangis.

Setelah menunggu dalam ketidak pastian, akhirnya hari itu datang juga. Setidaknya itulah yang kurasakan. Aku baru saja menginjakkan kakiku ditrotoar kampus ketika Ryan, nama kekasihku, memanggilku. Dia sedang duduk di tangga gedung fakultas kami. Mendengar suaranya memanggilku, aku seperti melihat slow motion dari angin yang berhembus. Daun-daun yang berguguran di halaman kampus seperti musim gugur yang sering kulihat di TV.

Bahkan yang lebih aneh lagi, aku melihat Ryan dikelilingi cahaya yang membuatnya begitu bersinar. Aku terpana. Mengapa hari ini Ryan begitu cakep, begitu bersih, benar-benar keren. Padahal biasanya dia tampil cuek. Tidak pernah memperhatikan penampilannya. Apakah orang yang mau memutuskan hubungan memang penampilannya seperti itu?Sambil melangkah pelan kearahnya, aku seperti melihat layar besar yang memutar semua kisahku dengan Ryan. Kisah-kisah kami akankah itu menjadi kenangan?.

Tapi aku harus siap, setidaknya aku sudah pernah bersamanya. Menjadi kekasihnya dan punya kenangan tentangnya. Aku tidak boleh berharap terlalu jauh. Justru aku harus bersyukur. Setidaknya Ryan mau jadi pacarku meski hanya beberapa bulan. Kami memang baru lima bulan berpacaran, kenangan yang tersimpan mungkin tidak begitu banyak. Apalagi setelah kuhitung-hitung hanya sekitar dua bulan kami begitu akrab selebihnya kalau bukan aku yang pulang kampung atau magang diluar kota, giliran Ryan yang ada tugas kantor atau kampus untuk meliput kegiatan di kota lain.

Kalau aku periksa lebih detil lagi, dua bulan yang kuanggap akrab itu hanya kami isi dengan pergi ke mall tepatnya ketoko buku. Itu juga mungkin cuma dua minggu sekali. Tidak pernah kebioskop apalagi makan-makan di KFC, Texas atau sejenisnya. Di kampus, kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku jadi heran sendiri, apakah kami benar-benar pacaran?

Kalau kalian bertanya tentang handphone. Aku lebih nelangsa lagi. Jaman sudah serba cepat begini. Informasi yang tinggal ketik saja langsung bisa terkirim. Aku malah tidak seakrab itu dengan Ryan soal handphone. Aku punya HP, Ryan juga. Tapi sepertinya Ryan tipe orang yang malas mengetik sms. Berharap dia mau menelpon, dia bukan tipe orang yang mau menghabiskan waktu berbicara lama di handphone. Apalagi begitu banyak kegiatan extra yang membuatnya banyak menghabiskan pulsa. Mataku makin kabur. Jadi aku ini pacarnya atau bukan? Kalau dia mau memutuskan hubungan, bukankah itu tidak ada bedanya?

“ Aku sudah menunggumu sejak tadi, aku kira kamu ada kuliah pagi..” ucap Ryan sambil berdiri. Aku mengeluh pelan. Inikah sikap yang Ryan perlihatkan setelah seminggu kami tidak bertemu? Begitu dingin dan tanpa ekspresi.

“ Dosennya hanya kasi tugas. Jadi kami tidak kuliah, hanya buat laporan. Oh,ya tumben kamu nunggu aku disini? Ada masalah?” kulirik Ryan. Dia memandang ke arah lain kemudian memandangku. Antena curigaku sudah setinggi gedung Graha Pena. Aku tidak punya pikiran lain selain memikirkan kemungkinan terburuk.

“ Kayaknya ngomong disini tidak enak. Kita ke mushollah saja. Ngomong disana bisa lebih tenang”. Aku mengikuti langkah kaki Ryan menuju mesjid yang tidak begitu jauh dari tempat kami berdiri. Walau jalan bersama tapi Ryan tidak berbicara sepatah katapun. Aku juga tidak tau mau membuka pembicaraan dari mana. Sepertinya nasib hubungan kami sedang berada di ujung tanduk.

Begitu tiba di mesjid kampus, kami duduk di tangga mesjid. Ryan memilih agak ke sudut ke tempat yang lebih sepi.

