Rabu, 27 Juli 2011

Seperti Bintang - bintang

0



Kamu mencintaiku?” tanyamu tiba-tiba saat kita sedang menumpang bus dalam perjalanan tugas. Bus sedang melaju melewati perkebunan tebu. Pemandangan yang indah. Aku yang sejak tadi melihat pemandangan lewat kaca bus, menoleh melihatmu.

“ Kamu kenapa? Kog tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanyaku heran.

“ Karena aku heran dengan sikapmu yang selalu bersedia di pasangkan denganku. Kamu nggak pernah nolak. Kemanapun itu, bahkan beberapa kali kita masuk ke dalam hutan. Kamu tetap ikut.” Aku tertawa.

“ Kamu kog bisa-bisanya kepikiran sampe kesana? aku tuh malas berpikir yang ribet-ribet. Kalau sudah ditentukan seperti itu, ya aku ikut saja.” Jawabku sambil tersenyum. Sempat kulihat kamu tersenyum tipis.

“ Trus kenapa waktu dipasangkan dengan Lucky kamu menolak? Waktu itu kamu nggak terang-terangan nolak sih, tapi tetap saja intinya kamu nggak bareng dia. Trus akhirnya kamu sama aku. Kenapa bisa begitu?” aku melihat keluar jendela. Aku malas melayani pertanyaanmu. Bukan karena aku tidak suka. Tapi karena aku tidak menemukan kata-kata yang tepat. Aku takut makin aku berbicara panjang lebar. Perasaanku malah semakin terlihat. Kamu menyikut lenganku.

“ Ayo jawab. Apa kamu mencintaiku?” kamu bertanya sambil menghadap kearahku. Aku hanya melihatmu sekilas.

“ Kamu kenapa sih? Kenapa begitu ngotot mau tahu perasaanku? Kita kan teman, rekan dalam tim. Apa salah kalau aku lebih memilihmu daripada bersama orang lain? Aku sudah mengenalmu. Aku lebih nyaman bersamamu daripada bersama orang lain.”

“ Begitu? Sama sekali kamu tidak mencintai aku?”

“ Cinta lagi. Apa aku harus mencintaimu?” kamu membalikkan badan lalu mendesah. Terdengar seperti berusaha melepaskan beban dalam hatimu. Aku bukannya tidak mengerti arah pertanyaanmu. Jantungku bahkan berdetak cepat saat kamu mengajukan pertanyaan itu. Pertanyaan yang sejak dulu begitu aku nantikan. Tapi mengapa saat kamu bertanya, aku malah di liputi keraguan? Aku takut ini hanya gurauan yang sedang kamu mainkan. Karena aku pernah melihat kamu melakukannya pada Fita, teman sekantor kita. Waktu itu Fita sudah gugup karena kamu mengatakan mencintainya. Tapi kemudian tawamu lepas. Fita jadi tersipu malu sambil memukulmu. Aku yang kaget melihat kejadian itu akhirnya bisa bernafas lega. Ternyata kamu cuma bercanda. Tapi karena itu aku menganggap pertanyaanmu kali ini tidak serius. Kamu hanya bercanda, batinku.

“ Ya. Karena aku yakin, kamu pasti mempunyai rasa itu. Aku hanya ingin memastikan apakah keyakinanku itu benar.”

“ Lalu kalau keyakinanmu benar, apa yang akan kamu lakukan?” aku kaget mendengar perkataanku sendiri. Kulihat kamu juga refleks melihatku.

“ Jadi benarkan kamu juga merasakannya?” matamu berbinar saat berbicara.

“ Merasakan apa?”

“ Merasakan cinta. Apa kamu tidak mengerti sejak tadi aku ingin kamu mengakui perasaanmu?”

“ Aku memang mencintaimu tapi sebagai teman.” Kamu mengeluh terdengar seperti putus asa.

