Selepas acara serah terima jabatan
kepala desa, Asih merasa punya hutang janji pada kedua putrinya. Aya dan Vianna
sangat sabar dan tak banyak protes ketika bunda mereka lebih banyak
menghabiskan waktu mengurus kegiatan jelang Pilkades dan selama Pilkades
berlangsung.
Maka untuk menebus hutang janji pada
kedua putrinya, hari ini Asih berencana mengajak mereka untuk berwisata. Tidak
jauh-jauh hanya ke kebun melon miliknya. Aya dan Vianna belum pernah berkunjung
ke sana karena mereka sibuk dengan kegiatan kuliah mereka.
Selama ini Asih mempercayakan pada
paman Wongka untuk mengurus kebun tersebut. Namun karena paman Wongka juga
harus memperhatikan kebun bawang miliknya yang letaknya tujuh bukit dari Desa Rangkat,
maka terpaksa sejak minggu lalu Asih yang mengelola sendiri kebunnya itu.
“Aya, Anna. Ikut sama bunda, ya. Kita
ke kebun Melon..” Ajak Asih sembari mendekati kedua putrinya yang tengah duduk di ruang tamu. Aya asyik ber game ria
menggunakan handphone sementara Vianna sibuk BBM an dengan teman-temannya.
“Malas, bunda. Aya mau di rumah aja.” Sahut
Aya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.
“Anna aja yang temani bunda.” Vianna beranjak
berdiri. Asih tersenyum senang. Dia lalu merangkul putrinya itu.
“Sepulang dari kebun Melon, kita
jalan-jalan di pasar kecamatan ya, sayang. Sepertinya ada warung makan Padang tuh
yang baru dibuka...”
Asih sengaja mengeraskan suaranya
sambil terus melangkah keluar. Sepertinya dia bisa menebak apa yang akan
terjadi kemudian.
“Aya ikut bundaaaaaaaaa.....” teriak
Aya sambil berlari menyusul keduanya.
Asih dan Vianna tak dapat menahan
tawa.
****
Hujan deras menyambut mereka ketika tiba di kebun Melon. Ketiganya
berlari menuju pondok kecil di sudut kebun untuk berteduh. Pondok sederhana
tanpa dinding dan beratap rumbia. Dengan beralas tikar mereka duduk sambil menanti
hujan reda. Asih terpesona melihat hujan yang menyentuh dedaunan dan
batang-batang tanaman melon.
Namun tak lama, sinar mentari kembali hadir
disertai pelangi yang menghiasi cakrawala. Pemandangan yang benar-benar indah. Asih
menarik nafas panjang lalu keluar dari pondok. Meski jalanan berubah becek
namun tak menyurutkan semangatnya menghitung jumlah melon-melon yang
bergelantungan.
“Banyak juga buahnya..” gumamnya tak
percaya. Ada perasaan lega karena ternyata impiannya untuk memiliki kebun melon
akhirnya terwujud. Asih kembali mengulang hitungan sambil menyusuri kebun melon.
Dia juga memeriksa kondisi tanaman serta pagar yang mengelilingi kebun
tersebut.
Kedua putrinya sibuk dengan kegiatan
masing-masing. Aya tetap asyik bermain game sementara Vianna sibuk memotret
dirinya menggunakan blackberry dengan latar buah melon. Dia tersenyum manis,
lalu klik. Beberapa saat kemudian DP nya telah berganti dengan foto terbaru berlatar
buah melon. Tak lupa dia mengetik status “
yang berminat melon, PM ya”
Sayup-sayup dari arah luar kebun
terdengar suara seseorang tengah berbincang. Jantung Asih berdegup kencang. Sepertinya
dia mengenal suara itu. Hanya saja dia masih tak percaya. Apakah benar dia
hadir saat ini? Pikirnya ragu. Namun belum sempat dia melihat sumber suara
tersebut, muncul seseorang yang membuka pintu pagar.
Asih terpaku di tempatnya.
Pandangannya tajam menatap lelaki yang
baru saja memasuki kebun melon. Seolah
tak percaya dengan penglihatannya dia memejamkan mata lalu membuka kembali
untuk memastikan jika yang tampak didepannya adalah nyata dan bukan halusinasi.