“ Sebenarnya aku bingung mau bicara apa dengan kamu.” Ryan membuka pembicaraan. “Tapi kalau aku tidak ngomong juga nanti kamu malah lebih bingung lagi, makanya aku bela-belain tunggu kamu di kampus, supaya masalahnya bisa lebih jelas.” Aku diam. Kurasakan tanganku mulai terasa dingin.

“ Fir, kita masih pacaran kan?” tanya Ryan kemudian. Aku jadi heran dengan pertanyaannya.

“ Sebenarnya kamu mau bicara apa sih?” tanyaku. kulihat Ryan menghela nafas beberapa kali.

“ Begini, kamu tahu sendirikan, selain kuliah aku juga kerja. Tempat kerjaku berencana membuka cabang di propinsi lain. Namanya cabang baru, karyawannya masih perlu diseleksi. Jadi sambil menunggu keadaan stabil, aku dan beberapa teman ditugaskan untuk menghandle cabang baru itu.” Aku mulai mengerti arah pembicaraan Ryan.

“ Maksudmu, kamu pindah tugas?” Ryan mengangguk.

“ Iya. Makanya akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Aku minta maaf kalau kamu merasa dicuekin. Tapi keadaannya memang seperti itu. Aku sendiri tidak bisa meninggalkan tugas-tugasku. Apalagi dengan rencana kantor membuka cabang baru, kami jadi sangat sibuk. Rencananya minggu depan aku sudah harus pergi ke kendari”.

Aku langsung bernafas lega. Bukan karena Ryan akan pergi tapi karena ternyata kecurigaanku tidak terbukti. Aku tertawa dalam hati ternyata aku yang terlalu khawatir. Padahal kalau dalam situasi normal harusnya aku sedih karena Ryan akan pergi tanpa ketahuan kapan akan kembali. Tapi karena sejak beberapa hari ini aku stress memikirkan hubungan kami yang aku kira akan berakhir ternyata tetap aman damai membuatku tidak terlalu memikirkan berapa lama Ryan akan pergi. Setidaknya hubunganku dengan Ryan tetap selamat dan Ryan tetap menganggapku sebagai kekasihnya.

“ Fir..” Ryan memanggilku. Aku memandangnya. Tapi kali ini jantungku langsung berdegup kencang. Aku melihat pandangan mata Ryan begitu sendu. Padahal tadi tidak seperti itu.

“ Kita putus saja…” suara Ryan begitu pelan tapi aku mendengarnya seperti suara dari loudspeaker yang begitu dekat dengan telingaku.

“ A…..a…a..pa? kamu mengatakan apa barusan?” aku berharap telingaku salah mendengar dan berdoa semoga saja Ryan meralat kata-katanya sekiranya aku yang salah mendengar. Tapi tidak. Ryan menatapku tajam. Dia seperti berusaha mengumpulkan kekuatan agar dapat mengatakan sesuatu.

“ Kita putus saja…” ucap Ryan dengan suara pelan yang bahkan nyaris tidak aku dengar. Tapi karena aku sudah memasang pendengaran dengan tajam maka suaranya sangat jelas bahkan dia tidak perlu mengulanginya lagi.

“ karena menurutku hubungan kita seperti tidak ada artinya.” Lanjut Ryan lagi.

“ Dulu, aku tertarik padamu karena melihatmu begitu aktif, sibuk, menjadi wanita mandiri. Kamu terlihat begitu mempesona. Terus terang waktu itu aku jatuh cinta berat sama kamu. Aku mengira dengan kesibukan yang kamu miliki akan membuatmu tidak bergantung sepenuhnya padaku. Karena aku juga sudah terlalu sibuk. Tapi ternyata perkiraanku salah..” mataku sudah hampir dipenuhi embun. Aku tidak tahu mau bicara apa dan aku memang orang yang tidak bisa mengatakan apapun kalau dalam keadaan bingung. Aku sudah merasakan tanganku begitu dingin dan jantungku berdetak makin tidak beraturan.

