Ilustrasi/Admin (shutterstock)
Gadis itu berdiri sambil tersenyum. Dia menyambut seorang pemuda yang datang dengan kemeja putih. Wajah pemuda itu terlihat sangat cerah dan bersih. Senyum mengembang diwajahnya sejak melihat si gadis dari kejauhan. Pemuda itu lalu menyandarkan tubuhnya di pohon, sementara si gadis bersandar pada pemuda itu. Tangan mereka saling berpegangan. Seolah tak ingin lagi terpisahkan. Angin sepoi-sepoi menambah romantis suasana. Si pemuda kemudian mengelus-elus rambut si gadis.
“ Maafkan aku karena waktu itu meninggalkanmu secara mendadak. Aku benar-benar tidak menyangka akan ada panggilan itu. Aku tidak bisa menolaknya.” ucapnya dengan wajah sedih. Si gadis mempererat pegangan tangannya.
“Aku tahu. Kamu tidak akan pergi begitu saja. Pasti suatu saat kamu akan kembali. Karena itu aku setia menunggumu. Akhirnya penantianku tidak sia-sia. Kamu benar-benar datang untuk menjemputku.”
Si pemuda mengecup kening di gadis. Airmata bergulir di pipi si gadis. Pemuda itu menghapusnya dengan lembut.
“Kalau aku tahu kamu akan setia menunggu, aku pasti akan kembali lebih cepat. Tapi itu tak mudah. Tak ada yang bisa menghubungkan aku denganmu. Susah sekali. Hari ini aku baru bisa menemuimu. Tapi aku benar-benar tak menyangka, sekian lama meninggalkanmu. Kamu malah sakit. Aku menyesal sekali.”
“Tidak apa-apa. Sekarang aku bahagia. Kamu benar-benar telah ada didepanku. Aku bisa merasakan tanganmu menyentuhku.”
“Bagaimana? Kamu siap berangkat sekarang? Kendaraan telah menunggu sejak tadi.” Si gadis mengangguk. Mereka kemudian meninggalkan pohon yang teduh itu. Berjalan beriringan dengan rasa cinta yang dalam. Si gadis lega. Kini dia tidak lagi menanti. Kekasih hatinya telah datang menjemputnya.
~ ~
Di dalam kamar si ibu menangis histeris saat memegang tangan anak gadisnya. Dia menjerit-jerit tanpa sadar. Orang-orang yang berkerumun di ruang tamu, mendadak berlarian masuk ke dalam kamar. Mereka terpana. Ada yang menangis sambil memeluk si gadis yang tengah terbaring kaku di tempat tidur. Kulitnya tak lagi putih kemerahan. Yang ada hanya tangan putih yang seolah tanpa darah di dalamnya. Tangan itu juga tak lagi terdiri dari daging. Kini hanya tinggal tulang terbungkus kulit. Andai selimut itu di lepas pastilah akan terlihat tubuh kurusnya yang ringkih. Wajah gadis itu tersenyum. Tak ada lagi rasa sedih yang akan membuatnya menderita. Penantiannya telah berakhir. ***
0 komentar:
Posting Komentar