Nina bersandar di tembok kelas. Sejak tadi mengerjakan tugas membuatnya lelah. Hari ini guru yang mengajar tidak hadir. Sebagai gantinya, murid-murid diberi tugas untuk mengerjakan beberapa soal dari buku. Karena Nina duduk paling belakang dan dekat tembok, jadi dia leluasa untuk menyandarkan tubuhnya.
Nina mengarahkan pandangannya mengitari ruangan dalam kelas. Memperhatikan teman-temannya yang masih sibuk mengerjakan tugas mereka. Ada juga yang asyik ngobrol bahkan tertawa-tawa. Saat memandang sekitar ruangan, Nina merasa seperti seseorang tengah menatapnya. Dia ragu untuk melihat. Tapi bayangan dari matanya menyatakan kalau orang itu masih memandangnya.
Karena penasaran. Nina kemudian mengalihkan pandangannya ke orang itu. Dia menatap tajam untuk memastikan, seseorang itu apakah benar-benar memperhatikannya. Ternyata benar. Mata Nina dan mata orang itu bertemu dalam satu garis. Mereka bertatapan. Jantung Nina berdetak kencang. Herman sedang menatapnya. Herman memang teman sekelasnya, tapi Nina murid baru. Dia baru dua bulan masuk di sekolah ini. Dia juga belum terlalu akrab dengan Herman.
Herman tersenyum saat mereka bertatapan. Senyum yang sangat manis. Dan pandangannya yang sangat lembut membuat Nina gugup. Dia segera berbalik dan menghadap ke depan. Erni yang sebangku dengannya tak menyadari kalau teman sebangkunya baru saja mengalami kejadian yang mendebarkan jantungnya. Erni terus asyik menulis sementara Nina sudah tidak konsentrasi. Dia merasa Herman masih memperhatikan dirinya.
Karena tidak bisa menahan debaran dan rasa penasaran yang datang bersamaan, Nina menoleh ke samping. Dia melihat ke arah Herman. Nina tersentak kaget. Ternyata Herman masih memandangnya sambil tersenyum manis. Entah mengapa tiba-tiba Nina merasa kesal karena Herman terus memperhatikannya. Dia tidak suka. Ketenangannya terganggu karena insiden tatapan dari Herman. Akhirnya karena kesal, Nina kemudian memasang wajah cemberut dan matanya mendelik ke arah Herman.
Ternyata Herman tidak marah. Dia malah tertawa lalu tersenyum sambil tetap memandang Nina. Ekspresi Herman yang di luar dugaan membuat Nina makin salah tingkah. Dia berbalik lagi ke depan. Biarlah Herman dengan kegiataannya yang kurang kerjaan itu, pikir Nina. Nina ingin konsentrasi mengerjakan tugas. Beberapa menit berlalu. Nina sekuat tenaga berusaha menahan rasa penasaran yang hadir dalam pikirannya.
Tapi kembali pertahanan Nina goyah. Dia menoleh sebentar, melihat ke arah Herman. Kali ini Herman tidak melihatnya. Herman sudah membalikkan badan menghadap ke depan. Ada rasa kecewa yang hadir dalam hati Nina. Dengan tatapan kecewa dia masih melihat ke arah tempat duduk Herman. Tiba-tiba Herman mendorong tubuhnya ke belakang. Dia menoleh memandang ke arah Nina. Senyumnya kembali hadir. Nina yang tidak menyangka Herman akan melihatnya jadi tersipu. Dengan cepat dia berbalik. Tapi Nina merasa senang. Ternyata Herman masih memperhatikan dia.
Sampai jam istrahat, Nina tidak lagi melihat ke arah Herman. Dia juga tidak keluar dari ruang kelas. Nina malas untuk keluar karena dia sudah membawa bekal makanan dari rumah. Nina mengeluarkan sebotol air mineral dengan kotak plastik berisi roti. Hanya tiga orang temannya yang berada dalam ruangan. Mereka juga asyik dengan bekal mereka.
Karena makan sambil menunduk Nina tidak melihat Herman yang melangkah kearahnya. Nina baru sadar saat Herman sudah duduk di bangkunya.
“ Herman?!? serunya dengan suara tertahan. Hampir saja dia memuntahkan makanan dalam mulutnya karena kaget.
“ He..he…maaf mengganggu. Nggak apa-apakan aku duduk di sini?” tanya Herman sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Nina mengangguk cepat. Nina tidak bisa berbicara karena mulutnya penuh dengan makanan. Buru-buru Nina mengunyah makanannya lalu meminum air mineral langsung dari botolnya.
“ Ini.” Herman menyerahkan kertas yang di lipat langsung di tangan Nina. Nina yang masih tidak mengerti hanya menatap kertas itu.
“ Jangan dilihat saja. Kamu baca ya.” Ucap Herman sebelum meninggalkan Nina. Dia kembali ke bangkunya. Walau duduk dibangkunya tapi pandangannya tetap tertuju ke arah Nina. Nina membuka kertas itu. Membacanya.
Nina, kamu mau nggak jadi pacarku? Kalau mau, selesai baca surat ini, lihat aku ya..
Herman
Jantung Nina kembali berdetak kencang. Dalam hati dia merindukan mamanya. Apa nanti kata mamanya? Dia baru kelas dua smp. Pantaskah dia berpacaran? Nina merasa dia masih kecil. Tanpa sadar Nina menatap Herman. Matanya langsung membelalak saat melihat Herman tersenyum. Herman terlihat begitu gembira. Dia berlari keluar kelas sambil bernyanyi-nyanyi. Tinggallah Nina dalam rasa bingung. Nina baru sadar kalau pandangannya membuat Herman salah paham. Sekarang Herman mengira Nina telah menerima cintanya. Nina tertunduk lesu. Mama, sekarang Nina harus bagaimana? Batin Nina dengan rasa panik. ****
0 komentar:
Posting Komentar