Tapi lelaki itu tetap ada di hadapannya dan memandangnya dengan sorot mata
kerinduan.
Senyum bahagia hadir di wajah Asih
meski di sertai dengan derai air mata. Perlahan dia melangkah, terus mendekati
lelaki yang juga bergetar menatapnya.
“Benarkah ini Abi?” tanya Asih dengan
mata basah. Jemarinya menyentuh lengan lelaki itu. Air matanya kian deras
mengalir saat Abi dengan lembut menggenggam kedua tangannya.
“Benar, ini Abi..” jawab lelaki yang
tak lain adalah Abi, suami Asih. Senyumnya makin menambah rasa percaya dalam
diri Asih jika suaminya benar-benar telah kembali. Keduanya lalu berpelukan,
melepaskan kerinduan yang sekian lama hanya menghuni rongga dada. Nyaris
menyesakkan andai Asih tak mengingat jika dia masih memiliki dua putri yang butuh perhatiannya.
“Bunda rindu sama Abi.” Ucap Asih
sambil terisak di bahu suaminya. Abi mengelus lembut pundak istrinya mencoba
menenangkan. Keduanya larut dalam rasa rindu hingga tak menyadari jika sepasang
mata tengah menatap kaget ke arah mereka.
“Abi?!” teriak Vianna lalu berlari
memeluk ayahnya. Pelukan Vianna menghadirkan rasa haru dalam diri lelaki itu.
Dia membalas pelukan putrinya dengan sangat erat. Airmatanya menetes perlahan
demikian pula Asih. Tangis haru tak terbendung lagi. Kehadiran Vianna
menyadarkan Asih jika Aya juga ikut bersamanya.
“Aya, kemarilah. Abi datang, sayang..”
Asih memanggil putrinya.
Aya yang lagi serius, terkejut
mendengar bundanya memanggil. Handphone dalam genggamannya nyaris terlepas saat
melihat bunda dan adiknya memeluk Abi. Mata Aya telah di penuhi embun ketika berlari
menghambur ke pelukan ayahnya. Gadis itu menangis sambil menyebut nama ayahnya.
“Abi tidak akan pergi lagi kan?”
“Abi akan tinggal bersama kami kan?”
Abi melepaskan pelukannya lalu
memandangi kedua putrinya bergantian. Pertanyaan kedua putrinya menyadarkan
dirinya jika dia telah pergi begitu lama. Kedua putrinya tentu sangat
merindukan kehadirannya.
“Abi akan tinggal bersama kalian..”
jawaban Abi sontak membuat Aya dan Vianna kegirangan. Keduanya kembali memeluk
ayah mereka.
“Kenapa Abi tiba-tiba muncul disini?”
tanya Asih kemudian sembari mengusap air matanya.
“Dalam perjalanan menuju rumah, Abi
bertemu kang Inin. Dia menyampaikan kalau kalian ada disini..”
“Kang Inin?” tanya Vianna dan Aya
berbarengan seraya melepaskan pelukan pada ayah mereka.
“Sekarang kang Inin mana?” Asih
melihat keluar pagar.
“Kang Inin! Ayo kemari..” panggil Abi.
Kang Inin muncul dengan senyum malu-malu.
“Kenapa nggak masuk dari tadi? Malah
bengong diluar..” Asih tersenyum melihat tingkah kang Inin.
“ini teh, anu..eng..itu..” Kang Inin
terbata. Terlihat kikuk. Mungkin karena kehadiran Vianna dan Aya, jantungnya
berdetak kencang dan membuatnya salah tingkah.
“Anu kenapa?” Vianna mendekat, sengaja
menggoda kang Inin. Wajah kang Inin merona karena malu.
“Karena Abi sudah kembali, rencana
makan-makan di warung padang batal. Sebagai gantinya bunda akan masak ayam
goreng special kesukaan Abi. Kang Inin ikut ya, jangan tinggalkan rumah sebelum
makan.”
Mendapat perintah makan, mana berani
kang Inin kabur...
=============
Desa Rangkat adalah komunitas yang terbentuk
berdasarkan kesamaan minat dalam dunia tulis menulis fiksi. Jika berkenan
silahkan berkunjung, berkenalan, dan bermain peran dan fiksi bersama kami di
Desa Rangkat
0 komentar:
Posting Komentar