Senin, 19 November 2012

Kala Cinta Memelukmu

0

 

“Lepaskan aku!” teriak Mila, sepupuku saat aku memeluknya dari belakang. Aku mengira dia bercanda namun kibasan tangannya membuatku terpana. Aku terpaku melihatnya berbalik dan memasang wajah cemberut.

“Kenapa?kamu nggak mau lagi kakak peluk?” Mila menggeleng cepat.

“Aku tidak mau kakak peluk lagi, terakhir kali kakak memelukku, kakak malah pergi 3 tahun. Sekarang mau pergi berapa lama lagi?”

Mulutku terkatup. Mila bisa menebak tujuanku. Aku belum menceritakan apapun pada tante dan paman tentang rencana kepergianku kali ini namun Mila bisa menebaknya. Niat awalku memang memeluknya untuk mengucapkan perpisahan.

Kuhela nafas sembari mencari kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Mila.

“Mila, maksud kakak...”

“Benarkan, kakak mau pergi lagi?” Mila berbalik lalu meninggalkanku tanpa menunggu sepatah kata meluncur dari mulutku.

Kususul langkahnya menuju kamar. Dia duduk di pembaringan sambil memeluk guling.

“Kenapa sih kakak selalu aja pergi?apa disini nggak ada kerjaan ya?” Mila melirik sewot. Aku duduk disampingnya lalu menyentuh bahunya.

“Kakak sudah terbiasa kerja di sana, Mila. Rasanya lain jika harus pindah kerjaan. Udah kakak coba sebulan ini, tapi tetap saja kakak merasa tidak betah.”

“Ayah kan bisa carikan kerjaan untuk kakak?”

Aku memalingkan wajah. Mila masih terlalu muda untuk mengerti masalahku. Tidak mungkin aku menceritakan semua hal padanya. Bahkan pada paman dan tante, aku tak sanggup membuka mulut untuk bercerita.

“Atau kakak memang nggak mau bersama kami, iya kan? Kasihan mas Dito..” ucapan Mila menggantung. Aku penasaran tapi hanya diam menunggu dia melanjutkan kata-katanya.

“Kakak tidak pernah menanyakan kak Dito? Apa kakak tahu perasaan kak Dito selama ini?”

“Kenapa dengan Dito, dia baik-baik saja kan?”

“Dia mencintai kakak! Apa kakak juga tidak tahu itu?”

Aku mengangguk. Sikap yang mati-matian kuhindari. Aku ingin menjerit mengatakan pada Mila kalau aku tahu perasaan Dito. Justru karena Dito lah maka aku tidak betah dan selalu ingin meninggalkan kota ini. Pergi meninggalkan kesedihan tanpa seorangpun tahu. Tapi seperti janjiku pada ayah, aku akan meredam rasa ini. Biarlah ini menjadi rahasiaku. Aku tidak boleh membiarkan Dito terus mencintaiku.

“Kak, masak sih kakak tega membiarkan kak Dito terus menunggu. Aku sudah beritahu dia kalau kakak ada dirumah.”

“Mila..” kataku putus asa.

“Tapi kakak tenang saja. Kak Dito tidak mungkin muncul saat ini. Dia sedang pelatihan. Aku curiga kakak sengaja kembali saat kak Dito tidak ada. Dan aku lebih curiga lagi, kakak sebenarnya tahu perasaan kak Dito. Iya,kan?” tatapan Mila serasa menghujam tepat ke mataku. Aku berpaling sementara tatapannya kian lekat. Aku bisa melihat bayangan wajahnya yang kaku tertuju padaku.

“Dito sudah dijodohkan, Mila. Dia akan menikah dengan Liana.” Akhirnya meluncur juga kata-kata sedih yang tidak ingin aku ungkapkan. Tapi saat ini aku tidak bisa menghindari Mila. Dia telah tumbuh menjadi gadis remaja yang paham akan perasaan cinta dan kasih. Dia bukan lagi gadis kecil yang kutinggalkan beberapa tahun lalu. Dia bisa menebak perasaanku hanya dengan melihat ekspresi wajahku.

“Apa maksud kak Laras? Yang aku tahu selama ini kak Dito sangat mencintai kakak. Ayah dan ibu telah salah menjodohkan mereka tanpa menanyakan perasaan kak Dito. Meski sudah dijodohkan dengan Liana, berulangkali dia bicara tentang perasaannya pada kak Laras. Kenapa sekarang kakak malah mengatakan hal lain?” Aku terdiam. Menahan bulir-bulir bening yang telah memenuhi bola mataku. Getaran bibirku tak sanggup menahan kesedihanku. Kuseka air mata lalu berdiri.

“Maafkan kakak, Mila. Hanya ini yang bisa kakak sampaikan. Besok kakak akan kembali. Disana seharusnya kakak berada.”

Kutinggalkan kamar Mila dengan perasaan sedih yang nyaris menjadi tangis. Bulir-bulir air mata akhirnya menetes meski kutahan.

“Laras?!” suara seorang menganggetkanku. Aku menyeka air mata saat melangkah hingga tak menyadari seseorang muncul dari pintu samping.

