Kamu mencintaiku?”
tanyamu tiba-tiba saat kita sedang menumpang bus dalam perjalanan tugas. Bus
sedang melaju melewati perkebunan tebu. Pemandangan yang indah. Aku yang sejak
tadi melihat pemandangan lewat kaca bus, menoleh melihatmu.
“ Kamu kenapa? Kog
tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanyaku heran.
“ Karena aku heran
dengan sikapmu yang selalu bersedia di pasangkan denganku. Kamu nggak pernah
nolak. Kemanapun itu, bahkan beberapa kali kita masuk ke dalam hutan. Kamu
tetap ikut.” Aku tertawa.
“ Kamu kog bisa-bisanya
kepikiran sampe kesana? aku tuh malas berpikir yang ribet-ribet. Kalau sudah
ditentukan seperti itu, ya aku ikut saja.” Jawabku sambil tersenyum. Sempat
kulihat kamu tersenyum tipis.
“ Trus kenapa waktu
dipasangkan dengan Lucky kamu menolak? Waktu itu kamu nggak terang-terangan
nolak sih, tapi tetap saja intinya kamu nggak bareng dia. Trus akhirnya kamu
sama aku. Kenapa bisa begitu?” aku melihat keluar jendela. Aku malas melayani
pertanyaanmu. Bukan karena aku tidak suka. Tapi karena aku tidak menemukan
kata-kata yang tepat. Aku takut makin aku berbicara panjang lebar. Perasaanku
malah semakin terlihat. Kamu menyikut lenganku.
“ Ayo jawab. Apa kamu
mencintaiku?” kamu bertanya sambil menghadap kearahku. Aku hanya melihatmu
sekilas.
“ Kamu kenapa sih?
Kenapa begitu ngotot mau tahu perasaanku? Kita kan teman, rekan dalam tim. Apa
salah kalau aku lebih memilihmu daripada bersama orang lain? Aku sudah
mengenalmu. Aku lebih nyaman bersamamu daripada bersama orang lain.”
“ Begitu? Sama sekali
kamu tidak mencintai aku?”
“ Cinta lagi. Apa aku
harus mencintaimu?” kamu membalikkan badan lalu mendesah. Terdengar seperti
berusaha melepaskan beban dalam hatimu. Aku bukannya tidak mengerti arah
pertanyaanmu. Jantungku bahkan berdetak cepat saat kamu mengajukan pertanyaan
itu. Pertanyaan yang sejak dulu begitu aku nantikan. Tapi mengapa saat kamu
bertanya, aku malah di liputi keraguan? Aku takut ini hanya gurauan yang sedang
kamu mainkan. Karena aku pernah melihat kamu melakukannya pada Fita, teman
sekantor kita. Waktu itu Fita sudah gugup karena kamu mengatakan mencintainya.
Tapi kemudian tawamu lepas. Fita jadi tersipu malu sambil memukulmu. Aku yang
kaget melihat kejadian itu akhirnya bisa bernafas lega. Ternyata kamu cuma
bercanda. Tapi karena itu aku menganggap pertanyaanmu kali ini tidak serius.
Kamu hanya bercanda, batinku.
“ Ya. Karena aku yakin,
kamu pasti mempunyai rasa itu. Aku hanya ingin memastikan apakah keyakinanku
itu benar.”
“ Lalu kalau keyakinanmu
benar, apa yang akan kamu lakukan?” aku kaget mendengar perkataanku sendiri.
Kulihat kamu juga refleks melihatku.
“ Jadi benarkan kamu
juga merasakannya?” matamu berbinar saat berbicara.
“ Merasakan apa?”
“ Merasakan cinta. Apa
kamu tidak mengerti sejak tadi aku ingin kamu mengakui perasaanmu?”
“ Aku memang mencintaimu
tapi sebagai teman.” Kamu mengeluh terdengar seperti putus asa.
“ Kenapa sih kamu nggak
mau ngaku? Padahal jelas-jelas aku tahu, kamu itu menyukai aku. Bukan sebagai
teman.”
