Rabu, 01 Agustus 2012

Impian Dena #8

0

13417258211623784714

Tanganku menyentuh gerendel pintu namun tertahan dan urung kugerakkan. Aku tiba-tiba merasa takut. Bagaimana jika semua saudaraku telah lengkap berada dalam ruangan? Apa reaksi mereka jika melihatku? Apakah akan murka dan mengumpatku sebagai anak durhaka?

“Dena, kamu kenapa?” Farhan bertanya lembut.

“Aku takut.”balasku lirih.

“Kenapa takut?” aku tak menjawab. Farhan menyentuh jemariku yang gemetar. Dia menarik dan menggenggamnya erat lalu menatapku.

“Jangan takut. Aku ada disini menemanimu.” Sesaat aku bertahan menatap matanya mencoba mencari keberanian yang tiba-tiba hilang dariku. Mana diriku yang berani dan suka memberontak? Mengapa aku menjadi lemah dan penakut seperti ini?

Farhan semakin erat menggenggam jemariku seperti ingin memberikan semangat padaku. Aku  memejamkan mata sebelum akhirnya pintu terbuka perlahan.  Nampak wajah-wajah yang terkejut melihatku. Kakiku terasa berat melangkah hingga aku hanya berdiri mematung.

“Dena!” jerit mama lalu berlari mendekatiku. Aku makin gemetar saat tubuh mama makin dekat denganku.

“Dena, anakku.” Mama memelukku. Sangat erat sambil menangis. Aku tak kuasa menahan air mataku agar tak tumpah. Ku lepaskan pegangan Farhan dan membalas pelukan mama. Mama terus menyebut namaku sambil mengelus rambutku dengan penuh kasih.

Ruangan hening hanya isak mama dan tangisku yang terdengar. Aku mengarahkan mataku melihat ke arah saudara-saudaraku. Semua menatap tajam padaku. Aku tahu sorot mata mereka berisi berbagai macam alasan. Namun aku yakin, sakitnya papa menjadi alasan terbesar mereka hingga terihat sangat kesal padaku.

Mama melepaskan pelukan lalu menarik tanganku menuju pembaringan papa. Aku menundukkan pandangan tak kuasa melewati saudara-saudara yang mengacuhkanku. Bahkan tak ada pancaran simpati padahal aku adalah adik mereka yang bungsu. Seharusnya kedatanganku membuat mereka bahagia..

“Mas, ini Dena udah datang.” Dengan suara pelan mama memanggil papa. Tangannya menyentuh jemari papa yang terkulai lemah. Aku berdiri disamping papa sambil menangis. Aku tak tahan melihat kondisi papa yang banyak berubah. Enam bulan yang lalu saat aku kabur dari rumah, meski sakit tubuh papa masih gemuk dan berisi. Tapi sekarang papa terlihat sangat tua dengan tubuhnya yang kurus.

“Mas…” mama terus memanggil papa.

“Mama! Sudahlah jangan terus membangunkan papa, papa sedang sakit harus istrahat.”

Tiba-tiba mas Damar sudah berdiri didekat kami. Dia menyentuh lengan mama dan sama sekali tak melihatku. Sementara kakak-kakakku yang lain memalingkan wajah saat aku menatap mereka. Entah mengapa, aku merasa asing di tengah keluarga sendiri. Apakah aku sudah melakukan kesalahan yang fatal hingga mereka melihatku sebagai musuh bukan lagi saudara?

“Damar, tapi adikmu datang..”

“Tapi kan papa sedang tidur ma, nanti saja kalau sudah bangun.. kasihan papa.” Tekanan suara mas Damar meninggi. Mama hanya bisa duduk lunglai sementara aku makin grogi. Berdiri bingung hanya menatap papa.

“Sebaiknya kamu keluar dulu, Dena. Suasana jadi nggak enak sejak kamu datang..”

Mas Damar membisikkan diteligaku. Aku jadi merinding mendengar suaranya yang tak ramah.

“Keluarlah. Aku tak ingin berdebat dengan mama..tolong sebelum aku marah..”

Aku tak tahan lagi. Sambil menangis aku berlari keluar ruangan. Kata-kata mas Damar sangat menyakitkan. Hatiku terasa tercabik-cabik hingga aku terus berlari tanpa peduli dengan orang-orang yang melihatku.

“Dena! Tunggu, Dena!” aku terus berlari dan terlupa jika Farhan datang bersamaku. Saat tangannya menarik tubuhku, memelukku baru aku sadar akan kehadirannya.

Airmataku kian deras mengalir. Perasaan terluka dan membutuhkan seseorang untuk berbagi, menjadikan pelukan Farhan sangat berarti saat ini. Farhan terus membujuk dengan kata-kata yang menyabarkan hatiku. Aku terus menangis dalam pelukannya.

Kami lalu meninggalkan rumah sakit setelah tangisku reda dan aku mulai tenang hingga bisa mengontrol emosiku. Sejak insiden di ruang perawatan papa, aku terus mengumpat dan mengucapkan kata-kata kekesalan akan perlakuan kakak-kakakku.

“Dena, tenangkan dirimu. Tarik nafas  panjang lalu hembuskan perlahan-lahan..itu akan membuat perasaan kita lega.” Ucap Farhan ketika kami tiba di taman kota. Farhan bergegas membeli minuman dingin  di warung kecil yang ada di sekitar taman. Lampu-lampu taman mulai dinyalakan menyambut malam. Sorot lampu dari warung-warung tenda juga terlihat berwarna warni.

Kami  lalu duduk berdua di bangku batu. Sambil menyerahkan minuman dingin, Farhan menyentuh jemariku. Aku meneguk hingga habis minuman tersebut. Sedikit lega namun belum sepenuhnya membuat rasa sedih dan sakit hatiku hilang.

“Aku tidak tahu masalah apa yang terjadi dalam keluargamu, tapi melihat ekspresi orang-orang yang ada disana, aku tahu mereka sangat membencimu..”

“Mereka saudaraku, kakak-kakakku. Aku juga kaget dan heran melihat sikap mereka. Memperlakukan aku seperti penjahat. Sangat acuh dan tak peduli. Keterlaluan!” kataku kesal sambil melempar kaleng minuman yang telah kosong.

“Tapi mengapa mereka bisa sangat marah padamu? Apa yang kamu lakukan hingga mereka terlihat membencimu?”

“Kisah yang panjang, Farhan. Itu sebabnya aku tidak tinggal serumah dengan keluargaku. Aku lebih memilih tinggal dengan sahabatku. Demi ketenangan batin. Sayangnya, saat aku kembali, sambutan mereka justru seperti itu.”

Kupandangi langit malam tanpa bintang. Sangat gelap serupa hatiku saat ini. Entah kemana aku akan melabuhkan perasaan batin yang tertekan ini. Keluarga yang aku rindukan ternyata tak seindah hayalanku. Posisiku sebagai anak bungsu, rupanya tidak menjamin tersedia ruang maaf di hati mereka. Separah itukah luka yang telah aku timbulkan? Apakah aku yang terlalu egois hingga mengabaikan perasaan mereka? Menganggap diriku benar dengan semua keputusanku dan tak mengindahkan keinginan mereka?

Apa salahku? Aku hanya mencoba mengikuti hati nurani dengan tidak serta merta menerima segala keputusan menyangkut masa depanku. Aku manusia yang punya keinginan bukan robot yang bisa dikendalikan sesuka hati. Sayangnya aku terlahir sebagai si bungsu. Di keluargaku, si bungsu tak punya hak untuk mengutarakan perasaan dan isi hati. Aku si bungsu, tak berhak memutuskan masa depanku sendiri. Aku  si bungsu,  harus menuruti semua keinginan keluarga atas nama demi kebaikanku.

( Bersambung ) 

Part   2  3   5  6   8  9  10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20

21  22  23  24  25  26  27  2 8 29


0 komentar:

Posting Komentar