Aku, tegar dengan seribu keraguanku
Melewati waktu yang kian menghempasku
Tak hanya hembusannya, namun
suara-suara di baliknya
Menyentuh sisi-sisi kewanitaanku
Menegaskan kenyataan di kehidupanku
Tak berubah meski jarum jam bergerak
Aku masih di tempatku, tak beranjak hanya
menatap musim yang berganti
Pada jendela aku berbagi, menutur
kisah musim yang lalu
Berulang terucap, hanya itu, setiap
saat menggenang air di pelupuk mata
Terkenang sedia kala, terselip sesal
dalam gumamku
Harus pada siapa kusampaikan keluh
kesahku? pada Dia?
Tak layak diriku menyalahkan-Nya, Dia
Maha segalanya
Memberi tanpa batas pada keinginanku
Aku yang tak peka menyempurnakan
hidupku, melihat petunjuk dari-Nya
Menyerahkan diri seutuhnya pada
kehendak-Nya
Tak menyalahi takdir yang telah
digariskan- Nya
Sesalku, haruskah menjadi bayanganku?
mengikuti langkah hidupku?
Kembali aku hanya bisa terdiam,
menatap malam
Tanpa suara, berbagi sesal dalam hati
Akh, kembali sesal yang hadir, entah
kapan akan berhenti


0 komentar:
Posting Komentar