“ Sudahlah. Jangan
membahas itu terus. Kalau kamu mau bercanda, sekarang bukan saatnya. Kita
sedang dalam tugas kantor. Aku tahu saat ini kamu pasti sedang bercanda. Persis
waktu kamu mengerjai Fita. Iya, kan?”
Kamu tidak menjawab.
Beberapa menit kamu terdiam. Aku juga memilih memandang keluar jendela. Hujan
rintik tiba-tiba turun ditengah teriknya mentari. Untunglah bus ini dilengkapi
dengan fasilitas AC hingga cuaca yang panas tak terasa.
“ Kamu tahu, rumah
tempat kita menginap nanti adalah rumah tanteku. Disana sudah menunggu kedua
orang tuaku. Rencananya aku akan bertunangan dengan salah seorang putri
tanteku.” Ucapmu sendu tanpa melihatku. Aku menoleh kaget. Kembali hadir ragu
dalam benakku. Apakah kali ini kamu juga bercanda?
“ Kamu akan
bertunangan?”
“ Iya. Aku belum memberi
jawaban. Tapi dengan hadirnya orang tuaku di sana. Bisa dipastikan pertunangan
itu akan terlaksana.”
“ Kamu serius?” tanyaku
dengan suara senormal mungkin.
“ Kamu pikir dari tadi
aku cuma bercanda? Aku sedang menuju tempat dimana masa depanku sudah
ditentukan. Kamu pikir aku mau mempermainkan masa depanku?” suaramu meninggi.
Aku kaget mendengarnya.
“ Maafkan aku. Aku
mengira kamu sedang mengerjai aku seperti ketika kamu mengerjai Fita. Tapi
kenapa kamu menanyakan perasaanku kalau kamu mau bertunangan?”
“ Karena aku
mencintaimu.” Jawabmu cepat sambil menatapku dengan lembut.
“ Aku ingin menikah
dengan wanita yang aku cintai. Tapi kalau perasaanku hanya bertepuk sebelah
tangan. Apa boleh buat. Aku mungkin akan pasrah mengikuti keinginan orang
tuaku.”
Gemuruh detak jantungku
mungkin tak terdengar. Tapi wajahku yang memucat pasti terlihat, ehingga kamu
langsung memegang tanganku yang dingin.
“ Kamu merasakannya kan?
Jangan biarkan aku menebak seperti orang bodoh. Kalau kamu memang merasakannya,
kamu tidak akan kehilangan apapun. Jadi apa susahnya mengakui, daripada
terpendam dalam hatimu.”
Aku melihatmu. Aku sudah yakin kalau kamu serius dengan
perkataanmu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Pasrah melihatmu bertunangan dengan
orang lain padahal jelas-jelas kamu mencintaiku. Bukankah itu tindakan bodoh?
Sekarang sepertinya percuma kalau aku masih bertahan. Dengan debar yang kian
cepat aku menatapmu.
“ Iya. Aku memang
merasakannya.” Jawabku dengan suara pelan. Kamu langsung menyandarkan tubuhmu
di sandaran kursi, seperti baru saja merasakan kelegaan. Sementara itu tanganmu
tetap menggenggam erat jemariku.
“ Terima kasih.
Sepertinya aku bisa tidur dengan tenang sekarang.”
Matamu terpejam. Kulihat
senyum tak hilang dari wajahmu saat kamu tertidur. Tanganmu yang masih
menggenggam jemariku terkulai saat kamu benar-benar tertidur. Kuraih tanganmu.
Kuletakkan diantara kedua tanganku. Aku menggenggamnya dengan erat. Sekarang
aku juga merasa tenang. Rasa sesak karena memendam rasa tidak lagi aku rasakan.
Sinar mentari yang terik dengan rintik-rintik hujan yang turun menghiasi
perjalanan, seperti bintang-bintang yang mengiringi kebahagiaanku.**
=============
Sumber gambar disini
Sumber gambar disini



0 komentar:
Posting Komentar