“ Dulu aku takut kamu terlalu bergantung padaku, tapi kenyataannya aku yang tidak kuat, Fir. Aku membutuhkan orang yang selalu ada disampingku, menemaniku setiap waktu. Menghiburku kalau aku sedang ada masalah. Tertawa bersamaku. Aku tidak menyangka kalau aku membutuhkanmu lebih dari yang seharusnya. Dan setelah aku pikir-pikir, jalan terbaik bagi kita adalah berpisah. Karena mengharapkan kamu selalu ada untukku sepertinya terlalu egois mengingat kamu juga sudah terlalu sibuk. Apalagi kalau aku meminta kamu untuk meninggalkan kegiatanmu, apa kamu bisa? Kalaupun bisa, apa kamu rela? Kamu masih muda masih banyak cita-cita yang mungkin ingin kamu wujudkan. Aku tidak mau jadi orang yang menahan langkahmu. Menjadi orang yang sangat egois hanya karena aku mencintaimu. Aku harap dengan kepergianku kamu bisa lebih konsentrasi dengan kuliahmu, dengan pekerjaanmu. Aku tidak mau, meski jauh aku tetap jadi penghalang untukmu mencapai cita-citamu….”

Aku tetap diam. Suasana kampus yang ramai dengan orang yang lalu lalang sama sekali tidak membuat hatiku mendengar keramaian. Aku merasa sangat kesepian. Seharusnya aku sudah siap dengan kejadian seperti ini, tapi kenyataannya meskipun sudah mempersiapkan diri aku tetap merasa seperti akan pingsan. Padahal tadi aku sudah sangat lega mendengar kata-kata Ryan yang memberi sinyal kalau hubungan kami baik-baik saja.

“ Fira… aku minta maaf.., bukan maksudku memutuskan hubungan denganmu. Tapi aku merasa kita tidak punya pilihan lain. Jadi aku harap dengan kepergianku ini, perpisahan kita kesannya seperti bukan memutuskan hubungan kita. Aku tidak mau pada saat aku di Kendari baru kita putus. Kesannya seperti mengada-ada, mencari-cari alasan. Kamu bisa saja berpikir kalau aku tertarik dengan seseorang di sana. Padahal sama sekali tidak begitu. Aku memang ingin menyelesaikan semuanya sebelum aku pergi. Jadi aku bisa tenang. Kalaupun nanti di sana aku bertemu orang lain, atau kamu juga bertemu orang lain di sini, diantara kita sama sekali tidak akan ada perasaan bersalah. Fira…. kamu bisa menerima ini kan?”

Ryan menyentuh tanganku. Aku tahu pasti dia merasakan tanganku yang dingin seperti es. Tapi dia tetap memegangnya. Aku bahkan tidak merasa risih karena Ryan menyentuh tanganku, padahal suasana sekitar mesjid lumayan ramai. Aku betul-betul tidak bisa berpikir lagi. Kemana perginya hatiku yang sudah siap dengan hubungan kami yang akan berakhir? Aku bahkan tidak bisa mengumpulkan tenagaku yang sepertinya tinggal puing-puing. Aku hanya berusaha bagaimana agar airmataku tidak tumpah dan menjadi tangis yang nanti akan lebih mengundang perhatian orang-orang.

Ryan kemudian melepaskan tangannya. Mungkin dia menyadari tindakannya akan memancing perhatian orang yang lalu lalang.

“ Fira…. aku minta maaf…” untuk kesekian kalinya Ryan minta maaf. Tapi kurasakan tiap kali dia minta maaf malah membuat hatiku makin pedih.

“ Aku mau pulang..” akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutku. Aku beranjak berdiri dan melangkah pelan menuruni tangga mesjid satu persatu. Ryan mengikutiku.

“ Aku antar kamu pulang..” dia menjejari langkahku. Aku terus berjalan. Aku baru berhenti ketika Ryan menyentuh lenganku.

“ Tunggu aku disini. Aku ambil motor dulu di tempat parkir”.

Aku berhenti sejenak. Kupandangi Ryan yang makin jauh menuju tempat parkir. Tapi tanpa sadar aku berbalik dan terus melangkah. Malah kurasakan langkah kakiku makin cepat, bahkan tanpa kusadari mungkin aku sedang berlari. Aku ingin lari dari Ryan. Aku tidak ingin dia mengantarku pulang. Aku bahkan tidak ingin dia melihatku menangis. Rasanya aku sama sekali tidak ingin kelihatan lemah saat ini. Untuk apa dia mengantarku? Hanya akan membuat hatiku makin pedih. Aku baru merasa tenang begitu sudah berada di dalam angkot. Ketika handphoneku berbunyi dan kulihat nama Ryan yang ada di layar. Aku langsung menon aktifkan handphoneku. Sudah cukup seperti ini. Kalau memang kami akan berpisah setidaknya jangan menyiksaku dengan perlakuan yang manis.

