Mendengar ucapan Kembara membuatku menghayalkan tempat seperti drama korea yang setting lokasinya selalu indah di pandang mata. Duduk berdua dengan Kembara di tepi danau atau sungai sambil menikmati sesuatu yang hangat, tentu sangat menyenangkan, pikirku. Ataukah Kembara akan membawaku menikmati makan malam dengan nuansa romantis lengkap dengan lilin sebagai penerang ruangan.
“Dena!kita sudah sampai.” Ucapan Kembara membuatku tersadar dari lamunan. Aku terhenyak dan menatap kaget.
“Ini tempatnya?” Tanyaku heran lalu memandangnya. Kembara mengangguk kemudian keluar dari mobil. Dia berdiri didepan warung menantiku turun dari mobil.
Aku masih terpaku sambil memandangi warung itu. Dengan perasaan cemas, perlahan aku turun dari mobil. Aku bukan enggan makan dengan Kembara di warung seperti ini, bukan masalah tempat yang membuatku gelisah tapi kenapa harus dekat dengan toko tempatku bekerja? Apa tidak ada tempat lain yang bisa di jadikan pelarian gundah oleh Kembara?
Kupandangi toko depan warung yang masih terlihat ramai sambil berdoa semoga Farhan tidak melihatku.
“Kenapa pilih warung ini, mas?” Aku berbisik pada Kembara.
“Aku suka dengan makanannya. Kamu kan yang mengajak aku makan di sini tempo hari?”
Kembara melangkah masuk tanpa mendengar ucapanku. Aku mengomel dalam hati karena Kembara sama sekali tak peduli dengan pendapatku. Dengan malas kuseret langkah mengikutinya duduk di sudut warung. Tidak ada pembeli lain selain kami berdua. Pemilik warung tergesa mendatangi kami. Perempuan paruh baya itu tersenyum setelah mengenali aku.
“Mbak Dena? Tumben nggak sama teman-teman? Biasanya selalu sama mas Farhan, kok sekarang..”
Ibu Tati tak melanjutkan ucapannya tapi arah pandangannya tertuju pada Kembara yang tampak acuh. Kembara asyik melihat siaran TV dan tidak peduli dengan obrolan kami.
“Mas Kembara, mau makan apa?” tanyaku dengan suara sedikit keras karena suara tivi menguasai ruangan. Kembara mengecilkan volume lalu melihatku.
“Terserah kamu saja. Seperti tempo hari yang enak.”
Dia lalu kembali menghadap tivi dan asyik menonton siaran berita yang ditayangkan salah satu tivi swasta. Setelah mencatat pesanan kami, si ibu kemudian meninggalkan kami. Berbeda dengan Kembara yang asyik menikmati siaran tivi, aku malah gelisah. Aku takut jika tiba-tiba Farhan muncul dan melihat kami berdua. Apa yang akan dia pikirkan? Semoga saja dia tidak muncul. Kulirik jam dinding sudah jam 7, aku makin cemas. Biasanya jika aku lembur, kami akan makan malam di jam-jam seperti ini.
“Kamu kenapa, Dena? Sejak tadi matamu melihat keluar terus?” tiba-tiba Kembara menyentuh jemariku dan menatapku penuh curiga.
“Tidak apa-apa, mas. Didepan itu tempat kerjaku. Saat ini masih ada teman-teman yang kerja lembur.”
“Oh, itu. Apa kamu takut ketemu teman-temanmu?
Agak ragu aku menggeleng.
“Bukan itu...”
“Aku suka di sini. Selain tempatnya nyaman, makanannya juga enak.”
Aku terdiam tak melanjutkan ucapanku. Aku tidak ingin Kembara merasa tidak enak hati karena sudah mengajakku ke tempat ini. Kami sudah terlanjur berada disini dan tidak mungkin untuk mencari warung makan lain sementara pesanan sebentar lagi akan dihidangkan.
Sabarlah, Dena. Jadilah pengawas yang baik untuk Kembara saat ini, suara hatiku menyabarkanku.