Aku tertegun. Rasanya tak percaya melihat sosok yang selama ini aku rindukan. Dito tiba-tiba muncul. Tiga tahun tak melihatnya ternyata dia telah banyak berubah. Dia makin dewasa dan sangat tampan. Perubahan yang membuatku makin sedih. Perasaan dalam hati harus ku redam.

Dito mendekatiku. Aku hanya diam terpaku melihat tangannya terangkat, memelukku erat. Tak ada ucapan selain helaan nafasnya yang membuat tubuhku merinding. Aku tak sanggup lagi, tangis yang tadi tertahan kini meretas. Berjatuhan seperti air hujan yang turun dari langit. Sampai kapan aku harus menahan rasa ini, ayah? Aku sangat mencintai lelaki ini dan dia juga mencintaiku. Mengapa kami tak boleh saling mencintai? Hanya karena Liana jatuh cinta padanya hingga aku harus mengalah?

Dito memelukku erat, semakin erat seperti tangisku yang makin deras. Perlahan tanganku terangkat, aku membalas pelukannya. Aku tak sanggup lagi menyembunyikan rasa yang selama ini terpendam. Aku sanggup bertahan saat jauh darinya dan tak melihat dirinya. Namun sekarang dia ada didekatku, memelukku dengan segenap rasa yang dimilikinya. Apakah aku salah memeluk seseorang yang kucintai dan mencintaiku juga?

Kami tak berbicara, bahkan saat Dito merenggangkan pelukannya dan hanya menatapku lekat sambil memegang kedua bahuku. Tatapannya menyiratkan kerinduan yang sangat dalam.

“Aku tahu kamu juga mencintaiku, jangan berbohong lagi. Terus menghindar tidak akan membuatku berhenti mencintaimu. Bahkan jika kamu tak kembali, aku akan menyusulmu. Jangan menguji perasaanku, aku bukan orang yang akan berhenti mengejar apalagi saat aku tahu kamu juga mencintaiku. Jangan lari lagi, meski kau pergi jauh tak akan mengubah apapun.”

Dito mencium keningku lalu memelukku lagi.

“Jangan pergi lagi, sayang. Kita hadapi bersama. Ini bukan tentang dirimu saja tapi aku juga ada didalamnya. Kita berdua sudah dewasa dan bisa menentukan masa depan kita. Jangan biarkan orang lain mengatur hidup kita.”

“Tapi mereka bukan orang lain, mereka ayah dan adikku.” Kataku sambil melepaskan pelukan Dito.

“Jika ayahmu memohon sesuatu padamu, apakah akan kamu tolak?” tanyaku lagi.

“Tapi bagaimana dengan perasaan kita? Aku tidak paham Laras. Dia ayahmu bukan? Seharusnya dia adil dalam memperlakukan putri-putrinya. Memaksamu dan memaksaku itu sama saja dia tidak adil.”

“Ayah tidak memaksaku hanya meminta kasih sayang dariku. Adikku hanya mencintaimu Dito.”

“Tunggu dulu, aku memang dekat dengannya, tapi sebelum bertemu denganmu pun aku tidak memliki perasaan khusus selain menganggapnya sebagai sepupu. Keinginan orang tua dan keinginan kita itu hal yang berbeda. Ayah dan ibu sudah tidak memaksakan perjodohan kami lagi. Apa kamu tahu itu?”

Aku tertegun.

“Perjodohan dibatalkan?” tanyaku ragu.

Dito mengangguk.

“Tapi kenapa ayahku tidak memberitahu. Bahkan kemarin ketika aku menelpon, ayah tidak menyinggung sedikitpun tentang pembatalan itu.”

Dito memelukku lagi. Berbagai rasa menjalari tubuhku saat ini. Perasaan senang,sedih, bingung semuanya menyatu menjadikan tubuhku terasa dingin.

“Ayahmu belum tahu, sayang. Malam ini aku, kamu dan kedua orang tuaku akan kerumahmu. Sekalian untuk melamarmu.”

Dito menyentuh pipiku dengan kedua tangannya. Senyumnya tersungging saat melihatku masih kebingungan.

“Kamu kenapa sih,sayang? Tersenyum dong.”

“Tapi Liana? bagaimana dia?”

“Kamu ini baik atau bodoh sih? Jelas-jelas kita saling mencintai kenapa masih memikirkan Liana? Aku juga sayang padanya tapi bukan berarti aku harus menikah dengannya kan? Masalah perjodohan, itukan tanpa sepengetahuanku. Ayahmu dan orang tuaku menjodohkan kami tanpa menanyakan padaku dulu. Perasaan cintanya biar waktu yang akan membuatnya melupakanku. Sekarang yang terpenting, kita saling mencintai. Titik. Jangan mengharapkan kebahagiaanku jika bukan kamu yang menikah denganku.”

Airmataku menetes perlahan. Dito menghapusnya dengan ujung jemarinya yang masih melekat di pipiku. Jemarinya bergerak lembut makin membuatku terharu. Refleks aku memeluknya.  Terima kasih Ya Allah, aku benar-benar mencintai lelaki ini. Terima kasih karena memberikan jalan keluar dari masalah yang membuatku gelisah beberapa tahun terakhir ini.

********** 

13484651811016817118

 


0 komentar:

Posting Komentar