“ Kenapa sih kamu nggak mau ngaku? Padahal jelas-jelas aku tahu, kamu itu menyukai aku. Bukan sebagai teman.”

“ Sudahlah. Jangan membahas itu terus. Kalau kamu mau bercanda, sekarang bukan saatnya. Kita sedang dalam tugas kantor. Aku tahu saat ini kamu pasti sedang bercanda. Persis waktu kamu mengerjai Fita. Iya, kan?”

Kamu tidak menjawab. Beberapa menit kamu terdiam. Aku juga memilih memandang keluar jendela. Hujan rintik tiba-tiba turun ditengah teriknya mentari. Untunglah bus ini dilengkapi dengan fasilitas AC hingga cuaca yang panas tak terasa.

“ Kamu tahu, rumah tempat kita menginap nanti adalah rumah tanteku. Disana sudah menunggu kedua orang tuaku. Rencananya aku akan bertunangan dengan salah seorang putri tanteku.” Ucapmu sendu tanpa melihatku. Aku menoleh kaget. Kembali hadir ragu dalam benakku. Apakah kali ini kamu juga bercanda?

“ Kamu akan bertunangan?”

“ Iya. Aku belum memberi jawaban. Tapi dengan hadirnya orang tuaku di sana. Bisa dipastikan pertunangan itu akan terlaksana.” 

“ Kamu serius?” tanyaku dengan suara senormal mungkin.

“ Kamu pikir dari tadi aku cuma bercanda? Aku sedang menuju tempat dimana masa depanku sudah ditentukan. Kamu pikir aku mau mempermainkan masa depanku?” suaramu meninggi. Aku kaget mendengarnya.

“ Maafkan aku. Aku mengira kamu sedang mengerjai aku seperti ketika kamu mengerjai Fita. Tapi kenapa kamu menanyakan perasaanku kalau kamu mau bertunangan?”

“ Karena aku mencintaimu.” Jawabmu cepat sambil menatapku dengan lembut.

“ Aku ingin menikah dengan wanita yang aku cintai. Tapi kalau perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan. Apa boleh buat. Aku mungkin akan pasrah mengikuti keinginan orang tuaku.”

Gemuruh detak jantungku mungkin tak terdengar. Tapi wajahku yang memucat pasti terlihat, ehingga kamu langsung memegang tanganku yang dingin.

“ Kamu merasakannya kan? Jangan biarkan aku menebak seperti orang bodoh. Kalau kamu memang merasakannya, kamu tidak akan kehilangan apapun. Jadi apa susahnya mengakui, daripada terpendam dalam hatimu.” 

Aku melihatmu. Aku sudah yakin kalau kamu serius dengan perkataanmu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Pasrah melihatmu bertunangan dengan orang lain padahal jelas-jelas kamu mencintaiku. Bukankah itu tindakan bodoh? Sekarang sepertinya percuma kalau aku masih bertahan. Dengan debar yang kian cepat aku menatapmu.

“ Iya. Aku memang merasakannya.” Jawabku dengan suara pelan. Kamu langsung menyandarkan tubuhmu di sandaran kursi, seperti baru saja merasakan kelegaan. Sementara itu tanganmu tetap menggenggam erat jemariku.

“ Terima kasih. Sepertinya aku bisa tidur dengan tenang sekarang.”

Matamu terpejam. Kulihat senyum tak hilang dari wajahmu saat kamu tertidur. Tanganmu yang masih menggenggam jemariku terkulai saat kamu benar-benar tertidur. Kuraih tanganmu. Kuletakkan diantara kedua tanganku. Aku menggenggamnya dengan erat. Sekarang aku juga merasa tenang. Rasa sesak karena memendam rasa tidak lagi aku rasakan. Sinar mentari yang terik dengan rintik-rintik hujan yang turun menghiasi perjalanan, seperti bintang-bintang yang mengiringi kebahagiaanku.**


=============
Sumber gambar disini

0 komentar:

Posting Komentar