Begitu tiba dirumah, aku langsung masuk kekamar. Untunglah di rumah tidak ada siapapun. Jadi tidak akan ada yang bertanya mengapa aku menangis. Kurebahkan tubuhku dipembaringan. Lama ku pandangi langit-langit kamar. Tanpa tahu tujuan aku memandang kea tas. Mungkin kalau ada orang lain bersamaku saat ini pasti akan segera mengetahui suasana hatiku yang sedang kacau saat ini. Ku pandangi Foto Ryan yang ada di meja belajarku. Aku makin sedih. Tapi tiba-tiba ada suara aneh dari dalam hatiku.

Kamu jangan lemah. Harus kuat. Kamu orang yang luar biasa. Ada atau tidak ada Ryan kehidupanmu harus berjalan. Jangan bergantung padanya. Kalau karena tidak ada Ryan, kamu jadi lemah, maka nama kamu bukan FIRA!!”

Benar! Aku harus kuat. Aku tidak boleh karena kehilangan Ryan menjadi orang yang tidak berarti. Sejak dulu aku memang seperti ini. Aku bukan tidak mencintai Ryan. Aku justru menyadari kalau aku sangat mencintainya justru ketika dia mengatakan bahwa hubungan kami harus berakhir. Tapi kalau dia sendiri sudah tidak menginginkan hubungan kami berlanjut. Apa yang harus aku lakukan? Aku baru menyadari tidak ada solusi yang bisa aku berikan untuk memecahkan masalah kami.

Benar juga yang Ryan katakan. Kami berdua sama-sama sibuk. Sama sekali tidak banyak waktu untuk menikmati kebersamaan kami. Ryan sama sekali tidak bisa menolak keputusan kantornya. Karena aku tahu itu adalah nyawanya. Ayah Ryan sudah meninggal sejak di masih smp. Otomatis Ryan menjadi tulang punggung keluarga. Bekerja sekuat tenaga untuk membiayai kehidupan keluarganya.

Apalagi aku tahu mencari pekerjaan saat ini sangat sulit. Ditambah lagi dia memutuskan untuk kuliah agar bisa memperbaiki posisinya dalam pekerjaan. Ryan menyadari dengan pekerjaannya yang sekarang tidak bisa menjamin hidupnya di masa depan. Kantor tempat dia bekerja, begitu mudah memberhentikan karyawannya. Jadi sampai kapanpun Ryan tidak akan merasa tenang sebelum benar-benar mendapatkan tempat kerja yang bisa menjamin tidak akan ada pemutusan hubungan kerja secara sepihak.

Itu masalah Ryan, masalah denganku lain lagi. Aku juga bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Kehidupanku standar. Sama seperti kebanyakan rumah tangga yang lainnya. Aku hanya beruntung memiliki orang tua yang sangat memperhatikan pendidikan. Jadi kalau orang menilai tingkat kemapanan keluarga kami sama dengan pendidikan yang kami jalani, maka mereka salah besar. Sejak kami mengenal bangku sekolah, ayah dan ibuku sudah berusaha keras mencari sumber penghasilan supaya kami dapat terus bersekolah walau dengan kondisi yang sederhana.

Aku masih ingat sewaktu sekolah menengah atas bahkan saat kuliah sekarang inipun, aku menghindari yang namanya bergaul dengan kalangan atas atau yang bergaya mampu. Sahabatku rata-rata kehidupannya sederhana. Jadi kami bisa saling mengerti. Tidak memaksakan diri untuk makan di tempat-tempat yang mewah. Pakaianpun harganya tidak terlalu mahal. Kami bahkan selalu ke tempat penjual barang-barang second dimana kami bisa memperoleh barang yang lumayan berkualitas dengan harga murah.

Sampai disini pemikiranku tentang pemutusan hubungan kasih yang Ryan lakukan sudah tidak menyakitkan hatiku lagi. Aku sendiri kaget kenapa bisa begitu cepat menetralisir perasaanku. Apakah memang cinta kami begitu rapuh seperti yang Ryan katakan? ***

0 komentar:

Posting Komentar