Tanganku menyentuh gerendel pintu namun
tertahan dan urung kugerakkan. Aku tiba-tiba merasa takut. Bagaimana
jika semua saudaraku telah lengkap berada dalam ruangan? Apa reaksi
mereka jika melihatku? Apakah akan murka dan mengumpatku sebagai anak
durhaka?
“Dena, kamu kenapa?” Farhan bertanya lembut.
“Aku takut.”balasku lirih.
“Kenapa takut?” aku tak menjawab. Farhan menyentuh jemariku yang gemetar. Dia menarik dan menggenggamnya erat lalu menatapku.
“Jangan takut. Aku ada disini
menemanimu.” Sesaat aku bertahan menatap matanya mencoba mencari
keberanian yang tiba-tiba hilang dariku. Mana diriku yang berani dan
suka memberontak? Mengapa aku menjadi lemah dan penakut seperti ini?
Farhan semakin erat menggenggam jemariku
seperti ingin memberikan semangat padaku. Aku memejamkan mata sebelum
akhirnya pintu terbuka perlahan. Nampak wajah-wajah yang terkejut
melihatku. Kakiku terasa berat melangkah hingga aku hanya berdiri
mematung.
“Dena!” jerit mama lalu berlari mendekatiku. Aku makin gemetar saat tubuh mama makin dekat denganku.
“Dena, anakku.” Mama memelukku. Sangat
erat sambil menangis. Aku tak kuasa menahan air mataku agar tak tumpah.
Ku lepaskan pegangan Farhan dan membalas pelukan mama. Mama terus
menyebut namaku sambil mengelus rambutku dengan penuh kasih.
Ruangan hening hanya isak mama dan
tangisku yang terdengar. Aku mengarahkan mataku melihat ke arah
saudara-saudaraku. Semua menatap tajam padaku. Aku tahu sorot mata
mereka berisi berbagai macam alasan. Namun aku yakin, sakitnya papa
menjadi alasan terbesar mereka hingga terihat sangat kesal padaku.
Mama melepaskan pelukan lalu menarik
tanganku menuju pembaringan papa. Aku menundukkan pandangan tak kuasa
melewati saudara-saudara yang mengacuhkanku. Bahkan tak ada pancaran
simpati padahal aku adalah adik mereka yang bungsu. Seharusnya
kedatanganku membuat mereka bahagia..
“Mas, ini Dena udah datang.” Dengan
suara pelan mama memanggil papa. Tangannya menyentuh jemari papa yang
terkulai lemah. Aku berdiri disamping papa sambil menangis. Aku tak
tahan melihat kondisi papa yang banyak berubah. Enam bulan yang lalu
saat aku kabur dari rumah, meski sakit tubuh papa masih gemuk dan
berisi. Tapi sekarang papa terlihat sangat tua dengan tubuhnya yang
kurus.
“Mas…” mama terus memanggil papa.
“Mama! Sudahlah jangan terus membangunkan papa, papa sedang sakit harus istrahat.”
Tiba-tiba mas Damar sudah berdiri
didekat kami. Dia menyentuh lengan mama dan sama sekali tak melihatku.
Sementara kakak-kakakku yang lain memalingkan wajah saat aku menatap
mereka. Entah mengapa, aku merasa asing di tengah keluarga sendiri.
Apakah aku sudah melakukan kesalahan yang fatal hingga mereka melihatku
sebagai musuh bukan lagi saudara?
“Damar, tapi adikmu datang..”
“Tapi kan papa sedang tidur ma, nanti
saja kalau sudah bangun.. kasihan papa.” Tekanan suara mas Damar
meninggi. Mama hanya bisa duduk lunglai sementara aku makin grogi.
Berdiri bingung hanya menatap papa.
“Sebaiknya kamu keluar dulu, Dena. Suasana jadi nggak enak sejak kamu datang..”
Mas Damar membisikkan diteligaku. Aku jadi merinding mendengar suaranya yang tak ramah.
