Untuk kesekian kalinya saya ditugaskan di daerah maluku utara, provinsi yang dulu merupakan bagian dari provinsi Maluku. Beberapa kali mengunjungi daerah ini banyak hal menarik yang saya temui. Selain keramahan penduduknya juga keindahan alam yang sangat memikat.
Salah satu desa yang saya kunjungi pada 22 oktober lalu, adalah Desa Bobale. Desa yang termasuk dalam kecamatan Kao ini terletak di pulau yang berjarak 2 kilometer dari pelabuhan Daru. Saya harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit dengan menggunakan perahu kecil sebagai sarana transportasi.
Saya beruntung meski perahu yang ke desa Bobale baru saja berangkat namun ada dua perahu yang kebetulan baru saja tiba. Satu perahu telah di carter sementara yang satu lagi berniat untuk kembali walau tanpa penumpang. Bapak pemilik perahu mempersilahkan saya ikut dengannya.
Laut nampak tenang saat mesin perahu mulai dihidupkan. Ombak yang memecah kecil menjadikan perjalanan terasa sangat menyenangkan. Sesekali saya menebarkan pandangan menyusuri pulau-pulau yang ada disekitar. Sinar mentari pagi yang menyentuh air laut menjadikan alam nampak sangat mempesona.
Dalam perjalanan, si bapak pemilik perahu menanyakan tujuan saya ke Desa Bobale. Ternyata bapak ini adalah salah seorang ketua RT. Dari beliau saya dapat informasi kalau kepala desa dan sekretaris desa sedang ada tugas luar kota. Tapi saya tidak perlu cemas, menurut beliau masih banyak aparat desa yang bisa membantu saya untuk menyelesaikan pekerjaan.
Tak terasa kami tiba di tepian pantai desa Bobale. Pasir putih yang terhampar indah membuat saya terpesona. Sambil menunggu si bapak menambatkan perahu kembali saya melihat-lihat keindahan laut. Tak lupa momen tersebut saya abadikan dalam kamera handphone.
 |
| Pantai Desa Bobale |
Kami kemudian memasuki desa dengan berjalan kaki. Setelah mengenalkan saya dengan beberapa aparat desa, si bapak mohon pamit karena ada urusan yang mesti beliau selesaikan. Saya kemudian menyelesaikan pekerjaan mendata di desa tersebut.
Setelah pekerjaan selesai, tiba saat untuk saya kembali. Namun dalam perjalanan saya tertarik melihat seorang bapak yang tengah sibuk dengan kegiatannya. Sembari menyapa ramah saya mendekati beliau yang tersenyum menyambut kehadiran saya.
Menggunakan bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan Bobale, si Bapak yang bernama Estepanus Patiasina menjelaskan kegiatan yang sedang dilakukannya. Ternyata beliau sedang membuat kerajinan tangan berupa senjata tajam yang diberi nama Selawako. Senjata Selawako ini bentuknya sangat unik terutama pada pembungkus senjata tersebut. Ukiran unik menjadikannya tampak indah.
 |
| Bapak Estepanus |
Lahir 77 tahun silam di Desa Bobale, pak Estepanus merupakan salah seorang sesepuh desa yang turut membangun Desa Bobale. Dari penuturan beliau, sejak lima tahun yang lalu bapak Estepanus menekuni kerajinan tangan tersebut. Meski ilmu otodidak ini sejak kecil beliau kuasai namun untuk mengaplikasikan dalam bentuk kerajinan tangan baru bisa beliau lakukan lima tahun yang lalu ketika memasuki masa pensiun.
Pak Estepanus memiliki 14 orang anak yang semuanya telah menikah. Kini beliau hidup seorang diri sepeninggal Istrinya beberapa tahun yang lalu. Untuk mengisi waktu luang dan mengusir rasa sepi, timbul ide beliau kembali menyalurkan bakat yang lama terpendam.
Bahan-bahan yang di perlukan untuk membuat senjata tersebut antara lain bahan kayu dari pohon kenari sementara untuk bahan ukiran di peroleh dari kulit siput atau kerang, lem perekat, pisau, batu asah dan gergaji.
 |
| Kulit siput atau kerang |
 |
| Kulit kerang setelah dibentuk |
 |
| Lem perekat |
 |
| Batu asah |
 |
| Gergaji |
 |
| Selawako dalam proses |
Selawako ini ternyata telah dipasarkan keseluruh Indonesia bahkan hingga ke luar negeri ( Australia ). Pemasarannya masih bersifat manual melalui keluarga pak Estepanus yang kebetulan berkunjung. Mereka membawa senjata tersebut untuk di pasarkan di daerah asal mereka. Bahkan ada Selawako yang berukuran 1,5 meter yang telah di beli oleh Bupati Halmahera Utara.
 |
| Selawako |
 |
| Selawako ukuran besar |
Beberapa pesanan telah beliau terima dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Harga tiap Selewako tergantung pada ukurannya.
Ukuran kecil : Rp. 150.000
Ukuran Sedang : Rp. 250.000
Ukuran Besar : Rp. 350.000
Namun dari rasa bangga akan hasil karyanya yang mulai mendapat tempat dihati masyarakat., terbersit rasa cemas dari benak pak Estepanus. Usianya yang lanjut mengharuskannya mencari penerus untuk melestarikan kerajinan Selawako. Namun hingga kini beliau belum menemukan seorangpun yang bisa meneruskan kerajinan tersebut.
Kecemasan yang wajar mengingat satu-satunya perajin Selawako hanya beliau. Semoga lahir generasi penerus pak Estepanus yang bisa meneruskan kegiatan beliau hingga Senjata Selawako tak punah dan terus bisa mengharumkan nama Maluku Utara khususnya Desa Bobale. Amin.
 |
| Siap-siap meninggalkan Desa Bobale |
 |
| Melintasi laut dengan ombak yang tenang |
======== Sekian =========
0 komentar:
Posting Komentar