
-
Kabar kedekatan Mahar dan Firman
telah merebak menjadi obrolan warga dimana-mana. Firman yang alim
bersahaja, sopan dan ramah dalam bergaul ternyata menggiring Mahar untuk
ikut dalam pencarian cinta sejati. Firman telah membuat dirinya jatuh
hati sejak pandangan pertama. Firman, figur lelaki yang telah lama
didamba akhirnya berkunjung kerumahnya makin menambah mekar bunga-bunga
cinta dalam hati Mahar.
Senandung lagu-lagu cinta terus mengalun
dalam hatinya. Namun ada hal yang membuatnya gundah. Selain Ranti yang
melarangnya untuk mendekati Firman, Asih si sekdes Rangkat rupanya
memendam rasa sejak lama pada Firman. Bukan satu dua orang yang
menyampaikan hal tersebut, bahkan kemarin dia mendapat penjelasan dari
Acik, adik Asih.
“Begitu ya, Cik..” suaranya datar
mendengar penjelasan yang panjang lebar dari Acik. Adik sekdes itu
kemudian berlalu dengan wajah muram. Dia yakin ada rasa yang kuat dalam
hati Mahar saat melihat mata perempuan itu membulat bagai bulan purnama
ketika Acik bercerita. Berita tentang Firman rupanya membuat Mahar
antusias.
Dan, siang ini di kantor desa. Ada tamu
istimewa yang sedang berhadapan dengan Asih. Kantor yang sunyi senyap
karena bertepatan dengan jam istrahat terasa makin lengang saat dua
orang dalam ruangan tersebut masih saling diam. Asih masih sibuk
menyelesaikan tugas setelah tadi meminta maaf agar Mahar menunggu dia
menuntaskan pekerjaan.
Dengan sabar Mahar memperhatikan
kesibukan Asih sambil matanya melihat-lihat sekeliling. Ruangan yang
sederhana tanpa hiasan atau poster apapun. Hanya kalender dan jam
dinding yang jadi penghias ruangan. Diatas meja hanya tumpukan dokumen.
Tak ada vas bunga atau pernak-pernik lain layaknya ruangan sekretaris.
“Maaf ya, Mahar sudah menunggu lama..”
Asih memandang sambil tersenyum. Dia menggeser dokumen yang ada
didepannya. Mahar balas tersenyum dengan hati berdebar-debar.
“Ada apa Mahar, tumben kemari? ada yang bisa saya bantu?”
Mahar mengatur posisi duduk lalu menghela nafas sejenak.
“Mbak Asih, benar kabar yang saya dengar, kalau mbak Asih menyukai mas Firman?”
Asih tercengang meski hanya sekejap. Pikirannya berkecamuk berusaha mencari jawaban atas pertanyaan Mahar.
“Itu benar Mahar, menyukai hal yang
wajar. Mencintai juga bukan dosa. Tapi mas Firman bukan milikku. Ada
apa? Mahar menyukainya?” beribu belati terasa menikam jantung Asih saat
dia mengajukan pertanyaan. Rasa yang sakit namun harus terlontar dari
bibirnya yang gemetar.
Mahar mengangguk.
“Maaf mbak Asih, karena ingin kejelasan
saya datang kemari. Saya tidak enak mendengar gunjingan warga
seolah-seolah saya telah merebut Firman dari mbak. Padahal perasaan saya
tulus sebagai seorang wanita yang ingin benar-benar mencintai dan
menemukan lelaki yang saya cintai. Figur mas Firman sejak lama saya
rindukan. Saya ingin memiliki suami seperti dia.”
Kata-kata yang meluncur dengan suara
lembut dari Mahar membuat jantung Asih berdegup kencang. Bagaimanapun
dia adalah manusia yang punya rasa cemburu. Mengetahui Mahar juga
memiliki rasa yang sama pada Firman, batinnya bergolak. Sekuat hati Asih
berusaha menetralkan perasaan dan nafas agar Mahar tak tahu jika
perempuan didepannya tengah terguncang.
“Mahar, saya bukan siapa-siapa bagi mas
Firman. Kami mungkin teman dekat, dulu, bahkan mungkin sampai sekarang.
Tapi soal perasaan, kamu jangan khawatir. Mas Firman belum pernah
membicarakan sesuatu yang spesial dengan saya. Kami juga jarang bertemu.
Kamu jangan sungkan karena tahu kalau saya menyukainya. Saya memang
seperti ini orangnya, tidak mudah jatuh cinta tapi jika terlanjur cinta
sulit untuk berpaling pada orang lain. Tertarik, suka lalu jatuh cinta
pada mas Firman itu bukan dalam waktu yang singkat. Butuh waktu yang
lama untuk saya menyadari perasaan. Tapi selain menyimpan rasa cinta,
saya juga harus sadar bahwa mas Firman juga manusia biasa. Dia juga
punya perasaan dan rasa tertarik. Bukan hak saya untuk memaksakan
kehendak agar dia memilih saya menjadi kekasih atau istri. Jika dia
memilih, saya atau orang lain berarti itulah yang terbaik menurutnya.
Dia pernah memutuskan menikah dengan Acik, jika sekarang dia memilih
orang lain, apa bedanya? Saya mungkin hanya menyimpan rasa tapi dia
adalah penentu hendak jadi pemilik hati yang mana.”
Mata Mahar berkaca-kaca. Dia tersenyum nyaris menangis.
“Makasih mbak Asih, sekarang saya lega. Mas Firman ternyata bukan milik siapa-siapa. Kalau begitu saya pamit dulu, mbak…”
Mahar kemudian berdiri lalu maju memeluk Asih.
“Sekarang, saya akan fokus untuk
mengejar mas Firman. Dia suka atau tidak itu bukan masalah. Kita
sama-sama bersaing ya, mbak. Janji jangan ada yang marah jika mas Firman
memilih salah satu dari kita.”
Asih mengangguk.
“Mahar boleh minta tolong?”
“Iya, mau minta tolong apa, mbak Asih?”
“Saya akan tugas keluar daerah. Mungkin
lama mungkin juga cuma sebentar. Saya belum tahu kapan kembali. Tolong
perhatikan mas Firman ya. Pesanku ini jika ingin kau abaikan tidak
apa-apa.”
Bagi Mahar pesan ini seperti anugerah
terindah. Mahar mengangguk cepat lalu dengan langkah mantap dia keluar
dari ruangan meninggalkan kantor desa. Sekarang dia lega. Nyanyian
cinta itu kini tak lagi sumbang terdengar karena kini mengalun dari hati
yang tengah kasmaran. Lagu itu makin membahana saat dia tiba di toko
roti miliknya.
Nampak Firman tengah berdiri menanti
didepan toko yang tertutup. Mahar sengaja menutup toko demi mencari info
dari Asih untuk menenangkan batinnya. Langkahnya makin cepat nyaris
berlari namun saat hampir dekat dengan Firman, tiba-tiba Firman meraih
handphone yang berbunyi..
“Halo, mbak Ranti ada apa?”
Mahar tertegun. Firman yang membelakangi
tak menyadari kehadiran Mahar. Dia terus berbincang dan menyebut nama
Ranti berulang-ulang. Mahar geram.
Mbak Ranti sudah punya tunangan! Kok masih ngejar-ngejar mas Firman?! pekiknya kesal meski hanya dalam hati.
Mahar tak tahu, di kantor desa, Asih duduk menelungkupkan wajahnya di meja dengan air mata berlinang.
( Bersambung)
0 komentar:
Posting Komentar