“Keluarlah. Aku tak ingin berdebat dengan mama..tolong sebelum aku marah..”
Aku tak tahan lagi. Sambil menangis aku
berlari keluar ruangan. Kata-kata mas Damar sangat menyakitkan. Hatiku
terasa tercabik-cabik hingga aku terus berlari tanpa peduli dengan
orang-orang yang melihatku.
“Dena! Tunggu, Dena!” aku terus berlari
dan terlupa jika Farhan datang bersamaku. Saat tangannya menarik
tubuhku, memelukku baru aku sadar akan kehadirannya.
Airmataku kian deras mengalir. Perasaan
terluka dan membutuhkan seseorang untuk berbagi, menjadikan pelukan
Farhan sangat berarti saat ini. Farhan terus membujuk dengan kata-kata
yang menyabarkan hatiku. Aku terus menangis dalam pelukannya.
Kami lalu meninggalkan rumah sakit
setelah tangisku reda dan aku mulai tenang hingga bisa mengontrol
emosiku. Sejak insiden di ruang perawatan papa, aku terus mengumpat dan
mengucapkan kata-kata kekesalan akan perlakuan kakak-kakakku.
“Dena, tenangkan dirimu. Tarik nafas
panjang lalu hembuskan perlahan-lahan..itu akan membuat perasaan kita
lega.” Ucap Farhan ketika kami tiba di taman kota. Farhan bergegas
membeli minuman dingin di warung kecil yang ada di sekitar taman.
Lampu-lampu taman mulai dinyalakan menyambut malam. Sorot lampu dari
warung-warung tenda juga terlihat berwarna warni.
Kami lalu duduk berdua di bangku batu.
Sambil menyerahkan minuman dingin, Farhan menyentuh jemariku. Aku
meneguk hingga habis minuman tersebut. Sedikit lega namun belum
sepenuhnya membuat rasa sedih dan sakit hatiku hilang.
“Aku tidak tahu masalah apa yang terjadi
dalam keluargamu, tapi melihat ekspresi orang-orang yang ada disana,
aku tahu mereka sangat membencimu..”
“Mereka saudaraku, kakak-kakakku. Aku
juga kaget dan heran melihat sikap mereka. Memperlakukan aku seperti
penjahat. Sangat acuh dan tak peduli. Keterlaluan!” kataku kesal sambil
melempar kaleng minuman yang telah kosong.
“Tapi mengapa mereka bisa sangat marah padamu? Apa yang kamu lakukan hingga mereka terlihat membencimu?”
“Kisah yang panjang, Farhan. Itu
sebabnya aku tidak tinggal serumah dengan keluargaku. Aku lebih memilih
tinggal dengan sahabatku. Demi ketenangan batin. Sayangnya, saat aku
kembali, sambutan mereka justru seperti itu.”
Kupandangi langit malam tanpa bintang.
Sangat gelap serupa hatiku saat ini. Entah kemana aku akan melabuhkan
perasaan batin yang tertekan ini. Keluarga yang aku rindukan ternyata
tak seindah hayalanku. Posisiku sebagai anak bungsu, rupanya tidak
menjamin tersedia ruang maaf di hati mereka. Separah itukah luka yang
telah aku timbulkan? Apakah aku yang terlalu egois hingga mengabaikan
perasaan mereka? Menganggap diriku benar dengan semua keputusanku dan
tak mengindahkan keinginan mereka?
Apa salahku? Aku hanya mencoba mengikuti
hati nurani dengan tidak serta merta menerima segala keputusan
menyangkut masa depanku. Aku manusia yang punya keinginan bukan robot
yang bisa dikendalikan sesuka hati. Sayangnya aku terlahir sebagai si
bungsu. Di keluargaku, si bungsu tak punya hak untuk mengutarakan
perasaan dan isi hati. Aku si bungsu, tak berhak memutuskan masa depanku
sendiri. Aku si bungsu, harus menuruti semua keinginan keluarga atas
nama demi kebaikanku.
( Bersambung )
0 komentar:
Posting Komentar