Aku benar-benar tidak suka padanya. Aku tidak tahu sebabnya. Perasaan aneh itu hadir sejak aku mendengar suara cemprengnya yang selalu menyapaku tanpa merasa canggung atau risih. Dia pemuda hitam manis yang tinggal dekat rumahku. Kami baru saja berkenalan tapi dia seolah telah mengenalku sejak kecil. Bahkan tanpa sungkan menyapa seolah dia adalah adikku. Aku benar-benar tidak suka.
“Tipe orang beda-beda, Nilam.” Maya mengomentari keluhanku siang itu ketika kami sedang istrahat di kantin kantor.
“Mungkin dia supel hingga menyapa setiap orang dengan ramah.” Lanjut Maya.
Aku tertawa.
“Mudah bicara seperti itu karena bukan kamu yang di sapa dia tiap hari. Aku dan kehidupanku terus dikelilingi pemuda itu. Kenapa juga dia harus tinggal dekat rumahku.”
Kataku kesal.
“Hati-hati loh, dari benci bisa menjadi cinta.”
“Aku jatuh cinta padanya? Nggak mungkin! Aku sudah punya Handi. Dibandingkan dengan Handi, pemuda itu nggak ada apa-apanya.”
Maya tertawa namun kali ini sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Jangan takabur, Nilam. Aku dulu juga seperti itu dengan suamiku, sekarang kamu lihat sendiri, aku bahkan cinta mati dengan suamiku. Bagiku tidak ada lelaki lain yang sempurna seperti dia. Padahal dulu, jangankan meliriknya, mendengar suaranya saja aku ogah. Cinta itu hadir tanpa di duga. Jangan berlebihan membenci, ntar jatuh cinta, kualat kamu.”
Aku tak menanggapi kata-kata Maya, bagiku tak mungkin hadir cinta di antara kami. Semua hal yang aku benci ada pada pemuda itu. Selain suaranya yang cempreng, aku juga tidak suka basa basinya yang aku anggap terlalu berlebihan. Dia juga sangat suka menyapa orang, sangat ramah. Aku tidak suka lelaki yang mengumbar keramahan ke mana-mana. Bisa menimbulkan kesalahpahaman jika terlalu ramah dan baik pada orang. Percaya dirinya juga sangat tinggi hingga kadang lupa dengan kondisinya yang biasa saja dan tidak ganteng. Memikirkan itu aku makin jengah. Bagaimana bisa Maya menganggap aku bakal jatuh cinta padanya? Aku sudah gila mungkin, jika memutuskan jatuh cinta atau aku sudah tidak sadar saat jatuh cinta padanya.
“Kalo jatuh cinta, semua hal tentangnya itu sangat indah, bahkan suaranya yang cempreng akan terdengar merdu di telingamu hehehehe..” Maya masih sempat menggodaku sebelum kami meninggalkan kantor sore itu.
Aku mendelik tak suka namun Maya hanya tertawa melihatku. Dia melambaikan tangan saat berlalu dengan motornya.
***
“Kak Nilam, baru pulang ya, kak?” suara itu tak lagi mengangetkanku namun setiap akan pulang aku berharap suara itu lenyap dan tak menyambutku. Aneh, Dino seperti satpam yang menjagaku di depan rumahnya. Aku memarkir motorku lalu melintas cepat di depannya.
“Kok buru-buru, kak. Mampir dulu.”
“Udah mau mahgrib, aku mau mandi.” Balasku tanpa tersenyum. Aku baru merasa lega saat tubuhku berada dalam kamar. Aku yakin sebentar lagi, si Dino akan datang ke rumah, ngobrol dengan mama di teras. Dan yang membuatku tak nyaman, kamarku persis di samping teras. Suaranya yang nyaring akan terdengar jelas dan seperti bayangan yang terus menguntitku hingga mataku terpejam.
“Seharusnya dia belajar di kamarnya, bukan duduk ngobrol hingga larut. Mama juga tidak sadar dengan kesehatannya, ngobrol kok hingga tengah malam?” omelku.
Tapi malamnya, kesabaranku kembali di uji. Aku bahkan memakai headset demi menghindari suaranya masuk ke dalam telingaku. Aku sengaja memilih lagu-lagu yang keras agar bisa menyaingi suara Dino. Namun headset rupanya kalah bersaing. Suara Dino tetap berhasil masuk dan mengganggu konsentrasiku. Aku ingin memunculkan wajahku di jendela dan berteriak padanya, hanya saja otak normalku masih memelukku erat. Kalau aku akhirnya memunculkan wajahku, si Dino pasti akan kegirangan. Aku tidak ingin pemuda itu makin besar kepala.
Syukurlah laporanku bisa aku selesaikan. Hingga beranjak ke pembaringan suara Dino masih terdengar. Entah apa yang mama dan dia bicarakan, mereka sangat menikmati obrolan setiap malam di teras. Apa tidak bosan setiap malam ngobrol? Batinku heran.
****
( Bersambung )


0 komentar:
Posting Komentar