Akhir-akhir ini Satrio, mantan kekasihku, mengejarku seperti detektif. Dimana ada aku, disitu ada dia, bahkan jika aku ada di rumah, dia dengan manisnya duduk di kios depan rumahku. Lelaki yang pantang menyerah. Aku salut padanya dan nyaris jatuh cinta, namun penghianatannya padaku beberapa waktu yang lalu membuatku muak dan membuang rasa cinta itu jauh-jauh. Tak ada cinta lagi untuknya bahkan jika dia memohon dengan berlutut sekalipun, aku tidak lagi sudi. Hatiku telah tercabik-cabik hingga tak lagi berbentuk hati. Rasanya sulit untuk menghilangkan luka itu dalam hatiku.
“Kiran!!!!” Satrio memanggil namaku. Aku tidak peduli, kukunci pagar lalu berlari masuk ke dalam rumah.
Saat malam, kulihat mobilnya masih terparkir di depan rumahku, pasti dia lagi duduk di dalam kios itu. Silahkan nikmati perjuanganmu Satrio, makanya jangan membuat hatiku terluka. Aku tidak akan kembali padamu lagi, sekuat apapun usaha yang kamu lakukan. Hatiku terlanjur patah dan tak bisa di bentuk lagi seperti puzzle yang pernah kamu hadiahkan untukku.
“Kiran..” Aku terlonjak kaget. Satrio tiba-tiba telah ada di teras. Refleks aku memaki adikku yang tadi pasti lupa mengunci pintu pagar. Aku beranjak dan buru-buru melangkah menuju pintu.
“Jangan pergi dulu, Kiran.” Satrio mengejarku dan memegang lenganku namun dengan cepat kukibaskan.
“Apa-apaan sih, kamu. Jangan menyentuhku!” kataku penuh emosi.
“Maafkan aku selama ini terus mengganggumu. Aku minta maaf juga pernah menyakiti hatimu. Sekarang kamu boleh tenang, aku tidak akan mengusik ketenanganmu lagi.”
Satrio kemudian meninggalkan rumahku tanpa menoleh sedikitpun. Seperti biasa dia masuk ke dalam kios. Aku tak jadi masuk ke dalam rumah, hanya terpaku, tak menyangka ucapan Satrio membuatku sedih. Mengapa hatiku terasa tercabik-cabik? apakah aku masih mencintainya?
Seminggu kemudian, tetangga sekaligus pemilik kios depan rumahku mengirim undangan pernikahan putrinya. Aku merasa biasa saja tapi tidak ketika membaca nama mempelai pria yang tercantum dalam undangan. Satrio! Aku terduduk lunglai di kursi. Serasa tak percaya dengan apa yang baru saja aku baca. Berulang kubaca dan berharap itu bukan Satrio yang aku pikirkan, namun ucapan mama menegaskan kebenaran itu. Benar lelaki itu adalah Satrio, lelaki yang dulu mencintaiku namun menghianatiku.
Entah mengapa rasa benci dalam hatiku kini berganti rasa penyesalan. Menyesal mengapa aku mengabaikan keinginan Satrio untuk kembali padaku. Menyesal mengapa aku mengacuhkannya dan membiarkan dia terus mengejarku berbulan-bulan ini. Menyesal mengapa aku tidak membuka pintu maaf untuknya jika ternyata aku masih mencintainya. Rasa cinta yang baru kusadari ketika melihat namanya tertera dalam undangan pernikahan.
***
0 komentar:
Posting Komentar