A ku bangun pagi lalu bergegas bercermin.
Terasa ada sesuatu, entah apa. Hanya dapat kurasakan keanehannya menjalar di
seluruh tubuhku terutama rambutku. Merinding dan kaku.
S eingatku, semalam tak terjadi sesuatu yang
aneh. Aku bahkan tak bermimpi. Lalu mengapa sekujur tubuhku terasa kram? Aku
terhenyak. Tiba-tiba aku tersadar.
I lalang! Ya Ilalang yang terbang dan
menyelinap masuk ke kamarku melalui jendela yang sengaja kubiarkan terbuka.
Apakah ini penyebabnya?
H embusan angin telah menghantarkan ilalang
itu dengan mudahnya mendarat tepat di atas pembaringanku. Aku sekilas
menyentuhnya, lalu tiba-tiba kantuk menyerangku.
R asa kantuk itu makin tak tertahankan hingga
aku lupa untuk menutup kembali jendela kamarku. Aku baru menyadari setelah pagi
ini kulihat jendela kamarku masih dalam posisi terbuka.
A pakah semalam memang tak terjadi sesuatu?
Aku masih terus mencari alasan ketidaknyamananku pagi ini. Namun hingga
beranjak siang, aku tak juga menemukannya. Kesibukan kerja membuatku akhirnya
lupa dengan kejadian tersebut.
N amun malam harinya, kembali aku di dera
perasaan cemas. Ilalang itu tiba-tiba muncul lagi meski jendela tertutup. Dia
menyusup di antara kisi-kisi jendela.
G emetar jemariku saat meraih helai ilalang
tersebut. Tiba-tiba ilalang itu bergerak lalu melesat menjauh dariku.
K upandangi dengan tubuh kaku. Sementara itu,
ilalang terus bergerak, berputar-putar. Semakin lama semakin membentuk pusaran
angin yang makin besar.
A ku mulai panik dan ketakutan, namun
terlambat untuk menghindar. Pusaran angin menarik tubuhku sangat kuat.
Peganganku pada kaki meja terlepas. Aku terbawa arus dan semuanya gelap.
“T iaraaaaa!!!!” aku tersadar dan membuka
mataku. Nampak mama,papa dan saudara-saudaraku, memeluk tubuhku dengan jeritan
histeris. Aku memanggil mereka namun suaraku tak terdengar. Tubuhku
melayang-layang dalam ruangan bersama ilalang.
*** Tamat***
0 komentar:
Posting Komentar