Benar saja. Ibu Tati muncul dengan nampan besar berisi makanan. Sambil tersenyum dia mengatur hidangan tersebut di atas meja. Kembara tampak begitu bersemangat melihat hidangan di depannya.
“Silahkan, mas dan mbak Dena.” Ucap ibu Tati kemudian menuju meja kasir. Dia lalu duduk di sana.
Kembara lalu asyik menyantap makanannya. Selama makan kami tak berbicara. Aku juga tidak berniat bersuara ketika melihatnya sangat menikmati makanan. Aku makan perlahan karena perasaaan cemas yang belum juga hilang. Sesekali aku melihat keluar jendela sambil terus berdoa semoga tidak ada satupun teman yang datang kewarung ini.
“Kamu masih mau menemani aku kan, Dena?” Kembara bersuara mengagetkanku.
“Mau kemana lagi, mas?”
“Aku masih ingin jalan-jalan. Ini bukan tujuan utama, aku hanya ingin makan. Nanti aku akan memperlihatkan padamu tempat yang jadi favoritku.”
Aku tercenung sambil mengunyah makanan. Aku penasaran dengan tempat yang di maksud Kembara meski ada rasa enggan namun kutepiskan. Terlanjur basah ya sekalian mandi. Semoga esok hari Kembara tak lagi menjadikan aku teman berbagi rasa gundahnya. Aku juga ingin membereskan masalahku. Jika terus bersamanya, kapan aku bisa fokus dengan urusanku sendiri?
Selesai makan kami bergegas meninggalkan warung. Syukurlah hingga meninggalkan warung tak ada satupun teman terutama Farhan yang melihatku. Aku akhirnya bisa tenang dan berusaha menjadi teman yang baik untuk Kembara.
Malam ini saja, sabarlah Dena, batinku.
***
Mobil Kembara melaju menuju sebuah perumahan elit. Aku tak bertanya dan hanya diam melihat keluar jendela.
“Ini rumahku juga..” aku menoleh melihatnya. Saat ini mobil telah terparkir di depan sebuah rumah mewah.
“Rumah mas Kembara?” rasanya tak percaya aku memandangi rumah tersebut. Aku bukan memandang remeh Kembara hanya saja melihat dirinya dan membandingkan dengan kemewahan rumah tersebut rasanya sulit untuk percaya.
“Aku anak angkat pamanku. Setelah dia meninggal, aku mewarisi kekayaannya. Sayang sekali karena ini, aku harus menerima banyak kebencian dari sanak keluarga terutama yang berkaitan langsung dengan pamanku.”
“Ayo turun, kamu ingin lihat tempat yang jadi favoritku saat aku sedang gundah?” ajaknya setelah mematikan mesin mobil.
Masih dengan pandangan takjub aku turun dari mobil. Kembara rupanya sadar kekagumanku pada rumahnya. Dengan tersenyum dia menarik tanganku.
“Apa kamu akan terus berdiri memandangi rumah ini tanpa sedikitpun melangkah?”
Kami lalu beriringan memasuki rumah sementara tanganku masih dalam genggamannya. Aku tersenyum sendiri menyadari betapa memalukannya diriku.
“Rumah mas indah sekali, mengapa mas tidak menetap di rumah ini?” tanyaku ketika kami melangkah melewati ruang-ruang dalam rumah tersebut. Aku mengikuti Kembara tanpa tahu kemana dia akan mengajakku.
“Aku ingin sekali menempatinya. Dulu, impianku adalah tinggal di rumah ini bersama Siska. Sayang sekali, impianku kandas. Aku tidak punya keinginan lagi selain menjadikan rumah ini sebagai tempat untuk menenangkan diri.”
“Tapi kenapa mas mengajakku? Bukankah mas biasa menyepi sendiri di rumah ini?”
Kembara menghentikan langkah lalu menatapku.
