Sabtu, 21 Desember 2013

[ReNyaH] Mamaku

0



Hari ini peringatan hari Ibu. Hari yang seharusnya mama rayakan dengan sukacita meski mungkin hanya dalam bentuk sederhana. Tak ada hadiah atau perayaan layaknya pesta ulang tahun. Cukup dengan kecupan sayang di punggung tangan serta pipimu sudah sanggup menghadirkan rasa haru.

Mama di usia mu yang menua, tak ada kata istrahat yang muncul dalam benakmu. Kata istrahat akan menimbulkan rasa pegal di sekujur tubuh dan mama sangat tidak menyukai hal itu. Sejak pagi hingga menjelang tidur malam hari, selalu  saja ada kegiatan yang mama lakukan.

Mama memang pekerja keras. Sejak kecil saat di kampung, beliau terbiasa mencari uang sendiri. Mulai dari mencari ikan di laut, mengambil daun nipa yang pohonnya menjorok ke sungai hingga tak jarang nyawanya terancam karena seringkali buaya berseliweran tak terlihat. Mama juga pandai menenun kain, membuat kasur, menganyam atap dari daun nipa  dan berbagai ketrampilan lainnya. Sepertinya mama memang berbakat untuk itu.

Keadaan ekonomi yang sulit serta situasi negara yang masih kacau pasca kemerdekaan, hingga mama dan saudara-saudaranya tidak ada satupun yang bersekolah. Meski tak bersekolah jangan ditanya soal kepintaran mereka. Mungkin sudah bakat alam hingga tak selalu harus melalui jalur formal untuk menemukan kecerdasan.

Kadang timbul dalam benakku, seandainya mama mengenyam bangku kuliah, akan seperti apa kepintarannya? Tidak bersekolah saja, aku yakin belum ada satupun dari anak-anaknya yang sanggup menandingi apa yang telah mama peroleh. Bagaimana jika mama menempuh pendidikan yang formal?

Mama memang seorang ibu yang sukses, menurutku. Aku malu mengetahui rekam jejak beliau serta melihat hasil dari kerja kerasnya selama ini. Sebagai anak belum ada yang bisa kami berikan untuk membalas kasih sayangnya. Malah mama yang lebih sering membantu kami.

Kasih ibu sepanjang jalan memang benar dan bukan hanya sekedar slogan atau semboyan untuk menghormati mereka. Hingga di usianya sekarang, mama masih mengkhawatikan anak-anaknya walaupun semuanya telah memliki penghasilan dan kehidupan sendiri. Padahal mengingat usia dan kondisi tubuhnya, seharusnya kami yang membantu mama.

Tapi begitulah mungkin sifat seorang ibu, meski anak-anaknya telah berumah tangga, tetap dimatanya kami adalah anak-anak yang butuh perhatian orang tua. Dan meski berulang kali kami melarang mama untuk merasa cemas terhadap keadaan kami, tetap saja naluri seorang ibu membuat mama khawatir.

Mamaku yang sederhana tapi apa yang dilakukannya sangat luar biasa. Kami bangga menjadi anak-anakmu. Jika mama merasa terhibur dengan segala pekerjaan yang mama lakukan, silahkan mama melakukannya. Hanya jika lelah, beristrahatlah. Semoga mama selalu sehat, panjang umur dan bisa melihat keberhasilan anak-anakmu. Aamiin.

Selamat hari ibu, ma.

=================== 

@ Event Refleksi Nyanyian Hati "ReNyaH"

 

 

Desa Rangkat adalah komunitas yang terbentuk berdasarkan kesamaan minat dalam dunia tulis menulis fiksi. Jika berkenan silahkan berkunjung, berkenalan, dan bermain peran dan fiksi bersama kami di Desa Rangkat, klik logo kami.


 

0 komentar:

Posting Komentar