Rabu, 18 Desember 2013

[ECR] Pelangi di Kebun Melon

0




Selepas acara serah terima jabatan kepala desa, Asih merasa punya hutang janji pada kedua putrinya. Aya dan Vianna sangat sabar dan tak banyak protes ketika bunda mereka lebih banyak menghabiskan waktu mengurus kegiatan jelang Pilkades dan selama Pilkades berlangsung.



Maka untuk menebus hutang janji pada kedua putrinya, hari ini Asih berencana  mengajak mereka untuk berwisata. Tidak jauh-jauh hanya ke kebun melon miliknya. Aya dan Vianna belum pernah berkunjung ke sana karena mereka sibuk dengan kegiatan kuliah mereka.



Selama ini Asih mempercayakan pada paman Wongka untuk mengurus kebun tersebut. Namun karena paman Wongka juga harus memperhatikan kebun bawang miliknya yang letaknya tujuh bukit dari Desa Rangkat, maka terpaksa sejak minggu lalu Asih yang mengelola sendiri kebunnya itu.



“Aya, Anna. Ikut sama bunda, ya. Kita ke kebun Melon..” Ajak Asih sembari mendekati kedua putrinya yang tengah duduk  di ruang tamu. Aya asyik ber game ria menggunakan handphone sementara Vianna sibuk BBM an dengan teman-temannya.



 “Malas, bunda. Aya mau di rumah aja.” Sahut Aya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.



“Anna aja yang temani bunda.” Vianna beranjak berdiri. Asih tersenyum senang. Dia lalu merangkul putrinya itu.



“Sepulang dari kebun Melon, kita jalan-jalan di pasar kecamatan ya, sayang. Sepertinya ada warung makan Padang tuh yang baru dibuka...”



Asih sengaja mengeraskan suaranya sambil terus melangkah keluar. Sepertinya dia bisa menebak apa yang akan terjadi kemudian.



“Aya ikut bundaaaaaaaaa.....” teriak Aya sambil berlari menyusul keduanya.



Asih dan Vianna tak dapat menahan tawa.



****



Hujan deras menyambut  mereka ketika tiba di kebun Melon. Ketiganya berlari menuju pondok kecil di sudut kebun untuk berteduh. Pondok sederhana tanpa dinding dan beratap rumbia. Dengan beralas tikar mereka duduk sambil menanti hujan reda. Asih terpesona melihat hujan yang menyentuh dedaunan dan batang-batang tanaman melon.



Namun tak lama, sinar mentari kembali hadir disertai pelangi yang menghiasi cakrawala. Pemandangan yang benar-benar indah. Asih menarik nafas panjang lalu keluar dari pondok. Meski jalanan berubah becek namun tak menyurutkan semangatnya menghitung jumlah melon-melon yang bergelantungan.



“Banyak juga buahnya..” gumamnya tak percaya. Ada perasaan lega karena ternyata impiannya untuk memiliki kebun melon akhirnya terwujud. Asih kembali mengulang hitungan sambil menyusuri kebun melon. Dia juga memeriksa kondisi tanaman serta pagar yang mengelilingi kebun tersebut.



Kedua putrinya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aya tetap asyik bermain game sementara Vianna sibuk memotret dirinya menggunakan blackberry dengan latar buah melon. Dia tersenyum manis, lalu klik. Beberapa saat kemudian DP nya telah berganti dengan foto terbaru berlatar buah melon. Tak lupa dia mengetik status “ yang berminat melon, PM ya”



Sayup-sayup dari arah luar kebun terdengar suara seseorang tengah berbincang. Jantung Asih berdegup kencang. Sepertinya dia mengenal suara itu. Hanya saja dia masih tak percaya. Apakah benar dia hadir saat ini? Pikirnya ragu. Namun belum sempat dia melihat sumber suara tersebut, muncul seseorang yang membuka pintu pagar.



Asih terpaku di tempatnya. Pandangannya tajam menatap lelaki yang  baru saja  memasuki kebun melon. Seolah tak percaya dengan penglihatannya dia memejamkan mata lalu membuka kembali untuk memastikan jika yang tampak didepannya adalah nyata dan bukan halusinasi. Tapi lelaki itu tetap ada di hadapannya dan memandangnya dengan sorot mata kerinduan.



Senyum bahagia hadir di wajah Asih meski di sertai dengan derai air mata. Perlahan dia melangkah, terus mendekati lelaki yang juga bergetar menatapnya.



“Benarkah ini Abi?” tanya Asih dengan mata basah. Jemarinya menyentuh lengan lelaki itu. Air matanya kian deras mengalir saat Abi dengan lembut menggenggam kedua tangannya.



“Benar, ini Abi..” jawab lelaki yang tak lain adalah Abi, suami Asih. Senyumnya makin menambah rasa percaya dalam diri Asih jika suaminya benar-benar telah kembali. Keduanya lalu berpelukan, melepaskan kerinduan yang sekian lama hanya menghuni rongga dada. Nyaris menyesakkan andai Asih tak mengingat jika dia masih memiliki dua  putri yang butuh perhatiannya.



“Bunda rindu sama Abi.” Ucap Asih sambil terisak di bahu suaminya. Abi mengelus lembut pundak istrinya mencoba menenangkan. Keduanya larut dalam rasa rindu hingga tak menyadari jika sepasang mata tengah menatap kaget ke arah mereka.



“Abi?!” teriak Vianna lalu berlari memeluk ayahnya. Pelukan Vianna menghadirkan rasa haru dalam diri lelaki itu. Dia membalas pelukan putrinya dengan sangat erat. Airmatanya menetes perlahan demikian pula Asih. Tangis haru tak terbendung lagi. Kehadiran Vianna menyadarkan Asih jika Aya juga ikut bersamanya.



“Aya, kemarilah. Abi datang, sayang..” Asih memanggil putrinya.



Aya yang lagi serius, terkejut mendengar bundanya memanggil. Handphone dalam genggamannya nyaris terlepas saat melihat bunda dan adiknya memeluk Abi. Mata Aya telah di penuhi embun ketika berlari menghambur ke pelukan ayahnya. Gadis itu menangis sambil menyebut nama ayahnya.



“Abi tidak akan pergi lagi kan?”



“Abi akan tinggal bersama kami kan?”



Abi melepaskan pelukannya lalu memandangi kedua putrinya bergantian. Pertanyaan kedua putrinya menyadarkan dirinya jika dia telah pergi begitu lama. Kedua putrinya tentu sangat merindukan kehadirannya.



“Abi akan tinggal bersama kalian..” jawaban Abi sontak membuat Aya dan Vianna kegirangan. Keduanya kembali memeluk ayah mereka.



“Kenapa Abi tiba-tiba muncul disini?” tanya Asih kemudian sembari mengusap air matanya.



“Dalam perjalanan menuju rumah, Abi bertemu kang Inin. Dia menyampaikan kalau kalian ada disini..”



“Kang Inin?” tanya Vianna dan Aya berbarengan seraya melepaskan pelukan pada ayah mereka.



“Sekarang kang Inin mana?” Asih melihat keluar pagar.



“Kang Inin! Ayo kemari..” panggil Abi. Kang Inin muncul dengan senyum malu-malu.



“Kenapa nggak masuk dari tadi? Malah bengong diluar..” Asih tersenyum melihat tingkah kang Inin.



“ini teh, anu..eng..itu..” Kang Inin terbata. Terlihat kikuk. Mungkin karena kehadiran Vianna dan Aya, jantungnya berdetak kencang dan membuatnya salah tingkah.



“Anu kenapa?” Vianna mendekat, sengaja menggoda kang Inin. Wajah kang Inin merona karena malu.



“Karena Abi sudah kembali, rencana makan-makan di warung padang batal. Sebagai gantinya bunda akan masak ayam goreng special kesukaan Abi. Kang Inin ikut ya, jangan tinggalkan rumah sebelum makan.”



Mendapat perintah makan, mana berani kang Inin kabur...



=============

 


Desa Rangkat adalah komunitas yang terbentuk berdasarkan kesamaan minat dalam dunia tulis menulis fiksi. Jika berkenan silahkan berkunjung, berkenalan, dan bermain peran dan fiksi bersama kami di Desa Rangkat


0 komentar:

Posting Komentar