“Aku tidak ingin sendirian Dena. Aku butuh teman. Rasa yang harus aku akui padahal sebelumnya aku selalu percaya, sendiri akan lebih baik. Ternyata aku salah. Kadang dalam menjalani hidup kita juga butuh kehadiran orang lain...”
Selesai berkata, Kembara lalu melangkah kembali. Kami tiba di sebuah ruangan yang dindingnya penuh dengan lukisan. Aku memandangi lukisan tersebut dan terhenyak kaget setelah menyadari wajah-wajah dalam lukisan tersebut adalah Siska!
Aku terperangah.
“Ini..ini..kan Siska, mas?” tanyaku lalu mendekati salah satu lukisan. Kembara mengikutiku.
“Kamu tidak menghitung jumlah lukisan yang ada di ruangan ini?” Kembara balik bertanya.
Aku mengikuti sarannya lalu mulai menghitung lukisan yang terpajang di tembok. Jumlahnya 10!
“Aku membuat lukisan ini setiap tahun. 10 artinya sudah sepuluh tahun aku terus menunggu kehadiran Siska yang nyata dalam hidupku.”
Kuhampiri Kembara yang berdiri dengan wajah murung.
“Apa yang akan kamu pikirkan tentangku Dena, kalau aku menceritakan kisahku?”
Aku bengong tak mengerti ucapan Kembara.
“Maksud mas?”
Kembara berbalik lalu menuju satu-satunya sofa yang ada dalam ruangan. Dia menghempaskan tubuhnya lalu duduk bersandar. Aku ikut duduk disebelahnya dengan pikiran yang masih diliputi rasa ingin tahu.
“Saat aku tahu paman mengangkatku jadi anaknya, saat itu juga aku tahu kalau paman berniat menjodohkan aku dengan Lita, putrinya. Aku terguncang, aku teringat Siska dan impian kami. Kadang aku menyesali keputusanku, pasti orang-orang menilai diriku lelaki yang matre dan hanya mementingkan harta semata. Karena itu aku kadang enggan dan muak berada di rumah ini.”
“Apa paman mas tidak punya anak laki-laki hingga memilih menjadikan mas sebagai anak?”
Kembara mengangguk.
“Tapi keponakan laki-laki banyak termasuk aku. Karena itu banyak yang tak setuju ketika paman memutuskan mewariskan sebagian hartanya untukku. Keluargaku yang dulu dekat dengan mereka perlahan-perlahan mulai di kucilkan. Mama dan papa yang awalnya setuju mulai merasa terganggu. Aku jadi bingung menentukan sikap terlebih menyangkut perjodohanku dengan Lita.”
“Oh, ya Lita bagaimana mas? Bukankah mas memilih Siska?”
“Lita gadis yang baik. Dia tahu aku menyukai Siska karena itu sepeninggal ayahnya, dia tidak mempermasalahkan perjodohan kami.”
“Dimana dia sekarang? Dia sudah menikah?”
“Belum.”
“Mengapa mas tidak mencari dan melanjutkan perjodohan kalian? Bukankah mas juga batal dengan Siska?”
“Sebaiknya sih begitu, tapi..aku ragu.. aku tidak ingin menyakiti Lita. Berpura-pura menyukai dan mencintainya, bukankah itu sama saja dengan menyakitinya? Biarlah waktu yang akan membawa arah cinta kami. Aku tidak ingin melukai Lita lagi. Sudah cukup dia terluka setelah tahu aku mencintai Siska.”
Kami kemudian terdiam. Kembara termenung sambil memandangi gambar Siska.
Tiba-tiba Kembara beranjak berdiri lalu melangkah mendekati lukisan-lukisan yang di pajang di tembok. Dia melepaskan satu persatu lukisan tersebut. Aku yang bingung bergegas menghampiri.
“Kenapa di lepas lukisannya mas?”
“Untuk apa lukisan ini ada disini toh Siska bukan milikku lagi. Mengenangnya hanya akan menambah sakit di hatiku.”
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar